VIOLEN

VIOLEN
Petunjuk yang Semakin Jelas


__ADS_3

"Kau mau diantar sampai rumah sekalian?"


Helen melirik kearahku, dari kaca spion tengah. Karena hari ini amat melelahkan, penuh teka-teki yang membuat kepalaku pusing, aku mengangguk pelan. Menerima tawaran dari Helen.


Helen mengangguk mengerti, Ia langsung menginjak gas dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, setelah ngebut habis-habisan tadi, di dunia yang tidak kupahami.


Aku tidak ingin menunda waktu lagi, tubuh dan pandanganku menghadap Gery yang berada di sampingku, lalu menepuk pundaknya pelan.


"Hei, aku mau tanya nih.."


Ucapku setelah mendapat respon tatapan darinya.


"Tanya apa?"


Jawab Gery. Helen pun sepertinya sedikit penasaran, ia sempat melirik dari kaca tengah.


Aku bertanya kepada Gery, tentang dimana letak sekolah tadi dan sekolah seperti apa itu. Kujelaskan juga tentang apa yang sudah di ceritakan Olen, tadi siang.


Tampak wajah Gery yang sedikit terkejut ketika ku lontarkan beberapa pertanyaan. Matanya menyipit kearahku, tanganya di lipat di depan dada.


"Kau beneran nggak ingat?"


Tanya Gery, responya sungguh membuatku tidak puas.


"Hei, Kau yakin, diutus oleh Ayahnya langsung?"


Sambung Gery lagi, kali ini ia bertanya kepada Helen, tubuhnya turut mendekat.


Aku menatap mereka berdua, kerutan diwajahku semakin menandakan bahwa aku sangatlah penasaran.


"Ehm, sebaiknya ini bukan masalah kalau diceritakan. Baiklah, dengarkan ya Agatha Violen yang terhormat.."


Pungkas Helen, tanpa menoleh.


Gery pun tersenyum setelah mendengar celotehan Helen barusan, ia langsung memundurkan tubuhnya kembali, bersandar di jok.


Aku menatap Helen lekat dari belakang, yang masih terfokus menyetir itu. Rasa penasaranku semakin besar.


"Ya benar, aku tidak datang cuma-cuma. Aku datang kesini karena di utus oleh Ayahmu, tentu saja paksaan. Ah bukan, aku juga kangen kau banget!"


Ucapnya seraya menoleh, tersenyum manis padaku.


"Jadi ayahku--"


"Ah lalu, alasan aku datang karena sebentar lagi kau akan ditarik kembali, kesana ke negri kita. Tugasku adalah membantu ingatanmu pulih, tapi itu semua nggak segampang yang ku kira."


Sambung Helen, memutus ucapanku.


Tunggu, apa?


"Ditarik kembali? kenapa? apa sebelumnya aku--"


"Kau terkena kutukan. Akibat perbuatan fatal kedua Orangtua mu."


Lagi, Helen lebih dulu menjawab pertanyaan yang belum selesai ku ucapkan kalimatnya. Membuatku penasaran akan suatu hal,


"Hei.. kalian berdua, bisa membaca pikiran kan?"


Celetuk ku, menatap Helen dan Gery bergantian.


Gery yang sedari tadi mendengar percakapanku dengan Helen pun, sebatas mengangkat kedua pundaknya, sembari tersenyum.

__ADS_1


Lain dengan Helen, ia mengangguk cepat, senyumnya santai. Lalu segera menoleh kearahku, saat mobil terhenti karena lampu merah.


"Kau tenang saja, aku akan membantu mu hidup kembali, percayakan padaku."


Tegasnya dengan mengedipkan sebelah matanya sekilas, lalu kembali fokus melajukan mobil.


Sorot pandangku beralih menatap Gery, hendak mengkonfirmasi sesuatu.


"Lalu kamu ngapain disini? kamu kan berasal dari Jaidran."


Gery menegapkan tubuhnya, ia sedikit menjauh dariku yang mendekatinya.


"Mengawasi Aidan, memangnya aku mengawasimu juga?"


Balasnya, dengan senyumnya yang menyeringai.


Sepertinya aku pernah mendengar penjelasan ini, tapi kapan ya?


"Terus, Raja bagaimana?"


Celetuk ku lagi.


Kali ini aku benar-benar penasaran, biarpun hubungan pertemananku dengan Raja sedikit renggang akhir-akhir ini, namun aku tetap mengkhawatirkanya.


"Huh, Raja?"


Ucap Helen, dengan mengerutkan keningnya, menoleh kearahku sekilas.


"Iya Raja, kalian pasti tau kan posisi Raja di 'Negri kita' juga?"


Jelasku lebih dalam, dengan menekan kata negri.


"Bukanya kita sudah bahas cecunguk itu di cafe?"


"Cafe? kamu tau kalau tempat kita mengobrol malam itu, namanya Cafe?"


Responku sedikit menggodanya.


"Heh, kau pikir di negri kita nggak ada tempat begituan? Ada! bahkan lebih keren, tau!"


Balas Gery sewot dan langsung menyentil keningku.


"A-a!"


Erangku spontan setelah mendapat sentilan darinya.


"Kau yang betul, mana ada tempat bernama cafe di negri kita."


Sela Helen, membuatku menertawai Gery langsung, sembari memegangi keningku.


"Ya, ya, tapi kami punya tempat yang lebih menyenangkan dari cafe-mu itu."


Ucap Gery, tak terima dengan fakta.


*Criiiitttt!


*BRUUG!


"A-aah aduh,"


"Hei maaf! aku terkejut, itu Aidan bukan?"

__ADS_1


Pungkas Helen setelah rem dadakanya itu.


Aku segera memfokuskan pandanganku, setelah terhempas ke samping, sampai-sampai kepalaku terhantuk dan membuat sedikit pusing.


"Kok kalian sama sekali nggak terbentur, bergerak, atau refleks lainya sih?!"


Aku menjadi sewot, karena memang benar, Helen dan Gery yang bahkan disampingku, sama sekali tidak bergerak, tetap duduk kokoh. Helen pun sama, biasanya kalau seseorang yang sedang menyetir mobil, terus melakukan rem dadakan, tubuhnya akan mendapat dorongan ke depan. Namun Helen tidak, bergerak sedikit pun tidak, kecuali saat ia menoleh ke arahku.


"Hiih, santai dong.. salahkan Aidan, siapa suruh dia ada di depan rumahmu, membuatku kaget saja."


Pungkas Helen, membela dirinya.


Aku baru sadar, kalau sekarang kami sudah berada di pekarangan rumahku. Dan benar saja, Ada Aidan, sesuai dengan ucapanya di telfon tadi.


"Udah sana, kau turun. Kami langsung pulang,"


Celetuk Gery, setelah menyadari kekhawatiranku sesudah menatap Aidan.


Helen mengangguk pelan, ia sepertinya juga sudah tau kalau aku berpacaran dengan Aidan, atau belum?


"Em, kalau gitu aku duluan ya, nanti ku hubungi."


Ucapku setelah menyetujui perintah Gery, dan langsung menuruni mobil dengan tas yang sudah ku sampirkan di pundak.


Helen dan Gery tersenyum sebelum kututup pintu mobilnya, terdengar samar juga suara Helen yang meminta Gery beralih mengemudi.


Sebelum Aidan menyadari, aku memastikan kepergian mobil merah yang dikendarai Helen dan Gery itu. Setelah benar-benar pergi, aku mulai berjalan mendekati Aidan.


"Ddor--"


Senyumku memudar, menjadi tatapan datar saat usahaku untuk mengageti Aidan gagal.


*Grep


Aidan memeluk tubuhku erat, aku pun sedikit terkejut mendapat pelukanya.


"Eh..?"


Aidan tak menggubrisku, pelukanya semakin erat, sembari tanganya mengelus rambutku lembut.


Aku yang berusaha memahami situasi pun, tenggelam dalam pelukanya, memeluk kembali pacarku ini.


Setelah memelukku cukup lama, ia melepaskan pelukanya, bersamaan dengan langit yang sudah menjadi gelap. Aku tersenyum kepadanya, mencoba untuk meluluhkan raut wajahnya yang tampak cemas.


"Kau nggak papa?"


Tanya Aidan, sembari tanganya mengusap pipiku lembut. Tampak matanya yang berbinar, benar-benar mengekspresikan kecemasan.


"Nggak papa, Aidan.. aku baik-baik aja, tenanglah.."


....


Aku sudah menceritakan tentang hari ini kepada Aidan, untuk membuatnya berhenti mengkhawatirkanku.


Walaupun awalnya Aidan sempat tidak terima, dan raut wajahnya yang berubah emosi.


Aku mencoba untuk meyakinkanya, kalau sekarang ini sudah waktunya untukku mengetahui semua kebenaran. Aku juga sempat meminta bantuan, agar Aidan mau dan bersedia membantuku memulihkan ingatan, walaupun Aidan sendiri bilang, kalau dirinya sedang kesulitan karena melanggar misi.


Entah mengapa, mendengar kata kutukan, semakin membuatku kesal kepada dewa penjaga bumi ini, kenapa harus aku yang terus-terusan dapat nasib seperti ini?


Sempat ragu saat hendak menyebutkan nama Raja, namun Aidan lebih dulu menyadari pikiranku, berkat kemampuan membaca pikiranya.

__ADS_1


Mungkin memang benar dan semua semakin jelas, setelah pecahan-pecahan petunjuk yang sebelumnya kacau. Raja, aku benar-benar merasa bersalah terhadapmu. Aku penasaran, apakah ngeri kita disana juga mengirimkan seseorang untuk mengawasimu? sepertiku, yang diawasi oleh Helen.


***


__ADS_2