
Pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
***
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
__ADS_1
kosong
kosong
Disa terbaring lemah, kegilaannya benar-benar telah habis. Semangat dab emosinya sudah terperah dalam kekalutan yang tertahan. Kesuksesan yang telah direngkuh selama bertahun-tahun sedang berdiri di ujung tanduk. Disa pun perlahan terlelap, memeluk guling dengan mata yang tertutup rapat. Seolah takut, hujan akan membangunkannya.
***
Pagi ini, saat umat muslim disibukkan dengan salat subuh berjamaah di masjid, Disa justru harus mempersiapkan diri pergi ke kantor untuk menghindari macetnya kota. Dirinya kini tengah mencoba mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menimpa.
Masalah yang terasa berat, setelah semua kenikmatan dunia telah dinikmati.
“Mungkin hari ini akan jadi hari terakhirku bekerja sebagai Owner di perusahaan.” Kalimat itu terus-menerus menghantuinya sepanjang perjalanan menuju kantor.
Dua buah mobil mewah yang terparkir di garasinya tak bisa digunakan lagi, karena sudah lebih dari seminggu stempel manis dari bank swasta menempel di sudut kaca mobil.
‘Disita’ adalah tulisan menyebalkan yang sering membuatnya susah tidur akhir-akhir ini dan juga mengharuskannya menaiki transportasi umum.
Semua tragedi ini, membuatnya sering tergingat kembali masa-masa saat masih susah dulu. Tulisan itu juga menghantui hampir seluruh properti yang dimiliki Disa, seperti rumah dan sejumlah kafe. Beruntung beberapa di antaranya tidak disita oleh bank.
***
Hampir semua pegawai kantor yang bertemu dengannya menyapa lembut. Seolah bahagia akan berita yang menyebar dari mulut ke mulut. Disa mencoba tersenyum, walau hanya senyuman ringan untuk menanggapi sapaan para pegawai.
“Bagaimana mungkin mereka masih bisa bersikap seperti itu padaku? Sementara, sebentar lagi aku nggak akan jadi atasan mereka atau mungkin mereka justru senang kalau aku keluar dari sini!" gumamnya bercampur risau di dalam hati.
Perusahaan yang telah kurintis selama hampir empat tahun ini, pikirnya lagi.
Sambil mengelilingi lobi dengan tatapan yang penuh harap dan kesedihan.
Tak bisa disembunyikan memang, kini Disa terlalu lelah berpura-pura tegar. Dia hanya bisa menahan haru di sudut mata dan menelan air liur. Miris!
Setiba di ruang kerja, Disa terkejut mendapati seorang pria paruh baya dengan jas hitam. Pria itu duduk di kursi kerja Disa sambil membelakangi meja. Miris memang kelihatannya, kursi tahta yang didudukinya selama bertahun-tahun, kini tengah dijajah oleh orang lain.
__ADS_1
Tahu siapa pria gemuk itu. Disa mundur perlahan dan segera berbalik menemui sekretaris yang berada tepat di depan ruangannya.
“Eh, Ibu. Maaf saya lupa menyapa. Selamat pagi, Bu,” ucap sekretaris tersenyum lebar.
“Nggak apa-apa! Lia, ngapain orang itu ada di sini?” tanya Disa menunjuk ke arah ruangannya.
“Ooh …. Bapak Anwar ya, Bu?” tanya sekretarisnya sigap sambil menengok ke arah ruang kerja.
“Iya, siapa lagi!” serunya ngotot.
“Ooh, katanya akan melakukan meeting mendadak hari ini.”
“Meeting mendadak, rapat 'kan maksud kamu? Kenapa?”
“Iya, Bu, rapat. Kalau itu saya juga kurang tahu. Aaah .… Katanya sih, sudah beberapa hari ini pak Anwar mencoba untuk menghubungi Anda. Namun, Anda sulit sekali untuk dihubungi. Jadi, tadi katanya dia datang tanpa pemberitahuan, supaya ...,” celoteh sekretarisnya tanpa jeda napas.
“Udah, udah! Jam berapa meeting-nya?” selanya.
“Meeting akan dimulai setelah makan siang, Bu.” Mendengar itu Disa hanya bisa menarik napas panjang. Hingga akhirnya. Suara yang tak diiginkan terdengar amat jelas. Seolah sudah ada di belakangnya.
“Disa setiawan!”
Suara menggelegar itu pun mengagetkannya, Disa perlahan menoleh dan mencoba tersenyum ramah.
"Sialan!!!" rutuknya kesal dengan benak penuh makian.
Disa akhirnya berbalik dan menatap orang itu, dimulai dari atas kepala hingga ujung kakinya. Dia menatapnya cepat, bahkan tanpa terjadi kontak mata yang signifikan. Disa segera menunduk.
Sekilas, terlihat pria paruh baya yang berdiri dikisaran usia akhir 50 tahunan. Dengan lemak di sisi kiri dan kanan, serta uban di atas kepala. Semua ciri-ciri pertanda betapa senang kehidupannya di dunia ini dengan nikmat yang diberikan Allah SWT. Nikmat dan hidup yang patut untuk disyukuri.
“Eh, Bapak?” ucap Disa sedikit gugup. Orang itu hanya menatap dingin lalu mendekat. “Meeting pemegang saham, nanti siang ya Pak?” lanjutnya.
“Kenapa kamu bersikap seperti ini?” tanya orang itu menyelidik, Disa mendadak bungkam.
__ADS_1
“Menghindar? Hah!” bentak orang itu memukuli meja, membuat mereka yang ada di sana terkejut. “Asal kamu tahu ya ... meskipun tanpa adanya tanda tangan kamu. Saya tetap bisa