Wanita

Wanita
Episode 4: Sabrina Bercerita (2)


__ADS_3

Aku tidak menyangka, orang gila itu datang kemari hanya untuk membuat rusuh. Siapa yang sudah membebaskan penjahat itu dari penjara. Seharusnya dia disekap di balik jeruji selama mungkin.


Penjarakan dia sampai rambutnya memutih. Aku tidak akan peduli lagi.


"Ibu, nggak apa-apa?" Aku mengusap pipinya yang memerah. Guratan kesakitan tampak mencuat bahkan di sekitar bibirnya. Aku hanya bisa menahan tangis sambil menyentuh pipi Ibu.


"Nggak apa-apa ...." Suaranya serak diiringi air mata.


"Kak?" Rahayu memanggil. Aku dan Ibu bergegas menuju ranjang, tak ingin gadis kecil itu merasa khawatir.


"Kamu udah bangun, Nak?"


"Tadi itu, Kak Tomi ya?" tanya Rahayu dengan suara yang berat.


"Iya." Aku dan Ibu mendekatinya.


"Pipi Ibu kenapa?"


"Cuma sakit gigi kok, ini udah mulai bengkak." Ibu menggenggam tangan Rahayu. Aku segera membereskan uang yang dilempar Kak Tomi tadi. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Berani sekali dia memukul Ibuku.


"Aku keluar dulu ya, Bu!" Aku mempercepat langkah ini dan memutuskan keluar mengejar makhluk yang ingin kuhapus dari kartu keluarga itu.


Dia masih berdiri di lorong rumah sakit, sibuk menggodai perawat dan petugas kebersihan yang lalu lalang.


"Kak Tomi!" teriakku. Sosok dengan kumis tipis itu tidak menoleh. Segera, kudekati dia.


"Kak?" Aku menyentuh pundaknya.


"Apa?"


"Rahayu udah bangun."


"Syukurlah."


"Gitu doang?"


"Mau kamu apa?" tanyanya dengan nada menantang. Ingin sekali kupatahkan lehernya. Aku menarik napas panjang, mengembuskan pelan agar tak merusak batin.


"Ngapain kamu melotot?" lanjutnya mendorong bahuku.


"Minta maaf ke Ibu!"


"Apa?"


"Minta maaf, sana!" Aku berteriak. Kini pandangan orang-orang menuju kepada kami. Aku mencoba menarik lengannya, menginginkan percakapan yang lebih privasi di tempat lain. Tapi, dia tidak bergerak. Aku semakin kesal dan tertunduk. Tangannya kini mencengkeram lenganku kasar.


"Sab?"


Suara itu mengalihkanku.


"Kak Disa?" Aku lantas terdiam. Perempuan bertinggi semampai itu, kini menghampiri. Tatapannya mendadak meruncing ke arah Kak Tomi.


"Ini siapa?"


"Ini Kakakku. Kak Tomi."

__ADS_1


Kak Disa semakin mendekat. Dia melepaskan genggaman tangan Kak Tomi dan menarikku ke arahnya.


"Kamu nggak apa-apa, kan?"


"Kamu siapa?" Kak Tomi angkat bicara. Seketika, tatapan runcing Kak Disa kembali dilayangkan kepada Kakakku.


"Saya Disa! Kakak angkatnya!"


"Hah?" Aku terkejut mendengarnya. Sejak kapan aku jadi adik angkatnya?


"Oh, orang yang bayarin rumah sakitnya Rahayu ya. Orang kaya dong!" lanjut Kak Tomi terdengar menyebalkan.


"Bukan. Saya nggak pernah bayar


biaya rumah sakit." Kak Disa tampak tersenyum. Dia melepaskan tanganku dan berjalan menuju Kak Tomi.


"Mau apa kamu!" Kak Tomi tampak terintimidasi.


"Kalau kamu nggak bisa jaga adik-adik dan Ibu kamu. Setidaknya jangan mempersulit mereka, apalagi sampai menyakiti."


"Ngomong apa sih?" Kak Tomi mengalihkan pandangannya padaku.


"Saya nggak akan tinggal diam, walau kamu itu Kakak kandung Sabrina sekali pun. Saya bisa jebloskan kamu ke penjara lagi."


Aku terharu. Kak Disa masih ingat detail ringan yang pernah kuceritakan sebelumnya. Rasanya aku ingin menangis dan berlabuh ke pelukannya. Dia keren.


"Ngomong apaan sih? Nggak jelas!" gerutu Kak Tomi mundur menjauhi Kak Disa. "Sabrina, aku pergi. Bilang ke Ibu, maaf!" lanjutnya pergi begitu saja. Menyebalkan sekali.


Kak Disa tiba-tiba meminta maaf padaku. Katanya dia tidak sengaja mendengar percakapan kami sebelumnya. Dia bahkan tahu, kalau Kak Tomi mengambil uangku.


Kak Disa bersikeras ingin membantu. Rasanya, kini berbalik. Sebelumnya, mungkin aku sudah tampak angkuh dan sombong saat memberikan nasihat kepadanya. Kini, dia mencoba memberikan harapan padaku.


Orang baik ini hanya butuh sarana agar tetap berbuat baik.


"Dokter!!!" teriak Ibu dari depan ruangan, Ibu berlari melewatiku dan menuju meja informasi.


Tiba-tiba, dokter dan perawat bergegas ke kamar Rahayu. Aku dan Kak Disa saling menatap ragu.


"Rahayu?" Aku berlari menuju ruangan Rahayu.


"Tolong jangan masuk dulu ya?" tahan salah satu perawat.


"Adik saya kenapa?" Aku mulai panik. Ibu terduduk di depan pintu.


Semua terjadi begitu saja. Semua sibuk. Aku melihat tubuh Rahayu dipindahkan ke ranjang lain. Tubuhnya akan dipindahkan ke suatu tempat. Baru dua malam Rahayu pindah ke kamar biasa. Harus dibawa kemana lagi dia?


"Dokter adik saya mau dibawa kemana?"


"Kita pindahkan dia ke ruang ICCU lagi ya. Kondisinya kritis. Sepertinya dia mengalami gagal jantung karena komplikasi virus hepatitis. Pasien sudah bertahan sejauh ini, dengan penyakit bawaan sejak lahir. Itu cukup mengagumkan."


"Terus?"


"Kita harus melakukan pemeriksaan kembali. Ada kemungkinan peningkatan menuju Fulminant Hepatitis. Harus transplantasi hati, untuk pengobatan selanjutnya."


"Rahayu!" Ibu berteriak saat ranjang berisi tubuh kecil itu didorong dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


Aku memeluk Ibu, agar tak menghalangi kinerja medis.


"Makasih, Bu dokter."


Kak Disa memelukku dan Ibu, rasanya terlalu menyedihkan. Tapi, aku belum sepenuhnya sadar.


***


Ya, sangat menyedihkan mengingat hari itu. Rahayu hanya bertahan beberapa hari. Dia tak berhasil diselamatkan. Dia pergi dalam damai, memilih menyerah akan sakit yang dideritanya. Allah lebih menyayangi Rahayu. Setidaknya gadis kecilku itu tidak merasakan sakit lagi.


Walau pada akhirnya, Ibuku hidup penuh rasa bersalah. Kemiskinan yang menggerogiti keluarga kami, membuat Ibu tak mampu mengobati penyakit Hepatitis yang dibawa Rahayu sejak lahir. Entah bagaimana ia bisa mengidap penyakit itu. Apa almarhum ayah punya riwayat penyakit yang sama? Ibu pun tak pernah cerita.


Sosok Rahayu tersimpan rapih di hatiku dan Ibu. Sedangkan, Kak Tomi. Usai pemakaman Rahayu, dia menghilang lagi.


Saat pemakaman, aku melihatnya bicara berdua dengan Bu Fira. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu.


Mencari tahu percakapan apa yang Bu Fira dan Kak Tomi lakukan, merupakan salah satu alasan aku setuju tinggal di rumah Sefti.


Setidaknya, Sefti cukup ramah. Si keci Seri pun selalu mengingatkanku kepada Rahayu.


Usia Rahayu tepat berada di antara usis Sefti dan Seri. Jika, Rahayu masih ada. Mereka bertiga bisa bersahabat, denganku.


***


"Kak, Sab?" Sefti membuyarkan ingatan dari mada lalu itu. Aku tersenyum.


"Kenapa? Udah ngobrol sama Rian?"


"Udah! Oh ya, besok, kita jemput Tante Disa sama-sama ya ...."


"Nggak bisa, aku harus jagain Seri dan Ayah kamu. Kan akhir-akhir ini, Ayah kamu kesehatannya menurun."


"Yaahhh ...," keluhnya menatapku kesal.


"Hei, kamu tuh bentar lagi jadi anak kuliahan loh! Udah punya pacar juga. Masih aja kayak anak kecil tingkahnya!" Aku memeluk lalu menggelitikinya.


Sefti tertawa terbahak-bahak. Aku senang bisa membahagiakan orang lain, walah hanya dengan menggelitikinya.


"Tidur yuk!" ajaknya. Aku mengangguk setuju. Lalu terlelap dalam bayang dan mimpi di kepala masing-masing.


***


Pagi pun menyapa.


Sefti dan Bu Fira akan pergi untuk menjemput sosok yang kami rindukan. Keduanya sibuk bersiap-siap.


Dari dapur, aku kebetulan melihat Pak Rahmat sibuk memandangi Bu Fira dalam diam. Dia tersenyum hangat, seolah sedang mengagumi keindahan sang Istri.


Aku bisa melihat cinta yang ada di antara mereka. Apakah aku akan berakhir seperti Bu Fira dan Pak Rahmat, yang setiap harinya dipenuhi cinta. Atau berakhir seperti Kak Disa dan suaminya, yang terakhir kudengar lewat telepon sedang bertengkar karena suaminya tidak mau membelikan mangga muda.


Lucu sekali.


Ya, nasibku yang lucu. Terjebak dan berada di keluarga indah ini.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2