
"Ceklek..ceklek..Freya." Drian membuka pintu apartemen dr. Rengga.
"Papa.." Berlari dan memelu Drian yang dia kira Rengga.
"Freya." Jongkok dan menatap wajah gadis kecil itu.
"Loh, om Drian papa mana om?" Tanya Freya lembut.
"Sayang, papa kamu sedang ada urusan mendadak diluar Singapore. Mungkin, dalam 1bulan atau beberapa minggu papa kamu harus mengurus urusannya."
"Heee...heee...papa.." Menangis.
"Sayang, ada om disini. Om, temani Freya disini." Memeluk Freya.
Freya berhenti menangis dan menarik tangan Adrian masuk ke dalam apartement milik dokter Rengga. Apartement yang cukup besar dan ornamen yang mewah untuk seorang yang tinggal sendirian. Adrian terus menengokan kepala dan matanya ke kanan-kiri.
"Ayo om masuk."
"Iya Freya." Sambil melepas sepatu dan menengok kekanan dan kekiri.
"Om, om, om." Ucap Freya dengan nada imut.
"Iya sayang." Jongkok menatap Freya.
"Om, malam ini temanin Freya tidur ya. Freya takut sendirian."
"Iya sayang." Mengelus rambut Freya.
"Ayo om." Menarik tangan Adrian.
Freya menarik tangan Adrian masuk ke kamarnya. Dia menyuruh Adrian duduk sebentar dikasur. Sambil membaca web kedokteran Adrian terus fokus pada handphonenya.
"Freya udah belum?" Ucap Adrian sambil terus fokus.
"Belum om." Terus membuka laci disudut kamarnya.
"Freya cari apa sih?" Menaruh handphone yang dia genggam.
"Cari buku cerita dari mama om." Ucap Freya lugu.
"Mau om bantu cari." Turun dari kasur.
"He'em om..om." Mengangguk dan tersenyum.
Adrian membantu mencarikan buku yang dicari oleh Freya. Setelah, 1jam mencari akhirnya buku itu ketemu. Buku berjudul: "Alice in wonderland".
"Yey, om ketemu." Mengankat buku dengan bahagia.
"Syukurlah sayang. Ayo tidur sudah malam." Ajak Adrian sambil melihat jam dinding.
"Iya om." Tersenyum lega khas anak-anak.
__ADS_1
Freya naik ketempat tidur. Adrian menyelimuti tubuh kecil Freya. Sambil, menarik kursi ke sebelah kasur tidur gadis kecil itu.
"Greek...grekkk...grekk." Pekikan kursi yang ditarik Adrian.
"Freya."
"Iya om." Menatap Adrian.
"Om, ceritain isi bukunya ya sayang."
"Iya om." Mengangguk.
Cerita singkat Alice in Wonderland:
Dahulu kala, disebuah negeri nan jauh disana hiduplah seorang gadis kecil bernama Alice. Alice yang penasaran melihat kelinci putih dengan jaket merah yang membawa jam besar dan begitu nampak terburu-buru. Alice mengikutinya dan menemukan lubang. Alice terjatuh dalam lubang tersebut yang rupanya sebuah bangunan yang besar dan dalam. Ia terus mengikuti si kelinci putih tapi si kelinci tidak menyadarinya dan Alice pun kehilangannya. Ia menemukan pintu mungil. Ketika ia mengintip dari lubang kunci, ia melihat sebuah taman yang indah.
Tubuhnya yang membesar dan mengecil ketika meminum sesuatu dari botol, ia pun berhasil masuk ke taman di balik pintu tersebut. Mulailah petualangan Alice yang aneh dari bertemu si kembar Tweedledee dan Tweedledum yang suka berpuisi, bersua ulat bulu yang memberinya sebuah jamur yang dapat membuatnya membesar dan mengecil, berkenalan dengan Chesire cat yang suka muncul dan menghilang tiba-tiba, dan diajak jamuan makan dengan The March Hare dan The Hatter, lantas bertemu Ratu Hati dan prajurit kartunya.
Karena, Freya tidak menjawab panggilan dari Adrian. Adrianpun, menyelesaikan cerita yang dia bacakan. Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Freya." Adrian memanggil lirih.
"Papa, come back. Momy i love you." Freya mengiggau.
"Good night malaikat kecil dokter Rengga." Merapikan selimut tidur Freya dan keluar dari kamarnya.
Adrian membuat kopi didapur apartement Rengga. Sambil terus memandang bintang dilangit. Dan memandang jam di dinding yang menemaninya.
"Hoam..udah jam segini aja." Menguap sambil duduk dikursi santai rumah professor Rengga.
Rumah sakit tempat Joanna dirawat: The Royal Melbourn Hospital, 22.00GMT, hujan badai tiba-tiba kembali datang. Petir menyambarkan kilatnya ke jendela UGD. Edward terbangun dari tidurnya. Sementara itu, Rengga masih tertidur didekat kasur Joanna.
"Duarr..duarr...duarr..."
"Apa itu?" Edward terbangun.
"Joanna." Igau Rengga.
"Hoam..sepi sekali." Edward meregangkan badanya.
"Muach..sayang aku ambil minum dulu ya." Mengecup Joanna.
Mata Joanna mengeluarkan air mata. Namun, badannya dingin seperti tidak ada semangat untuk hidup. Denyut jantungnya masih sangat lemah.
"Jo..maafin aku ya. Aku udah membuat hidupmu sangat menderita." Mengelus rambut Joanna dan menghapus air mata yang jatuh dari kelopak matanya.
Edward, keluar dari ruangan UGD. Didepan dia disambut anak buahnya. Yang sedari tadi berjaga demi keamanan Edward yang baru saja menjabat menjadi presiden direktur dari Zara Factory Outlate.
"Srekkk..srekk.." Edward membuka rolling door.
"Bos." Romano membungkuk.
"Temani aku beli kopi di kantin rumah sakit."
__ADS_1
"Baik bos."
"Cepat!" Berjalan cepat.
"Leona, tolong gantikan aku jaga." Romano membisikan telinga Leona.
"Baik tuan."
"Bos, tungguin." Mengejar Edward.
Pasien, dengan keluhan hipotermia melewati samping kanan lorong tempat Edward berjalan. Edward tidak sengaja melihat pasien dengan bibir pucat pasih kedinginan. Sosok anak kecil yang benar-benar lemas dengan kulit yang mulai membiru karena hipotermia.
"Berrrr...berrr..help me." Lemas menatap Edward.
"Hufftt..huffttt..bikin merinding aja." Menarik nafas dalam-dalam.
"Hiks..hiks..hikss...Alexa, please my little princess. Don't leave me!" Tangis khawatir dan cemas orang tua pasien hipotermia.
"Bos, kok bengong. Ayo jalan!" Romano merangkul Edward.
Dilorong rumah sakit, arwah Joanna berjalan tanpa alas kaki. Dia melihat anak kecil yang dilihat oleh Edward. Kakinya kaku tidak dapat melangkah.
"Sister, help me." Alexa mengulurkan tangan.
"Apa aku sudah mati?" Berbicara dalam hati.
Sosok hitam besar berjubah. Dengan tatapan mata kosong dan wajah yang kusut melewati depan Joanna. Sosok itu mengikuti arah Alexa dibawa.
"Kau tunggu aku disini." Melewati Joanna sekejab.
"Apa itu tadi? sungguh mengerikan." Terdiam.
Joanna merasa penasaran dengan sosok itu. Dia berjalan mengikuti arah sosok itu pergi. Pelan berlahan mulai mendekat dan semakin dekat.
"Aku tahu kau sedang disitu." Ucap sosok berjubah itu.
"Keluarlah, Alexa aku memanggilmu." Ucapnya.
Arwah Alexa keluar. Alexa merasa binggung menatap sosok berjubah itu. Joanna masih terdiam disudut tempat tidur Alexa.
"Alexa, sudah waktunya kau meninggalkan dunia ini."
"Baiklah." Ucap Alexa berjalan didepan sosok berjubah itu."
"Tunggulah, aku disini Joanna. Kau belum waktunya meninggal."
"Iya." Mengangguk.
"Apa aku sudah mati?" Bertanya dalam hati.
Sosok itu menghilang dan meninggalkan Joanna yang menatap ke arah tubuh kaku Alexa. Semua orang masih bersedih. Dokter berusaha melakukan penyelamatan pada Alexa. Tapi hasilnya nihil. Alexa, dinyatakan meninggal pada dini hari ditanggal 15febuari 2027.
"Alexa." Teriak mama Alexa.
__ADS_1
"Don't leave me my child." Teriak ayahnya.