
Tangan yang masih gemetaran mengisyaratkan tubuhku sedang ketakutan. Mataku memandang lepas ramainya kota dari atap gedung sekolah, masih bersama Aidan disampingku. Setelah perkelahianya yang menyebabkan kehebohan besar disekolah ia tampak santai saat ini.
"Kamu merokok?," Tanyaku padanya kesal.
Aku segera mengambil batang rokok yang sudah ia sematkan dimulutnya itu, kemudian hendak membuangnya kebawah. Aidan mencegah tanganku sambil berkata,
"Kau gila? gimana pas kau lemparkan itu ke bawah yang nemuin guru olahraga?"
Seraya menyaut rokok yang berada di tanganku lalu menyalakanya dengan segera.
"Kamu benar-benar ngga berperasaan ya,"
Kataku sambil mengalihkan wajah dengan pandangan lurus kedepan, lalu melipat tangan diatas tembok pembatas atap gedung sembari menopangkan daguku diatasnya.
"A-apa?! justru aku melakukan ini juga lagi pusing mikirin kau tuh."
Celetuk Aidan setelah menghisap rokok disela-sela jarinya.
Aku menoleh kearahnya, menatap dirinya yang sedang merokok ilegal.
"Sebenarnya kamu berantem sama Raja--"
"Ahh sudah. gak mau bahas."
Ucapnya memutus pemicaraanku sembari menghembuskan asap rokoknya ke arahku jahil.
Aku mendengus kesal dengan sikap Aidan kepadaku, lalu pergi meninggalkanya untuk turun dari atap sekolah mengingat, pelajaran masih berlangsung.
"Heyy! Kau mau kemana?! jangan coba-coba untuk keluar."
Perintahnya padaku dengan suara lantang. Ucapanya barusan menghentikan langkahku kemudian berbalik badan menghadapnya.
"Memangnya kenapa? Aku berani tuh.."
Kataku membalas perkataan Aidan dan kembali berjalan menuju pintu.
"Terkunci. HAHAHA,"
Ucapnya lagi sembari menertawakanku, ketika pintu tak terbuka saat kutarik gagang pintu tersebut.
Aku menghampirinya dengan raut wajah yang kesal. Tanganku menengadah kepadanya mengisyaratkan untuk memberikan kunci tersebut.
"Kenapa? ada apa?"
Ucapnya dengan polos setelah menginjak puntung rokok untuk mematikanya.
Aku memajukan langkahku ke arahnya dengan tangan terlipat dibawah dada.
"Kamu.. bertantem gara-gara kesal denganku tadi pagi kan?"
Tanyaku dengan mata yang menyipit tajam menginterogasinya.
Aidan mendorong keningku dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Enyah kau. kepedean sekali,"
Ucapnya dingin dengan raut wajah yang datar menatapku malas.
Aku tersenyum sekilas sesudah menatapnya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku rok ku.
"Hiiih, sudah jam empat!"
Gumamku terkejut setelah melihat jam yang tertera di ponselku. Mataku kembali menatap Aidan dengan serius.
"Apa? apa lagi.."
Ucapnya ketika menerima tatapan dariku.
"Benar, kita berada di halaman atap belakang sekolah, jadi nggak tau kalo murid-murid udah bubar sekolah."
kataku pada diri sendiri lalu menatap Aidan lagi.
Aidan melangkah mendekat kearahku, kedua tanganya yang ia masukan kedalam kantong celananya, menambah kesan dingin. Ia terus berjalan mendekat ke arahku, sehingga membuat langkah mundurku terbatas karena punggung yang sudah menatap tembok.
Wajahnya sengaja ditundukkan mendekati wajahku, lalu ia merapatkan hidungnya sembari memiringkan wajah berusaha untuk memagut bibirku. Matanya mulai terpejam, nafas dan aroma tembakau dapat tercium dan kurasakan dengan jelas.
Aku memberikan dorongan di dadanya, meminta untuk menghentikan situasi ini. Aidan menahan tanganku dengan sempurna, tangan satunya lagi menarik tengkuk ku maju sehingga bibirku benar-benar bersentuhan dengan bibirnya.
Aku mulai memejamkan mata tak berdaya, bibirnya terasa hangat dan aku mengakui itu.
Tanganku yang semula memberontak, kini mulai luluh mengenggam erat baju miliknya.
--*brakk! brakk! brakkk!
Aku terkejut dan tersadar langsung mendorong tubuh Aidan. Suasana menjadi canggung saat kami menghentikan paksa ciuman karena pintu yang terkunci digedor oleh seseorang dari
dalam. Mata kami saling bertatapan.
Aidan menyuruhku untuk tetap diam dengan perintah tanganya. Ia berjalan ke arah pintu untuk memasangkan kunci yang ia keluarkan dari saku seragamnya. Pintu terbuka dan munculah sosok yang kukenali.
"R-raja..?"
Ucapku dari kejauhan dengan nada yang terbata-bata.
Raja menyadari keberadaanku. Ia menghampiriku setelah menyenggolkan badanya ke Aidan, yang masih terdiam berdiri di depan pintu.
Aku tidak dapat bersuara ketika menatap mata cokelatnya yang tampak marah dan putus asa. Tanganya meraih pergelangan tanganku dengan paksa, lalu segera berjalan mendekati pintu untuk meninggalkan atap.
Aku menatap wajah Aidan ketika kami melewatinya. Aidan tampak kebingungan seperti akan marah. Aku meninggalkanya dengan terpaksa di atap karena tarikan Raja.
Aku mengikutinya menuruni anak tangga hingga berada di lantai 2, ia tidak berbicara sedikitpun padaku sepanjang jalan. Pergelangan tanganku mulai terasa sakit akibat dari tarikan paksanya. Ini tidak seperti Raja yang kukenal, aku mencemaskan dirinya sembari menatap tubuhnya dari belakang, yang masih berjalan menarikku.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, lalu mengayunkan tanganku untuk melepaskanya dengan kasar. Aku memegangi pergelangan tanganku sembari menatapnya cemas.
"Kau.. benar-benar bodoh ya?!"
Bentaknya padaku dengan tangan yang dikepalkan memukul-mukul ke tembok milik kelas, tampak seperti orang yang frustasi.
__ADS_1
Aku masih terdiam membendung air mata, tidak berani untuk menjawab perkataanya. Tanganku yang semula memegangi pergelangan tangan yang terasa sakit, kini terasa tidak berarti karena hatiku lebih sakit melihatnya emosi seperti itu.
Raja menoleh kearahku, menyibakkan rambutnya dengan cepat lalu menyergap pundakku dengan kuat.
"Sadar Tha.. kumohon, kau udah lupa dengan omongan Bu Ratih kemarin? Aidan berusaha menipu dayamu."
Ucapnya dengan putus asa sembari menggoyangkan sedikit pundakku untuk menatap wajahku yang kutundukkan.
Air mata menetes mengenai sepatuku. Aku mengerti, memahami perkataan dan fakta yang sudah dikatakan Bu Ratih. Namun, hatiku berat menerimanya, aku tidak bisa menjauhi Aidan meski sudah kucoba. Aku juga tidak bisa menerima cinta Raja sekarang, meski sudah kucoba. Aku menangis bingung, perasaan yang rumit mencampur aduk hatiku. Tubuhku lemas, tak berdaya.
"Hey.. hey, jangan menangis Atha, maafin aku,"
Raja segera memeluk tubuku, Ia mengelus rambutku lembut. Sepertinya ia mulai merasa bersalah dan jauh lebih tenang saat ini.
Tidak, bukan ini yang kumau Raja, aku tidak ingin seperti ini. Aku segera melepaskan pelukan darinya, lalu berlari menuju kelas dengan air mata yang masih terurai. Tidak kupedulikan Raja yang nampak terkejut dan bisu menerima tindakanku barusan.
Aku memasuki kelas dan melihat coretan di meja. Membacanya secara acak "******,miskin,tidak tau diri, mati saja!, bodoh-"
Aku segera meraih tasku dan berlari keluar kelas. Kuusap air mataku setelah melihat coretan di meja dengan kata-kata yang menyakitkan itu.
Tanganku merogoh ponsel di rok celanaku, menyalakanya lalu menatap jam yang tertera membuatku terkejut.
"Gawat! aku hampir terlambat."
Ucapku pada diri sendiri, lalu bergegas lari menuju gerbang sekolah. Tidak, hari ini tidak boleh selamanya mengerikan, aku harus segera sampai dan bisa menerima upah harian kerjaku.
Tampak bus yang sudah melewati gerbang sekolahku. Aku segera berlari menuju halte untuk dapat menaiki bus tersebut.
"Ahhh! tunggu..!"
Kataku sembari berlari secepat mungkin dengan tangan yang melambai kearah bus tersebut.
"Ah.. akhirnya.."
Ucapku lega setelah menaiki bus dan segera membayar. Supir bus tersenyum padaku dan menundukkan kepalanya sekilas. Aku tersenyum kembali, lalu menemukan kursi kosong dan segera mendudukinya.
"Masih ada 20 menit.. bagus, tenanglah.. semua akan baik-baik saja."
Gumamku pada diri sendiri untuk menenangkan hati sembari mengeluarkan headset, lalu memasangkanya ditelingaku setelah kusambungkan ke ponsel. Aku memutar lagu yang dapat menghiburku sore ini, sebelum bekerja. Jalanan tampak ramai dengan kebanyakan mobil-mobil mewah yang melintas. Mereka nampaknya orang berada yang baru saja pulang kerja.
Pikiran yang memenuhi benakku dengan kejadian hari ini membuatku kembali cemas dan gelisah. Tapi... ciuman Aidan yang lebih memenuhi pikiranku.
"Ahhh sadarlahh!"
Ucapku tanpa sadar membuat orang-orang yang berada di bus menatapku. Aku menghentikan tanganku yang memukul-mukul pikiranku.
"Maaf.. maaf..maafkan saya,"
Ucapku tersungkur malu pada mereka yang selesai menatapku sembari menundukkan kepalaku.
Astaga, bodoh. Apa yang baru saja kulakukan. Ucapku pada diri sendiri dengan perasaan malu.
....
__ADS_1