
Fira penarasan setelah melihat reaksi puterinya itu.
“Sefti!” teriaknya sambil mengejar anaknya, “Itu kalung siapa?” tanya Fira sambil menarik tangan puterinya.
“Ini, kalung teman, Bun,” jawabnya santai sembari memakai kalung itu.
“Yakin?” sidik Fira tak percaya.
“Iya,” jawabnya yakin.
“Kok bisa ada di kamu?” telisik Fira lebih dalam.
“Ini?” jawabnya melemah.
“Apa?”
“Itu ...,” jawabnya gagap.
“Apaan?” tegas Fira.
“Anu?” Pikirnya mencari alasan. "Bunda kenapa sih? Urus aja, urusan sendiri deh!!!"
“Sefti!” Panggil Fira dengan nada tinggi. Darahnya mendadak mendidih. Gadis kecil dengan senyum bak bidadari, kini berani berteriak dan memarahinya.
Fira pun kalap. Keduanya beradu argumen. Mendengar serangan yang bertubi-tubi, ditambah suasana yang masih penuh kekesalan.
Sefti pun hanya bisa terdiam menahan kesal akan sikap sang ibu yang menurutnya terlalu ingin tahu tentang apapun yang dilakukannya. Menurutnya, hal itu sedikit menganggu. Sedikit dan terus menerus didesak, akhirnya anak itu memberitahukan bahwa kalung tersebut adalah pemberian teman laki-lakinya sebagai hadiah.
Ya, putri tertuanya mulai mengenal cinta. Fira tertalu sulit untuk menerima hal ini.
***
Sedikit marah dan kecewa, Fira memberitahukan pasal kalung tersebut kepada suaminya. Yang tentu saja membuat suaminya pun cukup kecewa, karena dirinya tidak mengharapkan di usia semuda itu, anaknya yang seharusnya fokus belajar malah sudah mulai menjalin cinta.
Rahmat tidak melarang anaknya untuk jatuh cinta, hanya saja dia tidak setuju dengan yang namanya pacaran, sebab tidak sesuai dengan syariat islam dan yang pasti akan mengganggu keseriusan sang putri dalam proses belajar.
Sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi Fira dan Rahmat untuk menjalankan biduk rumah tangga. Di saat kapal ini memiliki awak yang mungkin akan membahayakan jalur pelayaran rumah tangga mereka.
***
Di sebuah tempat yang cukup ramai, anak perempuan berseragam SMA sedang menelepon dengan asyiknya. Dia duduk sendirian di parkiran sebuah kampus swasta dengan pakaian yang agak buruk. Salah tempat, jelas. Apa yang dilakukan anak Sma di tempat seperti ini?
“Oke deh Sef, kalau emang nggak bisa datang, nggak apa apa kok! Ntar gue aja yang ke sana, bye!” ucapnya menutup telepon. Gadis dengan kemeja tak rapih itu melemparkan pandangan sembarangan.
“Hey kamu!” teriak seseorang.
__ADS_1
“Saya?” tanya anak gadis itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya! Ngapaian kamu merokok di ferii semooking areya?” tegur orang yang ternyata adalah satpam parkiran dengan pengucapannya yang kurang jelas.
“Hah, gini Om, di sekolah saya tuh nggak boleh ngerokok, Om! Dilarang!” ungkapnya dengan nada berbisik sambil melanjutkan merokok.
“Om! Om? Kapan Ibu kamu nikah sama adik saya!” ucap satpam ikesal, ia segera menghampiri anak itu dengan menahan kesal.
“Sorry deh!” jawab anak itu sambil melanjutkan apa yang tengah dia kerjakan sedari tadi.
“Heh heh sana! Jauh-jauh dari sini! Bandel banget sih!” perintah si satpam dengan nyolotnya.
“Iih ... ni ... nih!” gerutunya sambil mengeluarkan sebungkus rokok beserta koreknya.
"Apa ini?"
"Gak suka ya?"
“Nyogok nih? Maaf ya, saya nggak ngerokok!” tolak si satpam.
“Oh … yaudah, ni duit buat Om, tapi minggir sana!” ujarnya sambil mengeluarkan beberapa pecahan 20 ribuan.
“Waaduh! Calon koruptor nih anak, perlu diberantas nih!” ungkap satpam tegas tanpa gentar. Namun, anak itu hanya tertawa geli sambil melanjutkan aktivitas merokoknya.
Seorang wanita berhijab yang ternyata mahasiswa di situ, tanpa sengaja melihat mereka yang tengah beradu cakap. Dia menghampiri petarung beda usia itu dan mencoba menasihati anak gadis itu dengan hati-hati.
“Perempuan itu adalah cermin sebuah negara, seandainya pun negaranya rusak. Tapi, dengan sikap dan perilaku perempuannya, itu bisa mengubah asumsi yang beredar. Kamu mengerti maksud saya kan, Dek!” jelasnya tersenyum.
“Bodo! Emang gue pikirin?” jawab anak itu pergi menaiki motornya dan berlalu dari pandangan si satpam juga mahasiswa.
Mahasiswa itu hanya tersenyum sambil berkata, “Udah Pak masuk saja, jagain lagi parkirannya.”
“Siip neng!” Jawab si satpam dengan siapnya.
“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak!” ucapnya menundukkan kepala sesaat, menghormati pria kurus di hadapan.
“Iya, hati-hati ya … Neng.”
Setelah itu, mahasiswa berhijab pun pergi menunggu di halte bus. Hari itu terasa sangat panas, dengan debu yang beterbangan membuat napas terasa sesak dan abang tukang Es serut yang lalu lalang di depannya semakin menambah cobaan dan ujian bagi wanita yang sedang berpuasa itu.
Sambil menunggu kedatangan bus dia melirik ponsel, terlihat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 13:21 siang. Orang-orang pun masih terlihat sangat sibuk.
“Semoga nggak telat,” pikirnya sejenak. Tak lama berselang bus yang dinantikan datang juga.
Saat berada dalam bus, dia duduk di dekat jendela. Tepat di samping seorang wanita. Tak sengaja menengok wanita berpenampilan sedikit menyedihkan, alisnya berkerut melihat sosok di sebelahnya. Dengan kedua sepatu heels di tangannya, rambut sebahu berwarna hitam tak diikat, baju yang setengah ada di balik rok dan setengah lagi ada di luar, membuatnya ingin mencoba menyapa.
__ADS_1
“Assalamualaikum!” Dia memberanikan diri menyapa. Dua kali, tiga kali, bahkan hingga empat kali pun, wanita itu tak menjawab salamnya.
Dia berpikir, mungkin saja wanita di sebelahnya ini adalah seorang non muslim, sehingga mengabaikan ucapan salamnya. hingga akhirnya dirinya melihat sebuah gantungan kunci yang berlafadzkan Allah terselip di tas bermerek milik wanita tersebut.
“Salam itu wajib bagi kaum muslim, begitu pun menjawabnya,” ujarnya lagi sambil tersenyum ragu. Namun, wanita tadi hanya menengok ke arah yang berbeda.
"Assalamualaikum." Mahasiswa itu mencoba menyapanya lagi. Hingga akhirnya telapak tangannya yang berwarna kuning memengang tangan putih wanita itu.
“Mbak?” panggil mahasiswa itu.
“Eh? Siapa kamu?” tanya wanita itu kaget dan risih dengan sentuhannya.
"Maaf, mbaknya melamun tadi."
"Saya? Kamu siapa?"
“Kenalkan, saya Sabrina, mbak,” jawab wanita berhijab itu dengan senyuman manis.
“Mbak?” tanya wanita itu sinis. “Apa saya sudah cocok jadi mbak-mbak? Udah kelihatan mbak-mbak gitu ya?” lanjutnya sinis, wanita berhijab itu hanya tersenyum sembari mengulangi ucapannya.
“Ya?” tanya wanita berhijab.
“Jangan sok kenal deh!”
“Memangnya nama Ibu siapa?” tanyanya menjadi penasaran.
“Ibu?” tanya wanita itu mengernyitkan dahi.
“Iya,” jawabnya tersenyum merasa tak enak hati karena terkesan selalu salah.
“Disa, Disa Setiawan!” jawabnya berdengus.
“Apa ada masalah? Mungkin saya bisa memberi solusi?” tawarnya. Ya, Sabrina adalah anak yang suka mengurusi masalah orang lain. Dia adalah karakter kuat yang suka membantu siapa saja yang dirasa membutuhkan bantuannya.
“Hii, bukan urusan kamu!” tegas wanita di sisinya tanpa menatap Sabrina.
“Hmm ... Baiklah! Mungkin ibu bisa berbagi masalah dengan keluarga atau mungkin lebih enaknya lagi berbagi dengan Allah saja!” jawab Sabrina dengan santai.
“Apa?” tanyanya disambut senyuman hangat mahasiswa itu, wanita itu hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataan Sabrina.
Sabrina pun tiba di tempat tujuan, turun dari bus dan melirik wanita bertangan heels yang terlihat sangat menyedihkan. Wanita itu berdiri diam, tampak bermandikan tatapan kosong.
***
Bersambung
__ADS_1