Wanita

Wanita
Episode 25: Yakinlah!


__ADS_3

Dengan jaket besar, Disa memeluk dadanya. Ia berdiri penuh kekalutan, menunggu seseorang membukakan pintu pagar. Perempuan berambut dan bercelana pendek pun mendekat.


"Cari siapa?" tanyanya sambil mengunyah permen karet.


"Sabrina-nya ada? Saya sudah janji kok. Katanya ketemu di kosannya Sabrina." Disa menjawab.


"Sab-nya masih di jalan, Mbak. Mari masuk." Perempuan itu lalu menyilakan Disa masuk ke teras rumah bercat kuning itu.


Disa pun menunggu, tak lama duduk dan menikmati wedang jahe yang disuguhkan wanita itu, kemudian Sabrina pun datang.


Malam ini hawanya terasa dingin, mungkin saja Indonesia sudah berada pada puncak musim kemarau dan dipengaruhi pula dengan adanya aliran massa dingin dari Australia menuju asia. Sehingga malam ini terasa beku.


Disa menggenggam tangan Sabrina dan segera menceritakan semua permasalahannya dan Reski, berharap Sabrina bisa membantunya memecah kesalahpahaman yang mungkin sudah terbentuk.


Disa merasa Sabrina mampu memberikan saran yang bagus, sama halnya seperti ia yang entah bagaimana caranya telah berhasil membujuk Maya untuk di operasi pagi tadi. Operasi selama 8 jam lebih yang terbilang sukses, karena sebelum datang ke tempat Sabrina, Ariana mengabarkan bahwa ada kemajuan pada tanda-tanda vital Maya.


"Kalau kak Disa merasa belum putus ya tidak masalah, lanjutkan saja. Aku rasa Pak Reski hanya sedikit bingung saat ini. Coba ditelepon aja dulu dan bicarakan lagi semuanya secara baik-baik. Kalau pak Reski tiba-tiba nyalahin kak Disa, yaudah diterima dulu aja semuanya, toh kalau jodoh, kalian pasti tetap bakalan nikah." Sabrina menjawab segala pertanyaan Disa.


"Aku harap semua akan baik-baik saja. Sepertinya aku udah cinta sama Reski, Sab. Minta waktu untuk berpikir dan pergi ke Kalimantan membuatku merindukannya." Disa tersenyum malu.


"Yakinlah, Kak. Yakin itu positif walau hasilnya tak selamanya positif." Sabrina juga tersenyum.


Kini dia yakin pada apa yang akan diperbuat pada Reski. Disa menambahkan satu pertanyaan atas masalah hidupnya. Ariana.


"Oh ya, kamu lihat perempuan yang bantu jagain Maya kan?"


"Iya." Sabrina mengangguk.


"Aku masih nggak nyaman sama dia." Disa jujur.


"Punya masalah ya dulu?" Disa mengangguk berkali-kali atas pertanyaan Sabrina itu.


"Dia ... orang yang pernah merebut pacar aku. Tapi, sekarang aku udah nggak marah sih. Tapi, ahh. Aku cuma merasa dia hanya tidak mau kalah dan itu bikin aku kesal tanpa alasan."


"Soal apa?"


"Soal dia yang ngurusin Maya. Seolah-olah dia yang paling peduli pada Maya. Aku tahu itu baik, juga terima kasih buat dia. Walau lagi hamil, tapi masih sempat jagain Maya."


"Ya, bagus dong," sela Sabrina.


"Ta-tapi, tetap saja menyakitkan kala aku nampak seperti orang bodoh yang tempatnya harus ada di bawah kakinya. Aku bisa menerima itu sih, walau terkadang ingin kucabik saja wajahnya itu."


"Itu namanya dendam." Sabrina lantas tertawa.


"Dendam? Jadi, aku harus bagaimana?"


"Hmmm coba berdamai saja dengan masa lalu," ujar Sabrina singkat. Disa tertegun, bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu?

__ADS_1


***


Beberapa tahun kemudian.


Rupanya dua tahun telah berlalu, tak terasa segala hal yang terjadi hari itu, telah membuat semuanya berakhir pada keputusan yang baik.


Perlahan. Namun, pasti. Rahmat, suami dari Fira berangsur-angsur sembuh. Dengan segenap kekuatan mereka mengobatinya. Kekuatan uang, cinta dan doa serta keyakian yang kuat, membuat Rahmat berhasil dihadiahi sepasang tongkat keren dari dokter yang menanganinya.


Sang putri Sefti pun, kini menjadi anak yang lebih baik, kini juga mulai sering-sering mengikuti pengajian di kompleks rumahnya. Sering hang-out bersama Sabrina jika si penulis itu punya waktu luang.


Si berlian kebijakan, begitulah julukan yang diberikan Fira kepada Sabrina. Setelah Sabrina berteman dengan Sefti, ia seperti mendapatkan keluarga kedua. Fira sangat menyayanginya, hingga Sabrina tak lagi tinggal di kosnya dan malah tingga bersama keluarga pak Rahmat dan Fira, menggantikan Disa yang sudah pindah.


***


Hari ini pasangan itu terlihat saling berbantah-bantahan di depan rumah. Seperti biasa, setiap hari, selalu saja begini. Membosankan, tapk berisiko.


"Terserah kamu!" Disa berteriak. Lelaki di hadapannya terlihat kesal.


"Terus aku harus gimana?" Lelaki di depannya bicara dengan nada tinggi.


“Malu tahu, sama tetangga!” oceh Disa.


“Maaf, Sayang!” jawab Reski tertunduk. Harus sabar, batin Reski menenangkan.


“Tahu ah! Aku mau berangkat ke sekolah, kalau di rumah lama-lama, aku bisa muntah liat muka kamu!” ungkapnya kesal menuju jalanan.


"Ya, jangan muntah juga dong!" Reski memegang jemari halus Disa. Mengubah wajah standarnya ke mode gag-man. Sialnya, Disa bahkan tak tersenyum.


“Sabar!” ucap tetangga Reski yang melihat kejadian itu.


“Iya nih, Pin, makin hari makin susah! Hah!” jawabnya mengacak rambut.


"Yah namanya juga ibu hamil. Aku dah rasain semuanya." Kevin tertawa.


"Tapi, kau masih hidup ya, Pin. Syukurlah."


"Pin apaan sih? Dari dulu kebiasaan deh manggil Pin. Nama aku tuh Kevin bukan Ipin."


"Iya iya ...." Reski tertawa.


“Heh! Nggak mau ke restoran nih? Sekalian aja deh, aku nebeng sama kamu,” ajak Kevin.


“Kamu nggak jagain istri? Kasihan kan bayimu belum 2 bulan!” tanya Reski, alamat menolak. Si bule kalau di mobil, sekalinya sudah berdongeng susah berhentinya.


“Besok itu anniversary pernikahan kami yang pertama, jadi aku mau buat kejutan untuk Maya!” ujar Kevin tersenyum.


“Ya ya ya …,” ucap Reski pasrah, tapi aku mandi dulu. Tadi repot ngurusin Disa ke sekolah.

__ADS_1


"Aku lagi ngebayangin murid di sekolah diapain sama dia ahahah," ucap Kevin membayangkan.


Setelah mandi, keduanya pun pergi bersama-sama menuju restoran. Rencana Disa untuk bekerja sama dengan Kevin dalam pengembangan restoran berjalan mulus. Kini, restoran dan kafenya di Jakarta sudah dikelola oleh Fira dan perusahaan penerbitan Rahmat, kembali dikelolanya dengan keadaan bertongkat keren.


 


***


Setiba di sekolah, Disa tak bisa mengajar dengan baik dan akhirnya memutuskan untuk tetap berada di ruang guru bersama dengan guru-guru yang kebetulan tidak ada jam mengajar. Sepertinya mengandung anak Reski cukup melelahkan.


“Masih mual-mual ya, Bu Disa?” tanya seorang guru. Novalisa Puteri, nametag-nya menempel di saku kemeja kanan.


“Iya, mual banget nih, Bu Nova,” jawabnya terdengar lesu.


“Morning Syndrome itu, Bu!” jawab seseorang lainnya.


“Iya, kata Ibu Maya juga begitu,” jawab Disa mengoleskan minyak kayu putih ke kedua telapak tangannya lalu menggosok dan menghirupnya.


“Banyak istirahat aja, oh ya anaknya Bu Maya namanya siapa sih? Lupa aku,” tanya Bu Nova.


“Namanya Naurah,” jawab Disa sambil memperbaiki hijabnya.


“Nanti anak ibu Disa mau diberi nama siapa?” tanya orang itu di sebelahnya.


“Aah … Masih jauh lah. Bu! Perut saya baru 3 bulan juga!”


“Kalau lagi hamil. Semuanya harus sudah direncanakan, Bu! Biar tidak buru-buru."


“Iya. Kalau cewek sih, saya maunya Nazifah entar dipanggilnya Zizi, kan lucu! Tapi, suami saya maunya cowok, Bu,” ucap calon ibu itu dengan senyuman yang mekar, seolah lupa akan lelahnya.


"Bagus itu."


"Tapi, suami saya nggak mau. Katanya kalau anaknya berantem di sekolah nanti namanya diolok-olokin. Jijik, gitu." Disa melemah.


"Lah kok bisa?" tanya ibu Nova.


"Kan namanya Zizi." Tawa para guru yang berkumpul pecah sudah mendengar jawaban Diaa.


“InsyaAllah anaknya cewek ya, Bu! Semoga sehat sampai hari H. Diberi kelancaran juga,” ungkap salah seorang guru menyemangati.


“Aamiin!” Kompak semuanya.


“Oh ya, Bu?”


“Iya?” Disa menengok pada Bu Guru di seberang meja.


“Nanti bawa berkas sama-sama dengan saya ya Bu, buat ujian CPNS-nya," pinta orang itu. Disa mengangguk setuju.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2