
Dua minggu berlalu, alunan musik terdengar indah di telinga. Rupa-rupanya, musik itu yang telah menemani hari membosankan dari perempuan ramah itu, selama berada di rumah sakit.
Musik terkenal dari sang mestro dunia Beethoven itulah selalu menemaninya.
Berkelas memang, tetapi sesungguhnya itu tak sesuai dengan keinginannya, sebab lagu itu hanyalah kesukaan suaminya saja. Maklum, perempuan yang berasal dari warga kurang mampu ini hanya bisa menikmati sesuatu hal tanpa bisa merasakan lebih dari itu.
Ingatan indah terus muncul dalam benaknya, ingatan sekitar setahun lalu saat sang suami masih dalam keadaan yang baik-baik saja.
***
Mereka berkumpul bersama layaknya keluarga yang bahagia. Dalam ingatannya, seorang balita sedang menangis digodai oleh kakak cantiknya yang berbeda 11 tahun dengannya.
Gambaran suasana cerah di teras samping rumah itu, membuat wanita tersebut menitikkan air mata, sebab hanya selang beberapa bulan kemudian sang suami mengalami kecelakaan.
Suara pria yang terbaring di tempat tidur terdengar lemah dan mengaburkan ingatannya.
“Iya, Ayah?” Wanita itu kaget dari lamunan dan segera merapihkan selimut yang menutupi tubuh pria itu.
“Mi-num dong!” pinta pria itu.
“Iya!” jawab perempuan bernama Fira itu bergegas. “Ini!” lanjutnya seraya memberikan gelas bening berisi air putih.
“Terima kasih ya, Fir ... mak-sudku, maka-sih ya Bunda!” ucap pria itu terbata.
“Iya Ayah. Bunda juga terima kasih ya!” ucapnya mencium tangan kanan pria itu.
“Selama ini ka-mu harus mengasuh anak-anak sendiri-an!” lemasnya membuka percakapan.
“Nggak kok. Sudah kewajiban. Bunda nggak sendirian, karena ada Allah yang selalu nemenin bunda dan jaga anak-anak.”
“Pasti Seri nakal ya!”
“Nggak sih! Justru Sefti sekarang yang bikin ribet!”
“Yaah ... Na-manya juga remaja, Bun!” ucap Pria itu tersenyum. “Benar-benar makasih ya bun-da!”
“Ayah harus berterima kasih kepada Allah,” sela wanita itu sambil menyelimuti sang suami dengan lembut.
“Iya! Terima kasih ya Allah ... Alhamdulillah,” Suara serak itu sedikit bergetar.
“Bunda juga sangat berterima kasih kepada Allah karena masih memberikan ayah kesempatan untuk kembali menjadi pemimpin dalam rumah tangga kita,” ujar wanita itu tersenyum ringan.
***
Fira sedang menerima telepon, saat si penelepon bertanya tentang kabar suaminya, dengan penuh kebahagiaan dia turut memberitahukan kabar bahwa suami tercinta telah bangun dari koma dan masih harus dirawat di rumah sakit.
Suami yang kini dirawat karena kecelekaan, memang telah bangun dari koma. Kira-kira 4 bulan yang lalu sampai sekarang dia siuman dan menikmati keanggunan istri tercinta.
__ADS_1
Maklum saja, orang berduit pasti bisa melakukan apa saja dengan uang, apalagi bila hanya menjadikan rumah sakit sebagai tempat tinggal sementara.
Dengan sigap, Fira, wanita keibuan nan rupawan itu pun dengan sangat menyesal meminta maaf kepada si penelepon karena baru memberitahukan kabar gembira itu sekarang. Karena dirinya terlalu sibuk merawat suami yang harus melakukan operasi beberapa kali.
Seminggu yang lalu juga dokter telah melakukan operasi untuk yang kesekian kalinya, kali itu untuk pengangkatan cairan di otak pria itu, karena komanya yang panjang selama hampir 10 Bulan pria itu belum bisa sembuh total. Meskipun kini dalam keadaan lumpuh pada kakinya, wanita itu berharap suaminya tetap bisa berjalan kembali dan hidup normal lagi.
Suaminya adalah seorang penyelamat yang tak bisa tergantikan di hati Fira, sehingga menjaga dan merawat bukan menjadi hal yang sulit baginya.
Fira mengakhiri sambungan telepon dan berbalik menuju ruangan sang suami di rawat. Dalam benaknya sebuah memori melintas sekejap.
***
“Kamu mau kan menikah denganku?” Seorang lelaki 30 tahunan dengan jas hitam berdasi kuning bertanya dengan hati-hati. Tepat di belakangnya terlihat sebuah mobil mewah terparkir manis.
“Tapi?” sela wanita muda dengan ragu.
“Jangan menolak aku lagi dong!” ucap lelaki itu meminta.
“Mas, aku--”
“Kamu nggak akan nolak saya lagi kan?” ucap lelaki itu waspada. Mendadak bersikap formal.
“Adikku, kini sudah bekerja, dan dia juga kuliah sambil kerja. Jadi--”
“Oh ya?” tanya lelaki itu mendadak merasa bingung. Wanita itu hanya mengangguk karena ucapannya disela. Seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya, ia hanya menunduk. “Oh ya sebentar lagi ulang tahun kamu yang ke 24, iya 'kan?”
“Hah? Iya ....”
“Aku mau kok menikah sama kamu, Mas!” Wanita itu dengan cepat mengucapkan kalimat pamungkas, hingga mengejutkan pria itu.
Sesaat kemudian suasana menjadi hening seketika.
“Apa kamu yakin? Nggak bakalan nyesel kan?” tanya lelaki itu tak percaya.
“Sudah cukup hampir 3 tahun ini kamu mengejar-ngejar dan aku juga sebenarnya sudah lelah menghindari, Mas," lanjutnya.
“Terima kasih ya!” ucap lelaki itu mengambil sebuah kalung.
Perlahan kalung dengan bandul mutiara itu bertahta di lehernya. Kini, memakaikannya pada wanita itu bukanlah hal yang sulit lagi.
“Tapi, saya ada satu pertanyaan dan satu permintaan! Boleh?”
“Ah, boleh! Apa itu?”
“Soal adik saya? Disa, bagaimana dengannya?”
“Tentu saja nanti dia akan tinggal bersama kita!” jawab lelaki itu meyakinkan.
__ADS_1
“Benarkah?" tanya wanita itu terkejut.
“Iya! Kok, kita jadi gugup gini sih, jadi formal banget?” Lelaki itu tertawa kecil dan membuat wanita itu pun tertawa.
“Maaf,” jawab wanita itu tersenyum sambil memegangi leher tempat kalungnya bertengger.
***
Setahun lebih telah berlalu.
Senyuman menghiasi semua orang, suara tangisan bayi kecil terdengar dari dalam ruangan. Rahmat biasa lelaki itu disapa, kini dirinya telah menjadi seorang ayah.
“Terima kasih ya, Fira!” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
“Iya Mas, makasih juga sudah mau menjagaku selama ini, maaf ngerepotin ya ...,” jawab wanita itu tersenyum.
“Mulai sekarang kamu tuh harus panggil aku ayah, karena kita sudah punya baby. Kan aku ayahnya Sefti,” pintanya dengan raut wajah yang cerah, membuat istrinya tertawa kecil. “Bagaimana bunda?”
"Bun? Bunda? Pfftt!" Fira hanya bisa tertawa lagi.
“Sefti Lestari ... ini ayah dan yang lagi memeluk kamu itu, Bunda! Jangan rewel ya, udah dong nangisnya," ujarnya mengajak ngobrol bayi merah berusia dua hari itu.
“Siapa? Sefti Lestari? Jadi namanya Sefti Lestari nih, Ayah?”
“Iya, bagaimana cantik, kan?” guraunya. Fira hanya tersenyum dan menciumi jemari kecil yang berada di dekapan sang ayah.
***
Terdengar jelas suara pintu yang membuka lalu menutup dengan cukup keras, tangisan nyaring seorang anak kecil membuyarkan kenangan manisnya.
“Kamu kenapa Seri, kok bisa ada di sini?” tanya Fira. “Kamu ke sini sama siapa, Nak?” lanjutnya mulai panik.
“Bibi Ela, dia yang anterin Seri ke sini, katanya dia mau pindah Bunda! Gimana ini ...,” jawabnya menangis keras.
“Pindah?”
“Iya!” Anak itu kini semakin terisak.
“Jangan nangis ya ...,” urus wanita itu menyeka air matanya.
“Tapi?”
“Aah, Ayah pengin ngomong sama kamu tuh! Ayo-ayo ke Ayah yuuk,” bujuknya meredakan tangisan anak 5 tahunan itu.
Fira bergegas menelepon pengurus rumah tangganya untuk menanyakan apa hal yang terjadi padanya.
Setelah perbincangan dengan pengurus rumah tangganya, kini Fira tahu apa yang terjadi dan mencoba membujuk Seri yang terlanjur dekat dengan bibi pengasuhnya itu.
__ADS_1
***
Bersambung