VIOLEN

VIOLEN
Kejadian di Tempat Kerja


__ADS_3

Malam ini seperti biasa, menerima upah harian setelah bekerja menjadi kasir toko pernak-pernik.


"Paman hanya penasaran, apa kamu sudah memiliki pacar?"


Ucap manager laki-laki berumur hampir 30 tahunan itu kepadaku, setelah menyerahkan amplop berisi uang.


"Belum. Kalau begitu saya pamit ya, selamat malam."


Ucapku padanya sembari membungkukkan setengah badan, lalu bergegas mendekati pintu.


Belum sampai keluar pintu, pemilik toko tersebut meraih tanganku. Aku terkejut dan segera menoleh padanya.


apa ini sial, aku ingin menepis tanganya tapi bagaimana jika aku dipecat? astaga siapapun tolonglah..


"A-aada apa tuan?," tanyaku heran.


"Ah.. paman belum makan malam, apa kau mau temani paman?"


Ucapnya dengan senyuman nakal membuatku geli ketika menatap wajahnya. Orang-orang yang melintas didepan toko tidak menghiraukan kami, mereka tampak sibuk dengan tujuanya masing-masing.


gila! apa-apaan pria ini. Nggak, aku harus mencari alasan buat ngehindar darinya.


"Maaf tuan, saya harus segera pulang."


Pungkasku padanya sembari menundukkan kepala.


"Heh, sudah ayo masuk lagi! tunggu paman sebentar, paman akan menutup toko."


Ucapnya tampak tidak memperdulikan jawabanku tadi.


Sinting, dia sudah gila apa ngajak makan malam siswi SMA, yang bekerja di toko miliknya. Apa yang harus kulakukan.. ponsel!


Aku segera membuka tas dan lansung mengeluarkan ponselku sembari mengawasi kedatangan pemilik toko itu.


Nggak, nggak mungkin aku hubungi Raja setelah kejadian tadi. Bu Ratih? terlalu jauh.. lalu, Dona? tapi aku udah lama nggak berhubungan denganya sejak lulus smp. Ah sial sialll cepat sadarkan dirimu dan berpikirlah Athaa!


Tanganku gemetaran sambil menggenggam ponselku. Wajahku cemas ketika pemilik toko tersebut menuruni tangga dan mulai mematikan lampu.


Tolong.. tolong jadikanlah keputusanku ini benar!


--*tuut ... tut ...


"Hal-o?"


"Aidan cepat bantu aku!!"


--*pip.


Nafasku tidak tenang, Pemilik itu hampir berjalan ke arahku. Bibirnya tersenyum kepadaku sembari melambaikan tanganya.


--*kato!


Aku membuka ponselku ketika ada nada pesan masuk, lalu segera membacanya.


Cepat cepatt lakukanlah sesuai permintaan Aidan, athaaa!


Tanganku semakin gemetaran ketika mengirimkan lokasiku kepada Aidan. Aidan sepertinya tampak cemas mengkhawatirkanku.


"Sedang apa?"


Tanya pemilik toko itu tiba-tiba sudah berada dihadapanku.


Aku kaget bukan main, tanganku gemetaran lebih hebat sembari memasukan ponselku kedalam tas kembali.


ya jelas menghubungi seseorang yang akan menolongku lah! gila aja, aku mau makan malam denganmu.


"a-anu.. ini, saya melihat jam."


Ucapku pada pemilik toko itu berusaha untuk tenang.


Ia mengangguk dan mengajakku berjalan.


"Ayo?," Ucapnya memulai langkah duluan.


Nggak! nggak boleh sekarang. Nanti Aidan kehilangan jejakku. Aku harus segera mencari alasan sambil menunggu Aidan datang.


"A-ah.. tuan.. sepertinya saya harus segera ke kamar mandi.."


Ucapku dengan suara lirih memegangi perutku.


"Kenapa? ada apa?"


Tanya pemilik toko itu setelah menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiriku yang masih tertinggal dibelakang. Tanganya memegang pundakku dengan badan yang ikut membungkuk.


eh gila! ngapain dia menyentuh pundakku. ahh peka dasar pemilik toko mesum!


"Tolong bukakan tokonya kembali, saya harus segera pergi ke toilet," Ucapku dengan nada penuh meyakinkan.


"Ya, ya baiklah. Akan paman bukakan."

__ADS_1


Pemilik toko tersebut bergegas memasangkan kembali kuncinya dan berusaha menuntun pundakku.


"Tuan, sepertinya saya baik-baik saja. Saya akan masuk sendiri.."


Ucapku sembari menghindari tanganya.


"Sudahlah, paman bantu.."


Ia tetap tidak goyah dan masih memegangi pundakku menuntun masuk kedalam. Aku terbebani dan merasa sangat risih ketika tubuhnya berdekatan denganku.


Aidan.. tolong cepatlah datang kumohon.. aku nggak mau berlama-lamaan dengan pria ini.


Aku tersenyum dengan terpaksa kepadanya sambil memegangi perutku yang sengaja kubuat pura-pura sakit.


"Tuan, sampai sini saja mengantarnya,"


Ucapku padanya. Matanya tampak semakin jahil ketika kami sudah berada didepan toilet wanita. Pandanganya celingak celinguk ke arah luar. Tubuhku semakin lemas dan gemetar. Pemilik toko ini tak kunjung melepaskan peganganya.


dia ini sudah nggak waras ya? biar manager toko juga aku nggak mau berdua saja denganya seperti ini. Aidann, kamu dimana..


Tatapanya tampak semakin mesum, seperti ingin berbuat sesuatu kepadaku. Aku segera berputar membalikkan tubuhku paksa dan akan meraih gagang pintu. Lagi, pemilik toko itu menahan tanganku lalu menyergap tubuhku kasar.


"Hehe.. paman tau kau pura-pura mencari tempat sepi untuk kita berdua kan? benar, ini pilihan tepat yang kau buat alih-alih makan dirumah paman kan..?"


Ucapnya dengan tangan yang menyingkap mulutku. Tanganku yang kalah banyak dengan tenaganya membuatku tidak berdaya. Aku memejamkan mataku ketakutan.


Apanya yang paman sialan! kau lebih mirip seperti psikopat.


--*GUBRAKK! BRAKK! BRAKKK!


"Aaah, B*jingan gila. Siapa yang berani mendobrak pintuku seperti itu!"


Ucapnya dengan kesal melepaskan dekapanya terhadap mulutku. Ia menatapku sekilas lalu, berjalan menghampiri pintu.


Aku bernafas lega, tubuhku terasa sangat lemas, tanganku tak berhenti gemetaran. Aku menyusul untuk keluar, berharap yang mendobrak pintu toko itu Aidan.


"Aidann! Aidannn!"


Teriakku kepada Aidan ketika sudah melihatnya di balik pintu kaca tersebut.


Pemilik toko berhidung belang itu nampak sangat terkejut dan kesal, ketika aku berteriak terhadap orang yang berusaha mendobrak pintu toko miliknya.


Aku menatap raut wajah Aidan yang tampak begitu emosi ketika pintu tak kunjung terbuka. Alarm berbunyi keras seperti sirine ambulan. Orang-orang segera berdatangan menuju kemari.


"Ahhh sial!"


Ucap pemilik toko dengan kesal lalu segera mengeluarkan kunci dari saku jaketnya lalu memadamkan alarm pintu otomatis itu.


"Aaghh-A-hkk!"


Terdengar nafas yang tersenggal dari pemilik toko. Orang-orang semakin memperhatikan kami menyaksikan apa yang terjadi. Aku segera berlari menghampiri Aidan yang masih mencengkram kuat kerah baju pemilik toko itu.


"Aidan sudah!"


Pintaku padanya sembari menahan tanganya yang akan meninju wajah pemilik toko itu.


Aidan menatapku heran, matanya seakan memberitahu bahwa dirinya tidak akan memberi ampun kepada pemilik toko ini.


"Aidan.. kumohon! kita tinggalkan aja."


Pintaku padanya memelas karena orang-orang semakin heboh dan ribut.


Aidan melepaskan cengkramanya dari leher pemilik toko itu. Nafasnya yang tidak stabil karena emosi. Aidan meraih tanganku, lalu menggandengku keluar toko.


Pemilik toko itu jatuh tersungkur sembari memegangi lehernya. Orang-orang yang tadinya berkerumun mulai meninggalkan tempat itu satu-persatu. Namun, ada juga yang tampaknya mendekati pemilik toko tersebut.


...


Setelah berjalan cukup jauh, tanganya melepaskan genggamanku, lalu membalikkan tubuhnya menghadapku. Ia tampak cemas namun seperti akan marah.


"Kau.."


Ucapnya singkat dan langsung memeluk tubuhku tiba-tiba. Wajahku terbenam dalam pelukanya, tanganku memeluk tubuhnya kembali. Ia tak meneruskan kata-katanya.


"Aidan, Kamu tetap memelukku? padahal aku belum mandi.."


Ucapku yang tiba-tiba membuatnya melepaskan pelukanya terhadapku. Ia lantas menutup hidungnya sembari mengibaskan tanganya di udara menjauhiku.


"Tau gitu enggak bilang.."


Ucapku lagi sambil tertunduk setelah melihat tingkahnya barusan.


"Dasar jorok,"


Celetuknya sembari mendorong keningku dengan telunjuknya.


Aku langsung menoleh kearahnya, mendangakkan kepalaku, lalu mengarahkan telunjukku kekeningnya untuk melakukan hal yang sama. Namun Aidan lebih dulu menangkap telunjukku. Bibirnya tersenyum padaku, Ia menggenggam tanganku lalu menaruhnya dikantong mantel miliknya.


Aku mencoba mengeluarkan tanganku dari mantelnya, namun tidak terjadi pergerakan apapun. Tanganya yang besar, mengenggam tanganku dengan sempurna didalam kantong mantelnya. Aku mendengus kesal dengan raut sembari mengernyitkan dahiku.

__ADS_1


"Ah, imutnya.. Kita harus kembali kesana, ketempat kau bekerja," Pungkasnya padaku.


"Kenapa kesana lagi?" Tanyaku heran.


"Untuk pulang. Aku tidak akan membiarkan kau pulang naik bus malam ini," Ucapnya lagi.


Ia tak menunggu responku dan langsung berbalik badan, mengajakku untuk kembali ke tempat kejadian menyeramkan tadi.


Tanganya yang menghangatkan tangan milikku di mantelnya, membuat pipiku meruma merah, ditambah ia mengatakan aku imut tadi.


ahh.. apa-apaan, kenapa dia jadi manis seperti ini sih>< perasaan seperti apa ini yang membuat jantungku berdegup kencang. *tiba-tiba teringat kejadian sore tadi saat berciuman diatap sekolah*


"Gila!!"


Tanpa sadar aku mengucapkanya dengan keras, membuat Aidan menoleh kearahku. Ia tersenyum sekilas tanpa menanyaiku dan terus berjalan.


Aku menggelengkan kepalaku kepadanya, mengisyaratkan tidak ada apa-apa.


...


Setelah hampir 10 menit berjalan, akhirnya kami sampai di toko tempatku bekerja, toko itu tampak sudah kosong dan gelap.


mungkinkan dia sudah pergi? ah gila-gila! mikir apa aku, kenapa harus memikirkan pemilik toko nggak waras itu.


Aku membuyarkan pikiranku dan tersadar, Aidan masih terus berjalan padahal kami sudah melewati toko tersebut. Tanganya yang masih menggandengku membuatku heran sembari menatap wajahnya dari samping.


"Sampai."


Ucapnya tiba-tiba membuat langkahku ikut terhenti.


Aidan mengambil helm yang terdapat diatas motor sport warna hitan itu. Aku mengernyitkan dahiku saat Aidan memakai helm tersebut di kepalaku.


"hey, kamu ngapain-"


Belum selesai aku berbicara, Aidan segera menarik pundakku lalu menundukkan kepalanya mendekati wajahku. Aidan mengecup bibirku secara tiba-tiba membuatku terkejut.


kyaaaaa! siapapun yang mendengarkan ucapanku ini tolong sadarkanlah aku jika sedang bermimpi. tolong!


*Clekk!


Aidan menutup kaca helm yang kugunakan. Aku segera membuka mataku dan sudah mendapati Aidan yang berada di atas motor sembari meluruskan standar motornya.


"Cepat naik,"


Pintanya sembari mengulurkan tangan padaku.


Aku segera menuruti, menerima uluran tanganya untuk bertumpu saat naik ke motornya.


"Udah?"


Tanya Aidan memastikanku, apakah aku sudah duduk dengan sempurna.


"Iya,"


Jawabku singkat sembari berpegangan pada kedua pundaknya.


Aidan segera menyalakan mesin dan langsung melajukan motornya dengan cepat, layaknya motor sport. Jalanan malam yang tidak begitu ramai, semakin membuat laju Aidan menjadi-jadi. Ia tampaknya menikmati suasana malam saat mengendarai motor seperti ini. Jantungku tiba-tiba berdetak semakin cepat, berbarengan dengan angin dan udara dingin yang menyerbak di leherku.


Aku mengerti dengan perasaanku sekarang, aku tidak bisa membencinya atau menjauhinya seperti permintaan Bu Ratih. Sepertinya, aku lebih memilih untuk berada didekatnya seperti ini, sangat membuatku tenang.


Terbesit di benakku, tentang pernyataan Raja malam itu. Ia memintaku untuk menjauhi Aidan, ia juga mengatakan akan mencintaiku.


Maafkan aku Raja, perasaanku tidak bisa dibohongi.


*CRIIIIIIITTTTT...!


*DUUGG!


Aku sangat terkejut, helmku membentur helmnya, aku segera memundurkan kepalaku darinya. Motor yang kami kendarai berhenti, mematuhi lampu merah.


Terlihat dari spion, Aidan sedang menatapku. Matanya yang menyipit seperti sedang tersenyum padaku. Aku segera menoleh kapadanya dari samping,


"Aidan! kamu baru aja ngebahayain nyawa kita,"


Ucapku padanya.


Aidan tidak menjawab perkataanku, tanganya meraih tanganku yang berpegangan pada pundaknya, lalu memindahkan kedua tanganku melingkar dipinggangnya.


Eh? apa ini-


*Vvrooommm!


Aidan kembali melajukan motornya, aku tidak sadar jika lampu sudah berganti hijau. Tanganku yang sengaja dilingkarkan olehnya membuatku gugup. Badanku yang tertarik ke depan, menempel sangat dekat dengan punggungnya.


Ah, nggak nggak, jangan berdetak lebih kencang lagi! astaga.. bisa-bisa Aidan mendengarnya,


Aku hendak melepaskan pelukanku dipinggangnya, dan akan berpegangan di pundaknya saja untuk memberi jarak. Namun, Aidan menyadarinya, tanganya menahan tanganku dengan cepat, mengisyaratkan untuk tetap diam dan terus berpegangan padanya.


Aku mengerti, tanganku tetap memeluk pinggangnya, bahkan saat melewati jembatan besar, menandakan sudah hampir dekat dengan rumahku. Angin yang berhembus cukup kencang, mendukung suasana malam ini, menjadi damai dan tenang. Sejenak, semua beban dipikiranku dapat hilang begitu saja. Aku yang mulai merasa nyaman diboncengnya, langsung meletakkan daguku dengan sengaja di pundak kirinya, begitu juga tanganku yang semakin memeluknya erat mengikuti laju motor yang semakin mengebut.

__ADS_1


...


__ADS_2