Wanita

Wanita
Episode 14: Nggak Tahu Malu


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah Bibinya. Baru saja beberapa meter melewati pagar rumah, Sefti dan ibu tidak sengaja bertemu dengan seorang pria.


“Assalamualaikum! Selamat siang bu Fira!” sapa pria itu memberhentikan motor. Mengikuti mobil sedan yang berhenti lebih dulu.


“Waalaikumsalam, pak Agus?” tanya ibu Sefti sedikit keheranan.


“Iya, Bu!”


“Pak Agus mau kemana?”


“Mau ke rumah ibu!”


“Ooh ... Saya lagi ada urusan sebentar nih, di rumah cuma ada bapak sama anak saya yang kecil. Nggak apa-apa kan kalau saya tinggal dulu?”


“Oh … gitu ya, Bu! Siap.”


"Iya. Ya udah lusa kita ketemu di kantor aja ya pak!" jawabnya sambil menaikkan kembali kaca jendela mobil.


“Iya, Bu, kalau begitu saya ketemu bapak dulu saja ya!” teriaknya. Sefti dan ibunya pun lekas melanjutkan perjalanan menuju rumah bibinya.


***


Setiba di rumah berlantai dua itu mereka sungguh terkejut karena menjumpai rumah yang kosong dengan dedaunan kering yang berserakan di halaman rumah.


“Kapan tante kamu cerita soal kebangkrutannya?” tanya ibu sambil memeriksa kunci pagar rumah yang berwarna cokelat tampak tak terawat.


“Kira-kira 3 bulan yang lalu bunda!” jawab Sefti sambil menatap rumah itu penuh heran. Ibunya kembali menelepon sang bibi, namun sayang suara menyebalkan dari wanita operator itu terus menghalangi.


Mereka hanya terdiam tanpa kata, keduanya berpikir harus mencari sang bibi di mana. Mereka hanya bisa berdoa semoga sang bibi baik-baik saja.


***


Disa nampak gelisah saat menatap jalanan tempatnya berpijak. Di kepalanya dipenuhi seribu alasan untuk menghindari sang kakak. Sebuah suara yang lembut dan terkesan takut-takut, terdengar memanggilnya.


“Disa? Disa Setiawan!” Disa terhenti lalu mengabaikannya. “Kamu Disa kan?” tanya seorang wanita meyakinkan dirinya.


Disa menoleh dan melihat wanita dengan baju hitam dan skinny jeans keluar dari sebuah mobil mewah berwarna hitam.


“Kamu nggak ingat aku ya?” tanya wanita itu sok akrab.


“Kamu siapa?” Disa memerhatikan.


“Ternyata kamu tuh masih sama seperti dulu ya, gak banyak berubah. Kira-kira sudah 10 tahun yang lalu kita nggak ketemu deg?” jawabnya seolah berteka-teki.


“Maaf saya nggak kenal tuh!” jawab Disa sambil berjalan meninggalkannya. Wanita itu pun lekas masuk kembali ke dalam mobil dan mencoba mengejar Disa dengan mobil.


“Disa?”


“Ya?”


“Naik deh! Entar aku anterin kamu pulang!” pintanya sambil membuka kaca jendela, mendengar itu Disa terhenti, berbalik dan menatap wanita yang sedang coba dikenangnya itu.


Tanpa banyak kata wanita itu membukakan pintu mobilnya untuk Disa, dengan penuh keraguan Disa pun mencoba naik ke mobil, serta mengikuti kemana wanita asing itu akan membawa dan mengajaknya. Siapa tahu dia ingat sesuatu.


“Kamu mau nyulik saya ya?”


“Nggak lah, mana mungkin ada penculik secantik aku,” jawabnya tersenyum, setelah terdiam beberapa menit dalam keheningan karena tak direspons oleh Disa. “Anak kamu gimana kabarnya?” tanyanya membuka pembicaraan.


“Anak apaan? Nikah aja belum!” jawab Disa sambil mengingat-ngingat.


“Kirain udah nikah. Oh ya, aku tuh baru balik dari jepang!”


“Terus?” Boda amat batin Disa.


“Aku dengar kamu sudah jadi pengusaha sukses!”


“Itu cerita lama!”


“Maksud kamu?”


“Udah aah ... Nyetir aja yang benar!” seru Disa menghindar.


“Jadi kamu benerab belum nikah ya …? Kenapa nggak nikah?”

__ADS_1


“Bukan urusan kamu."


Wanita itu hanya terdiam dan menatap bingung ke arah Disa yang tampak tengah menerka siapa wanita di hadapannya ini. Melihat Disa, dia hanya bisa melanjutkan perjalanannya.


****


“Dis maafin aku ya, aku mau kita akhiri hubungan kita." Seorang lelaki dengan wajah tegang, mencoba mengutarakan isi hatinya.


“Hah?” tanya Disa dengan wajah bingung.


“Aku mau putus! Aku betul-betul minta maaf,” ucap laki-laki itu sedih.


“Apa Ris? Putus? Kenapa?” ucap Disa muda dengan wajah terkejut.


“Aku--"


“Kamu apa?” paksa Disa.


“Aku mau nikah!”


“Hah? Apa?”


“Aku mau nikah!”


“Sama siapa?” ujarnya penuh tanya, namun lelaki itu hanya diam. “Jawab Ris! Jawab aku!”


“Ariana, aku harus nikahin Ariana!”


“Ariana? Riana maksud kamu? Riana sahabat kita? Kok, bisa?” bingung Disa. “Tolong jelasin ke aku Aris, kenapa kamu harus nikahin dia? Kenapa?”


“Ariana hamil,” ucap lelaki itu lemas menatap Disa muda.


“Hamil? Sama siapa? Dia kan nggak punya pacar?” Aris menatap mata Disa, mengisyaratkan penyesalan. “Kok bisa? Kamu? Kamu itu kan pacar aku?” lanjut Disa menangis, setelah menyadari tatapan aneh Aris.


“Maaf. Pokoknya bulan depan aku bakal nikah dan aku harap kamu jangan ganggu hubungan aku sama dia, dan ini merupakan permintaan terakhir papanya sebelum meninggal!”


“Jadi, jadi kalian bohongin aku? Selama ini, kalian bohong? Udah berapa bulan?”


“Hubungan kamu dengannya, sejak kapan?”


“Itu ... Itu...."


“Kandungannya udah berapa bulan!!!” teriaknya.


“Tenang dong Dis! Jangan teriak-teriak di sini! Maafin aku!”


“Tenang? Kamu bilang tenang? Kamu nggak punya otak? Hah? Otaknya udah ketutupan apaan?"


"Maaf!"


"Nggak akan. Pergi! Aku nggak akan pernah mau lihat wajah kalian lagi! Nggak akan!” Disa meninggalkan lelaki yang tertegun tanpa suara. Hanya suara dan sapuan angin yang masuk melalui jendela kelas kampus dan terdengar sedikit riuh.


****


“Belok kiri atau kanan?” ucap wanita itu membangunkan Disa dari lamunannya.


“Kanan,” jawabnya ringan sambil menatap wanita itu.


“Disa?”


“Ya?"


“Itu--”


“Mau apa kamu ke Indonesia? Suntik botox-nya sukses ya?” potong Disa penuh tanya.


“Siapa? Aku? Kamu udah ingat ya?”


“Hmm.”


“Syukurlah,” ucap wanita itu tersenyum.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Oooh ... itu loh, aku mau cari Aris. Sudah hampir 3 bulan dia balik ke Indonesia, tapi dia belum hubungin aku!”


“Terus? Hubungannya sama aku?”


“Kamu kan mantannya dia, seenggaknya kamu tahu dong tentang keberadaannya?”


“Bukannya aku udah bilang, aku nggak akan pernah mau lihat wajah kalian lagi!”


“Terakhir dia bilang, dia bakal cari kamu dan mau minta maaf!”


“Terus?” Disa angkuh, membuat wanita berambut cokelat itu terdiam. “Aku ingatkan sekali lagi, aku bukan pusat informasi di tempat umum yang bisa kamu gunakan buat menanyakan hal-hal seperti itu. Jadi stop dan turunin aku di sini!”


“Kamu ini kenapa sih?” Wanita itu pun menghentikan mobilnya


“Kamu yang kenapa? Kok cari suaminya sama mantan pacarnya sih? Aneh, you're so funny, you know!”


“Seharusnya kamu lupakan kejadian yang dulu. Kalau kamu masih dendam sama aku, aku benar-benar minta maaf!” pinta wanita itu penuh penyesalan.


“Udahlah, aku nggak punya urusan lagi sama kamu!”


“Please tolong aku! Tolong aku Dis,” ucapnya menghentikan Disa yang sedang membuka pintu mobil.


“Tolong apa?” teriaknya.


“Kalau Aris datang ke kamu, bilang ke dia untuk pulang ke Jepang!” ungkapnya dengan suara yang berat seakan menahan air mata.


“Kenapa aku harus tolong kamu?”


“Karena aku—”


“Memangnya kamu siapa?” lanjut Disa bahkan tanpa melirik wanita itu.


“Aku, aku te-teman kamu!”


“Bisa ya, kamu bilang aku teman kamu! Pertemanan kita, sudah habis periode-nya semenjak kamu ketahuan hamil sama Aris dan nggak akan pernah ada perpanjangan apapun itu bentuknya!” ungkap Disa kesal.


“Kamu benci aku atau Aris?”


“Dua-duanya!”


“Kalau memang kamu membenci Aris harusnya kamu bisa move on dong! Justru dengan sikap kamu yang seperti ini malahan buat aku cemburu dan yakin kalau kamu masih mencintai Aris.”


“Tenang aja, kalian berdua udah aku buang jauh-jauh dari ingatan aku. Aku hanya nggak mau mengingat betapa sakitnya luka karena kalian.”


“Aku minta maaf kalau memang kamu marah sama aku, tapi, please kali ini aja. Tolong aku!”


“Buat apa coba?”


“Buat anak-anakku, dan anak yang masih dalam kandunganku,” jawab wanita itu memegang perutnya. “Aku takut jika suatu saat Aris minta balikkan sama kamu dan dia bakal ceraikan aku!”


“Kamu tenang aja, itu nggak akan pernah terjadi. Meskipun aku harus memohon belas kasihan, meminta seseorang memberikan makanan sisanya padaku. Aku nggak akan pernah mau balikan atau ketemu sama dia lagi! Jadi tenang aja!” ucapnya turun dari mobil.


“Beneran? Biar aku anterin kamu ya?”


“Kamu pikir dia ada di rumahku gitu?”


“Enggak bukannya gitu, hanya saja!”


“Hanya apapun itu aku nggak peduli!” ucapnya berjalan meninggalkan wanita itu. “Gila!” batin Disa meracau.


“Dis?” panggilnya menahan langkah Disa.


“Apa lagi sih?”


“Kamu kok nggak nanyain kabar anak-anakku?”


“Diih ... Ngapain aku kepoin kamu! Kayak nggak ada kerjaan aja deh!” teriak Disa kesal.


Nggak tahu malu, bisiknya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2