Wanita

Wanita
Episode 12: Maaf (1)


__ADS_3

Di depan rumah mewah dengan cat dinding berwarna keabu-abuan, akibat bayangan sore. Fira berdiri gusar di dekat pintu masuk, sesekali ditengoknya ponsel berlayar tipis itu. Sesekali pula diembuskannya napas kesal. Fira mondar-mandir di dalam rumah bersama Rahmat di kursi roda, yang juga sangat terlihat jelas garis kekhawatirannya.


“Ayah, gimana nih? Sejak semalam Sefti nggak pulang dan hari ini dia belum pulang juga. Bunda jadi khawatir nih ...,” ucapnya panik sambil memijiti sang suami. “Gimana kalau Ayah istirahat saja dulu, nanti bunda yang nungguin Sefti, sampai dia pulang!”


“Awas aja dia! Kalau Ayah sudah benar-benar sembuh, ayah mau kasih pelajaran ke Sefti!” ujarnya dengan suara lemah beraroma emosi.


“Ayah jangan marah-marah dong! Kata dokter ‘kan ayah nggak boleh stres, jadi rileks yah jangan terlalu emosi ya. Ayah mau, kalau nanti kelumpuhan ayah jadi permanen?” ucap Fira mencoba menakut-nakuti. “Gini, ayah istirahat dulu aja ya …. Ayo!” lanjutnya sambil memutar arah kursi roda.


***


Beberapa menit kemudian.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel, ia menghentikan sejenak kursi roda sang suami dan lekas berlari ke arah pintu berharap bahwa sang putri-lah yang datang.


Ketika membuka pintu, ibu itu hanya mendapati seorang pemuda berpakaian santai yang mengantarkan seorang anak remaja dengan balutan seragam sekolah dan blazer berwarna kuning tua yang berada dalam keadaan yang tak sadarkan diri.


“Astaga! Siapa kamu? Kok Sefti begini? Haah?” tanya ibunya panik.


“Ini tante—”


Belum selesai pemuda itu bercakap, ibunya lekas menarik anak yang dalam keadaan setengah sadar dan berkata pada pemuda yang mengantarnya, “Aduh, terima kasih ya nak ... sudah mengantarkan Sefti pulang ke rumah, tapi kok ini Sefti bau begini ya? Bukannya ini bau alkohol ya?”


“Iya ...! Sama-sama tante!” jawab anak itu. “Oh itu? Begini tante, sebetulnya saya juga nggak tahu kalau ternyata sekarang itu Sefti sudah sering mabuk-mabukan atau semacamnya, saya cuma di telepon sama teman-temannya aja tante untuk nganterin dia pulang,” jawab pemuda itu sambil menurunkan kepalanya, “Jadi, sebetulnya saya juga agak heran tante dan saya benar-benar nggak tahu apa-apa,” lanjut pemuda itu lagi.


“Oooh iya-iya! Oh ya, kamu kelas 10 juga kan? Sekelas sama Sefti?” tanya ibu itu lagi.


“Iya, tante!” jawabnya menggaruk kepala.


“Ya udah makasih ya ...," ucap ibunya singkat sambil bergerak memegang gagang pintu,


“Sebentar tante!” cegat pemuda itu dengan sigap.


“Ada apa?”


“Nggak kok tante! Maaf! Selamat malam tante. Assalamualaikum,” ucapnya berjalan mundur selangkah demi selangkah.


“Nama kamu siapa? Bisa Bantuin saya bawa Sefti ke kamarnya?”

__ADS_1


“Rian, tante!” jawabnya sigap, dan memutuskan segera membantu ibunya Sefti.


***


Keesokan paginya, saat sang fajar disambut mentari yang hangat, sebuah suara lembut disertai dengan ketukan terdengar dari balik pintu kamar, Sefti bahkan bergeming saat suara itu memanggil namanya.


Wanita yang dipanggilnya 'Bunda' itu membuka pintu kamar dengan perlahan, memasuki kamarnya dengan membawa nampan yang berisi nasi goreng spesial dan air putih yang dibuat sendiri olehnya. Lalu menaruhnya tepat di sebuah meja kecil di tengah kamar.


Ia membuka tirai jendela, nuansa pink yang kental sangat terlihat pada kamar remaja ini. Seperti berada di dunia gummy, dengan gambar tokoh disney yang turut menghiasi langit-langit dan sudut kamar, membuat kamar gadis SMA ini terlihat begitu manja.


Ketika dia tengah merapihkan kamar dan membuka tirai jendela, sebuah lenguhan ringan terdengar dari mulut Sefti.


“Kenapa?”


“Sakit kepala,” jawabnya manja.


“Cepat bangun! Bunda mau ngomong.”


“Tapi, Bun?” ujarnya menekuk tubuh mungil yang dibalut baju tidur bergambar bebek bertopi, seraya menarik selimutnya.


Lagi lagi Sefti bungkam, ibunya pun memutuskan lekas pergi dari kamarnya sambil berkata, “Mabuk-mabuk lagi? Bikin dosa aja!”


Mendengar ucapan ibunya, Sefti hanya diam tanpa kata.


“Mulai besok, uang jajan kamu akan bunda potong dan kamu nggak boleh pakai supir ke sekolah! Mengerti kamu!” ucap ibunya di depan pintu kamarnya, “Jalan kaki, jalan kaki deh!” omel ibunya dari balik pintu kamar.


***


Beberapa malam setelah kejadian menghentikan akses-akses pribadinya.


Keluarga ini sedang berkumpul bersama menikmati hidangan malam buatan ibunda di ruang makan. Sefti anak gaul dengan gaya ala princess-nya ini, yang sejujurnya sangat takut kepada orang tuanya, namun begitu ingin mencoba dan mencicipi bagaimana rasanya menjalani hidup dalam sebuah dunia tanpa aturan, terlihat manyun.


Membuat orang-orang yang berada semeja dengannya mendadak kehilangan nafsu makan pada makanan enak buatan sang ibu.


“Kamu kenapa? Kok diam?” tanya ibu dengan nada datar, lagi-lagi masih tak ada jawaban darinya. Suara sang ayah terdengar lemah memanggilnya.


“Sefti."

__ADS_1


“Hah? Apa?” jawabnya kaget terlihat bingung.


“Kamu ini!” marah sang bunda sambil melempari serbet yang berada atas meja ke arah Sefti. Sefti yang terkejut lekas berlari ke kamar dan tak melanjutkan makan malamnya lagi.


“Kamu ini kenapa sih bun? Kok marah-marah terus? Kamu nggak boleh begitu, semuanya tolong ditanyain secara baik-baik.” Ayahnya resah.


“Nggak kok ayah! Nggak apa-apa! Tapi, ayah juga sih pake manjain dia segala!” jawab ibunya sambil melanjutkan makan dan menyuapi putri kecil yang satunya lagi.


“Kok jadi ayah yang kena marah! Kalian berdua lagi PMS ya?”


“Jangan manjain dia!” tegas ibunya.


“Kamu sendiri kan yang bilang, supaya ayah nggak perlu banyak pikiran. Jujur, ayah juga sangat kesal dengan kelakuan dan tingkahnya, lagian ayah nggak manjain dia, tapi ayah cuma—”


“Tapi, bukannya ayah akan mengiyakan apapun yang dia lakukan! Termasuk, kenakalan dia. Biar Bunda yang ajar dia,” potong ibunya.


“Jadi kamu mau koar-koar di depan dia? Begitu? Nah kamu lihat kan Sefti malah jadi ngambek gitu, ada masalah apa sih sebenarnya di antara kalian berdua ini yang ayah nggak tahu, selain masalah mabuk waktu itu?”


“Nggak ada! Udah nggak usah manjain dia.”


“Kalau begini kan ayah jadi tambah bingung? Kemarin juga ayah kan udah negur Sefti tapi lagi-lagi bunda sendiri yang larang ayah, katanya kan nanti sakit ayah tambah parah laah. Nah, kok sekarang malah bunda yang marah-marah nggak jelas?” ungkap ayah Sefti sedikit sebal dengan tingkah wanita-wanita tercintanya ini yang bagaikan cicak dan nyamuk.


“Ya udah, bunda cuma emosi sama sikap Sefti akhir-akhir ini."


“Dia pasti kapok kok, udah lebih dari 5 hari naik bus, uang jajan pas-pasan. Jadi, kita jangan terlalu keras sama dia!” ujar ayah Sefti menasihati sang ibu.


“Iya ... maaf!”


“Jangan marah-marah di depan Seri, dong. Ayah mohon!” lanjut ayahnya dengan nada meredakan.


“Iya!”


“Hah! Parah nih, Seri perempuan juga. Ayah, biisa mati stroke diserbu perempuan-perempuan cantik nih,” canda ayahnya, mencoba untuk menghilangkan kekesalan ibunya. Sekaligus juga menyamarkan konflik yang sedang terjadi ini dari depan si bungsu.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2