
Disa menggandeng tangan Fira erat, kedua pria yang ditinggalkan tengah duduk manis di ruang tamu dan tampak canggung. Disa bisa melihatnya walau sekilas.
***
“Apa kabar, Res? Kok kamu baru kelihatan sih? Kemana aja?” Kevin membuka pembicaraan.
“Kamu aja kali yang nggak lihat!” Reski terdengar kesal.
“Apa?”
"Hubungan kamu dan Disa, udah sejauh apa?" Reski membuat Kevin bingung dengan pertanyaan aneh.
"Aku tanya kamu karena nggak kelihatan di rumah sakit. Kok malah tanya kayak gitu? Maksudnya apaan?" Kevin tampak tak nyaman. Bagaimana bisa Reski menanyakan hal itu secara terang-terangan.
“Jaga Disa baik-baik, jangan kecewain dia, aku punya dua bahu dan dua tangan yang siap untuk menahannya. Jadi kamu jangan sampai lepasin dia!” pinta Reski tiba-tiba. Disa dan Fira yang menguping dari ruang tengah hanya bisa saling melepas pandangan. Fira menunduk sejenak.
“Kok ngomong kayak gitu sih?” tanya Kevin lagi, tambah kebingungan. “Kayaknya, kamu salah paham deh, aku dan Disa tidak ada hubungan spesial. Kita temenan sama kayak dulu. Kita semua,” lanjut Kevin tersenyum. Alis tebalnya melengkung ke atas, seolah meminta Reski untuk mempercayainya.
Keduanya terdiam sejenak, karena suara Seri yang datang untuk memberikan sesuatu kepada Disa.
“Kevin!” panggil Disa mendekat. Jika tidak dipadamkan, akan ada api yang membara di tempat ini.
“Ini barangnya. Makasih ya, udah anterin aku pulang!” lanjutnya sambil memberikan tas plastik hitam yang diberikan Seri sebelumnya, tas berisi sesuatu yang bisa dipakai untuk menengahi ketegangan ini.
“Ya udah aku balik duluan ya, Dis. Sampai ketemu di rumah sakit," pamit Kevin memegang pundak Disa mesra.
“Kamu nggak ikut dia?” tanya Reski sinis.
"Apaan sih?" Disa menatapnya sebal. "Aku anterin kamu ke depan ya, Kevin." Disa berjalan beriringan penuh senyum ramah, mengantar Kevin hingga berlalu.
“Kamu **** ya? Bodoh?” tegas Disa saat menghampiri Reski.
“Apa?” jawabnya terkejut.
“Mana mungkin aku tinggalin kamu di sini! Nggak punya otak,” lanjut Disa dengan wajah memerah.
“Apa? Hhah.” Reski kesal, berbulan-bulan tidak bertemu Disa semakin menyebalkan saja.
“Jadi, kamu tuh nggak ada kangen-kangennya sama aku?” tanya Disa ketus.
“Aku pikir kamu minta putus, jadi--”
__ADS_1
“Jadi, apa?”
“Aku nggak ngerti loh, Dis!” Reski melemah. Otak bijaknya sedang mencerna ucapan Disa. Ada yang aneh, jelas.
“Aku kan nggak pernah minta putus, aku cuma minta kita pikirin baik-baik masalah pernikahan dan sekarang aku udah dapat keputusan yang lebih baik." Disa mencoba menjelaskan.
"Yang kamu bilang di sms, bagiku tampak seperti permintaan putus. Kamu juga nggak pernah hubungin aku, pas sampai Jakarta nggak cari aku!"
"Tapi, kamu juga sama sekali nggak hubungin aku, setelah itu. Setelah sms itu."
“Aku takut kalau kamu marah lah. Kalau aku seolah-olah memaksa kamu, aku takut kalau kamu akan pergi! Aku kan tahu kamu orang seperti apa?" ungkap Reski.
"Ya, kamu bilang, kamu???" Reski penuh emosi.
“Tenang dulu, kamu ingat aku bilang kayak apa?” tanya Disa.
Reski terdiam, pikirannya melayang. Teringat pesan yang pernah dikirim Disa.
-------
~“Intinya aku ingin menebus kesalahanku pada Maya dan aku ingin mengasingkan diri dulu, untuk menyadari sesuatu yang selama ini telah aku lakukan. Kamu tahu kan, aku hanya ingin merenunh dulu,” balas Disa. ~
~“Kalau begitu, apa kamu akan pulang sebelum operasi Maya dilakukan? Aku nggak mau kamu lama-lama di sana.”~
~“Apa maksudmu?”~
~“Karena semua tentang kita belum terencana dengan baik dan terkesan buru-buru. Aku maunya kita begini saja dulu, mungkin sekarang kamu itu belum jadi jodoh aku. Maaf!”~
-------
“Tapi, 'kan kamu bilang, aku bukan jodoh kamu!” ucap Reski mengingat.
“Aku bilang kan sekarang. Di saat itu."
"Maksud kamu?"
"Sekarang, kamu belum jadi jodoh aku, tandanya aku minta berpikir, bukan minta putus. Untung aja aku tuh sabar. Kalau nggak, aku udah selingkuhin kamu sama guru-guru di tempat aku ngajar!” ungkap Disa tiba-tiba. Dia mendadak merasa lucu melihat kebodohan Reski.
“Jadi, kamu nggak akan batalin pernikahan kita 'kan?” tanya Reski tersenyum.
“Ya, iyalah! Aku cuma butuh waktu."
__ADS_1
“Aku juga pikir kalau semua ini tentang kamu dan Kevin!” ujar Reski.
“Siapa bilang? Ini semua tuh tentang kita!” jawab Disa.
“Tapi, Kevin?” tanya Reski masih bingung.
"Menurut kamu, kenapa aku minta nikah sama kamu?" Reski mendadak terdiam. "Karena aku sudah tahu perasaan kamu, Res. Aku perempuan yang peka." Disa tersenyum.
"Kak Fira bilang, orang yang bantuin kamu dulu adalah Kevin." Resku mengungkap apa yang didengarnya dari Fira.
“Yang dulu adalah masa lalu. Sekarang, aku memang minta bantuan Kevin lagi, soal pengadaan restoran di Kalimantan, karena dia bakalan pindah ke Kalimantan. Jadi aku mau kerja sama dengan dia, gitu aja kok!” jelas Disa.
“Yang benar?”
“Iya." Disa malu-malu. "Udah ah, sana pergi!” pinta Disa pergi menutup pintu dan meninggalkan Reski di teras.
“Kita jadi kawin nih, Dis?” teriak Reski kesenangan.
“Nikah! Kawin apaan sih? Emangnya kucing?” teriak Disa ketus. "Pikirin dulu salahmu di mana!"
"Salahku apaan sih? Kamu juga harus merenung!" Reski mendadak menendang pintu. Reski berubah, entah apa yang merasukinya? Beberapa detik lalu dia baru saja berteriak bahagia, tapi baru saja dia menolak memikirkan kesalahannya.
Disa hanya bisa mengatur napasnya. Sesungguhnya, rindu yang dipendam sedari tadi terasa sakit.
***
Disa masuk ke dalam, meminta penjelasan Fira tentang pernyataan Reski. Fira mengaku bahwa itu salahnya, tak seharusnya ia mengatakan bahwa Kevin-lah yang selalu berada di sisi Disa. Sementara, pada kenyataannya Reski-lah yang selalu menemani Disa.
Disa memaklumi, Fira mungkin berpikir kedekatannya dan Kevin sudah lebih dari teman. Tapi, bagaimana bisa perasaan seperti itu tumbuh dan besar hanya kurang dari sebulan? Sungguh tak masuk akal bagi Disa.
Disa teringat Sabrina, gadis itu bahkan berhasil membujuk Maya. Apa mungkin, Sabrina bisa membantu meluruskan kesalahpahaman yang baru memudar beberapa persen antara Reski dan dirinya?
Pertanyaan itu menyerbu benak Disa.
"Aku coba saja! Reaksi Reski barusan, tampak seperti bukan dirinya. Aneh."
Disa duduk di kursi ruang makan, merogoh ponsel di sakunya.
"Malam ini, kamu yang jagain Maya dulu ya?" ucapnya pada Ariana di balik telepon sana. "Kabarin aku, gimana perkembangan keadaannya ya ...."
Disa pamitan pada Fira, pergi ke suatu tempat setelah mengirimkan pesan kepada seseorang. Segala kesalahpahaman ini harus diperbaiki. Disa tak ingin larut dalam kebingungan.
__ADS_1
***
Bersambung