
Vol.1
***
Hidup itu bukan hanya tentang bahagia saja.
Ada fase dan transisi yang disebut gairah, harapan dan ketidakadilan. Itu semua adalah titik balik dari kebahagiaan itu sendiri.
Kaki yang tak terlalu jenjang itu melangkah sangat lemah. Seolah gairah hidup saja ia tak punya. Bagaimana lelaki Indonesia bisa segera bertemu jodoh? Jika banyak bentukan wanita seperti ini, yang masih merajalela di muka bumi.
Si ketus, si cemberut, si penggerutu. Begitu lah sebutannya.
"Mbak ... itu jangan lupa dipanasin lagi makanannya,” perintah wanita berbaju lusuh dengan rambut hitam tergerai tak beraturan. Ia tampak gundah, entah dikarenakan apa, hanya Tuhan dan dia saja yang tahu.
“Iya, Bu .... Supnya sekalian juga ya, Bu?” tanya sang pekerja rumah tangga, sambil bersenandung ria mencuci piring di dapur.
“Iya, Mbak. Ingat ya, mulai sekarang kamu tuh jangan boros! Kalau nggak patuh, saya pecat kamu, mengerti?” perintah wanita itu membentak lemas. Tanpa alasan yang jelas.
“Iya, Bu,” sahut pengurus rumah tangganya lagi sambil sedikit memonyongkan mulut.
“Ingat, jangan mubadzir! Ingat! Semua bahan makanan tuh mahal,” ucapnya berteriak menutup omelan.
“Iiih … Ibu nih, nyebelin banget! Dikit-dikit marah! Dikit-dikit sewot huuft.”
“Apa kamu bilang?” Wanita itu menyidik. Seolah terdengar oleh telinganya.
“Nggak kok, Bu!” Pekerja rumah tangga itu pun kaget akan ketajaman telinga si Nyonya rumah dan ia segera melanjutkan pekerjaan dengan terburu-buru. Enggan rasanya mendengar ocehan tak jelas dari sang pemilik rumah.
Si pekerja rumah tangga hanya bisa maklum, karena akhir-akhir ini sang majikan sering sekali tampak stres. Sang pengurus rumah tangganya pun sering sekali dimarahi tanpa alasan yang jelas. Membuatnya sering merasa sakit hati sekaligus kasihan melihat si Nyonya rumah, yang selalu hadir dalam wujud penuh emosi.
***
Wanita berpakaian aut-autan itu, menapaki anak tangga satu persatu. Dengan langkah yang dicicilnya perlahan dan sedikit tertatih. Wajah datar, serta dingin yang ditampilkan, terlihat sedikit letih dan cukup menegangkan untuk dilihat.
Sementara itu, ponsel yang berada di tas terus berdering sedari tadi dan membuatnya sedikit terganggu. Dia pun berhenti sejenak, mengambil benda berbentuk kotak kecil dan hanya menatap dingin ponsel merek terkenal ber-ikon buah itu. Dia hanya menunggu panggilan berakhir dengan sendiri dan segera melepaskan baterai juga simcard.
"Pengganggu," gerutunya seolah sangat tak ingin diganggu.
Krriiing …. Kriing ….
Beberapa saat kemudian. Ketika badan tak berselera itu hampir mendekati kamar tidur, dihentikannya langkah enggan hidup, ketika mendengar deringan ramai dari telepon rumah di lantai bawah.
Pengurus rumah tangga lekas menuju ke arah suara, berlari kecil dan segera mengangkat telepon. Hal yang sangat menyeramkan jika Nyonya di lantai atas itu bersuara, dirinya takut bisa terkena omelan penuh, karena suara telepon yang pasti akan dianggapnya sangat mengganggu.
“Halo, Assalamualaikum, ini dengan kediaman Ibu Disa Setiawan! Ada yang bisa saya bantu?” ucap si pengurus rumah tangga serius.
__ADS_1
“Tolong bilang ke Disa kalau saya mau bertemu, ada hal penting yang harus saya bicarak—”
“Tutup!” teriak wanita itu dengan suara lantang.
Belum selesai si penelepon mengutarakan apa yang menjadi tujuannya, kini sudah dihentikan oleh teriakan yang terdengar semakin mendekat.
“Tapi, Bu.”
“Tutup teleponnya, Mbak! Tutup! Cepetan!” pintanya bergegas lari kembali ke lantai bawah.
Wanita itu, kontan saja melupakan rasa sakit yang menyerang kaki labunya, sepatu berwarna silver setinggi tujuh senti tanpa rasa bersalah telah membuat kakinya memar. Dasar sepatu tidak tahu diri!
“Iya,” ujar pekerja rumah tangganya menutup bagian bawah gagang telepon, dengan genggaman tangan yang sedikit berkeriput.
Tanpa kata, wanita itu dengan sigap merampas telepon dari tangan wanita yang tampak hampir berusia paruh baya. Lalu, membanting membanting benda abu-abu itu. Seolah ingin berteriak, lidahnya tertahan.
“Whooah! Sudah berapa kali sih, aku harus bilang ke kamu? Hah!” Dengan nada yang merendah, mencoba tak terlalu marah.
“Iya, Bu, maaf.” Suaranya terdengar takut.
“Aku ‘kan udah bilang, beberapa hari ini, tolong dong, tolong. Jangan angkat-angkat telepon dulu. Kok kamu masih nggak ngerti juga sih! Kok gitu aja harus dibilangin sampai berkali-kali, isssh,” tambahnya kesal memulai drama omelan sore hari.
“Maaf, Bu! Saya lupa,” jawabnya tertunduk gemetar.
"Iya."
"Kamu itu masih muda, Mbak, mana ada bisa lupa sih! Kamu itu belum 50 tahun juga, alasan saja! Ingat, jangan angkat telepon tanpa seizin aku,” ucapnya emosi.
Dia pun, menuju kamar dengan air muka yang tampak mengerikan, dia mencoba menarik napas panjang berulang kali. Menenangkan diri dari hari-hari yang mulai terasa kelam.
***
Pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
***
__ADS_1
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
***
Bersambung.
***
Hay hay hay 😁😁😁,
ini work baru gaeeess...
Wanita ini, sebelumnya pernah terbit di Bitread, tapi sudah tidak lagi karena aku tidak perpanjang kontrak 😂😂😂
Kini kamu bisa menikmatinya di Mangatoon secara gratis 😎
Berikan dukungan dan semangat untuk Wanita ya....
Ini juga sudah versi revisi📜, dan beberapa episode telah diedit menjadi lebih fresh dan berbeda dengan versi yang pernah terbit. Versi ini sepenuhnya baru, bahkan judul pun berbeda.
Yuuuk tinggalkan, komen positif dan like untuk novel ini ya...
Selamat membaca🙏📚***📚
__ADS_1