
...
Pagi hari, Pukul 06.30
"Aidan.."
Ucapku berusaha membangunkan Aidan yang masih tertidur. Teringat dibenakku, ketika Aidan memberikan kehangatanya padaku semalam. Aku masih menunggu kebenaran dibalik seluruh penjelasan Aidan. Tanganku mengusap wajahnya pelan, sembari menatap wajahnya dari dekat.
"Aidan.. bangun.."
Kataku lagi pelan, dengan sedikit mengguncangkan bahunya pelan. Aidan terbangun saat itu juga, matanya yang masih sayu menatapku. Aku tersenyum kepadanya dan saat itu juga ia duduk menyenderkan kepalanya ke tembok sambil menatap wajahku.
"Selamat pagi.."
Ucapku padanya dengan ramah dan tersenyum. Ia membalas senyumanku dan tanganya menarik tubuhku hingga jatuh kedalam pelukanya. Aku sangat terkejut dengan pelukanya tiba-tiba. Aidan semakin memelukku erat ketika aku mencoba untuk melepaskan pelukanya.
"Aku tidak ingin kehilangan kau lagi."
Katanya pelan sembari mengelus rambutku halus.
Aku mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang tiba-tiba saja berdegup tak beraturan. Aku mengerti jika Aidan menganggapku masih sama dengan yang diceritakanya semalam, aku pasangan hidupnya. Aku memeluk Aidan kembali dan menepuk punggungnya pelan sambil berkata,
"Aku disini Aidan.."
Aidan mengangguk dan melepaskan pelukanya terhadapku.
"Kamu mau makan? aku bangun lebih awal dan membuat sarapan."
Tanyaku padanya. Ia mengangguk setuju dan mengikutiku berjalan ke dapur. Aku senang, Aidan yang selalu ku kenang sebagai murid pemberontak, nakal, suka mengganggu teman, saat ini bersikap lunak padaku.
Ia menarikkan kursi untukku. Aku tersenyum dengan sikapnya yang ramah. Tak lama, Ia juga duduk berhadapan denganku. Kami menyantap sarapan roti selai kacang yang sudah kubuat sebelumnya.
"Makasih, kau mempercayaiku."
Ucapnya tiba-tiba.
"Maka dari itu kamu harus janji tidak berbohong dengan semua ucapanmu. oke?"
Jawabku padanya.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Raja."
Ucapnya lagi dengan nada kesal.
Aku tidak paham kenapa ia berkata seperti itu. Jelas-jelas aku dan Raja hanya berteman dan menjadi akrab. Apa yang harus dikesalkan Aidan? wajah merekapun mirip 100%. Ah, benar.. Aidan hanya mengikuti bentuk tubuh secara keseluruhan milik Raja. Aku menatapnya yang sedang menyantap sarapan.
"Kamu cemburu aku berteman dengan Raja?"
Tanyaku asal dengan tatapan masih padanya.
Aidan tersedak roti yang sedang ia kunyah, aku memberikan segelas air di meja kepadanya.
"Hei.. pelan-pelan.."
Ucapku sambil tertawa kecil melihatnya.
Aidan segera meminum air yang kuberikan, matanya melirik padaku. Aku meminta maaf karena membuatnya tersedak.
"Benar aku cemburu. Aku selalu cemburu. Kau kan pasangan abadiku!"
ucapnya dengan nada kesal. Aku kembali tersenyum padanya.
"Aidan.. aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, bagaimana bisa aku sudah menjadi pasangan abadimu?"
__ADS_1
Jelasku padanya dengan sengaja untuk menggodanya. Tidak terasa kami menjadi sangat akrab sejak kejadian semalam. benar-benar sesuatu yang mengejutkan dan tidak dapat terprediksi.
"Mulai sekarang kita pacaran. Kau dan aku."
Aku terkejut ketika ia mengatakan itu padaku. Berpacaran? Mengetahui cerita darimu bukan berarti aku setuju menjadi pasanganmu kembali Aidan.. aku masih kebingungan dengan situasi semua ini. Aku mencoba untuk menjernihkan pikiranku lalu merubah topik pembicaraan.
"Aidan.. nanti kamu langsung pulang?"
"Memangnya kenapa?"
Tanya Aidan balik padaku.
"Aku akan pergi ke panti nanti. Ah, kamu ngga tau ya aku dibesarkan di panti?"
"Gak. Aku tau, sangat tau."
"Raja yang bilang?"
Sebelumnya tidak ada yang mengetahui di SMA bahwa aku dibesarkan dari sebuah panti asuhan. Raja menjadi satu-satunya orang di sekolah yang mengetahui hal ini.
"Gak juga tuh, kan aku selama ini ngamatin kau."
Tegas Aidan sembari menelan gigitan terakhir dari sarapanya.
"Ngamatin aku bagaimana?"
Tanyaku pada Aidan penasaran.
"Nanti mau kutemani?"
Aidan mengalihkan pembicaraan dan menatapku.
"Ngga usah, aku ingin kesana sendirian."
"Yasudah. Pergi bareng saja."
Aku mengangguk setuju dan meninggalkan meja makan, bergegas menuju kamar untuk mengambil tas.
"Tha! Ini piringnya ku apakan?"
Teriak Aidan kepadaku.
Aku keluar dari kamar dengan sudah berganti pakaian berwarna merah dan totebag di bahuku. Aku mendapati Aidan yang memegang tumpukan piring dan gelas bekas kami berdua sarapan. Aku tersenyum padanya, mengambil alih piring dan gelas tersebut kemudian meletakkanya ke wastafel.
"Kapan kau menjadi cantik begini?"
Ucapnya tiba-tiba. Aku yang sedang mencuci piring dan gelas menoleh kearahnya tajam, mengerucutkan bibirku.
"Saat sarapan aku tidak cantik?"
Aidan tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia sengaja menggodaku, dan aku mengetahuinya.
"Kau jelek.. sangat jelek. Sampai ingin kencing dicelana.. aduhh-"
Ejeknya padaku sembari berlari ke kamar mandi.
Aidan menjadi sangat lunak dan suka bercanda padaku, seperti Raja. Ah benar! Raja.. aku tidak mendengar kabar darinya semenjak kejadian di depan gerbang sekolah itu. Besok hari senin, aku harus berbicara denganya. Aku segera menyelesaikan cucian piring dan bergegas membereskan meja makan.
Tak lama, Aidan datang dengan tersenyum lebar padaku. Aku masih memasang wajah kesal padanya karena ejekanya tadi. Kami segera pergi meninggalkan rumah.
"Kau bener nih, gak mau ditemani?"
Tanya Aidan padaku untuk memastikan.
__ADS_1
"Beneran. Kamu sana pulang kasian Raja pasti nungguin."
Aidan menghentikan langkahnya. Aku masih berjalan karena tak sadar. Ketika menyadari Aidan tidak berada disampingku, aku menoleh kebelakang menatapnya yang dia seperti patung menatapku dingin.
"Kamu ngapain sih, cepat sini!"
Perintahku dengan tangan yang melambai-lambai padanya mengisyaratkan untuk cepat kemari.
"Gak mau tuh. Kau mengusirku.." jawabnya.
Aku jalan menghampiri Aidan, berdiri di depanya dan menatap wajahnya.
"Aku nyuruh kamu pulang, bukan ngusir."
Jelasku pada Aidan dan menggenggam tanganya. Aidan tersenyum ketika aku mulai menggenggam tanganya.
".. ah sial kau mulai berani ya?!"
Ucapnya dengan nada sinis.
"Benar.. kamu adalah Aidan. si cowok tukang bully, kasar, cuek dan menyebalkan."
Tegasku pada Aidan yang langsung merubah raut wajahnya.
"Hei.. aku kecewa dengan perkataanmu."
Ucap Aidan membuatku tertawa.
Kami berjalan menuju halte. Aidan sengaja mengantarku sampai ke halte. Kami berpisah saat bus yang akan kutumpangi sudah datang. Aidan melambaikan tanganya padaku saat aku menatapnya dari jendela bus. Aku tersenyum padanya.
...
Perjalanan menuju panti asuhan cukup jauh, jadi aku harus berganti bus. Ini adalah bus kedua yang kunaiki dan sebentar lagi akan segera sampai di halte terdekat dengan panti. Panti tempat aku dibesarkan memang tidak begitu dekat dengan jalanan. Jika menggunakan bus, harus berjalan lagi sekitar 10 menit untuk benar-benar sampai ke panti.
Aku menyalakan ponselku dan segera mengirim pesan untuk Bu Ratih, wanita tua pemilik panti.
Bus berhenti saat tiba di halte yang kutuju. Aku segera menuruni bus tersebut dan duduk sejenak di halte. menunggu balasan pesan dari Bu Ratih.
Bu Ratih tidak kunjung membalas pesanku. Aku memutuskan untuk pergi saja langsung ke panti. Setelah berjalan sekitar 11 menit, aku sampai di panti. Disambut oleh para pengasuh yang sedang menjemur pakaian. Terlihat anak-anak sedang bermain bola bersama, mereka tampak senang.
"Nak Atha?"
Ucap salah satu pengasuh yang tiba-tiba menghampiriku sembari menepuk pundakku pelan.
Aku menundukkan kepalaku sebagai rasa hormatku kepadanya. Ia tersenyum setelah melihatku. Kami berbincang sepanjang jalan saat akan menuju kantor Bu Ratih.
Ketika sampai ditempat yang kami tuju, Pengasuh bernama Elly tersebut pamit kepadaku. Aku mengangguk kepadanya dan membungkukkan setengah badanku padanya.
Pintu yang belum sempat kuketuk tiba-tiba terbuka oleh orang didalamnya. Orang tersebut menatapku heran. Ya, orang tersebut adalah Bu Ratih. Umurnya yang sudah tua, membuatnya menjadi lupa dengan wajah-wajah orang sekitarnya ditambah lagi banyaknya anak-anak yang menghuni panti.
Aku memperkenalkan diriku dengan menyebutkan namaku dan membungkukkan setengah badan kepadanya. Bu Ratih menyuruhku untuk masuk dan duduk ke sofa tua miliknya.
"Ada apa, mengapa kamu datang jauh-jauh sepagi ini."
Tanya Bu Ratih penasaran.
Aku tersenyum padanya dan berpindah duduk lebih dekat denganya. Aku memeluk tubuhnya hangat dan tanpa sadar telah meneteskan air mataku. Bu Ratih nampak bingung. Ia mengusap punggungku dan menepuk-nepuknya pelan.
"Tidak apa.. semua akan baik-baik saja."
Ucapnya berusaha menenangkanku yang masih terisak tangisan.
__ADS_1
----