
…
Aku tertawa dengan candaan yang dibuat oleh Bu Ratih dengan sengaja untuk menghiburku. Aku sangat senang dapat bercanda seperti ini lagi padanya.
“Sudah Baikan?”
Tanya Bu Ratih disela-sela tawa kami. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“Terimakasih, berkat Bunda.”
Ucapku padanya. Benar, Wanita tua bernama Ratih itu biasa dipanggil dengan sebutan “Bunda” oleh kami sebagai anak asuh panti. Itu panggilan tulus dari kami sebagai bentuk terimakasih karena telah menjadi pengganti ibu yang baik.
Bu Ratih tersenyum padaku, tanganya meraih jemariku lalu menggenggamnya erat. Aku menatap Bu Ratih dengan penuh perhatian, Mataku tidak ingin berpaling dari manis wajahnya dengan bibir yang tersenyum padaku dengan lembut.
“Bunda, Atha ingin bertanya tentang Ayah kandung Atha..”
Ucapku sambil menggenggam erat tangan halus milik Bu Ratih.
“Iya sayang, Apa yang ingin kamu ketahui?”
Jawab Bu Ratih dengan sangat lembut padaku.
“Seseorang memberitahu Atha, Ayah Atha bernama Violen. Apakah Bunda tau kebenaran tentang itu?”
Tanyaku pada Bu Ratih lagi dengan penasaran.
Aneh, Ketika mendengarkan ucapanku barusan, Bu Ratih memalingkan wajahnya kesamping. Tanganya terasa gemetar, seperti orang ketakutan.
“Bunda..? Bunda maaf, sepertinya Atha tidak usah membicarakan tentang hal ini lagi.”
Ucapku dengan sedikit kecewa. Aku merasa seperti Bu Ratih mengetahui kebenaranya, Namun enggan memberitahuku. Aku terdiam sejenak, menatap Bu Ratih dengan serius menunggu ia berbicara.
Bu Ratih memalingkan wajahnya kembali padaku. Matanya menatap tajam padaku.
“Siapa orang yang mengatakan itu?”
Tanya Bu Ratih dengan sedikit tekanan padaku. Aku menggeleng ragu untuk menyebutkan nama Aidan pada Bu Ratih.
“Seorang teman.” Jawabku singkat.
“Teman? Katakan siapa nama temanmu itu Atha..”
Ucap Bu Ratih masih sangat penasaran.
“Itu.. namanya Aidan.”
Bu Ratih tampak terkejut ketika aku menyebutkan nama Aidan padanya.
“Jauhi orang itu Atha!”
Ucap Bu Ratih dengan nada membentak membuatku terkejut sekaligus heran. Mengapa Bu Ratih langsung menyuruhku untuk menjauhi Aidan begitu kusebutkan namanya?
“Bunda kenal Aidan? Kenapa aku harus menjauhinya?”
Jawabku kembali penasaran dengan ucapan Bu Ratih.
Raut wajah Bu Ratih berubah ketika aku tidak menuruti perkataanya. Matanya menatapku tajam dengan sangat kesal.
“Sangat kenal. Orang itu berusaha mencelakaimu Atha.”
Jawab Bu Ratih dengan sangat tegas. Matanya tak berhenti menatap wajahku.
“Aidan bukan orang seperti itu. Aku nyaman berada didekatnya saat ini.”
Bantahku terhadap ucapan Bu Ratih. Bu Ratih mendekap mulutnya sendiri dengan kedua tanganya mengekspresikan betapa terkejutnya ia mendengar ucapanku barusan.
__ADS_1
“Bunda..”
Ucapku lagi dengan cemas dan merasa bersalah terhadap Bu Ratih.
Bu Ratih kembali meraih tanganku, menciumi punggung tanganku dengan lembut. Aku semakin cemas ketika menatap wajah yang tampak tak berdaya itu seperti sedang memohon kepadaku.
“Bunda tolong jelaskan kenapa Atha harus menjauhi Aidan?”
Pintaku pada Bu Ratih.
--- *tok … *tokk .. *tokkk!
Suara pintu terketuk. Bu Ratih melepaskan genggaman tanganya padaku dan beranjak dari sofa untuk membukakan pintu. Aku mengintip siapa orang dibalik pintu tersebut. Yang benar saja,
“Raja?!”
Kataku dengan keras. Aku segera berdiri dan menghampiri Raja yang masih berada di depan pintu. Bu Ratih tiba-tiba menangis sehingga membuatku heran, begitu juga dengan Raja.
“Bunda..”
Aku segera memeluk tubuh Bu Ratih dari samping, menatap wajahnya yang ia tutupi saat sedang menangis. Aku merasa bersalah karena aku mengira ini semua terjadi karenaku. Aku melirik Raja, meminta bantuanya untuk menanyakan apa yang terjadi pada Bu Ratih.
“Bu, Ada apa?”
Ucap raja sembari tanganya mengusap pundak Bu Ratih.
Aku dan Raja saling bertatapan ketika Bu Ratih mulai berhenti menangis. Aku mengusap air matanya dan kembali meminta maaf kepada Bu Ratih. Bu Ratih menggelengkan kepalanya sambil terus mengusap air matanya yang telah membasahi wajah terutama pipinya itu.
“Tetaplah berada disisi Raja. Bunda mohon, jauhi Aidan..”
Pintanya dengan nada lirih. Aku menatap Raja yang tampak bingung ketika Bu Ratih menyebutkan nama Aidan, saudara kembarnya.
“Bu, Saya akan menjaga Atha dengan baik.”
Celetuk Raja menyetujui permintaan Bu Ratih.
Raja untuk duduk dan menyeduh teh untuknya.
“Kok ngga bales pesanku?”
Tanyaku pada Raja memulai pembicaraan sembari duduk dan meletakkan secangkir teh di meja untuknya.
“Gak ada alasan khusus. Hanya ingin melakukanya.”
Jawabnya dengan senyuman lebar.
“Kamu!”
Ucapku kesal karena alasan Raja yang menyebalkan.
“Maaf.. Aku kesini untuk meminta alamat rumah barumu pada Bu Ratih. Tapi malah ketemu kau sendiri hehe.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Raja barusan.
“Kamu kan bisa minta ke aku langsung.” Ucapku.
Raja menggelengkan kepalanya. Kepalanya sengaja dimajukan mendekati wajahku, menatapku dari dekat.
“Kau kan pelit, pasti tidak mau kasih.”
Ucapnya sambil tersenyum.
Aku mengerucutkan bibirku menatap Raja. Tidak lama, Bu Ratih masuk kedalam ruangan. Mendapati kami yang sedang bertatapan secara berdeketan. Kami berdua langsung memberi jarak duduk dan menelan ludah mengetes suara.
Bu Ratih tersenyum melihat tingkahku dan Raja yang sama-sama gelalapan.
__ADS_1
“Mau Bunda tinggal lebih lama lagi?”
Ucap Bu Ratih dengan sedikit menggodaku dan Raja. Aku menggeleng pelan namun Raja mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. Aku menoleh kepadanya, memukul pahanya untuk menyuruhnya menyamai tanggapanku.
“Ah, Sakit Atha...”
Ucapnya mengaduh kesakitan menatapku kesal sembari mengelus-elus pahanya yang baru saja kupukul itu.
“Atha, nggak boleh seperti itu.”
Pinta Bu Ratih menhentikan sikapku yang baru saja berbuat tidak baik pada Raja. Aku menundukkan kepala menuruti permintaan Bu Ratih.
“Tuh dengerin..”
Sambung Raja tiba-tiba sambil menjulurkan lidahnya padaku. Aku mengepalkan tanganku kearahnya dengan tatapan kesal. “Hhuftt sabar Atha..” ucapku dalam hati menenangkan diriku sendiri untuk menahan emosi.
“Bu, Saya pamit ke Taman dengan Atha ya?”
Pinta Raja meminta ijin sembari bangkit dari sofa.
“Silahkan..”
Jawab Bu Ratih dengan lembut memberi izin kepada Raja.
Raja tersenyum mendengar jawaban Bu Ratih yang memberinya izin. Ia meraih cangkir teh yang tadi kusajikan lalu meminumnya sampai habis.
“Bunda, setelah makan siang Atha ingin lanjut mengobrol lagi ya..”
Ucapku sembari menghampiri Bu Ratih dan memeluknya sebentar. Bu Ratih mengangguk pelan, menandakan setuju dengan permintaanku.
Raja menggandeng tanganku keluar setelah menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Bu Ratih.
“Raja kamu main seenaknya aja ngajak aku keluar.”
Ucapku ketus padanya.
Raja menoleh kearahku, mengerutkan dahinya lalu melepaskan genggaman tanganya padaku. Kami berdua menghentikan langkah dan saling bertatapan sinis di lorong panti menuju taman itu.
“Kan Bu Ratih sendiri yang menyuruh kau tetap berada disisiku. Sekarang aku mau ketaman tuh, gimana dong?”
Jawabnya dengan percaya diri.
Aku kembali kesal dan berjalan lebih dulu mendahului Raja. Tampak Raja yang segera menyusulku sambil tertawa.
“Gemasnya…”
Godanya padaku sambil berjalan. Tanganya mencubit pipiku pelan.
Ketika sampai ditaman, Kami menatap Taman panti yang tampak ramai. Ah benar, Jam makan siang. Aku menoleh kearah Raja.
"Ramai banget." Ucapku pada Raja.
Raja mengangguk lalu menoleh ke arahku.
"Aku juga bisa liat tau. Kau mau keluar aja gak?"
Tanya Raja menawariku. Aku menaikkan sebelah alisku dan menatap wajahnya lagi. Mengisyaratkan mau apa keluar.
Raja mencubit kedua pipiku lagi, ia tersenyum lebar lagi sambil menatapku.
"Makan siang Atha..."
Ucapnya sambil menggandeng tanganku lagi. Aku mengikuti langkahnya, Kami menyusuri toko-toko serta tempat makan yang berjejer sepanjang jalan. Aku bingung dengan diriku sendiri. Baru semalam rasanya aku menrasa nyaman dengan Aidan. Namun seperti biasa, Sikap Raja yang lebih terbuka membuatku kembali nyaman. Lagipula mereka berdua saudara kembar walaupun aku mengetahui kebenaranya dari Aidan tapi, yasudahlah.
Raja banyak berbicara ketika berjalan denganku. Tanganya masih menggandengku erat seperti tidak ingin aku lepas darinya.
__ADS_1
...