
Gabby:I still love you so much om❣❣.Ijinin aku jadi orang yang kamu sayang
Adrian:Om gak bisa bicara apa apa.Tapi om sayang Cassie
Gabby:Aku juga sayang om.Cassie berangkat sekolah dulu ya.Om jangan lupa jaga kesehatan😘
Adrian:Iya Cassie
Setelah, menjawab what's app.Adrian Raka Wijaya masuk ke kamar mandi.Dia menyandarkan kepalanya ke dinding kamar mandi.
Gricikk...gricikk..gricikkk..gemercik shower membasahi tubuh kecil nan berotot milik Adrian Raka Wijaya.Sambil menunduk dia masih terus berfikir.
"Apa aku pantas menyukai anak Gabby?Apa hatiku telah goyah dengan yang lain."Menyandarkan kepalnya ke dinding kamar mandi.
"Aku bimbang, sangat bimbang."Mengenggam kalung yang ada cincin Renita dan dia sewaktu kecil.
"Aku masih sayang padamu Renita.Bisakah aku move on dan pindah ke lain hati?bisakah?"
Selesai mandi Adrian Raka Wijaya mengeringkan tubuhnya dengan handuk.Dia membuka situs shopping medecine dan membeli apa yang Renita pesan ke dia.Sambil duduk di ruang tv apartementnya.
"Ini masukin shopp bag."Mengklik tombol checkout.
"Hem..tinggal tunggu barang datang."
Setelah, transaksi di situs obat obatan.Adrian bersiap turun dari unit apartementnya di lucky plaza apartement.
304 Orchard Rd, Singapura 238863.1.25Juli2026,07.15SGT, Adrian memanaskan mobilnya diparkiran apartement.
Sebelum ke rumah sakit Adrian pergi ke gereja
Cruch of the sacred heart.1jam perjalanan sampailah dia di gereja itu.
111 Tank Rd, Singapura 238069.Kakinya terhenti memasuki bagian tengah gereja.Seakan akan ada beban berat yang membuat kakinya kaku.
Adrian berjalan sekuat tenaganya.Dan duduk didekat altar.Matanya mengeluarkan airmata.Sudah lama dia tidak pergi ke gereja semenjak Renita tidak dia milikki.
Adrian menangis sekencang kencangnya memohon ampun pada Tuhan.Karena, sempat membencinya dan membenci dirinya sendiri yang tidak mampu untuk menjaga pemberian Tuhan yang berharga Renita Diaz Putri.
"Tuhan, aku benar benar menyesal.Hatiku bimbang dan kacau.Semenjak, Renita pergi dari hidupku.Aku takut, aku kalut, aku kehilangan arah tujuan hidup."
"Ampuni dosaku Tuhan.Aku tahu sudah 5 atau 6tahun aku sama sekali tidak ingat terhadapmu.Tapi ijinkanlah aku mendapat karuniamu dan mukjizatmu agar aku dapat memperbaiki hidupku."
"Aku tahu Tuhan aku lancang meninggalkanmu demi urusan ke egoisan duniawiku.Aku sadar aku salah Tuhan.Ampuni aku dan dosaku.Tuhan, aku kini bimbang apakah aku harus melepas Renita dan menyambut Cassie dihatiku.Bantulah, aku dalam memutuskan dan bijaksana terhadap keputusanku."Amen.
Adrian Raka Wijaya keluar dari gereja.Didepan gereja dia bertemu seseorang misterius.Orang tua itu memberikan gelang untuk Adrian.
"Aku, tahu saat ini hidupmu sedang kacau anakku.Jika nanti kau sudah memutuskan siapa pendamping yang bersanding denganmu.Berikan gelang ini untuknya.Maka, cinta kalian tidak akan pernah putus lagi selamanya."Orang tua aneh memberi gelang bertatakan kristal warna putih mengkilap.
"Tunggu, mister."Mencari orang tua itu.
"Loh, kok gak ada sih.Apa mungkin itu malaikat?"Binggung dan berbicara dalam hati.
Bulu kuduk Adrian merinding.Dia langsung masuk ke mobil.Memori akan masa lalu tentang Renita muncul lagi dalam ingatannya.
"Huft..jadi inget sering kasih Renita kado."Tersenyum sepanjang perjalanan.
Dipertengahan jalan menuju Mount Elizabet.Pikiran Adrian terhenti pada Renita tergantikan oleh senyuman Cassie yang mengembang saat memeluk dirinya.
08.00SGT, Adrian sampai di Mount Elizabeth Hospital.Dia memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit.Adrian juga memasukan gelang misterius ke kotak didalam mobil.Dengan jas dokter yang dia bawa ke ruang kerjanya.Disana prof.Rengga telah menanti.
__ADS_1
"Ceklek..ceklek..ceklekk.."Adrian membuka pintu ruang kerjanya.
"Dokter Adrian, selamat datang."
"Profesor, sedang apa disini pagi pagi?"
"Bagaimana keadaan pasien kamu Raggita?"
"Kondisinya sudah mulai membaik dok."
"Kapan mau menjatualkan oprasi untuknya?"
"Sabtu ini kita bisa mengoprasi dia dok.Karena, kondisi dia stabil."
"Baiklah, aku dan tim lain akan mempelajari anatomi Raggita."
Adrian Raka Wijaya memakai name tag dia dan jas praktek miliknya.Dia turun menuju ruang emergency memeriksa Raggita.
"Selamat pagi."Sapa Adrian.
"Pagi dok."Senyum mama Raggita.
"Raggita diperiksa dulu ya sayang.Suster, tolong nanti check tensinya sama suhu tubuh Raggita ya."
"Baik dok."Suster Mika mengambil alat pengukur suhu dan alat tensi digital.
"Raggita, tarik nafas panjang dan hembuskan pelan."Memeriksa menggunakana stetoskopnya.
"Humppp...huh.."Raggita menarik dan mengeluarkan nafas.
"Bagus, sudah selesai ya pemeriksaan detak jantungnya.Nafasnya sudah mulai normal.Hanya masih sedikit lebih kencang dari anak kecil normal."
"Baik dok, untuk operasi Raggita kira kira kapan ya dok?"Tanya mama Raggita pelan.
"Saya, sudah berunding dengan professor Rengga.Kita memperkirakan Raggita masuk ruang operasi tanggal 02agustus 2026, 08.00SGT, nyonya mohon bersiap ya."
"Baik dok."
"Baik dok, terimakasih."Membungkuk.
Dokter Adrian Raka Wijaya keluar.Suster Mika masuk untuk memeriksa tekanan darah dan suhu badan Raggita.
"Raggita, diperiksa suhu dan tekanan darahnya ya."Suster Mika mengeluarkan termometer dan tensimeter digital.
"Iya sus."
"Angkat ketiaknya sayang."
"Baik sus."Mengangkat ketiaknya.
"Termometernya, diapit ya di ketiak sebentar."
"Baik sus."
"Krekk..krekk..sekarang suster pasangin alat tensinya.Tangannya santai saja jangan tegang."Membuka sabuk tensimeter dan memasangkan ke lengan Raggita.
"Iya sus."Menjawab pelan.
"Sut..sut..sut."Suster Mika memompa tensimeter digital.
"Sus, sakit."
"Tahan, sebentar ya."Dengan 3 jari menghitung denyut nadi Raggita sambil melihat jam tangannya.
"Udah sus?"
"Krekk..krekk..krekk..sudah Raggita."Suster Mika membuka alat tensimeter dan termometer yang terpasang di tangan Raggita.
__ADS_1
"Makasih ya sus."
"Sama sama Raggita."Tersenyum sambil menulis laporan.
"Sus, bagaimana hasilnya?"Tanya mama Raggita.
"Sudah, cukup baik hanya saja tekanan diastoliknya masih rendah sekali."
"Semoga cepat normal."
"Iya, nyonyah.Maaf nyonyah saya harus ke ruang laboraturium membantu dokter Levin untuk pemeriksaan lanjutan anak Raggita."
"Baik, sus terimakasih."
Suster dan dokter sudah meninggalkan ruangan Raggita.Setelah, makan Raggita mulai tertidur lelap.Pukul 16.30SGT, dokter Levin ke ruang emergency mengambil sample darah Raggita.
"Permisi nyonyah, saya dokter Levin akan mengambil sample darah adik Raggita.
"Silahkan dok."Pindah dari kursi tunggu pasien dan berdiri.
"Sore, adik Raggita."Membawa suntikan dan peralatan lain untuk pengambilan sample darah.
"Sore dok."
"Sore ini, saya dan suster Maria akan mengambil sampel darah adik Raggita."
"Sakit gak dok?"
"Gak sayang."
"Suster, tolong kasa yang sudah diberi obat untuk penghilang rasa sakit."
"Baik dok ini."Memberikan kasa yang sudah diberi obat.
"Adik Raggita rileks saja.Sekarang, tarik nafas pelan pelan dan keluarkan pelan."Mengusap kasa ke tempat darah vena mengalir.
"Hupp..huu..hup..huu."Menarik dan meneluarkan nafasnya.
"Suster, suntikan sterilnya."
"Baik dok ini."Memberikan suntikan steril yang diminta dokter Levin.
"Tarik nafas lagi.Tahan sebentar."Menusukan suntikan ke darah vena.
"Hupp."Menarik dan menahan nafas.
"Bagus, sekaran nafas normal."Mengambil darah pelan, mengusapkan kasa obat dan memberi hansaplas perekat.
"Sudah, Raggita dokter sudah ambil sample darahnya.Sekarang, Raggita istirahat lagi ya."
"Iya dok."
"Terimakasih ya dok."Mama Raggita membunggkuk.
"Sama sama, mari sus bawa sample ke laboraturium."
"Baik dok."
"Saya tinggal dulu ya nyonyah."
"Baik dok, terimakasih."Senyum mama Raggita.
Promosi dikit ya kak kalau kalian suka hasil coretan tanganku...
yuk baca 2karya aku yang baru
#Cinta untuk merylia
__ADS_1
#Sweet heart
Yuk like👍 dan vote ⚡serta rate karyaku ya kakak kakak..🥰🥰🥰