
Bu Cika mendelik. "Loh, pergi kemana?"
Aku tidak bisa sepenuhnya menjelaskan, kemana Aidan pergi sebenarnya.
"Luar negri," jawabku, berbohong.
Bu cika mengangguk paham. "Yasudah, 4 hari saja, nggak lebih." pungkasnya kemudian.
Sedikit kecewa, namun aku tetap senang. 4 hari, juga cukup. Lagipula, tidak sepenuhnya Aidan menghabiskan waktu bersamaku, di minggu terakhirnya. Ia harus menyelesaikan beberapa tugas yang tertunda, seperti penjelasanya tadi saat di rumahku.
"Makasih Nyonya Cika.." rayuku, tersenyum padanya.
"Fuh dasar! kau membuatku ingin muda kembali." ucap Bu Cika, beranjak sembari meraih tas nya.
"Loh, kenapa? Nyonya kan masih muda.." godaku lagi.
"Tidak usah berlebihan, kau tetap cuti 4 hari, nggak lebih!" pekiknya, seraya membuka pintu, berlalu meninggalkan toko buku ini.
Aku membalasnya dengan senyuman, memperhatikanya hingga benar-benar tidak tergapai dari pandanganku. Baru setelah itu, pikiranku kacau. Terasa sedih kembali, mengingat ucapan Aidan, ucapan perpisahan. Aku sangat membenci perpisahan, terutama kepada orang yang ku sayang.
*Tring!
"Selamat datang," sambutku ramah, kepada orang yang baru saja datang ke toko ini.
"Apa Helen dan Gery mengetahui hal ini?" batinku dalam hati. Sekilas, teringat kepada mereka. 2 orang yang juga berasal dari sana, pasti mereka lebih tau. Aku memutuskan untuk menghubungi Helen, daripada Gery. Mengingat, Aidan tidak terlalu menyukai Gery.
..
Sekarang pukul 4 sore, seharusnya sudah datang orang yang akan berganti shift denganku. Tapi, sudah lebih 10 menit sejak aku menunggu, sebelum jam pergantian shift, orang tersebut tak kunjung datang. Yang ada, pengunjung terus berdatangan, menyita waktuku lebih banyak.
"Maaf, maaf!"
Aku menoleh, kepadanya yang baru saja masuk tiba-tiba, hingga lonceng di pintu pun hampir jatuh.
"Pekerja sambilan?" tanyaku kemudian, melihatnya yang memegangi lututnya lemas dengan nafas tak beraturan.
laki-laki tersebut menghampiriku. "Aku sudah disini, jadi kamu boleh pergi." pungkasnya.
__ADS_1
"Memang begitu yang ku mau sejak tadi" batinku dalam hati, tersenyum paksa.
Aku pun langsung meninggalkan kasir, menuju ruang penyimpanan untuk mengambil barang-barangku, juga untuk berganti pakaian.
Saat sudah siap, dengan segera aku kembali ke depan. Hujan deras, sampai-sampai suara air yang menghantam jalanan pun terdengar dari dalam toko.
Aku memijat keningku, seraya duduk di sudut kasir, tak peduli dengan laki-laki pekerja sambilan yang menatapku. Apa boleh buat, aku harus menunggu hujan reda. Karena berangkat diantar Aidan, mengendarai motor, aku jadi lupa bawa payung. Ini juga terjadi karena beban di pikiranku, tentang kepergian Aidan.
"Kamu nggak bawa payung?" tanya laki-laki tersebut, mendekatiku.
Aku pun segera menoleh ke arahnya, mengangguk sesempatnya saja. Kembali termenung, memikirkan Aidan dan hujan.
Sebuah payung di dorong sengaja olehnya, mengenai lenganku. "Nih, pakai punyaku."
Aku menatapnya, pekerja sambilan yang berganti shift denganku ini. Namanya saja aku tidak tau, tapi kenapa ia sebaik ini?
"Lalu kamu?" tanyaku kemudian, hendak menerima payung tersebut ragu.
Ia mengangkat bahunya sekilas. "Hm, mungkin hujanya reda di malam hari." jawabnya kemudian.
"Benar, shift nya kan selesai pukul 9 malam." pikirku dalam hati.
..
Aku pun bergegas menuju Cafe, tempat yang sudah ditentukan saat janjian dengan Helen tadi. Sedikit penasaran, saat berjalan seperti ini, dengan orang yang tertawa lepas, bergurau di tengah derasnya hujan. Sepertinya, mereka tidak memiliki beban sepertiku, gadis yang masih berumur belasan tahun.
"Hei, kamu tau nggak? aku bukan dari dunia ini lho--" Aku mulai bertingkah, seperti orang yang putus asa-- "Kalau Nasa tau, aku bukan berasal dari dunia ini, pasti mereka sudah memburuku. Untuk bahan penelitian, haha!" batinku terus-terusan, sembari melewati jalan bersama derasnya hujan.
Mungkin aku sudah gila, akibat Aidan terutama. Tidak, aku nggak bisa merelakanya begitu saja. Kenapa Dewa begitu kejam? aku baru saja hendak bahagia.
Sudah kudapati Helen, terlihat dari kaca jendela. Senyumnya mulai mengembang, usai melihatku juga. Aku pun segera berlari, masuk ke dalam Cafe tersebut. Meletakkan payung dan mantelku pada tempatnya.
Aku langsung memeluk tubuh Helen. "Hei.. aku sedih banget!"
Helen pun kebingungan, ia menarik tubuhku. menjajarkan tubuhku denganya, menatap mataku yang mulai berair, bersiap untuk menangis.
"Kau kenapa?!" pekik Helen, tak percaya aku tiba-tiba menangis.
__ADS_1
Orang-orang yang berada di sekitar pun, sempat menoleh akibat isak tangisku yang mulai terdengar. Padahal, aku berharap suara tangisku tersamar oleh derasnya suara hujan turun.
Aku menuruti Helen, duduk bersebelahan denganya. Ku ceritakan semua yang terjadi, tanpa terlewat. Mulai dari bertemu Raja diam-diam, sampai kabar buruk dari Aidan. Aku menyalahkan diri sendiri, mengira itu semua terjadi karenaku.
"Aku harap, kau lebih siap menghadapi hal-hal seperti ini kedepanya." ucap Helen, ia nampak biasa saja setelah mendengar ceritaku.
"Terus, aku harus gimana?" tanyaku, walaupun sedikit kecewa dengan respon Helen.
Tiba-tiba Helen menatap dingin kearahku, tatapan tajamnya menghunus langsung ke dalam mataku.
"Caraku untuk kembali ke dunia itu, dengan portal. Pasti ada portal tersembunyi milikmu." ucap Helen.
Aku pun langsung memusatkan pandangan sepenuhnya pada Helen, mendengarkan lagi penjelasanya.
"Jadi, alasan sinar yang terpancar begitu terang saat pulang sekolah itu, karena melanggar portal?" tanyaku, berusaha memahami lebih jelas.
Helen mengangguk. "Sialnya, kita ketahuan, oleh petugas keamanan." tambah Helen.
Aku sekarang mengerti, kejadian-kejadian aneh itu. Bukan, hal tersebut tidak aneh, karena memiliki kejelasan tersendiri, yang aku belum ketahui.
"Kau bilang, pernah pergi bersama Aidan, ke dunia sana. Benar?" tanya Helen kemudian.
"Aku nggak pernah bilang padamu," sanggahku.
Helen memutarkan bola matanya malas. "Wanita panti, memberitahuku." sahut Helen.
"Berarti, itu portal Aidan?" simpulku.
"Bukan. Bisa saja itu portalmu. Kita nggak akan tau kalau belum mengeceknya langsung!" pekik Helen.
Aku mengerutkan keningku, tanda tak paham. Bagaimana mungkin portalku? cara masuknya saja aku tak paham.
"Ayo!" pinta Helen, sudah lebih dulu beranjak dari kursi.
"Kemana?"
"Kerumahmu. Portal itu ada di sungai dekat rumahmu, bukan?" perjelas Helen.
__ADS_1
Aku menuruti ajakan Helen, walaupun hujan masih turun dengan derasnya. Untung saja, Helen dengan mobil sport merahnya, dapat mengantarku, tanpa harus berjalan ke halte bus.
****