
Pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
***
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
__ADS_1
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
***
“Begini saja, bagaimana kalau aku terima saja lamarannya mas Rahmat?" ucap si kakak seraya berdiri dan menggandeng lengan kurus Disa.
“Biar kita punya tempat tinggal nantinya!”
“Aku nggak mau ah … Tindakan kita nanti terkesan morotin!”
“Iya juga sih, tapi, ‘kan?” Wanita itu meragu.
“Tenang aja, Kak! Nanti kalau aku sudah sukses, aku nggak akan pernah membiarkan orang-orang itu menghina kita lagi! Kakak nggak akan pernah sendirian kok, akan ada aku di sini!” lanjutnya meyakinkan penuh semangat membara.
“Iya! Tapi,” gumam wanita itu sambil mengeluarkan sebuah cincin.
“Apa itu?”
“Ini—”
Belum selesai wanita itu berucap Disa dengan cepat menyela, “Itu cincin pemberian Mas Rahmat ya, Kak?” sela Disa sedikit sinis, dan tak ada jawaban dari sang kakak. “Kak,” lanjutnya memaksa.
“Iya,” jawabnya ragu-ragu.
“Kenapa dia ngasih cincin?” sidiknya.
“Sebenarnya, Mas Rahmat udah ngelamar, tapi aku belum kasih jawaban.”
“Udah berapa kali sih tuh orang dibilangin! Jangan gangguin Kakakku!” celetuk Disa tampak tak suka. Kakaknya tersenyum kaku melihat tingkah Disa muda.
__ADS_1
“Dis?” panggil wanita itu.
“Kakak kok gitu sih!!!” ucap remaja itu merasa kesal. “Selalu membela Mas Rahmat,” lanjutnya seolah mengerti arti dan tujuan panggilan itu.
“Bukannya begitu,” bela wanita itu.
“Ya sudah, kalau memang kakak suka sama Mas Rahmat, Dis nggak bisa apa-apa kok! Semoga aja jodoh,” lanjutnya penuh dengan kepolosan yang membuat sang kakak hanya bisa tersenyum di saat-saat menyedihkan seperti ini.
“Maafkan, Kakakmu ini ya. Aku harap itu akan menjadi pilihan yang terbaik bagi kita saat ini!” ujarnya memeluk Disa penuh kehangatan.
“Yang penting niatnya bukan buat morotin 'kan!” tandasnya menekankan. Sang kakak mengangguk setuju. “Terus kita bakalan tinggal di mana sekarang?” lanjutnya ingin tahu.
“Tenang aja, Dis, kita masih punya sedikit uang simpanan kok! Bu Intannya aja yang nyebelin,” jawabnya menarik Disa, diperlihatkannya uang yang cukup banyak untuk menyewa kamar kos. Uang yang ditolak Bu Intan, karena dirasa kurang untuk membayar semua tunggakan mereka selama ini.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan yang panjang, jauh dari apa yang ada di pikiran mereka, bahkan tak terencana sama sekali.
***
Plaakkk!!!
Dentuman tak dikenali, mengejutkan dan membuyarkan ingatan akan masa muda yang sulit. Namun, juga sebuah masa-masa yang penuh semangat. Meskipun begitu, dia ingin sekali melupakan semua ingatan buruk dari hati dan pikiran. Meski sesungguhnya, dia merindukan suasana kekeluargaan yang sudah lama tak dimilikinya lagi.
Mendengar bunyi yang mengagetkan, Disa hanya bisa menatap sekeliling ruangan di kamar dan mencoba mencari arah suara yang mengagetkannya tersebut. Dia pun menemukan jendela kamar yang jauh di sisi kiri tempat tidur terbuka cukup lebar.
Hujan lebah, serta angin hebat lah yang membuat jendela rumah berlantai dua itu terbuka.
"Hujan?" ujarnya ringan, saat menyadari tiba-tiba sudah turun hujan.
Disa menggeser kursi dan berjalan menuju jendela. Pandangannya meluas, lampu taman berkedip seolah mengoloknya. Ketika hendak menutup pintu jendela, Disa justru mulai menangis sejadi-jadinya.
Keheningan itu semakin menyayat kalbu, membuat ruang hampa di sudut jantungnya terasa terbakar. Hingga uap sesak itu tak kuasa membanjiri pipi dan lehernya, mengalir deras melewati manik hitam berlensa minus. Pantulan gelap di cermin bak menjadi bayangan yang tak pernah diharapkan.
Tangisan, keheningan, dan hujan membuat Disa menjadi lemah. Selemah-lemahnya sejumput memoar kelam, yang membangkitkan kerinduan pada sosok yang entah siapa dan di mana.
***
Pindah ke lapak kuning ya...
hubungi Facebookku untuk info cerita ini terbit di mana.
pokoknya dah pindah, dah kontrak tempat lain.
semangat
semangat
semangat
semangat
semangat
semangat
semangat
__ADS_1
semangat
semangat