Wanita

Wanita
Episode 15: Maafkan Aku


__ADS_3

Di depan rumah yang sangat sederhana, berbanding terbalik istana yang sebelumnya. Disa berjalan menuju pintu, rumah ini hanya ada dua kamar saja. Kini ia tinggal dengan sang pengurus rumah tangga.


Disa semakin terlihat murung di depan meja makan yang kosong, Disa tak dapat berbuat banyak, hidupnya kini tak semewah dulu. Lebih tepatnya, roda kehidupannya kembali bergulir ke bawah.


Pintu depan diketuk. Membuyarkan lamunan abstraknya. Seseorang datang menyampaikan sesuatu, ternyata itu sebuah kotak berwarna cokelat muda dengan pita emas, yang bersisi foto-foto masa SMA dan awal-awal Disa saat masuk kuliah.


Sebuah foto yang berisi 6 orang remaja mengenakan pakaian SMA tengah saling merangkul membuat Disa terkejut. Bagaiman benda ini bisa sampai ke sini?


Melihat foto-foto tersebut Disa berniat untuk menyobeknya saja, hingga tanpa sengaja Disa melihat tulisan di belakang foto yang bertuliskan:


“Persahabatan sejati adalah hubungan yang terkuat dibandingkan Cinta, Karena Cinta tumbuh melalui Persahabatan—” Ariana, Aris, Disa, Maya, Kevin, Reski (BFF)


Disa menyadari akan sesuatu hal yang terasa aneh baginya dan lekas menelepon Reski serta memintanya untuk lekas datang.


***


“Kenapa? Udah nggak nyaman di sini? Belum juga sebulan!” canda Reski sesaat setelah tiba di rumah minimalis milik Disa tersebut.


“Tadi siang aku ketemu Ariana!”


“Siapa?” tanya Reski terkejut.


“Ariana! Dia cari Aris!”


“Ariana? Ngapain itu orang?”


“Iya, itu orang…,” jawab Disa dengan tatapan kosong dan memberikan kotak cokelat muda itu kepada Reski.


“Apaan?” Disa menggeleng. “Apa ini?”


“Ariana ngasih ini? Dia ngasih lewat orang lain sih, tapi aku yakin ini dari dia. Aku nggak tahu kalau ternyata dia masih nyimpen semua ini,” ujarnya sadar dan segera membantu Reski membuka kotak itu.


“Oh ya, memangnya Aris kenapa?” tanya Reski sibuk memeriksa kotak.


“Mana aku tahu, Res!”


“Oh ya, kemarin kakak kamu telepon aku!”


“Kak Fira?”


“Iya!”


“Astaga!” seru Disa terkejut.


“Kamu masih belum bilang ke dia kalau udah pindah ke sini?”


“Iya! Aku lupa? Malahan aku juga belum bilang ke kak Fira kalau aku udah pindah dari rumah itu.”


“Tenang aja aku udah certain soal itu, tinggal tugas kamu yang bilang ke kak Fira kalau kamu tinggal di sini sekarang.”


“Iya! Makasih ya.”


“Biar kak Fira nggak terlalu mikirin kamu juga! Dia khawatir banget Dis, kasihan. Oh ya, soal masalah Aris biar aku yang urus aku bakal cari tahu di mana dia sekarang!”

__ADS_1


“Iya, pastikan kalau mereka berdua nggak muncul di hadapanku lagi!” perintah Disa berharap.


“Oke, bu Bos!” seru Reski yang membuat Disa tersenyum kecil.


***


Hari ini mungkin hari yang terlihat biasa saja bagi orang lain. Tapi, bagi seorang Disa Setiawan, bekerja di restoran seperti ini bukanlah hal yang biasa untuknya. Lama tidak bekerja seserius ini, bukan hanya menggunakan otak saja. Namun juga fisik, sepertinya hal ini bukan lagi menjadi sebuah bakat alami Disa.


Beberapa kali harus meminta data tentang pemasukan dan pengeluaran dari sang manager. Tetapi, tetap saja sang manager yang lebih memahami cara kerja restoran dan beberapa coffee shop-nya dibandingkan sang direktur muda ini.


“Gimana kalau kamu mulai dari awal lagi!” pinta Reski pada Disa.


“Maksud kamu? Aku nggak mau ah! Masa iya aku harus jadi pelayan sih!”


“Iya, biar kamu tuh tahu sistem kerja kita di sini kayak apa dan nggak akan lagi sembarangan pecat pegawai kayak kemarin itu!”


“Tapi kan ….”


“Emangnya dulu pas kamu lahir, udah pakai baju emas gitu? Kita dulu susah sama-sama, aku tahu siapa kamu, jadi jangan ngelunjak! Masih mending jadi pelayan, aku kan nggak minta kamu jadi saudaranya OB!” ucap Reski sambil tersenyum.


“Iya deh! Tapi, besok aja ya!”


“Siip, toh aku juga kan cuma manager! Aku tuh pegawai kamu juga, entar kalau aku macam-macam bisa dipecat juga kayak yang kemarin itu!” ucap Reski menggoda.


“Aah … kamu nih! Harus mulai dari awal nih? Serius? Aku benar-benar miskin ya?”


“Hah? Kamu buta ya? Restoran ini kan punyamu neng!”


“Oh iya-iya! Tapi--”


“Maksud kamu?”


“Kamu tahu kan kalau roda terus berputar? Kamu tahu juga kan filosofinya?” tanya Reski yang disambut dengan anggukan dari Disa. “Ya udah jangan mau di atas terus, sekali-kali di bawah!”


“Oooh .... Iya iya, aku ngerti."


“Baguslah kalau gitu! Seenggaknya kamu nggak lupa cara tertawa.”


“Akan aku coba!” jawab Disa yakin. Disa pun kini mengisi hari-harinya dengan bekerja di restoran itu sambil memantau dua coffee shop-nya yang berada di dua tempat berbeda.


***


Setelah bekerja beberapa hari, tak disangka Disa didatangi oleh seseorang yang sangat dirindukan. Sosok yang sudah beberapa bulan tidak bertemu itu malah datang dengan marah-marah dan mengomel.


“Kamu keterlaluan banget ya! Kamu itu bukan anak tujuh belasan tahun lagi yang harus main kabur-kaburan kayak gini!” ungkap sang kakak dengan nada kesal.


“Maaf kak,” jawab Disa tersenyum menyesal.


“Kamu ini! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kakak harus tahu semua yang terjadi dari Sefti dan Reski, kenapa bukan kamu yang bilang!”


“Aku nggak mau menyusahkan kakak lagi, sudah cukup selama ini kakak dan mas Rahmat udah bantuin aku ngurus perusahaan itu!”


“Terus, apa gunanya keluarga bagi kamu?”

__ADS_1


“Begini loh kak ….”


“Apa?” ketus sang kakak.


“Aku, sudah nggak bisa mempertahankan perusahaan, untuk itu aku nggak mau membebani kalian!” jawabnya takut-takut. “Ditambah, mas Rahmat kondisinya kan baru aja mulai membaik, aku cuma nggak mau kalau erjadi apa-apa sama mas Rahmat." Embusan napas sesak dari rongga pernapasan sang kakak terdengar berat. “Gitu aja kok kak! Bukannya aku gak menganggap kakak sebagai keluarga, hanya saja—”


“Jadi menurut kamu keluarga itu seperti bisnis,” sela kakaknya sendu.


“Nggak, bukan gitu!”


“Kamu kan cukup bilang, seenggaknya kamu curhat kalau ada masalah sama bisnis kamu,” lanjut Fira sambil memeluk Disa penuh kehangatan.


“Hutang aku tuh banyak kak! Nggak mungkin aku melibatkan kalian,” jawab Disa melepaskan pelukan sang kakak.


“Jadi menurut kamu, kamu nggak mau berbagi susahnya kamu dengan orang lain? Itu berarti kamu juga nggak mau membantu orang yang lagi kesusahan. Kalau sistem hidup kamu seperti ini, mau jadi apa kamu?”


“Iya, maksud aku bukan kayak gitu, kak.”


“Kamu ini ya!”


“Aku benar-benar minta maaf selama ini udah bikin kakak susah!” pintanya sembari memeluk sang kakak yang terlihat kecewa itu.


“Perusahaan itu punya kamu, mau perusahaan itu maju atau nggak, itu kan masalah kamu. Jadi, kamu nggak perlu berpikir seperti itu, mas Rahmat cuma modalin dan yang menjalankan bisnisnya selama bertahun-tahun ini, kan kamu? Bukan mas Rahmat atau kakak, iya ‘kan?” ucap Fira melepaskan pelukannya.


“Iya aku benar-benar salah! Aku minta maaf ya, Kak!”


“Kamu juga kan udah balikin modalnya mas Rahmat, kok kamu bisa berpikir begitu. Membagi luka kamu sendiri? Memangnya kamu pahlawan super gitu?”


“Maaf!”


“Udah! Nggak ada yang perlu dimaafin, kakak perhatian dan selalu mau tahu apa yang kamu lakukan, itu karena kakak peduli.”


“Aku juga hanya nggak mau ngerepotin kakak, karena aku peduli,” ucap Disa memeluk Fira.


“Ada sinetron tuh, iya nggak Seri?” sela Reski bercanda.


“Iya, Om!” jawabnya tertawa.


Seolah tak mempedulikan omongan orang lain, keduanya larut dalam suasana bermaaf-maafan bak lebaran.


“Kakak juga minta maaf karena sudah beberapa bulan ini jarang menghubungi kamu!”


“Iya … Kita kayak anak-anak deh kak? Malu sama Seri,” ucap Disa menatap Seri yang tengah duduk di pangkuan Reski.


“Bisa malu juga kamu?” ucap kakaknya menggoda.


“Kakak ini bisa aja! Oh ya, kakak mau minum apa?” tawarnya mencairkan suasana yang sedikit membiru itu.


“Air putih aja!”


“Iya, sebentar ya kak, aku kerja dulu!”


“Oh ya, jangan lupa nanti kamu ceritakan semuanya ke kakak, sedetil mungkin …,” pinta Fira mengenggam tangan adik nya itu yang disambut dengan senyum dari bibir keduanya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2