
Aku menatap gambar Ibu di ponsel. Mata penuh kasih sayang dan senyumannya yang begitu teduh, sungguh amat kurindukan. Sudah setahun ini, aku indekos gratis di rumah Bu Fira.
Segala kebutuhan pun dipenuhi, bahkan Bu Fira sesekali memberikan uang saku untuk dikirimkan kepada Ibu di kampung. Dalihnya sih adalah sebagai uang terima kasih karena sudah menjaga Sefti dan Seri. Tapi, menurtku itu benar-benar tampak seperti kemurahan hati darinya.
Aku sangat berterima kasih kepada Allah, karena telah mempertemukan sosok bernama Disa Setiawan dan Fira Setiawan itu. Kakak beradik, baik hati yang punya dua watak dan kepribadian yang berbeda.
Aku bertemu Kak Disa di sebuah bus, saat aku sedang pergi menuju tempat untuk mengikuti lomba menulis sebuah perusahaan penerbitan lokal.
Kemudian, bertemu kembali secara tidak sengaja dengan Kak Disa di sebuah restoran. Aku pun menjadi dekat dengannya, karena Kak Disa mengaku telah menganggap diri ini seperti sosok yang telah mengangkatnya dari keterpurukan.
Padahal, seingatku. Aku hanya memanggilnya dengan sebutan Mbak dan memintanya membalas ucapan salam jika dirinya adalah seorang muslimah. Itu saja.
Seperti takdir yang sudah Allah gariskan. Aku bertemu dengan Bu Fira saat mengikuti lomba menulis tersebut. Bu Fira merupakan direktur sementara saat itu. Yang tidak kusangka merupakan kakak dari Kak Disa, aku mengetahuinya saat kami berpapasan di rumah sakit.
Dengan begitu, aku pun menjadi dekat dengan Sefti, putri sulung Bu Fira saat beberapa kali datang ke rumah sakit. Rumah sakit tempat Bu Maya, seorang pejuang kanker dirawat. Sahabat lama Kak Disa.
***
Besok pagi, Sefti akan pergi menjemput Tantenya di bandara. Dia terlihat sangat bersemengat. Sefti bahkan sempat googling beberapa lawakan untuk mencoba menghibur Tantenya nanti.
Aku dan Sefti, malam ini tidur sekamar. Katanya dia akan sangat rindu padaku saat aku akan pulang ke kampung minggu depan. Sejujurnya, aku sangat iri pada Sefti, karena tinggal di lingkungan yang cukup bagus dan punya keluarga seramah ini. Berbanding terbalik dengan keluargaku yang punya bom waktu di dalamnya.
***
Sefti masih terus bermain game dari ponselnya, sambil sesekali multitasking membalas pesan dari pacarnya, si Rian.
"Dduh, Rian ini ganggu banget sih!" gerutunya dengan bibir monyong. Aku tertawa melihat kelakuan Sefti.
"Bilang ke dia kamu tuh lagi sibuk, jangan ganggu dulu." Aku menyarankan.
"Iya, Kak. Udah kubilangin. Tetap aja dia nge-chat melulu di WA. Nyebelin banget sih! Gak tahu apa orang lagi main cacing!"
"Main terus. Bukannya belajar. Kamu tuh udah kelas dua belas. Jangan malas-malasan dong!"
"Baru masuk kelas dua belas juga!" jawabnya tanpa melihatku. "Ishh Rian nyebelin banget sih!" lanjutnya berteriak.
Segera, ponsel ber-case ungu itu diletakkan ke telinga. Sefti berjalan menuju toilet, dan mulai marah-marah tidak jelas pada sosok di balik panggilan teleponnya.
__ADS_1
Sefti memang menjadi sangat dekat denganku. Aku juga mulai menyayanginya seperti adikku sendiri.
Rahayu, adikku yang mengidap penyakit hepatitis. Usianya lebih muda dari Sefti. Dia bahkan tak bisa merasakan bangku sekolah karena sakit yang mendera.
Ingatanku beralih ke hari itu. Sebuah hari, di mana aku pada akhirnya bisa merasakan apa itu yang disebut keruntuhan duniawi.
***
Hari itu, usai membujuk Bu Maya, teman dari Kak Disa untuk melakukan operasi keduanya. Ketika kembali ke kamar rawat inap Rahayu. Aku disambut oleh Ibu yang sedang duduk di sofa berwarna abu-abu gelap, sambil menangis dengan suara tertahan.
Di sebelah ranjang Rahayu, ada sosok yang mendadak membuatku kesal. Tomi, Kakak laki-lakiku. Anak pertama dari keluarga kami. Sosok mengerikan yang suka memukul Ibu dan aku. Sosok yang kubenci. Tetapi, anehnya sosok yang juga kurindukan.
Wajah bagian kirinya terluka, sepertinya luka baru.
Apa yang dilakukannya di sini? Apa dia sudah keluar dari penjara? Kapan?
"Kamu nggak bilang kalau Rahayu masuk rumah sakit? Jijik banget ya pergi ke rutan, sampai gak bisa ngabarin ini?" ungkapnya dengan suara cukup keras.
"Maaf!"
"Hey! Dapat uang dari mana buat biaya rumah sakit?"
"Dapat uang dari mana? Hah! Buat bebasin aku aja kamu nggak mau! Dasar Pe***ur!"
"Hadiah kompetisi menulis!" Aku berjalan menuju sisi ranjang yang lain. Tubuhku memberi sinyal untuk menjauhi orang itu.
"Siniin uangnya," pintanya dengan nada sedikit lembut.
"Udah aku pakai buat biaya adminstrasi!"
"Mana tas kamu?" Dia berjalan ke arahku.
"Mau apa?" Aku menyembunyikan tas di belakang badan. Orang ini malah menarikku. Dirampasnya tas yang jelas-jelas bukan lah miliknya. Aku kesal.
Dia mulai membongkar tas, ditumpahkannya seluruh isi tas ke ranjang tempat Rahayu beristirahat. Rahayu bahkan terbangun saat sebuah buku dan ponsel jatuh di atas selimut yang menutupi kaki kecilnya.
Aku semakin geram dibuatnya. "Cari apaan sih?"
__ADS_1
"Duit!"
"Eh, kamu udah gila ya?"
"Aku udah bongkar-bongkar rumah, tapi nggak ada satu pun buku rekening. Nah, ketemu kan!" ujarnya memperlihatkan buku rekening berwarna hijau dan kartu ATM kepadaku. "Password-nya apa?" lanjutnya. Aku hanya diam.
"Password-nya apa?" tanyanya sambil mencengkeram tanganku.
"Tomi! Jangan begini, Nak. Itu uang untuk pengobatan Rahayu."
"Balikin buku rekeningnya. Itu udah kosong. Kamu bisa ambil sisa uang pembayaran adminstrasi di dompetku itu. Aku nggak bohong. Masih ada 650.000 di situ."
"Nih!" Dia melemparkan buku rekening ke dinding. Aku sesekali melihat ke pintu, jangan sampai ada yang melihat kejadian memalukan ini. Aku benci dia!
Kak Tomi seperti orang kerasukan melihat lembaran uang 50.000 di dompetku. Habis sudah. Sekarang aku harus menyembunyikan buku rekening ini biar tidak bisa ditemukan oleh makhluk mengerikan itu.
"Buat beli obat Rahayu nih! Sisanya yang ini buat aku," ujarnya melemparkan tiga lembar uang 50.000 rupiah. Lalu, menyentuh kepalaku kasar.
"Kapan keluar dari rutan?" Aku mencegah langkahnya.
"Bukan urusan kamu!" Suaranya kembali meninggi.
"Itu jadi urusan aku ya. Selama kamu masih pulang ke rumah, selama itu kamu masih urusan aku!"
Kak Tomi berbalik, dia menyentuh telinganya beberapa kali. Tampak pula memutar bola matanya, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan.
Tangan kirinya, dengan cepat menuju ke arahku.
Plaakk!
Aku yang terpejam, tidak merasakan apa pun. Saat membuka mata ini, Ibu telah berdiri tepat di hadapanku. Dia menangkis pukulan Kak Tomi. Tangis ini pun mendadak pecah.
"Ibu!" Aku memeluknya dari belakang.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Ibu berbalik dan memelukku.
"Siapa suruh berdiri di situ, sint*ng!" ujar Kak Tomi sambil memukul sesuatu dengan keras. Tanpa rasa bersalah, dia segera pergi meninggalkanku dan Ibu.
__ADS_1
***
Bersambung