
Pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
***
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
__ADS_1
kosong
kosong
***
Di suatu malam yang dingin dan terkesan mendung, tapi tak ada hujan yang jatuh. Mungkin pula tak adanya hal-hal ringan maupun hal berat, yang mampu menghambat kaki berhak tinggi dan sedang coba melangkah keluar itu.
Dengan tertatih, sepasang sepatu heels yang terpasang indah di kaki jenjang wanita berpakaian formal itu, terlihat dipenuhi debu dan tanah menyiratkan betapa lukanya yang sangat amat dalam.
Disa pergi ke suatu tempat, di sebuah kompleks pertokoan dia melihat sebuah restoran yang terlihat tengah sibuk tapi tidak terlalu ramai. Disa pun menunggu di depan restoran itu, menunggu dengan manis sampai salah seorang pelayan wanita datang dan membalikkan tulisan Open menjadi Close.
Seorang pria berpakaian pelayan yang melihatnya pun menghampiri dan menyapanya, “Ibu Disa?”
“Ya,” jawabnya terkejut dari lamunan panjang.
“Lagi mampir ya, Bu?” tanya pelayan itu lagi.
“Eh, iya! Pak Reski ada?” ucap Disa masuk dan memilih sebuah meja di samping jendela kecil di sudut kanan. “Bisa dipanggilin nggak, saya pengin ngomong!” pinta Disa memasuki restoran.
“Iya!” ucap Disa membetulkan dan merapihkan bunga yang berada di atas meja. Tampak kikuk.
Tak lama berselang seorang pria dengan tampang pas-pasan dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau tua datang menghampirinya. Mereka duduk dan mengobrol menghabiskan waktu makan malam bersama.
“Sekarang, inilah yang menjadi satu-satunya tempat aku bergantung, kalau-kalau nilai jual saham perusahaan benar-benar jatuh. Karena dengan begitu otomatis perusahaan itu bukan milikku lagi!” ucapnya pada manager restoran sambil meminum jus jeruk dengan perlahan-lahan dan disertai embusan napas yang perlahan pula.
“Memangnya saham kamu di perusahaan itu benar-benar anjlok ya? Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi?” tanya Manajer itu.
“Iya!” singkat Disa lemas.
“Seberapa banyak?” tanya Manajer itu lagi.
“Mungkin cukup untuk nutupin hutangku di bank!” jawab Disa tertunduk.
__ADS_1
“Terus ke 3 Coffee shop kamu yang lain mau diapakan?” sidik Manajer.
“Aku nggak tahu, Res? Mungkin aku jual aja, buat beli rumah baru!” jawabnya kurang yakin dan terkesan bingung.
“Semuanya?”
“Iya, mungkin!”
“Satu aja boleh kan? Jangan kelihatan banget lah begonya,” tawar sang Manajer. "Dan, oh ya, jangan pernah menganggap kesuksesan itu sesuatu yang harus dimiliki, kamu harus tahu kesuksesan itu sesuatu yang harus dirasakan, karena sukses juga tidak akan abadi. Untuk itu sukses bukan milik kamu saja."
“Iya deh, iya!” lanjutnya mengiyakan terkesan malas menyimak.
“Tenang aja ya. Meskipun sekarang ini pemasokan restoran kita lagi nggak bagus nasibnya, tapi aku minta sama kamu. Jangan jual tempat ini! Oke?” ungkap manager itu sambil mengeluarkan sebuah amplop. Disa menangguk setuju, “Ini!” lanjutnya menyerahkan amplop tersebut kepada Disa dengan wajah yang menenangkan.
“Iya …,” jawab Disa sambil mengulurkan tangan putihnya untuk mengambil amplop tersebut. “Ini penghasilan bulan ini ya?” lanjut Disa sesaat setelah melihat isi amplop itu.
“Iya bu, Bos!” jawab Manajer yang dipanggilnya Reski itu.
“Makasih ya …. Oh ya, upah karyawan sudah kamu bayar, kan?” tanya Disa sambil menghitung uang yang terdapat dalam amplop itu.
“Iya, sudah kok, dan aku juga sudah ambil bagian kok!” jawab Reski santai.
“Oh, makasih ya!”
“Iya. Tapi, maaf ya! Aku cuma bisa kasih tunai dan nggak bisa kasih dalam bentuk cek!” ucap Manajernya.
“Heem, iya, nggak apa-apa kok, kamu tahu kan semua akun rekeningku juga udah disita sama pihak bank atas suruhan si Anwar br*ngsek itu!”
“Aku heran sama Pak Anwar, kenapa dia begitu ingin menjatuhkan kamu?”
“Entahlah! Mungkin dia ngefans kali,” ucapnya bercanda. “Ok, yaudah aku jalan dulu ya!” lanjut Disa berdiri berlalu meninggalkan meja.
***
__ADS_1
Bersambung
Tinggalkan jejak kamu ya, jangan lupa