
Hubunganku dengan Aidan sudah sangat dekat, bahkan aku menjadi sangat nyaman denganya ketimbang bersama Raja.
"Agatha,"
Panggil Aidan yang masih menyetir itu.
Aku yang sedari tadi memperhatikan jalanan sekitar dari kaca mobil, menjadi menoleh kearahnya.
"Iya?"
Jawabku setelah memalingkan badan menghadap kearahnya.
"Mau bilang tentang apa?"
Balasnya sembari menoleh kearahku singkat, membuat mata kita bertemu.
Aku bingung harus mulai darimana, tapi aku sangat ingin memberitahunya. Karena takut Aidan terkejut dan belum siap, aku ragu untuk mengatakanya.
"Soal ger--"
*🎶~
(Suara nada dering ponsel, panggilan masuk)
Kalimatku tertahan, ponselku berdering. Aku menatap Aidan, memintanya izin untuk mengankat panggilan yang masuk ini. Aidan mengangguk setuju sembari tersenyum, menyetujuiku.
/"Halo?"
Ucapku setelah menerima panggilan dari nomor yang tidak kukenal.
/"Ini Helen, aku habis beli ponsel baru nih ngikutin kau. Gery juga,"
Balasnya sembari tertawa. Terdengar juga suara bising kendaraan, yang sepertinya Helen sedang berada di luar.
/"Haha, kalian belum punya ponsel memangnya? Ger-"
Aku sontak menoleh kearah Aidan, menatapnya dengan cemas sembari menutupi ponselku dengan telapak tangan.
"Kamu barusan dengar nggak?"
Tanyaku dengan segera.
Aidan mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum padaku.
"Tenang aja, aku bakal tutup kuping nih.."
Pungkasnya sembari melepaskan satu tanganya yang sedang mengemudi itu, memegangi telinga kirinya.
Aku membalas senyumanya, lalu mendekatkan kembali ponselku ke telinga. Kali ini aku berusaha untuk berbicara pelan dengan Helen di telfon, karena hampir saja aku menyebutkan nama Gery tadi.
"Hei! Halooo~..."
Panggil Helen kepadaku.
"Ah, maaf nanti aku telfon balik ya? oke daah~"
Balasku dengan terburu-buru, lalu segera mematikan panggilan darinya.
*Pip!
Deg! beneran aku harus ngomong deh kayaknya, EH LUPAAA!!
Aku tanpa sadar memukul-mukul kepalaku, lalu menghantuk-hantukanya ke sisi mobil.
"Tha, Tha!"
Ucap Aidan dengan tegas, tanganya meraih tanganku. Berusaha menghentikan tingkah konyolku barusan.
Aku menoleh kearah Aidan dengan raut wajah yang masam sambil mengerucutkan bibirku sekilas.
"Kamu dengar ya ucapanku dalam hati tadi? aku sempat lupaa,"
Pungkasku dengan wajah yang memelas masih menatapnya.
"Hm, ada yang kau sembunyiin dari aku ya?"
Tanya Aidan balik tanpa menoleh kearahku, namun tanganya masih menggenggamku erat.
"I-iiya.."
Jawabku sedikit terbata.
Tiba-tiba mobil berhenti melaju, Aidan mematikan mesin mobil dengan segera setelah mengatur gigi menjadi 0. Aku menatap kearah luar, mendapati lingkungan rumahku.
"Eh udah sampai?"
Ucapku heran sendiri.
__ADS_1
Aidan tersenyum padaku lagi, ia segera melepaskan sabuk pengaman yang dikenakanya, lalu membantuku melepaskanya juga.
Wajah Aidan tidak segera menjauh dari wajahku, padahal sabuk pengaman yang semula kupakai sudah terlepas sempurna. Aidan mendekatkan wajahnya lebih dekat kepadaku, ia memiringkan kepalanya perlahan. Aku menyadari situasi ini, tanganku menangkup kedua pipinya dengan segera, menghentikan pergerakanya.
"Makasih udah bantu lepasin,"
Pungkasku setelah memecah suasana yang semula menegangkan dan mendebarkan itu.
Aidan memutarkan bola matanya malas, lalu menatapku kembali. Raut wajahnya tampak kecewa, tapi menggemaskan dan tampan.
"Kau nggak bisa romantis dikit ya?"
Ucapnya membuatku sedikit terkejut, lalu tertawa kecil.
"Udah ah, aku beneran bisa pingsan kalau kaya gini terus.."
Jawabku sembari melepaskan tangkupan tanganku di pipinya.
Aidan memundurkan tubuhnya dariku, lalu bergegas membuka pintu mobil dan keluar dengan segera. Aku yang hendak menyusulnya keluar, tiba-tiba Aidan membukakan pintu mobil dari luar, menjemputku dengan uluran tanganya.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya saat ini, sembari mengenggam tanganya hangat untuk segera keluar dari mobil.
"Aku seperti menjadi puteri kerajaan,"
Celetukku sembari berjalan mengikuti langkah Aidan mendekat kerumahku.
"Kau kan beneran putri, dari kerajaan Violen."
Jawab Aidan santai, masih menggandeng tanganku.
Aku sedikit tertawa setelah mendengar ucapanya barusan. Setelah berdiri tepat didepan pintu, aku segera memasangkan kunci gembok dari pintu tersebut. Lalu bergegas memasukinya, tentu saja dengan Aidan disampingku.
Aidan melepaskan genggaman tanganya dariku, langkahnya menuju kearah sofa, lalu mendudukinya tanpa ku minta terlebih dahulu.
"Sini..."
Ucapnya mengajakku untuk duduk bersama, setelah menepuk-nepukkan sofa disebelahnya yang kosong.
"Ini kan rumahku, kok kamu yang tuan?"
Jawabku ketus sedikit tertawa, sembari menghampirinya lalu duduk disebelahnya.
"Kan kau mau cerita,"
Pungkasnya sembari menyilangkan kaki dan tubuh yang menghadap kearahku.
Jawabku berusaha tenang, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aidan memicingkan matanya kepadaku, Ia menahan tubuhku yang hendak beranjak dari sofa.
"Gak, aku mau kau cerita sekarang."
Jawabnya dingin.
Aku kembali duduk dengan sempurna. Memantabkan hatiku dengan menarik nafas panjang lalu menghembuskanya perlahan.
"Oke oke, aku cerita.."
Ucapku hendak memulai pembicaraan setelah menatap Aidan.
"Iya jadi...?"
Respon Aidan penasaran.
"Aku bertemu Gery dari Jaidran, Helen dari Violen."
Ucapku dengan pengucapan yang mengebut cepat.
"..."
Aidan tidak menjawab pernyataanku barusan, namun tampak senyuman kecil dari bibirnya. Aku menatapnya heran, kenapa dia tersenyum sesantai itu tanpa kebingungan dengan ucapanku barusan.
"Kok kamu malah senyum gitu?"
Tanyaku heran.
"Cepat atau lambat pasti akan ada orang suruhan Jaidran untuk mengawasi pergerakanku, kau tenang aja."
Pungkasnya dengan santai.
"Terus kamu udah ketemu sama Gery?"
Tanyaku lagi merespon ucapanya barusan.
"Hm aku sudah menyadari kedatanganya, tapi aku menghindarinya."
Jawab Aidan.
__ADS_1
Aku menatap Aidan lekat, merasa kasihan padanya.
"Tunggu, kalung.."
Ucapku tiba-tiba, sembari mendekatkan wajahku ke lehernya.
Aidan terkejut karena gerakanku yang tiba-tiba, tubuhnya sedikit terhempas ke lengan sofa.
"Ah maaf, kamu kaget ya?"
Ucapku dengan perasaan bersalah, sembari memundurkan tubuhku darinya.
"Sedikit, kau ngapain barusan?"
Jawabnya sembari melonggarkan kerah bajunya.
"Mencari kalung,"
Jawabku dengan tersenyum.
Aidan tampak mengernyitkan dahinya heran,
"Kalung?"
"Gery bilang, dia bisa berkomunikasi sama kamu lewat kalung itu, identitas Jaidran."
Jelasku pada Aidan yang masih menatapku penasaran.
"Udah sebanyak apa mereka menjelaskan padamu, sialan."
Ucapnya setelah memalingkan wajah dariku, tampak ekspresinya berubah menjadi sedikit emosi.
"Hei.. kamu kenapa?"
Ucapku berusaha menatap matanya sembari memegangi kedua pundaknya.
Aidan menoleh kearahku singkat, tanganya menyingkirkan tanganku lembut. Aidan beranjak dari sofa, menghadap kearahku setelah berdiri sempurna.
"Mau kemana?"
Tanyaku yang masih terduduk, mendongakkan kepala untuk menatapnya.
"Menemui Gery, kau cepat kunci rumah dan tidur."
Pungkasnya dingin dengan raut wajah yang menjadi amat serius.
Aku segera berdiri, mengikutinya yang mulai berjalan keluar rumah.
"Aidan!"
Panggilku, berusaha menyusul langkahnya.
"Masuk Tha!"
Jawabnya dengan tegas setelah menekan alarm mobil dikuncinya itu.
Aku tidak menggubris ucapanya, lalu segera berlari kecil menghampiri Aidan.
Aidan menatapku sedikit kesal, tanganya tertahan saat hendak membuka pintu mobil.
"Jangan buat kesalahan, aku mohon.."
Ucapku pelan, langsung memeluk tubuhnya.
Aidan tidak menjawab perkataanku, tanganya mengusap rambutku lembut. Aku dapat merasakan dirinya yang sedikit tenang saat ini.
Setelah merasa sedikit tenang, aku melepaskan pelukanku, mendongakkan kepala untuk menatapnya lebih intens.
"Hati-hati ya, besok aku udah nggak masuk ke sekolah itu lagi."
Pungkasku padanya.
Aidan nampak kembali heran, namun berusaha disembunyikanya dengan tangan yang mengusap pipiku lembut.
"Iya, besok aku mengunjungimu. Kau cepat masuk sana,"
Perintahnya setelah mendengar ucapanku.
Aku mengangguk setuju, kemudian berjalan mendekati rumahku, meninggalkan Aidan yang tampak sudah masuk kedalam mobil.
Suara mesin mobil dinyalakan terdengar, aku yang hendak membuka pintu menoleh kebelakang, mendapati Aidan yang sudah memundurkan mobilnya meninggalkan lingkungan rumahku.
Perasaan semakin tidak tenang, masih terpikirkan bagaimana reaksi Aidan.
Apa yang dipikirkanya tadi, kenapa dia jadi emosi seperti itu?
Aku memukul kepalaku kesal, lalu kesakitan sendiri sembari melangkah masuk kedalam rumah. Tubuhku yang lelah ini kuhempaskan ke kasur, menatap langit-langit kamarku dengan banyak pikiran.
__ADS_1
....