Wanita

Wanita
Episode 16: Apa Kabar? (1)


__ADS_3

Disa akhirnya bisa tersenyum lepas karena dihibur oleh keponakan-keponakannya, sejenak bisa menerima kekalahan yang disandangnya kini. Tapi, sebuah lembaran buku yang baru, baru saja terbuka, tanpa tersentuh hanya ada angin menderu yang tanpa sengaja berlarian kecil di pinggir lembaran kehidupan.


Ia mampu mengubah sedikit gaya bahasa dan gaya tulisan insani. Membuat Disa berada di tengah buku dan tetap harus melanjutkan catatan kecil kehidupannya. Siap atau tidak, inilah hidup.


***


Gerimis terasa begitu dalam. Kini, di hatinya semua seakan terasa kembali berjalan seiring sejalan, dengan meneguk teh hijau sedikit demi sedikit membuatnya yakin bahwa kini dia benar-benar harus berubah.


Suara adzan maghrib memecah untaian puisi kalut dalam benak, Disa lekas menuju ke masjid di dekat restoran. Ia datang menghadapa rumah sang pencipta, berharap sebaris doanya akan diijabah, sang Maha Pendengar. Satu saja, cukup satu doa.


Selepas maghrib, Disa kembali ke restoran bersama Reski, keduanya terlihat begitu bahagia. Reski menyadari kini teman yang dikenalnya telah kembali menjadi Disa si Anak Manis, julukannya di geng BFF dulu. Tampaknya kejadian yang menimpa akhir-akhir ini membuat Disa menjadi wanita yang sedikit religious.


“Mbak pastanya empat ya ... Terus cokelat cakenya juga empat dan minumnya Orange juice tiga , sama jus alpukatnya satu aja!” Pesan salah seorang pelanggan.


“Bentar-bentar, saya pasta aja nggak usah pake cake mbak!” sela seseorang dari rombongan itu, Disa sedikit terkejut saat melihat wanita berhijab yang barusan memesan.


“Kamu? Bukannya anak yang di bus waktu itu ya?” sidiknya.


“Apa, Mbak?” tanya wanita berhijab itu heran.


“Issh ... cepetan sana bawain pesanan kita, jangan bawel!” perintah salah seorang teman dari wanita yang coba dikenali oleh Disa.


“Hush! Gak baik kayak gitu! Maaf ya mbak, apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya wanita berhijab dengan sopan.


“Nanti aja deh saya bilang, saya bawakan pesanannya dulu ya!” jawab Disa pergi.


Setelah menikmati dan menghabiskan pesanan. Keempat perempuan cantik itu hendak pergi meninggalkan restoran, tapi dengan sigap Disa mencegah salah seorang dari mereka.


“Kita bisa bicara sebentar nggak?”


“Oh iya, mbak yang tadi ya? Saya lupa! Maaf!” tanyanya. “Mari!” lanjutnya tersenyum, sambil memberi kode kepada teman-temannya agar pergi terlebih dulu.


“Saya perempuan yang di bus waktu itu! Kamu ingat nggak?” tanya Disa memberikan segelas Jus alpukat. “Waktu itu kita kenalan kan? Tapi, aku lupa namamu,” lanjut Disa penasaran.


“Iya?” Ucapannya terhenti mengingat sesuatu. “Oh … yang nggak mau dipanggil Mbak itu ya? Iya, saya ingat.”


“Iya!” Disa tertawa.


“Yang pakai heels di tangan 'kan?” canda Sabrina.


“Apa?” Disa tersenyum dan menggeleng


“Bercanda, Mbak, bercanda. Eh, Ibu!”


“Panggil Mbak Dis aja! Nama kamu siapa?"


“Sabrina, panggil Sab aja.”

__ADS_1


“Bu kita mau tutup sebentar dulu ya soalnya kita semua sudah pada capek banget nih, hari ini banyak banget yang datang bu! Sekalian nunggu Isya ya bu!” sela seorang pegawai seusia Sabrina.


“Iya iya … Kamu laporan aja gih sama Pak Reski!” jawab Disa menggerakkan tangannya. “Oke sampai mana tadi?” Disa tersenyum melanjutkan pembicaraannya dengan Sabrina.


“Ibu?” tanya Sabrina pada pegawai.


“Iya, Ibu Disa ini yang punya restoran!” jawab pegawainya.


“Oh ya?"


“Iya, kalau begitu saya permisi!” lanjut pegawainya pergi.


“Kalau begitu, saya minta maaf soal yang tadi ya Bu! Sikap teman-teman saya tadi agak--”


“Iya, nggak apa-apa kok! Namanya juga anak muda,” sela Disa.


Setelah berbincang-bincang cukup lama serta bertukaran nomor telepon, Sabrina bahkan ikut pulang bersama Disa dan Reski. Setelah mengantarkan Sabrina ke kosannya, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke salah satu coffee shop milik Disa. Tempatnya ternyata tidak begitu jauh dari kos-kosannya Sabrina.


***


Keduanya sibuk mengobrol dengan salah satu mantan kolega Disa di perusahaan textil, yang kebetulan tengah ngopi bersama istrinya.


Tak ada angin, tak ada hujan, Disa dikejutkan dengan sesorang yang memanggilnya dengan panggilan semasa SMA.


“Didis!” panggil suara lelaki itu.


“Udah biarin aja! Maaf ya pak Putra, bu Laras!” cegat Disa memalingkan wajah dari asal suara tersebut dan melanjutkan obrolan ringan tanpa merisaukan suara yang memanggilnya.


Setelah mengobrol dan ngopi-ngopi bersama koleganya, Disa berencana meninggalkan Reski sejenak dan pergi menemui manager kafe untuk mengetahui perkembangan terbaru di coffe shop-nya.


“Makasih ya, pak Putra.”


“Iya! Nanti kita ngopi bareng lagi ya, Bu!”


“Iya!” jawabnya mengantar kepergian pasangan itu.


“Oh ya Res, aku ke dalam dulu ya."


“Bentar Disa,” cegat Reski. “Tuh!” Tunjuk Reski ke arah pria berambut gondrong.


“Biarin!” kata Disa meninggalkan Reski yang tengah menatap pria itu. Disa menuju ruangan manager kafe. Tak tahan, Reski pun mendekati pria tersebut.


“Kamu Aris 'kan?”


“Hay Reski! Apa kabar?” Pria itu tersenyum.


“Kebetulan kita ketemu di sini! Aku lagi nyari kamu,” ucap Reski sambil mengambil ponselnya. “Kayaknya lebih tepatnya, Ariana yang nyari kamu!” lanjutnya menelepon seseorang.

__ADS_1


“Jadi dia udah di Indonesia ya?” tanya Aris tersenyum simpul.


“Hmm... Halo Riana, ini aku Reski! Aku dan Disa udah menemukan suami kamu. Nanti alamatnya aku SMS-in.” Telepon Reski singkat, yang dilanjutkannya dengan mengetik huruf demi huruf di keypad ponsel robot hijaunya.


“Sepertinya Disa masih marah sama aku ya?” Aris membuka pembicaraan. "Kamu ingat waktu dulu kita ke sekolah dan ke kampus bareng-bareng?”


“Iyalah, mana mungkin aku lupa!” jawabnya sambil menengok ke arah salah satu ruangan di balik meja kasir yang bertuliskan ‘Manager’.


“Ariana, Disa, Maya! Semuanya adik-adik kecilku!” sebut Aris mengingat.


“Udah terasa aneh ya … Dulu kita dekat banget! Akrab! Ngomongnya elu-gue elu-elu, sekarang bakalan aneh kalau ngomong kayak gitu!” Reski mencoba berbasa-basi. “Aku nggak tahu apa masalah kamu sama Riana! Tapi yang pasti, tolong jangan ganggu Disa!” ungkap Reski tiba-tiba.


“Sekarang elu berubah!” ucap Aris menatap Reski.


“Kamu mabuk?” tanya Reski.


“Memangnya di sini jual minuman beralkohol ya?”


“Nggak!” Jawab Reski sambil menegok kembali ke arah ruangan Disa berada,


“Elu nggak kayak dulu lagi. Sekarang elu lebih berani menunjukkan perasaan! Gue salut!” Aris tersenyum.


“Maksud kamu?”


“Oh ya … Sampai kapanpun cinta Disa itu cuma buat gue. Selama Disa masih benci gue, berarti dia lebih mengingat gue dibanding elu!”


“Maksudnya apa?”


“Udah berapa tahun elu naksir Disa? Semenjak gue putus atau malah sebelum?” Lanjut Aris tertawa.


“Diam!”


“Kenapa? Elu takut nerima kenyataan, kalau suatu saat nanti gue bakal balikan sama Disa? Hah?” ucap Aris sombong.


“Sekali lagi kamu ngomong?” Reski memukul meja hingga membuat para pelanggan kebingungan dengan tingkah dua sahabat ini.


“STOP!” Disa menegur keduanya.


“Hay Dis!” sapa Aris sambil tersenyum, senyum yang sangat menyebalkan bagi Reski dan Disa.


“Diam! Siapa juga yang mau balikan sama kamu? Ayo Res, Kita pulang!” tegas Disa memegangi tangan Reski.


Mata Disa mendadak berapi-api. Pria gondrong itu mencoba merebut tangan Disa.


"Shit!" Disa memakinya. Marah, hingga rasanya ingin nenyiram kopi panas ke wajah pria tak tahu diri itu.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2