VIOLEN

VIOLEN
Pergerakan Cepat


__ADS_3

"Mulai sekarang, laporkan semua hal yang kau lakukan--"


"Saat buang air juga?"


"Ya semua, tanpa ada yang terlewat. Kalau gak kau lakuin, aku akan menghukum mu."


"Hukumanya apa?"


"Bibirmu, akan terluka."


"Eh? maksud--"


..


"Ahhhh gila gila! aku pasti sudah nggak waras! kenapa mikirin--"


Sebuah adegan ciuman, terekam didalam memoriku dan sekarang sedang ditayangkan, dalam pikiran.


Masih teringat jelas, saat Aidan memberiku perintah semalam, untuk melaporkan segala kegiatan yang ku lakukan mulai sekarang. Juga, ciumanya di bibirku, benar-benar ciuman yang tidak dapat dilupakan sampai pagi ini.


"Kalau Aidan tau, aku barusan memikirkanya, aaaah!"


Ucapku berbicara sendiri sembari memukul-mukul bantal keras, di dalam kamar yang mulai terang akibat sinar matahari perlahan masuk. Masih tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ku pikirkan.


Aku segera beranjak dari kasur, hendak keluar kamar. Namun, pandangan yang luar biasa!


"Aidan?!!"


Teriakku karna terkejut, mendapati sosoknya yang sedang berkutik di dapur kecilku.


"Oh udah bangun? selamat pagi.."


Aku segera mendekatinya, menatapnya dari dekat.


"Kamu kenapa bisa disini? jarak kemampuan membaca pikiranmu berapa meter dari orangnya? kita semalam-- ah bukan, kamu Aidan kan?!"


Ucapku penuh ke tidak tenangan, menatap sosok yang berada di hadapanku ini, Aidan.


"Astaga.. kau ini, aku Aidan."


Balasnya dengan tersenyum, sembari mencubit pipiku gemas.


"Tapi--"


"Udah-udah, jangan banyak bertanya dan cepat makan."


Tegasnya, membalikkan tubuhku membelakanginya.


Aku menuruti doronganya, berjalan polos masih dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Setelah duduk, Aidan menyajikan beberapa makanan yang telah dibuatnya.


"Ini semua kamu yang masak?!"


Celetukku, setelah menyaksikan hidangan-hidangan yang disajikanya di hadapanku.


"Aneh, kalau bukan aku lalu siapa?"


Jawabnya dingin, lalu duduk berhadapan denganku.


"Tapi kan aku nggak punya daging,selada,telur,cabai--"


"Aku yang beli."


Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Aidan sudah lebih dulu menyela ucapanku. Aidan yang tampak biasa-biasa saja itu, langsung menempatkan irisan daging diatas piringku, dengan manis.


Aku memicingkan mata, yang langsung disadari olehnya. Bahkan tatapan balasnya lebih dingin, seperti sedang mengucapkan, "Berhenti menatapku seperti itu, atau kau ku hukum."


Tunggu, hukum?? kenapa hukum, tolonglah kurcaci memoriku, jangan menayangkan adegan itu, jangan!!


"Heh kamu ketawa?!"


Ucapku sewot, setelah menyaksikanya yang tiba-tiba saja berhenti memotong steak, untuk tertawa lepas.


Aidan tidak membalas ucapanku. Matanya menatapku, menyisakan sebuah senyuman di bibirnya setelah tertawa.


"Kau pernah di cium Raja nggak?"

__ADS_1


Pertanyaanya barusan sontak membuatku terkejut dan tersedak makanan yang baru saja ku kunyah. Dengan sigap, aku langsung meraih gelas lebih cepat dari Aidan, lalu segera meminumnya, untuk meredakan sedakan ku.


Lagi! pergerakan Aidan yang tidak dapat ku duga, ia menghampiriku. Tanganya langsung menarik daguku, sehingga kini, wajahku benar-benar tidak ada jarak dari wajahnya.


*Cup!


Sebuah kecupan mendarat di bibirku lembut. Pandanganku langsung kosong, tubuhku membeku. Seolah-olah aku baru saja terkena sihir olehnya.


"Ah, manisnya~"


Aku masih tidak ingin menatapnya, walaupun ia berbicara seribu kali.


Setelah melihatku yang masih terdiam, tanganya menangkup wajahku, diarahkan untuk menatap matanya. Mau tidak mau, mata kami bertemu. Sebisa mungkin aku mencoba bermain mata, sedang memarahinya.


Aidan tertawa kecil, pandanganya beralih dari mataku, mengarah bibir. Sebelum ada sebuah pendaratan lagi, aku langsung menepis tangan Aidan di kedua pipiku.


"J-jangan l-lagi! kamu terus-terusan melakukan itu, menganggu pikiranku."


Ucapku sedikit terbata, berusaha tegas.


Tampak ekspresi Aidan yang berubah sedikit terkejut, ia mengerutkan keningnya dan tak lama, ia tersenyum.


"Kau bodoh ya. kalau gitu, aku akan mencium wanita lain saja di sekolah."


Tanpa sadar, aku langsung beranjak dari kursi, seperti tidak terima dengan ucapanya barusan. Namun, ketika sudah menyadari responku ini, aku memutar haluan, berjalan ke kamar sesudah melaluinya.


"Hei! kau ngapain kesana, Agatha!"


Aku tidak menggubris panggilanya. Setibanya di dalam kamar, aku langsung menutup pintu rapat-rapat, mencegah Aidan untuk menyusul masuk.


...


Cukup lama aku berdiam di dalam kamar, entah apa yang dilakukan Aidan di luar, tanpaku. Sebuah ide melintas, usaha untuk menghindarinya.


Setelah berganti pakaian, aku langsung keluar kamar, namun tidak mendapati sosok yang ingin ku hindari ini.


"Kau mau kemana?"


Ucap seseorang dari arah belakangku. Aku langsung berbalik badan cepat.


Balasku, berusaha tampak tenang di hadapanya.


Aidan langsung mendekat, berdiri lebih dekat dariku.


"Tanpa mandi?"


Benar, aku belum mandi. Karena terburu-buru ingin segera menghindarinya, aku tidak terpikirkan untuk mandi.


"Di sana, a-aku akan... telat bus kalau mandi sekarang."


Ucapku setelah terlintas ide.


"Oh, kalau gitu ku antar, kau mandi dulu sana! bau sekali~"


Ucapnya sembari berjalan melaluiku.


Tubuhku lemas seketika. Sepertinya, aku tidak bisa menghindari Aidan. Daripada terus menghindar dan terkejar olehnya, lebih baik aku menurut untuk satu ini.


"Hilangkan segala pikiran tentang ciuman itu, bawa pergi jauh dan jangan memikirkanya lagi, walaupun secuil, jangan." hipnotisku pada diri sendiri dalam hati.


***


Aidan benar-benar mengantarku, ia pamit setelah beberapa kali ku paksa pulang. Di sepanjang jalan aku tidak banyak berbicara denganya, saat berboncengan pun aku memberi jarak dan tidak memeluk tubuhnya penuh.


Sekarang, aku yang tidak tau arah dan hal apa yang harus ku lakukan. Bekerja adalah alasanku menghindari Aidan, shift ku sore hari, tidak pagi-pagi seperti ini. Bahkan bos wanita ku, Bu Cika terheran mendapatiku di depan toko.


Untung saja Bu Cika mengerti, jadi tidak terlalu ku pikirkan. Setelah memutuskan hal yang ingin ku lakukan, aku segera menuju pemberhentian bus, berencana mengunjungi Helen. Karena ini hari Sabtu, pasti Helen sedang berada di rumah.


..


Aku pun tidak begitu yakin, apakah bus yang ku naiki saat ini benar menuju rumah Helen atau bukan, yang jelas, aku tidak bisa naik taksi untuk mempermudah transportasiku.


Dengan beberapa persen keyakinan, aku menuruni bus, lalu berjalan memasuki perumahan yang cukup mewah.


Memang benar ini alamat yang di kirimkan Helen tadi, tapi lingkungan ini benar-benar mewah.

__ADS_1


"Ah.. bukankah sudah jelas, Helen juga punya mobil sport merah."


Ucapku sendiri, setelah menyadari pribadinya.


Setelah menemukan alamat rumah yang kucari, aku segera menekan bel rumah tersebut. Tak lama, sang pemilik rumah membukakan pintu untukku.


Sedikit terkejut, karena bukan Helen yang membukakan pintu, namun sosok wanita paruh baya dengan rambut yang terikat asal.


"Hei!"


Celetuk Helen dari arah dalam, menghampiriku yang masih berada di depan pintu.


Wanita paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya padaku dan langsung masuk kedalam.


Aku melemparkan pandangan langsung kepada Helen, bermaksud untuk bertanya siapa orang itu. Alih-alih menjawab, Helen langsung menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya.


Rumah bergaya modern, nuansa yang tenang namun tampak mewah. Aku terkejut, bagaimana bisa ia tinggal di sebuah rumah seperti ini.


"Duduklah, akan ku ambilkan minum.."


Pungkasnya sembari menepuk pundakku pelan, kemudian berlalu.


Aku pun langsung mengarah ke sebuah sofa, lalu duduk sembari menunggu Helen datang. Pandanganku masih memperhatikan sekeliling, terfokus pada barang mewah dan perabotan mahal miliknya.


Tak lama, Helen datang dengan segelas minuman diatas nampan yang digenggamnya.


"Udah puas lihat rumahku?"


Ucapnya sambil terkekeh. Aku pun tersenyum, ternyata gerak-gerikku diketahui.


..


Helen mengatakan padaku bahwa semua kekayaan yang dimilikinya adalah hasil menjual beberapa berlian dan mutiara. Sebenarnya, mudah baginya untuk mengikuti hal yang dilakulan Aidan maupun Gery. Tidak harus bersusah payah menjual, cukup menggunakan sedikit kekuatan manipulasi. Namun, Helen tidak ingin menipu dan membebani seseorang.


Aku pun berterima kasih padanya, karena sudah menjadi temanku di Negeri sana, juga saat ini.


Walaupun masih butuh sedikit petunjuk dan bukti lagi untukku benar-benar dapat mempercayai semua situasi aneh ini.


"Jadi, sekarang kamu akan pergi?"


Tanyaku setelah penjelasanya yang cukup panjang.


Helen mengangguk pelan, lalu nampak seperti sedang mengeluarkan sebuah kalung dari saku roknya. Aku pun sempat bertanya, untuk apa ia memakai kalung yang baru saja di keluarkanya itu.


"Ini adalah identitas kami, tanpa kalung ini, aku bukanlah apa-apa disana."


Jawab Helen tersenyum padaku, sembari memegang liontin dari kalung tersebut.


"Identitas.. Violen?"


"Ah... kau pasti ingin bertanya, apakah kau juga punya kalung ini bukan?"


Ucap Helen, tubuhnya mendekat kearahku sembari tersenyum.


Aku mengangguk semangat, sesuai dugaanku, Helen mengerti maksudku dengan baik.


"Kau punya.. bukan hanya di kalung, kau juga punya 4 permata liontin seperti ini, di mahkotamu. Ah, irinya~"


Jelas Helen, membuatku mengerutkan kening setelah ucapan darinya.


"Mahkota?"


Tanyaku masih tidak paham ucapanya.


"Aduh kau ini! Kutukanya sangat serius ya~ kau kan Putri, sudah pasti punya mahkota!"


Jawab Helen dengan nada sedikit meninggi.


"Hey, ajak aku ke Negeri itu, aku ingin kesana.."


Ajakku dengan suara lirih, sembari mengenggam tangan Helen yakin.


"Hari ini?"


Helen memastikan.

__ADS_1


****


__ADS_2