
Kala itu, Olen tidak hanya membawaku berkeliling sekolah, ia juga memberitahu ku tentang dunia paralel. Aku sedikit terkejut dengan karanganya, dunia paralel yang ia sebut mungkin adalah dunia yang ku huni belasan tahun, penuh derita yang lumayan menyedihkan.
Selama hari pertama di sekolah pun, Gery dan Helen sama sekali tidak mengunjungiku, kecuali saat pagi tadi. Sulit untuk berbaur di sekolah ini. Aku pun menyadari, bahwa ini bukanlah sekolah biasa, seperti sekolahanku sebelumnya. Tidak ada pelajaran umum, anehnya di hari pertamaku masuk, diajarkan untuk berburu dan bertarung.
Tentu saja aku tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Perasaan takut dan grogi muncul saat aku di hadapkan oleh seseorang, yang di perankan sebagai musuhku. Tugasku adalah, untuk membunuhnya.
Gila! pelajaran macam apa ini, untung saja ada Olen yang bersedia membantuku, begitupun yang lain. Walaupun senyum mereka ada saat di depanku, namun dibelakangku mereka seperti sedang mengumpat. Astaga, aku benar-benar tidak memahami situasi ini.
...
"Putri, kau pulang naik apa?"
Tanya Olen segera setelah menghampiri keberadaanku.
Aku segera menoleh kearah jam dinding yang ada, mendapati jarum jam yang menunjuk angka 3. Sudah sore rupanya, apa ini jam pulang sekolah?
"Aku naik mobil.."
Jawabku singkat, sembari tersenyum.
Aneh, tatapan Olen menjadi membulat, tampak kerutan di wajahnya yang berarti ia cukup bingung dengan ucapanku barusan.
"Kenapa?"
Tanyaku setelah memandangi wajahnya yang tampak heran itu.
"Apa itu mobil?"
Sontak pertanyaan Olen membuatku terkejut, tanpa sadar aku pun tertawa. Bagaimana bisa ia tidak tahu apa itu mobil.. tapi tunggu--
"Mobil kendaraan, kamu nggak tau?"
Tanyaku memastikan, raut wajahku menjadi serius seusai menertawainya tadi.
Respon gelengan singkat dari Olen, membuatku terkejut lagi. Dan tak lama, aku menyadari Helen datang.
"Hei kamuu!"
Ucapku dengan kesal dan langsung berdiri.
"Maaf, hehe.."
Helen melemparkan tatapanya padaku, setelah menyadari ada Olen yang sedang berbicara padaku. Aku pun mengangkat kedua pundakku singkat, sembari tersenyum.
Olen yang menyadari picingan mata dari Helen pun, mundur selangkah. Helen yang kalah tinggi, mendongak keatas dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Berani nih dekat-dekat?"
Ucap Helen, nadanya sinis.
Situasi sempat canggung, Olen pun sepertinya kalah kedudukan. Ia menunduk segera, lalu mengisyaratkan tanganya padaku, yang mengarti untuk pamit pulang duluan.
__ADS_1
Aku segera memeluk Helen, di respon dengan pelukan balik darinya.
"Hey kenapa?"
Tanya Helen ketika aku membenamkan wajah di pelukanya.
Dari sisi samping tubuh Helen, aku dapat melihat langkah kaki yang mendekat ke arah kami. Dengan segera, aku melepaskan pelukan dan menatap sosok tersebut.
"Sedang berpelukan ya? ikut dong"
Ucap Gery sambil tersenyum jahil.
Tatapan aneh datang dari teman-teman di kelasku, saat Gery datang. Helen pun menyadari situasi ini, matanya langsung melotot tajam ke arah Gery. Dan dalam sekejap, Gery hilang dari pandanganku, begitu juga yang lain. Sontak aku saling melemparkan tatapan ke Helen, penasaran dengan apa yang barusan terjadi. Namun helen membalasku dengan senyuman, tanganya langsung meraih pundakku. Merangkulku, berjalan keluar kelas.
Masih penasaran dengan keberadaan Gery, aku hendak bertanya kepada Helen.
"Mau tanya Gery?"
Celetuk Helen, setelah menyadari tatapan mataku yang menandakan ingin bertanya sesuatu.
Aku terkejut menyadari responya lebih cepat, walaupun belum sempat ku lontarkan pertanyaan. Dengan senyum yang mengembang, aku mengangguk cepat menatap Helen.
"Dasar. Aku harap kau cepat pulih ingatan."
Ucap Helen, setelah melirik singkat kearahku.
Disambung dengan obrolan dan tawa kami sepanjang koridor sekolah.
---
"Kenapa? santai aja!"
Ucapnya sembari memainkan mata padaku.
Aku mengerutkan keningku heran, lalu mengekor dibelakangnya yang sudah mulai berjalan.
Apa sekarang aku sudah berada di negri asalku? atau memang jam nya rusak?
Sebelum banyak pertanyaan yang masuk di pikiranku, kehadiran Gery membuatku terkejut.
"Kau pasti penasaran kenapa aku bisa menghilang tiba-tiba, kan?"
Ucapnya, menjejeri langkahku sembari tersenyum mengganggu pandangan lurusku.
Langkah Helen terhenti, aku pun mengikutinya. Mengabaikan Gery di sampingku.
"Hei, cepatt! kita harus pulang."
Pungkas Helen, dengan nada yang sedikit berteriak setelah menoleh ke arahku dan Gery.
Kenapa? aku begitu penasaran, ditambah mobil merah yang tiba-tiba sudah berada di jangkauan mata kami. Helen menarik tanganku, menyusul Gery yang sudah mengajakku segera berlari masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Aku semakin tidak paham dengan situasi aneh seharian ini.
Kini Helen yang menyetir mobil, Gery duduk di belakang bersamaku. Rasa penasaran dan ketidak pahamanku semakin jelas, saat Helen melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
"Pegangan... mungkin akan sedikit membenturkan badanmu."
Pungkas Helen yang tetap terfokus menyetir, masih dalam kecepatan penuh.
Gery dengan sigap, langsung memakaikan sabuk pengaman untukku, tanganya menjaga kepalaku agar tidak terhantuk pada dinding mobil.
*Sraaashhhh! *Clinggg
Betapa terkejutnya aku, saat tubuh Gery menutupiku dengan sengaja. Samar-samar cahaya yang begitu terang mencuak tajam, masuk kedalam mobil. Namun karena terhalangi oleh Gery, aku tidak dapat melihat apa yang baru saja terjadi.
Gery segera menyingkir dari ku, aku menatapnya lekat setelah terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.
*Kato! *kato! *🎶~ (Dering panggilan masuk)
Pandanganku langsung beralih, mencari-cari ponselku yang berdering. Gery memberikan ponselku, tanpa menoleh.
Aku pun langsung mengangkat panggilan tersebut, yang ternyata dari Aidan.
/"HEI! KAU DIMANA? KENAPA BARU ANGKAT?"
Aku segera menjauhkan ponselku dari telinga, karena suara Aidan yang berteriak kencang. Sampai-sampai Helen ikut menoleh kebelakang singkat.
Bukan terkejut karena suara keras Aidan di telfon, namun..
Langit yang menjadi terang, jelas-jelas tadi malam. Bagaimana bisa berubah cepat?
/"Halo?! hei kau!!"
Suara dengan nada keras dari telfon menyadarkan ku, aku kembali mendekatkan ponsel ke telingaku.
/"Aidan, maaf aku--"
Belum selesai kalimatku, Aidan lebih dulu menyerang dengan kalimatnya.
/"hah.. kau dimana sekarang?!"
Pekiknya.
Dari suaranya terdengar, bahwa ia sangat cemas padaku. Gery yang berada di sampingku pun, tidak berbicara apa-apa. Jelas-jelas ia mendengar semua percakapanku dengan Aidan di telfon.
/"Aku di sekolah Aidan, kamu dimana?"
Tanyaku mengalihkan, berusaha membuatnya sedikit tenang.
Tampak Helen yang menatapku dari kaca tengah, matanya melirik kearahku tajam. Aku tidak mengerti mengapa ia menatapku seperti itu. Gery pun masih diam tidak berbicara, pandanganya menatapi jalanan.
Lagi-lagi terpikirkan, bagaimana bisa dari malam menjadi sore. Seolah-olah aku baru saja memasuki dunia lain, dan sekarang aku kembali di duniaku.
__ADS_1
/"Dirumahmu, cepat datang."
Ucap Aidan, suaranya sedikit tenang, setelah menghela nafas panjang.