
Matahari yang belum sepenuhnya terbit untuk menyinari, aku sudah terbangun dari tidurku, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Aku meregangkan tanganku serta badanku, ketika sudah beranjak dari tempat tidur.
Entah kenapa, hari ini tidak percaya diri untuk masuk sekolah. Di sisi lain, ada Aidan yang memenuhi sebagian pikiranku. Betapa manis dirinya mengantarku pulang, hingga berpamitan untuk pergi sebentar dan berjanji akan kembali menemuiku besok.
aku malu.. aku benar-benar gila, aku menyukai Aidan. Benar, ini pengakuan hatiku.
Kakiku melangkah meninggalkan kamar, bersiap-siap untuk melakukan ini dan itu sebelum berangkat sekolah, tidak aku masih ragu akan berangkat atau tidak. Aku meraih ponsel ditasku, lalu menghidupkanya.
Hiihhhhh! apa-apaan ini, 7 panggilan tak terjawab dari Raja dan 2 pesan yang belum dibaca? Sejak kapan.. aku tidak menyadari notifikasi darinya. Apa yang harus kulakukan? ah tolong aku bingunggggg.
Aku membuka pesan darinya,
(Atha bicaralah denganku, aku juga minta maaf karena sikap kasarku.)
(kau dimana?)
Raja menelfonku sebanyak 7x dan mengimkan pesan semalam, pukul 20.30. Waktu itu, aku masih bersama Aidan. Pantas saja aku tidak membalas pesan, begitu sampai di rumah aku memutuskan untuk langsung tidur.
(Raja, aku baik-baik saja. Kamu nggak usah mengkhawatirkanku.)
Aku membalas pesan Raja, perasaan tidak enak muncul memenuhi benakku kembali. Aku juga mulai malas masuk sekolah hari ini, mungkin saja anak-anak sudah menungguku di kelas, bersiap untuk menindasku. Teringat coretan di mejaku, dengan kata-kata yang menyakitkan.
*Kato!
Suara notifikasi pesan masuk muncul di hpku, aku segera mengecek isi pesan tersebut. Awalnya yang ku kira balasan dari Raja, ternyata bukan, Bu Ratih yang mengirimkan pesan untukku.
(Nanti atau besok bisa mampir ke panti? Ada seseorang yang ingin menemuimu.)
Setelah membaca isi dari pesan yang cukup membuatku penasaran itu, aku segera membalasnya.
(Bunda, sepertinya aku tidak akan masuk sekolah hari ini. Aku akan ke panti hari ini juga.)
Aku menghela nafas setelah mengirimkan pesan tersebut. Sebaiknya aku tidak masuk sekolah hari ini, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika aku tetap memaksakan kehendak untuk berangkat. Hatiku tidak sanggup menghadapinya.
...
Pukul 08.00 Pagi.
Aku masih duduk termenung dengan kaki menyila dan tangan yang menopang wajahku di sandaran sofa. Pandanganku menatap jendela, melihat pohon besar dekat sungai itu. Aku benar-benar tidak masuk sekolah hari ini, tentu saja pihak sekolah tidak memperdulikanku. Mengingat bagaimana hebat istri dari direktur sekolah membentakku.
Ponsel sengaja kumatikan untuk menjaga ketenanganku. Yang harus kulakukan hari ini adalah, pergi ke panti dan juga mencari pekerjaan paruh waktu yang lain. Karena kejadian semalam, aku sudah pasti tidak dapat bekerja di toko itu lagi.
Aku beranjak dari sofa lalu menuju kamar mandi untuk selanjutnya bersiap pergi ke panti.
...
Ketika sudah siap dengan semuanya, Aku berjalan mendekati pintu. Tanganku menengadah ke air hujan yang jatuh melalui sela-sela atap rumah.
hujan, kenapa kamu pasti prihatinkan menatapku? tenang aja, hari ini akan berjalan lebih baik. kalau mau mendukungku, teruslah hujan. jangan berhenti, oke?
Aku segera membuka payung ditanganku. lalu berjalan sembari berteduh dibawah payung plastik transparan. Aku sangat menyukai awan mendung ketika hujan, serta aroma aspal yang basah akibat hujan.
Seperti biasa, aku harus berjalan lebih dulu ke halte bus. Aku berharap kejadian buruk tidak menimpaku seperti kemarin.
Apa yang harus aku katakan dihadapan Bu Ratih nanti? pasti Raja sudah memberitahukan semuanya, tentangku yang tetap dekat dengan Aidan.
Pikirku aneh-aneh sembari mengeluarkan ponselku untuk memasangkan earphone. Mendengarkan musik saat hujan memang perpaduan yang pas dan menenangkan.
Ketika ponsel sudah kuhidupkan, muncul 3 pesan dari layar hp ku.
Aidan,Raja,Bu Ratih? Astaga mereka benar-benar!
Aku segera membuka pesan mereka satu persatu sembari memperhatikan langkahku.
Aidan: (Hei, kau kenapa gak berangkat?)
__ADS_1
*mengirimkan gambar
(nih kukirimkan fotoku, habis menhajar orang-orang yang sudah menganggumu)
Aku tersenyum melihat foto yang Aidan kirimkan, sembari menghentikan langkahku lalu menepi ke teras sebuah toko untuk berteduh.
(Hehh kamu ngapain ngehajar orang? memangnya aku kenapa? haha) *send.
Aku membalas pesan dari Aidan, lalu membuka pesan dari Raja.
Raja: (hari ini makan siang denganku ya, nanti kau kuhampiri) 07.40
(Kau gak masuk kelas ya? ada apa, bicaralah) 08.00
Aku menghela nafas setelah membaca isi pesan dari Raja. Sepertinya masih ada orang yang mengkhawatirkanku.
Raja, maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam hidupku.
(Iya nih aku nggak masuk sekolah hari ini, Aku akan ke panti) *send
---*ZRASSSHHH!
"ahhhhh astaga! kenapa pengemudi itu ngebut sih!"
Ucapku pada diri sendiri setelah terkena cipratan air yang cukup banyak membasahi sepatu dan mantelku. Pengemudi itu benar-benar ceroboh. Aku memutuskan untuk pulang sebentar berganti pakaian dan sepatu. Tidak mungkin aku berpergian dengan baju dan sepatu kotor hari ini.
duhh hujan, kamu kok nggak mendukungku sih!
Aku segera meraih payungku lalu berlari menuju rumah.
...
Kenapa sih hidupku selalu sial begini, katanya aku orang penting. Marga elite di negri sana, tapi kenapa aku lebih seperti rakyat tak mampu.
*Kato!
*Kato!
*Kato!
Aku segera meraih ponselku yang terletak dimeja, lalu mendapati pesan dari Aidan.
(Aku dekat rumahmu nih.. kau gak mau keluar?)
(Dalam hitungan 5 harus sampai)
(satu,dua..)
Aku terkejut setelah membaca isi pesan darinya. Handuk yang berada dikepalaku segera kusingkirkan, memakai sepatu lalu mengunci pintu rumah.
Nggak nggak, kenapa aku sangat bersemangat? bisa saja Aidan cuma menipuku. Ah Atha mudah sekali percaya.
Aku menatap langit yang mulai sedikit terang, tanganku menengadah untuk mengetes apakah masih hujan atau tidak.
Eh? kok udah berenti-_- yang benar aja, aku berganti pakaian karena cipratan saat hujan. tapi hujan, kamu beneran nggak mau memihak orang miskin sepertiku ya?!
--*Tiin! Triiiiiin!
Aku menoleh kearah orang yang membunyikan klakson berisik itu.
Tunggu, Aidan?! beneran dia?!
Batinku sembari mengernyitkan dahi lalu menghampirinya yang berada samping tembok besar.
"Kamu ngapain kesini?!" Tanyaku menatapnya heran.
__ADS_1
Aidan tidak turun dari motornya, wajahnya yang masih tertutup helm mengarah kepadaku, lalu membuka kaca helm tersebut sehingga aku dapat melihat matanya.
"Helmnya lepasin dulu, Aku ingin memastikan ini benar Aidan apa bukan,"
Ucapku lagi masih menatapnya sembari membenarkan totebag yang tersampir dipundakku.
Aidan melepaskan helmnya, dan saat itu juga ia tersenyum kepadaku dengan tangan yang menyila diatas helm.
Gila, tampan sekali.. ah, nggak sadar!
"Kau kenapa melongo seperti itu? haha,"
Celetuk Aidan kepadaku membuyarkan lamunanku. Tanganya menarik hidungku pelan sembari tersenyum.
"Enggak tuh! jawab dulu, kamu kesini ngapain??"
Jawabku mengalihkan pembicaraan sambil menyingkirkan tanganya dari hidungku.
"Kangen kau." Ucap Aidan singkat.
"Eh,"
"Tersentuh? haha! Aku bosan saja beradi disekolah. Gak ada kau, jadi gak bisa menindas deh.."
Ucapnya lagi membuatku mendengus kesal dan mengerucutkan bibirku.
"Kamu tuh! aku benci sikapmu yang kasar,suka menindas,mengganggu orang lemah-"
"Iya iya aku gak serius bilangnya tau,"
Celetuk Aidan menyela pembicaraanku. Tanganya mencubit kedua pipiku dengan tersenyum.
"Aaah Aidan!" Ucapku dengan nada sedikit teriak sembari melepaskan tanganya.
"Hehe, habis kau lucu." Jawabnya, lalu melepaskan tanganya dari pipiku.
"Kamu balik ke sekolah sana. Aku mau ke panti,"
Pungkasku padanya.
"Tha.. ada yang mau kubicarakan, sebentar saja sebelum kau pergi ke pantimu itu."
Raut wajahnya langsung berubah serius menatapku. Aku mengangguk pelan sekaligus penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan.
Apa mungkin Aidan mau bahas tentang dunia itu lagi? nggak Aidan, jangan katakan itu. Aku akan kembali bingung untuk mempercayai siapa..
"Iya, Aku akan dengarkan." Jawabku padanya.
Aidan tersenyum kepadaku dan langsung memberikan helm ditangan kananya yang sedari tadi ia sampirkan.
Aku segera menggunakan helm tersebut dan memegang pundaknya untuk memudahkan naik keatas motor miliknya. Aidan menungguku hingga aku benar-benar duduk sempurna diboncengnya.
"Sudah?" Tanya Aidan memastikan.
"Iya,"
Jawabku, disusul dengan suara mesin motor yang dinyalakan. Aku melingkarkan tanganku diperutnya. Aidan tidak menolak, dan langsung melajukan motornya. Ini kedua kalinya aku dibonceng, setelah kejadian semalam.
Awan yang mulai cerah tampak mengikuti perjalanan kami. Jalanan yang basah, dilalui Aidan dengan mengebut, mengingatkanku pada kejadian tadi diciprati air oleh pengemudi ceroboh.
"Aidan, jangan mengebut! jalanya licinn!"
Pintaku dengan nada sedikit berteriak menoleh kearahnya dari samping. Aidan mengangguk pelan dan sedikit melambatkan lajunya.
Apa ini, penurut sekali~ haha, tapi apa nggak termasuk tindakan bolos sekolah? Aidan masih mengenakan seragam astaga, aku bodoh sekali main menuruti permintaanya.
Aku mendekatkan tubuhku lebih dekat denganya sembari mengeratkan pelukan. Angin dan udara dingin merasuk di leherku, aku dengan sengaja menempelkan daguku di pundaknya dari samping, seperti yang kulakukan semalam. Aidan masih fokus pada jalanan, ia juga sepertinya tidak menolak perlakuan khususku.
__ADS_1
...