
“Iya,” ucap pak Agus sambil meniru gaya istri bos yang sedang diceritakannya kepada Sabrina.
“Oh, jadi bapak ini pak Agus ya? Asistennya pak Rahmat Alim, Owner perusahaan penerbitan itu? Iya?” tanya Sabrina menyela cerita orang itu. Sabrina menjadi sangat kacau, hatinya seperti ada balon yang akan meletus.
“Iya ...," jawab orang itu tersenyum.
“Tapi, Bapak kenapa bisa ada di sini sih?” Sabrina penasaran.
“Oooh itu ….”
“Nggak ada yang terjadi kan, Pak? Semua baik-baik saja kan ya?” risau Sabrina.
“Ada!”
“Apa?” ucap ibu Sabrina ikutan penasaran.
"Begini, sebelum pengumuman itu, ibu Fira kan sudah memilih dua orang, dan menunda satu orang lagi. Sebab saya baru bisa menemui dua orang yang lainnya. Dari kalian berlima." Pak Agus memulai ceritanya lagi.
“Loh memangnya kenapa?” tanya Sabrina mulai bingung.
“Mereka berdua itu, ternyata sudah mengirimkan naskah mereka ke penerbit yang lain. Mereka melanggar syarat lomba. Karena itu saya tidak mau ambil resiko, dengan sembarang memenangkan kamu!” ungkapnya. “Makanya, waktu hari pengumuman itu nama kamu tidak ada di daftar nama para pemenang, karena saya diminta untuk mendapatkan satu dari tiga nama yang sudah ditugaskan oleh pak Rahmat kepada saya, tapi saya baru bisa ketemu kamu sekarang ini,” lanjutnya.
“Ibu nggak ngerti Sab,” bisik ibunya. Sabrina tersenyum sembari mengangguk ringan.
“Tapi, kok bapak bisa tahu saya di sini? Dan, kenapa ke sini? Kenapa saya?” tanya Sabrina. Sebenarnya dia mulai mencurigai sesuatu, tapi hanya sedang menahan diri.
“Saya sempat ke kosan kamu, waktu saya sampai di sana, saya lihat kamu keluar dari kos-kosan. Jadi, maksud saya itu mau mengintai kamu loh, jangan-jangan kamu juga punya naskah salinan seperti dua orang itu! Terus mau dikasih ke penerbit lain,” jelasnya.
“Oooh … Jadi, pak Agus ini--”
“Saya itu sudah memutuskan, kalau kamu adalah orang yang cocok untuk menjadi orang ketiga," potongnya.
“Hah? Orang ketiga, Pak?” tanya Sabrina keheranan.
“Maksud saya itu pemenang ketiga!” ralatnya tertawa.
“Ooh ... tapi yang benar nih, Pak?”
“Iya ... selamat ya ….”
__ADS_1
“Tapi, apa benar bapak ngikutin saya sampai ke sini?” Pak Agus terpaksa mengangguk malu. “Oooh …,” singkat Sabrina tertahan, dilipatnya bibir agar tak tertawa.
“Oohh, kayak memata-matai anak saya, gitu ya, Pak?” sela ibu Sabrina.
“Iya, Bu seperti itulah ... Hehe tapi soal yang tadi itu saya bukan lagi akting menyamar kaya di TV-TV itu loh, Bu. Bukan. Saya memang benar-benar mau mandi, habisnya dari kemarin nggak mandi-mandi. Tapi, karena saya malu untuk bilang jadi saya ngomongnya begitu aja deh ...,” terangnya membuat Sabrina dan ibunya tertawa.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Sabrina.
"Kamu itu harus ke kantor besok! Jangan lupa."
"Iya, Pak!"
"Loh, bukannya masih libur?" sela ibunya.
"Demi pekerjaan baru, nggak apa-apa kan kalau aku pulang ke kosan lebih cepat?" Ibu Sabrina mengangguk setuju dengan pertanyaan itu.
***
Sebelum meninggalkan kediaman Sabrina, pak Agus cukup prihatin dengan kondisi adiknya yang sangat kurus. Pak Agus pun memberikan sebuah amplop kepada Sabrina, yang belakangan diketahui adalah uang muka atas karangannya atau lebih pantas dibilang sebagai hadiah juara ketiga dalam kompetisi itu. Pak Agus pun pergi dari rumah sabrina.
“Ibu kita harus coba bawa Rahayu ke rumah sakit dulu ya," ujarnya senang sambil memberikan uang itu kepada sang ibu.
“Nggak usah, itu buat kuliah kamu saja! Itu kan uangmu. Ibu nggak enak.”
"Nggak aah!" tolaknya lagi.
"Nggak, Bu. Pokoknya uang ini sudah Sab nazarkan untuk berobat Rahayu. Jadi, silakan ibu terima sedikit rezeki dari Allah,” ucapnya sambil menggengam tangan sang ibu serta menatap sang adik yang terbaring lemah.
“Terima kasih ya, Sab!”
Pengobatan yang memakan waktu dan menguras kantong itu memang belum selesai, dia masih harus melanjutkan pengobatan sang adik.
***
Mahasiswa pandai itu kembali ke kota dan kembali kuliah sambil bekerja untuk mengumpulkan uang pengobatan lanjutan sang adik.
Ketika kembali dari kampung halamannya, Sab mendapat panggilan dari perusahaan penerbit, mereka telah menerbitkan bukunya yang bertajuk “Pelangi yang membiru” dan mereka memberikan waktu minimal 6 bulan lebih untuk masing-masing penulis sampai novel terbarunya bisa dicetak dan diterbitkan lagi
***
__ADS_1
Hari ini Sabrina terlihat kurang enak badan, terlalu serius mengetik semalam, hingga telat tidur. Dari luar terdengar suara ketukan pintu disertai suara pria yang memanggil.
Dia segera membuka pintu dan melihat punggung seorang pria berkaos oblong warna abu-abu, tengah merapihkan rambutnya. Dengan wajah abstrak pria itu memalingkan wajahnya ke belakang, menengok ke arah Sab yang sudah membukakan pintu sedari tadi.
“Astaghfirullah hal adzim! Joko, kamu bikin kaget saja iih …,” ujarnya terkejut.
“Aduh maaf ya Sab! Saya itu cuma mau nagih uang kos-kosan aja kok!”
“Iya, Bos, bentar ya.” Sabrina pun masuk mengambil uang dan lekas memberikannya kepada Joko.
Dengan wajah tersenyum kecil, Joko terus memandangi Sab yang mengenakan rok panjang berwarna Green Army dan kemeja tangan panjang berwarna Mustard disertai hijab warna putih yang memang membuatnya terlihat sedikit tomboy.
“Udah sana pergi, apa mau aku yang tutup pintu duluan nih,” ujar Sabrina memecah lamunan Joko.
“Oooh iya, saya pergi dulu ya …,” ucap Joko melanjutkan perjalanan ke kamar yang lainnya tanpa menengok ke belakang lagi.
“Eh bentar, Ko!” cegat Sabrina.
“Kenapa?”
“Kamu itu ada keperluan lain ya?” Sabrina menebak-nebak. Lelaki di hadapannya ini adalah tipikal yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu. Semuanya terlihat jelas.
“Kok tahu sih?” heran Joko.
“Tahu aja!” jawab Sabrina tersenyum. Mengangkat keningnya.
“Sebenarnua, aku tuh pengen ngajak kamu jalan-jalan nanti sore.” Joko tanpa ragu berucap.
“Kemana?”
“Ke taman? Ke pedagang kaki lima? Biar kamu bisa cari inspirasi, dari pada cuma di kamar! Terserah kamu aja sih mau pergi kemana,” ucapnya tersenyum.
“Hmmm, yaudah deh nanti sore kan?” Setelah mendapatkan anggukan pasti dari Joko, Sabrina lekas masuk dan melanjutkan tugas kampus yang memang tengah dikerjakannya sedari tadi.
***
Dengan hari-hari penuh harap, gadis yang tumbuh dan besar di lingkungan yang cukup religious ini, terus melanjutkan hidupnya dengan terus menulis beberapa cerita-cerita kecil yang mampu menjadi catatan kecil untuk kehidupannya.
Tak banyak yang tahu kalau kini, Sab bukan hanya tengah memendam cita-cita dan sebuah rasa sakit yang bersamaan selain sebab sang adik tercinta yang dikabarkan kembali harus masuk ke rumah sakit dikarenakan kondisinya yang semakin memburuk, dia juga memiliki masalah yang cukup banyak dan penulis tak tega untuk menjabarkannya.
__ADS_1
***
Bersambung