Waktu Dan Kamu

Waktu Dan Kamu
SE02-Terjebak


__ADS_3

Edward, menyeruput kopi berlahan. Arwah Joanna, keluar dari tempat Alexa dirawat. Ketika, berjalan dia melewati kantin dan melihat Edward sedang duduk bersama temannya dengan mata yang sembab.


"Hiks..hiks..sruput..srupp.." Tangis Edward.


"Bos, sudahlah ini semua bukan salah bos." Romano menenangkan.


"Harusnya aku yang ada dikursi pesakitan itu dan terbaring lemah menggantikan Joanna. Aku yang salah. Selama bertahun-tahun aku mengejar dia. Ketika, dia dulu belum menikah aku menelantarkannya. Menelantarkan perasaan tulus dia padaku. Kemudian, aku masuk lagi kekebahagiaan dia dan menghancurkan perasaannya." Menangis kencang.


"Sudahlah, bos nasi sudah jadi bubur." Menepuk pundak Edward.


Joanna yang menyaksikan penyesalan Edward merasa sakit hatinya. Dia masih berdiri tegap didekat ambang pintu kantin. Seseorang berjubah yang tadi mencabut nyawa Alexa datang.


"Ikut denganku."


"Baiklah." Mengikuti langkah seseorang berjubah itu.


Joanna dibawa ketempat dimana Freya berada. Hatinya semakin sakit melihat Freya yang tertidur lelap memeluk boneka yang dia dan Rengga belikan saat dulu masih bersama dalam satu atap rumah yang sama.


"Mama.." Memeluk boneka erat.


"Freya..Freya anakku..." Berusaha meraih dengan tangannya namun tembus pandang.


"Ikut denganku." Menutupi muka Joanna dengan jubahnya.

__ADS_1


Kali ini mereka berada di UGD. Ruangan senyap dan prnerangan yang redup. Hanya ada suara alat pembantu pernafasan yang berbunyi kencang. Rengga, masih terlelap dengan mata yang membengkak.


"Joanna..bangun." Ucapnya penuh kesedihan.


Edward, masuk kembali ke dalam UGD dengan membawa secangkir kopi untuk Rengga. Dia mengenggam pundak Rengga dengan tangannya yang kasar.


"Rengga." Meremas pundaknya.


"I..i..iya." Menengok.


"Basuhlah, mukamu dahulu! Kau terlihat sangat kucel dan kumel sekali. Minumlah ini, agar badanmu hangat." Menyodorkan kopi.


"Te..te..terimakasih." Menerima kopi dari Edward.


"Biarkan aku disini! pergilah makan biarkan aku yang menjaga Joanna."


Mata Joanna mengeluarkan air mata. Dia bersama sosok berjubah itu memandang tubuh kaku Joanna. Sosok berjubah itu membawa Joanna ke perbatasan antara kehidupan dan kematian.


"Dimana kita sekarang." Ucapnya dengan bibir bergetar.


"Ini adalah portal menuju kehidupan abadi. Joanna, sekarang aku akan bertanya padamu." Ucap sosok berjubah itu.


"Pertanyaan apa tuan?"

__ADS_1


"Sekarang, kamu harus memilih. Naik ke gerbang menuju kehidupan abadi bersama Alexa atau kembali ke dunia dengan segala persoaalan hidup yang sudah membuatmu terluka teramat dalam?"


"Hiks..hiks..hiks...Aku belum mau mati!" Jongkok dan menangis dalam.


"Bangunlah! Joanna, aku tahu apa pilihanmu. Kembalilah, ke dunia. Hiduplah, dengan apa yang menjadi pilihanmu. Berbahagialah, sampai waktu menyuruhmu kembali kesini. Kealam keabadian dan kekal. Jangan pernah menangis lagi. Hiduplah, dengan kebahagiaan. Kamu pantas bahagia." Sosok itu memalingkan badannya dan menutupi wajah Joanna dengan jubahnya.


Kali ini mereka sampai di UGD. Edward dan Rengga mulai tertidur lelap disamping kasur tempat Joanna berbaring. Sosok berjubah itu mulai membacakan mantra. Seketika itu, arwah Joanna kembali ke tubuhnya lagi. Joanna, kembali membuka matanya.


"Terimakasih." Ucap Joanna lirih menatap sosok berjubah yang lama-lama menghilang.


"Edward, Rengga bangun." Mengusap rambut Edward dan Rengga.


"Hah...hahhh..Jo..joanna." Ucap Rengga kaget.


"Sa..sa..sayang. Syukurlah, kamu selamat." Edward memeluk Joanna.


"Joanna, maafin aku ya." Rengga mendekat dan memeluk Joanna juga.


"Auch..sakit..pelan pelan donk peluknya." Ucap Joanna.


"Ma..ma..maaf kita cuma bahagia saja." Edward dan Rengga saling bertatapan.


"Makasih ya! kalian benar-benar sayang sama aku. Makasih, udah jagain aku disini." Senyum Joanna.

__ADS_1


"Bo..bo..bos. Ada ribut apa ini?" dengan bibir bergetar Romano dan anak buah Edward yang lain masuk bersama-sama.


"Nona Joanna." Teriak Leona anak buah Edward.


__ADS_2