
Suara deringan telepon menggema dalam ruangan bernuansa putih, terdengar tak asing di telinga hingga membangunkan Maya dari tidur siangnya.
Dia melihat tangan putih dengan cincin berlian di jari manis, tengah menggapai ponsel lipat yang terus berdering berulang kali.
Ponsel itu mendarat di telinga kirinya, Ariana berdiri menuju jendela. Melipat tangan di dada dan tampak enggan bicara di telepon. Kelihatan tidak nyaman juga menerima telepon itu.
“Dari Disa ya?” tanya Maya, saat Ariana mengakhiri percakapan kaku dan menutup panggilan teleponnya.
“Iya!” Ariana menarik napas dan tersenyum palsu. Digigitnya bagian dalam bawah bibir agar tampak tersenyum.
“Apa katanya?” Maya penasaran. Disa pergi tanpa kabar, membuatnya kesal sekaligus ingin tahu apa yang direncakan karibnya itu.
“Kamu nggak perlu khawatirin dia kok, dia berhasil meyakinkan ibu kepala sekolah untuk menjadi guru pengganti kamu. Sementara, sampai kamu kembali pulih.”
“Jadi, itu tujuan Disa datang ke Kalimantan? Buat bantuin aku?” tanya Maya.
“Iya.”
“Disa tuh bodoh atau kelewat pengangguran sih? Bagaimana dengan Reski, coba? Nggak mikir dia," ungkap Maya terdengar kesal.
“Kamu jangan emosi. Ini aku kabarkan ke Reski, dulu ya! Soalnya, kata Disa dia agak kurang nyaman ngomong sama Reski,” ucapnya menelepon Reski.
"Seenggaknya, Disa sadar kalau dia salah," gerutu Maya membuat Ariana menahan tawa.
Arian menarik napas panjang, dan segera menghubungi Reski.
"Kenapa aku harus menjembatani mereka berdua sih?" batinnya merajuk.
***
Beberapa hari telah berlalu, Disa bahkan belum menelepon Reski sekalipun. Tak terbayangkan oleh siapapun bahwa wanita itu sudah memiliki rencana yang out of the box. Rencana yang akan membuat hubungannya dab Reski bisa saja merenggang.
Reski memandangi foto Disa di wallpaper ponselnya. Mereka bahkan belum sempat berfoto bersama untuk menandai bahwa keduanya telah resmi mengikat cinta.
Permintaan Disa untuk menikah pada malam itu, memang membuat mereka memutuskan untuk pacaran secara mendadak. Lebih tepatnya bertunangan. Disa yang melamar, Disa pula yang pergi tanpa kabar.
Menyesakkan, bukan?
Ingin rasanya dirinyaa menyusul sang calon istri yang pergi tanpa pamitan itu. Namun, Reski menyadari sesuatu, secara tak langsung dia telah diberi tanggung jawab oleh Disa agar menjaga dan menjalankan restorannya.
Satu dari sekian banyak alasan yang membuat Reski enggan menggugat keputusan Disa, bahkan walau hanya sekadar memertanyakan tujuan wanita itu.
__ADS_1
Setelah menghubungi Ariana, Disa hanya mengirimkan beberapa pesan singkat kepada Reski, beberapa hari setelah dia berada di Kalimantan.
Pesan itu berisi:
~“Assalamualaikum Res, hari ini aku senang banget. Aku bisa mengajari seorang anak laki-laki yang punya sedikit keterbatasan hah … Senang rasanya! Oh ya apa kabar?”~
~“Waalaikumsalam Dis, kabarku nggak baik semenjak kamu pergi. Bisa kasih tahu, apa alasan kamu pergi meninggalkanku?” balasnya tanpa ragu. ~
~“Intinya aku ingin menebus kesalahanku pada Maya dan aku ingin mengasingkan diri dulu, untuk menyadari sesuatu yang selama ini telah aku lakukan. Kamu tahu kan, aku hanya ingin merenunh dulu,” balas Disa. ~
~“Kalau begitu, apa kamu akan pulang sebelum operasi Maya dilakukan? Aku nggak mau kamu lama-lama di sana.”~
~“Mungkin aku nggak akan sanggup melihat Maya terbaring di meja operasi, Res. Untuk itu aku mungkin akan ada di sini dulu ya … Jangan tunggu aku! Titip Maya, ya....”~
~“Apa maksudmu?”~
~“Karena semua tentang kita belum terencana dengan baik dan terkesan buru-buru. Aku maunya kita begini saja dulu, mungkin sekarang kamu itu belum jadi jodoh aku. Maaf!”~
Tak ada balasan pesan dari Reski. Pasti hal itu membuat Disa merasa bersalah. Tapi, harus dilakukan, sebelum percakapan berakhir bencana. Reski memilih mengalah, mungkin dengan memberikan ruang dan waktu untuk dirinya sendiri, bisa membuat Disa merasa lebih baik.
Tanpa Disa tahu, betapa berat menahan kerinduan. Disa tak tahu bagaimana perasaan pohon membiarkan bunga calon buah berguguran di tanah.
Pedih.
***
Menyenangkan. Itu kata yang selalu diucapkannya, saat teleponan dengan Maya.
Hari ini, hari penting. Pagi ini, operasi Maya pun akan segera dilaksanakan.
Beberapa menit lagi.
Operasi ini membuat para sahabat yang telah dianggap sebagai keluarga itu terlihat cemas. Tetapi, ada satu hal yang janggal, yaitu tidak ada tanda-tanda akan adanya kedatangan Disa. Membuat Reski kesal dan merasa tak diinginkan. Ariana hanya bisa menenangkan Reski.
Semuanya sudah berkumpul di tempat ini. Bahkan Kevin, salah satu member BFF, yang baru tiba dari kanada seminggu yang lalu pun, hadir untuk menyaksikan serta mendoakan operasi pengangkatan tumor di kepala Maya agar berjalan dengan lancar dan sukses.
Fira pun hadir, menggantikan posisi sang adik. Dan merasa bersalah, karena sekali lagi Disa bersikap menghindari takdir.
Bosan menunggu, Disa tak kunjung datang. Operasi selesai, dalam tangis haru saat Maya divonis akan kehilangan memorinya.
***
__ADS_1
Sebulan kemudian.
Waktu itu, tiga hari setelah operasi Maya, Disa sempat menelepon Ariana untuk menanyakan bagaimana kabar Maya pada saat itu. Mengetahui kabar Maya yang sudah mulai membaik, Disa pun merasa lebih baik. Tapi, hatinya tak tenang. Diaa merasa dirinya lagi-lagi telah meninggalkan Maya.
Sebulan telah berlalu, ia memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta agar dapat menengok sahabatnya itu. Sedikit cemas, karena Maya pasti akan sangat geram melihatnya.
Disa meminta saran dari guru-guru di sekolah, berharap mendapat bantuan cara meluluhkan sahabat yang marah.
***
“Mulai besok, Ibu akan izin selama beberapa hari, saya akan pergi menengok dan melihat keadaan Bu Maya saat ini. Ibu minta doa dari kalian semua ya … Semoga ibu Maya segera sembuh dan bisa mengajar kalian lagi,” ungkap Disa kepada seluruh murid.
“Iya, Bu!” ucap seluruh murid kompak. Mereka tampak berbisik senang.
“Ya udah, silahkan buka halaman 164. Oh ya, saya nggak kasih kalian tugas kan?” ujarnya berdiri menghampiri papan tulis.
Hening. Tak ada jawaban. Disa menoleh, semua murid menundukkan kepala. Sibuk membuka halaman buku berwarna hijau muda itu.
“Bu?” panggil seorang siswa perempuan dengan sopan.
“Iya, Tia?” jawabnya berbalik lagi.
“Apa Ibu masih akan kembali ke sini? Ibu tetap jadi guru kita?” lanjutnya. Wajah polos itu membuat Disa bingung.
“Hmmm... Mungkin!” jawabnya tersenyum.
“Ibu dan bu Maya harus kembali ya?” pinta siswi bernama Tia.
“Kalau ibu Maya sudah sembuh, mungkin saya tidak akan mengajar kalian lagi loh. Saya mungkin harus kembali ke Jakarta,” jawab Maya menatap pintu kelas dengan tatapan penuh rindu.
“Tapi, Bu …,” kompak seluruh siswa.
“Saya 'kan bukan guru yang sebenarnya!” jawabnya tersenyum dan berbalik ke papan tulis.
Desiran hangat mendadak merambat ke leher. Perasaan aneh apa ini?
"Bagi kami semua, Ibu Disa adalah seorang Ibu Guru." Para murid berdiri dan menghampirinya. Siswi lainnya memeluk Disa. Sebulan lebih, adalah waktu yang singkat untuk dekat dengan anak SMP.
***
Bersambung
__ADS_1
***