Wanita

Wanita
Episode 19: Guru Pengganti


__ADS_3

Di tempat lain. Tak cukup sepi untuk bersembunyi dan tak cukup ramai untuk berbaur. Tepatnya, di kantin rumah sakit, tampak Aris dan Reski tengah berbincang-bincang mengingat hal yang ingin dilupakan keduanya.


“Jadi, kamu dah balikan sama Riana nih?” tanya Reski menghentikan ingatan keduanya tentang masa-masa bahagia selama kuliah dulu.


“Iya, sejujurnya kemarin itu aku dan Riana sudah mau balik ke Jepang. Tapi, tiba-tiba Karina telepon dan bilang kalau dia sudah menemukan Maya,” jelas Aris.


“Bagus deh! Kamu ya yang inisiatif cari Maya?"


"Bukan aku. Tapi, Riana. Oh ya, selamat ya atas rencana pernikahan kamu dan Disa!” ucap Aris hangat.


“Itu kan baru rencana!” jawab Reski tersenyum.


“Kalau aja kamu telat sedikit, aku pasti balikan sama Disa!” canda Aris serius.


“Disa sangat membenci kamu! Tapi, hanya karena Ariana, dia mencoba untuk membuang egonya dan mencoba untuk mempersatukan kalian berdua lagi!” ungkap Reski.


“Oh ya, kenapa ya? Kita bisa menyukai orang yang sama?” tanya Aris.


“Aku itu bukan kamu, dulu kamu memang suka Disa, tapi hati kamu cuma punya Riana kan?” tepis Reski.


“Mungkin! Sejak kapan kamu suka Disa?" tanya Aris penasaran, Reski diam sejenak. Mengingat. “SMP? Atau SMA?” lanjutnya lagi.


“Nggak tahu,” jawabnya tersenyum.


“Terus, kapan dong?”


“Saat pertama kali aku menyadari, jika Disa sedang tidak ada di sisiku, saat itulah aku sadar bahwa ternyata Disa adalah sesuatu yang berharga bagiku!” jawab Reski sambil meminum segelas teh yang ada di depannya,


“Ooh … sebuah perasaan yang sama saat aku tidak bersama Ariana!” jawab Aris.


Keduanya hanya tertawa mengingat perasaan yang masih sangat muda itu. Disa dan Ariana adalah dua gadis yang mampu menggetarkan hati seorang Aris. Tapi, tanpa Reski sadari dirinya mampu menggetarkan hati dua perempuan sekaligus.


***


“Loh, Kak Fira kapan datangnya?” tanya Ariana yang tengah berada di ruangan,


“Ooh ... Baru aja. Gini nih, Disa tuh lagi ke Kalimantan, katanya dia mau menemui kepala sekolah tempat Maya mengajar.”


“Apa? Kok bisa?” tanya Ariana terkejut.


“Ssst? Diam! Kasihan kan Maya, dia lagi tidur entar bangun lagi!” ucapnya sembari merapikan selimut yang menyelimuti Maya. “Kasihan kamu? Saya sudah dengar semuanya dari Disa!” lanjutnya.


“Kak Fira?” langgil Ariana.


“Hmm?” jawab Fira sambil mengupas jeruk yang dibawanya.


“Ngapain Disa ke sana?”


“Nggak tahu! Mungkin soal Maya yang belum bisa mengajar atau apalah itu,” jawab Fira mengingat.


“Kapan dia pergi?” tanya Ariana dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Tadi pagi! Kenapa?”


“Kak tolong temenin Maya dulu ya,” ujarnya berlari keluar.


“Tapi?”


“Bentar aja kak! Sebentar,” pintanya sedikit berteriak sambil menutup pintu perlahan.


Ariana pergi ke restoran tempat Reski bekerja dan menemuinya di tempat itu.


Reski yang sedang bekerja cukup terkejut dengan maksud dan tujuan Ariana. Semua terasa kacau saat Ariana mengatakan apa yang sedang terjadi.


“Disa betul-betul pergi ke Kalimantan!” ungkap Ariana panik.


‘”Hah!” Reski terkejut.


“Iya!”


“Kamu yakin? Buat apa?”


“Aku takut nanti Disa melakukan hal yang tidak-tidak di sana. Kamu tahu kan dia orang yang seperti apa?”


“Kamu udah telepon Dia?” tanya Reski yang tidak tahu apa yang tengah terjadi pada calon istrinya


“Udah! Hp-nya udah nggak aktif!”


“Disa! Keterlaluan!” Reski sedikit marah karena Disa pergi tanpa pemberitahuan. Padahal, pernikahan sudah di depan mata


***


Pagi harinya ia tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Disa menempuh perjalanan jauh demi Maya. Namun, tentu saja pihak sekolah tidak akan mengizinkan.niatannya semudah itu.


“Ibu kepsek tega melihat seorang anak yatim piatu yang juga seorang janda, lagi sakit parah dan hidup sebatang kara dan membutuhkan uang untuk hidupnya. Tapi, nggak bisa bekerja karena sedang ada di rumah sakit. Ibu setega itu?” Disa terus mencoba untuk meyakinkan.


“Maaf, Bu! Saya tidak bisa!”


“Ibu nggak perlu bayar saya kok, asalkan Ibu Maya tetap bisa menerima dan menikmati gajinya!” tawar Disa.


“Maaf. Ini sekolah, bukan taman bermain,” jawab kepala sekolah dan berjalan ringan meninggalkan Disa.


“Bu?” Panggil Disa meminta.


“Iya?”


“Apa Ibu tahu sekarang dia ada di mana? Ibu tahu, Maya ada di mana?” tanya Disa kesal.


“Ya?”


“Ibu tahunya dia di rumah sakit di kota ini kan?” ucap Disa dengan wajah mendadak murung.


“Iya.!

__ADS_1


“Seminggu yang lalu dia sudah dipindahkan ke Jakarta, karena sakitnya parah!”


“Apa?” tanya kepala sekolah sedikit terkejut hingga terduduk di salah satu kursi. “Kalian sudah tahu?” lanjut kepala sekolah sambil menatap guru-guru yang ada di tempat itu.


“Iya Bu, kita juga baru tahu empat hari yang lalu sewaktu mau menjenguk bu Maya di rumah sakit!” jawab salah seorang guru wanita di tempat itu.


“Kenapa tidak ada yang memberitahu saya.” Suara kepala sekolah melemah.


“Maaf, Bu!” Jawab guru lainnya.


“Ibu Disa pulang saja ke hotel dulu, nanti saya pikirkan boleh atau tidaknya keinginan ibu Disa untuk mengajar menggantikan bu Maya,” jelas ibu Kepsek.


“Terima kasih, Bu. Sebagai pertimbangan ibu nantinya, saya ingin memberitahukan bahwa ini hanya akan berlaku sampai ibu Maya sembuh saja. Bagaimana?” tawar Disa.


“Iya, Bu! Saya pertimbangkan dulu,” jawab Kepsek meninggalkan ruangan itu dan lekas memasuki ruangannya.


***


Hari ketiga di Kalimantan berbuah manis. Disa akhirnya diterima sebagai guru pengganti, hari ini juga pertama kalinya Disa berhadapan dengan mimpinya saat SD dulu. Mungkin dia akan gugup atau mungkin takut, entahlah mungkin waktu yang akan menjawab.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Disa terputus-putus, entah karena gugup atau karena sudah tidak terbiasa mengucap salam.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab siswa sekelas dengan kompak.


“Saya Disa Setiawan! Saya pengganti Ibu Maya Larasati yang sedang sakit.” Disa memperkenalkan diri. “Saya akan mengajar Matematika, jadi saya harap adik-adik bisa menyukai saya?” harapnya cemas.


“Suka?” tanya beberapa siswa.


“Maaf, maksud saya ...,”


“Maksud Ibu Disa adalah kalian bisa menerimanya sebagai pengganti guru Matematika kalian, mengerti?” sela pak wali kelas menerangkan disambut dengan ucapan ‘YA’ yang kompak dari mulut siswa.


“Baik, Bu. Saya tinggal dulu, selamat mengajar!” lanjut pak guru pamit pergi.


“Terima kasih, Pak.” Disa berkeringat dingin.


“Iya, Bu!”


Dengan rambut terikat satu, Disa mencoba berkomunikasi dengan para murid sebelum dia mulai mengajar.


“Ok, kalian anak-anak kelas dua, jadi untuk pelajarannya sudah sampai mana?” jawabnya gugup.


“Bu, kita kelas tiga,” ucap salah seorang murid perempuan.


“Apa?” ucap Disa kaget sambil melihat kembali buku yang ada di mejanya. “Oh kelas tiga ya? Kelas ujian!” lanjutnya salting. “Maaf!” ucapnya tertawa.


Tak terbayangkan olehnya. Pebisnis muda ini, wanita karir yang sehari-hari bergelut dengan perhitungan kalkulus dan saham. Kini, akan menjadi sosok berharga. Ibu Guru.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2