
...
"Lari! cepat lari kubilang!"
Aku menuruti perkataanya, berlari hebat meninggalkan sosok yang bersamaku sebelumnya. Tubuhku memang sedang berlari, namun hati dan pandanganku terus-terusan tertinggal ke belakang, penuh rasa bersalah.
-*Grepp!
"Aaaaaaaaa! lepaskan aku!"
Langkahku diberhentikan, tubuhku dibuatnya tidak berdaya. Bibirnya menyeringai kepadaku, tanganya menahan sempurna pemberontakan yang telah kulancarkan.
"Kau telah melanggar sumpah, Agatha!"
Laki-laki itu berteriak kepadaku, tanganya mencengkram lenganku lebih kuat hingga menahan rasa sakit akibat kukunya yang tajam melukai lenganku.
"Agatha..."
Ucap seseorang dengan nada lirih. Aku segera menoleh kearah sumber suara tersebut, hendak membalas panggilanya. Namun sosok laki-laki dihadapanku ini tidak mengizinkanku. Ia menyekap mulutku, lalu menyeret tubuhku untuk mengikutinya.
Dari keberadaan yang semakin menjauh, aku menatapnya yang mulai tertinggal. Tubuh wanita tinggi dengan cahaya ungu yang sangat kuat terpancar itu, tiba-tiba hilang. Seolah tertiup angin.
samar-samar pandanganku mulai kabur, rumput basah tajam yang semula terpijak, kini tidak terasa lagi.
*PYAAARRRR!!!
Gelagar suara gelas pecah, menghantam lantai. Aku terbangun dan mendapati diriku sedang berada diatas kasur. Keringat yang bercucuran membasahi leherku, nafasku terengah.
"Aarrrhh!"
erangku kesakitan, usai memijak pecahan beling dari gelas. Aku segera berjinjit ke sisi lain, berjalan keluar kamar. Sudah nampak seperti film horror, lantai berlumuran darah akibat jejak telapak kaki ku yang terluka.
"Astaga, masih jam 3 pagi.."
Aku segera mengambil kotak obat, setelah membasuh luka di telapak kakiku. Pikiranku mengacu pada mimpiku tadi, mimpi yang buruk.
Kenapa Aidan ada disana? lalu siapa laki-laki berkuku tajam yang mengejarku?--
Ucapku dalam hati penuh penasaran, sembari mengobati luka dan menutupnya dengan perban.
Pikiranku kembali kacau, mengingat bagaimana Aidan pamit pergi tanpa alasan setelah mendengarkan ceritaku. Aku juga khawatir karena ia sempat menelfonku, berkata kalau sedang bersama Gery.
...
Pukul 07.00 pagi
Setelah merasa siap, aku segera meninggalkan rumah. Kali ini tidak menuju sekolah, namun menuju panti. Dengan langkah yang sedikit terpincang, aku berjalan menuju halte bus.
Setengah perjalanan, aku mendapati notifikasi pesan masuk. Mendapati Aidan yang mengirimkan pesan tersebut.
(Pagi Agatha, udah bangun?) 07.12
Aku tersenyum setelah membaca pesan darinya, perasaanku sedikit lega, ternyata mimpi dan prasangka burukku tidak berlaku nyata.
(Pagi Aidan.. tumben kamu udah bangun, aku menuju panti.) *Send
--*Crasshh!
"Aaaah, aduh.."
Aku segera menepi, seusai memijak genangan air di jalanan yang berlubang. Perban yang membalut mata kakiku turut basah.
"Karena asyik dengan ponsel, aku jadi nggak memperhatikan jalan.."
Ucapku pasrah dengan menyesal.
*🎶 (nada dering telfon masuk) ~
Aku segera mengangkat panggilan tersebut,
/"Ha--"
/"Kau udah dijalan?!"
Ucap Aidan memotong sapaanku.
/"I-iiya,"
Jawabku sedikit ragu, sembari berjalan setelah menepi sesaat.
/"Dimana?"
Tanya Aidan dengan nada yang sedikit menenang.
/"Didepan halte,"
Jawabku yang berada tidak jauh dari halte, berjalan lebih cepat untuk mengejar bus yang hendak sampai.
/"Kau lari?"
Tanya Aidan lagi
/"Aid--"
"Ah.. astaga,"
Dengusku, setelah tertinggal bus. Aku melanjutkan langkahku yang hampir sampai mendekati halte.
/"Agatha! halo? halo?"
Ternyata ponselku masih tersambung panggilan dengan Aidan, aku segera menyahutnya.
/"Aidan maaf, aku mengejar bus tadi."
Ucapku sembari duduk di bangku halte.
/"Sekarang sudah di bus?"
Tanya Aidan.
__ADS_1
/"Ketinggalan, sekarang lagi nunggu lagi.."
Jawabku.
/"Kok bisa tertinggal?"
Tanya Aidan lagi.
/"Iya, habis nggak bisa lari.. kaki ku sedang terluka."
Jelasku padanya, seraya mengipaskan buku kearah perban di kakiku yang basah.
/"Luka?! sejak kapan? karena apa?"
Tanya Aidan lagi, nadanya meninggi.
/"Apasih.. kamu dari tadi nanya terus, aku baik-baik aja, cuma terkena pecahan gelas."
Jelasku padanya, menjawab pertanyaanya yang beruntutan.
/"Kau gila? gimana bisa baik-baik aja. Aku kesana sekarang."
Pungkas Aidan.
/"Hei jangan! nanti aku terlambat,"
Ucapku menahanya yang hendak menutup telfon.
/"hm.."
Dengus Aidan,
/"Kau beneran pindah hari ini ya?"
Tanya Aidan, kini nadanya kembali tenang.
/"Iya nih, kan kita udah obrolin tentang ini.."
/"Ah Aidan.. bus nya udah datang, nanti aku telfon lagi ya!~"
Ucapku memutus pembicaraan, lalu segera mengakhiri panggilan darinya.
Bus berhenti tepat di depanku, aku menaiki setiap tangga dengan hati-hati. Tampak supir bus yang menatapku prihatin.
"Pelan-pelan saja.. paman akan menunggumu sampai duduk di bangku."
Pungkas supir bus tersebut, tersenyum kearahku.
"Ah, terimakasih~"
Jawabku senang,menunduk hormat kepada supir bus tersebut lalu segera duduk di baris depan setelah membayar tiket.
Bus melaju, aku menatap jalanan yang perlahan mulai ramai dengan mobil yang turut melintas. Sinar matahari pagi mencuak terang mengenai kaca, membuat silau mataku.
*Kato!
Notifikasi pesan masuk, aku yang semula mengira pesan dari Aidan ternyata dari Helen.
Aku menyandarkan kepalaku di sisi jendela, membalas pesan dari Helen,
(Sekitar 30 menit..) *Send
Dengan harapan, Helen tidak akan marah. Karena jarak antara rumah dan panti yang cukup jauh, 30 menit saja aku mengada-ngada.
*Kato!
(Kau gila?! itu sih lama banget, aku udah sampai kau harus cepat sampai dalam 10 menit.)
07.45
Aku mengernyitkan dahiku heran, setelah membaca balasan dari Helen. Lalu tidak menggubrisnya lagi, pandanganku memaksa menatap jalanan walaupun sinar matahari menyilaukan mataku.
...
Dengan kaki yang masih terasa berat dan sakit untuk melangkah, aku tetap berjalan menuju panti walaupun jalanan yang menanjak serta udara dingin pagi yang masih terasa.
"Naik turun bus saja susah, apalagi ini.. menaiki puluhan anak tangga.."
Ucapku pasrah, dengan langkah yang tertatih.
Berusaha sekuat mungkin, aku menaiki anak tangga satu-persatu. Hingga pada akhirnya sampai di atas, mendapati pintu gerbang panti yang sudah terlihat.
*Vroomm..
Mobil melaju mendahuluiku, berhenti tepat di depan panti. Aku menoleh kebelakang sekilas, menyaksikan betapa mulusnya mobil itu melintas dan betapa berusah payahnya aku menyusuri tangga.
"Ffuhh.."
Dengusku, lalu kembali berjalan mendekati panti. 2 orang berseragam keluar dari mobil tersebut.
Tunggu, itu Helen dan Gery??!
Ucapku dalam hati, aku segera mempercepat jalanku. Disambut dengan tawa Helen setelah melihatku.
"Hei kakimu kenapa?"
Tanya Gery penuh perhatian, ia segera menghampiriku.
"Nggak. Helen, kamu!"
Ucapku tegas, menatapnya kesal.
"Kenapa diperban?"
Tanya Gery lagi.
Aku menoleh kearahnya, tersenyum mendapati perlakuan manisnya.
"Hm, kecelakaan kecil saat tidur.."
__ADS_1
Jawabku ramah, lalu terfokus kembali menatap Helen tajam.
Gery nampak bingung, ia menggaruk sekilas belakang kepalanya, lalu menuntun jalanku masuk kedalam panti. Begitu juga Helen, menyusulku dan Gery masuk setelah menertawakanku puas.
Baru sampai melewati halaman panti, nampak Bu Ratih dan Bi Kamilah menunggu kami di depan koridor. Matanya nampak membulat, bergegas menghampiri kami. Tanganya merangkul pundakku halus sembari menatap kakiku yang diperban.
"Sayang kamu.. kenapa bisa seperti ini?"
Tanya Bu Ratih dengan cemas, begitu juga bi Kamilah.
"Kecelakaan tidur~"
Celetuk Helen tiba-tiba, membuatku menoleh kesal kearahnya.
Bu Ratih menatapku cemas, ia mengusap rambutku lembut.
"Atha nggakpapa kok Bunda.."
Ucapku dengan tersenyum.
Setelah itu kami semua masuk kedalam, menuju ruangan Bu Ratih. Pikiranku teralih ke Helen dan Gery, mengenakan seragam yang sama dan seragam mereka tampak asing.
...
Bu Ratih membawakan seragam yang terlipat rapih serta beberapa dokumen yang menunjukkan data diriku.
Aku mengerutkan keningku heran, mendapati barang-barang yang diberikan Bu Ratih kepadaku.
Kemudian aku menatap Helen yang asyik menyantap Apel dan juga Gery yang kembali menatapku. Seragam yang diberikan Bu Ratih, sama dengan seragam yang dikenakan Helen dan Gery.
"Iya.. kamu akan berada satu sekolah dengan Helen."
Pungkas Bu Ratih, menyadari pandanganku yang terus memperhatikan seragam sekolah tersebut.
"Hei cepat, udah hampir setengah 9 nih.."
Celetuk Helen setelah menyantap habis apel ditanganya.
Aku mendecak kearahnya, lalu berpaling menatap Bu Ratih yang memintaku untuk segera mengganti seragamku.
"Disini aja, kamu mau kemana?"
Ucap Bu Ratih menahan langkahku yang hendak keluar ruangan.
Aku menoleh heran,
"Kok disini? kan ada gery, dia laki-la--"
Pungkasku yang tertahan dengan dekapan Helen tiba-tiba di mulutku.
Begitu juga gery yang menyilangkan kedua tanganya kearahku panik.
Aku segera menepis bekapan tangan Helen, lalu menatapnya bingung.
"Gery? siapa Gery??"
Tanya Bu Ratih penuh penasaran, ia segera bangkit mendekatiku dan Helen. Begitu juga Bi Kamilah yang ikut terkejut menatap kami.
Tunggu, Bu Ratih nggak tau Gery?
"Ah.. itu Bunda, mungkin Atha lagi ngelantur.."
Pungkas Helen menangkis fakta keberadaan Gery.
Aku menatap Gery heran yang berdiri disudut ruangan, kepalanya menggeleng kearahku. Aku kembali dibuat bingung.
"Maksudnya malu karena ada Bunda sama Bi kamilah?"
Jelas Bu Ratih, yang ternyata percaya dengan ucapan Helen.
"I-iiya Bunda.. Atha malu kalau ganti baju disini karena ada Gery..miss! iya gerimis hujan,"
Jawabku ikut membohongi, dengan ragu.
"Eh, apa hubunganya.. kamu ini~ yasudah sana ganti baju di toilet."
Pungkas Bu Ratih masih kebingungan, dengan ucapan konyolku barusan.
Aku menunduk hormat kepada Bu Ratih dan Bi Kamila lalu bergegas meninggalkan ruangan, dengan seragam ditanganku. Helen menyusulku keluar.
*Glek!
"Hey maaf, aku lupa ngasih tau."
Pungkas Helen, menarik pergelangan tanganku setelah menutup pintu.
"Maksudnya apa sih?"
Tanyaku dengan penasaran, mengikuti ajakan Helen yang menarikku menuju toilet.
Sesampainya didepan toilet, Helen menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan kearahku. Matanya celingak-celinguk ke berbagai arah sebelum akhirnya menatap fokus kearahku.
"Hey, dengarkan baik-baik.."
Ucapnya dengan pelan.
Aku meresponya dengan anggukan singkat.
"Gery itu nggak bisa dilihat sama mereka.. jadi yang tau cuma aku dan kau!"
Jelas Helen padaku dengan serius.
"Ehh?? maksudnya gimana???"
Tanyaku dengan amat penasaran setelah mendengarkan penjelasan dari Helen.
"Nanti, pas udah keluar dari sini. Kau buruan ganti."
Pungkasnya sembari membalikkan tubuhku, mendorong masuk kedalam toilet.
__ADS_1
...