
Adzan Subuh berkumandang. Selesai salat, sang ibu lekas menuju ke kamar Sefti, untuk melihat wajah puterinya. Dari pintu, tampak wajah Sefti yang memucat karena sedari malam mogok makan.
Ingin rasanya memeluk dan menghangatkan tubuh si buah hati. Tapi, kini dia harus konsisten dalam bersikap tegas.
“Sef! Bangun! Ke sekolah.” Fira mengelus rambut yang berantakan itu.
“Bunda?” ujarnya heran dan segera menepis tangan sang ibunda yang sedang mengelus kepalanya.
“Bangun! Ke sekolah! Awas kalau terlambat!” lanjutnya sedikit panik sambil meninggalkan Sefti.
Selama beberapa hari ini Sefti memang harus bangun pagi-pagi sekali untuk berjalan kaki menuju ke pangkalan ojek dengan begitu dia bisa segera pergi ke halte bus.
Setibanya di sana, ternyata dia sudah janji dengan teman-temannya.
“Ini barangnya, lu harus coba!” seru anak perempuan dengan pakaian kurang rapih.
“Tapi, ini apaan?” tanya Sefti takut.
“Kenapa? Lu udah nggak mau jadi anak gaul lagi?” tanya salah satu dari tiga temannya.
“Bukannya gitu, udah seminggu lebih nyokap gue nggak ngasih gue uang jajan!” terangnya sambil mengeluarkan dompet tipisnya.
“Jual hp saja Sef, barang-barang lu kan keren-keren semua. Orang kaya!”
“Enggak ah! Gue takut, entar gue kena marah lagi. Kemarin aja kan, yang pas gue nggak pulang ke rumah itu dan besoknya pulang telat itu, kan ngefeknya ke dompet gue juga."
“Yang mana …?” tanya temannya.
“Yang itu loh, waktu gue pulang besoknya dalam keadaan mabuk, masa kejadian seminggu yang lalu aja udah pada lupa sih, kalian. Gue juga kena damprat habis-habisan ... Jadinya, nggak lagi-lagi deh."
“Aalah gitu doang! Parah lu,” seru teman-temannya.
“Nggak! Gue nggak mau ikut kalian lagi! Gue lebih butuh orang tua gue dibanding lu semua!” ujarnya nekat, berlalu meninggalkan teman-teman yang hampir satu semester ini menjadi temannya.
“Sefti!” teriak seorang temannya lagi.
__ADS_1
“Udah lah ... Lala. Kita cari orang lain aja, banyak orang di sini. Umpetin itu barangnya,” ucap seseorang berbadan kurus kering sembari menahan salah satu temannya.
Selama berada di dalam bus Sefti terus berpikir akan apa yang sudah dilakukannya akhir-akhir ini.
"Gila! Itu kan narkoba, betul apa kata Rian kalau mereka bukan teman yang baik. Jadi ngerasa bersalah sama bunda nih," pikirnya menyesal.
***
Dua minggu berlalu, Sefti mulai bersikap normal kepada ibunya dan sudah tidak sering keluar rumah jika bukan ada tugas kelompok mendesak yang harus diselesaikan.
Ibu yang ditakutinya pun kini mulai membangun jarak kedekatan dengannya lagi. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Sefti selama beberapa bulan terakhir ini. Ia menyidik apa saja yang dilakukan Sefti selama berada di kelas sepuluh itu.
“Astaga! Jadi selama ini uang jajan yang bunda kasih ke kamu, semuanya cuma buat teman-teman kamu yang sok kaya itu?” interogasi ibunya di tengah percakapan mereka siang itu.
“Iya, abisnya di sekolah nggak ada yang mau temenan sama Sefti, Bun, selain mereka. Teman-teman di sekolah bilang karena Sef orang kaya, mereka pikir temannya Sefti ya harus yang orang kaya aja!”
“Jadi, cuma mereka yang mau berteman sama kamu? Begitu? Makanya kamu mau dibodoh-bodohin haa ... dijerumusin begitu!” omel sang ibu tanpa jeda.
“Iya, maaf!”
“Astaga, Sefti!” Sefti memasang wajah kalut. “Bunda sekolahin kamu biar jadi orang pintar, biar jadi orang berbudi, berakal dan bijaksana. Supaya kamu itu belajar cara untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar! Mana yang hak dan yang bathil? Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan?”
“Apa? Obat? Narkoba maksud kamu?”
“Mungkin! Gak tahu deh, apaan,” jawabnya gugup.
“Astaga! Kamu udah jadi anak yang kelayapan, nilai jeblok, belajar mabuk-mabukan dan hampir aja ... astaga .... Tobat nak ... tobat,” omel sang ibu sambil memukul ringan ke arah bahu Sefti.
“Iya, Sefti udah tobat kok, Sefti kapok! Sefti nggak bakal nuntut uang jajan kok, buat menebus kesalahan itu. Tapi, bunda jangan marah-marah ke Sefti lagi ya … Bunda maafin Sefti ya?” pintanya sambil memeluk sang ibu.
“Ya udah! Jangan main-main sama mereka lagi! Awas aja kalau sampai ketahuan! Pokoknya sampai kamu selesai kuliah nanti pun, kamu harus fokus belajar jangan main-main, jangan pacar-pacaran."
“Iya!”
“Jangan coba-coba deketin mereka lagi, makanya di sekolah juga kamu tuh jangan sok kaya. Biar kamu tuh punya banyak teman,” nasihat ibunya penuh dengan semangat.
__ADS_1
***
Saat pulang sekolah, Sefti tidak sengaja melihat foto keluarga di ruang tamu dan teringat sesuatu tentang sang bibi. Ia pun lekas menceritakan hal yang sedang menimpa sang bibi saat ini kepada ibunya. Mendengar cerita dari anaknya itu, ibunya begitu terkejut karena sang adik tidak memberitahukan apa-apa.
“Jadi bunda sudah tahu kalau tante Disa bangkrut?” tanya Sefti.
“Nggak juga sih, tante kamu cuma bilang ke bunda, kalau bisnis restorannya lagi kurang laku dan perusahaannya juga lagi ada masalah. Udah gitu aja! Dia nggak pernah bilang apa-apa soal kebangkrutan atau properti yang disita oleh bank,” jelas ibunya sedih.
Wah gawat! Bunda nggak tahu. Kasih tahu, nggak ya? Batinnya bingung, mengingat janji yang dibuat kepada sang bibi.
“Maafkan Sefti ya, Bunda, Sefti telat ngasih tahu ini ke bunda!” lanjut Sefti dengan wajah penuh penyesalan. “Sebenarnya, tante Disa nggak mau soal propertinya yang disita bank sampai diketahui bunda, hanya saja karena Sefti waktu itu lupa bilang soal kebangkrutan. Jadi, sekalian aja soal penyitaan Sefti bilang juga deh. Ini semua salah Sefti!” lanjutnya menyesal.
“Nggak kok, ini bukan salah kamu, bunda mau telepon tante kamu dulu deh,” sela ibunya bergegas dengan sedikit panik. Tak berapa lama, ponsel berwarna navy sudah menempel di dekat telinganya.
“Halo! Assalamualaikum!” ucap Fira..
“Walaikumsalam!” jawab wanita dengan suara yang terdengar lemas.
“Dis, kamu di mana sekarang? Kakak jemput kamu ya?”
“Loh ada apa kak? Tiba-tiba?”
“Sefti bilang kalau rumah dan semua properti kamu disita bank!”
“Enggak kok! Aku masih di rumah sekarang!” ucap bibinya terdengar gugup.
“Dis, kalau kamu ada masalah, kamu cerita dong sama kakak?"
“Iya, tapi--”
“Pokoknya kamu tungguin aja, entar kakak datang ke sana dan kamu harus memberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi.”
“I-i-iya. Ya udah deh kak! Aku mau, aku ada urusan sebentar nih. Nanti aku hubungi lagi.”
“Ya udah … kamu tungguin ya …,” ucapnya menutup telepon. Setelah menelepon sang adik, ibu Sefti berpamitan pada suaminya dan meminta izin untuk mengajak Disa sang bibi untuk tinggal kembali di rumah mereka.
__ADS_1
***
Bersambung