
Jakarta sibuk. Maya dan segala keraguan menerjang benak Disa.
Setiba di Jakarta, Disa memutuskan untuk lekas menemui Maya di rumah sakit, ia tak ingim membuang waktu mampir ke rumah minimalis yang bahkan tak dirindukannya lagi.
Saat tiba di sana, dia segera bertanya pada bagian administrator tentang letak ruangan Maya. Enggan rasanya untuk menghubungi Reski atau Ariana. Bahkan menanyakan letak ruangan pada Fira, Disa takut.
Saat berada tepat di samping pintu ruangan Maya, Disa melihat dua anak perempuan yang tengah duduk diam dan tidak menyadari akan kedatangannya.
Disa mengabaikan anak-anak itu dan bergegas masuk ke dalam. Disa menjumpai Ariana tengah menatap kosong ke arah luar jendela.
“Assalamualaikum!” ucap Disa mengagetkan Ariana.
“Disa?” panggilnya terkejut yang hanya disambut dengan tatapan ringan dari Disa. Ariana terkejut akan dua hal. Disa yang datang lebih cepat dan Disa yang mengucapkan salam. “Kapan kamu datang?” lanjutnya tersenyum.
“Baru aja kok!” ucap Disa santai sambil melihat ke arah Maya yang sedang tertidur pulas
“Oh ya? Operasi-nya lancar 'kan?” tanya Disa menghampiri Maya
“Alhamdulillah lancar. Tapi, kata dokter Maya harus dioperasi sekali lagi, setelah itu Kemoterapi,” jawabnya duduk di dekat ranjang Maya.
“Kenapa harus dikemoterapi?”
“Duduk dulu!” linta Ariana.
“Jangan basa-basi, bilang aja!” ketus Disa sembari duduk tepat di belakang Ariana.
“Kata Dokter, biar Maya bisa benar-benar pulih.”
“Ooh…,” jawabnya Singkat yang membuat Ariana sedikit kesal.
“Oh ya, kamu udah hubungin Reski, nggak?” tanya Ariana penasaran dan mengalihkan pembicaraan yang dingin itu.
“Nggak! Kenapa? Hubungannya sama kamu apaan?”
“Nggak kok, aku cuma kasihan aja sama Reski! Dia kurusan semenjak kamu pergi!”
“Bagus dong! Hitung-hitung diet!”
“Aku dengar kalian udah putus? Apa itu benar?”
“Iya, kayaknya,” jawabnya mengangguk.
“Kenapa?”
“Aku ingin fokus menjadi sahabat buat Maya, ada yang salah?”
“Nggak kok!”
“Oh ya?” ucap Disa menatap Ariana.
“Iya.”
"Kamu nggak cemburu? Aku kan jomblo?"
"Apaan sih!" Ariana menjawab penuh kekesalan. Bisa-bisanya Disa bilang begitu.
“Yang di luar anak kamu?”
“Iya, Shania dianterin mamaku seminggu setelah Operasi Maya. Dia nanti bakalan sekolah SMP di sini”
__ADS_1
“Oh!”
“Kenapa?”
“Jadi, namanya Shania? Mirip Aris ya,” ucap Disa tersenyum.
“Oh ya? Orang-orang bilang juga sih emang mirip Aris!” jawab Ariana takut-takut.
"Dis ...." Suara lembut sedikit parau menggema tiba-tiba. Perbincangan canggung keduanya terhenti dengan Maya yang terbangun dari tidurnya.
“May? Kamu ingat aku?” tanya Disa.
“Ya iyalah, Bu Guru!” jawabnya tersenyum.
“Syukurlah!” jawab Disa tertawa sambil melirik Ariana.
“Tapi, selama 4 hari paska operasi dia nggak ingat kita! Sama sekali nggak ingat," ucap Ariana mengejutkan Disa.
“Dan kamu nangis-nangis 'kan? Tapi, aku udah ingat kok! Tenang aja,” sela Maya mencegah omelan berjuta pertanyaan dari mulut Disa.
“Syukurlah!” Disa memegang tangan Maya.
“Makasih ya Riana, udah jagain Maya baik-baik!” ucap Disa tersenyum.
“Iya, tapi Kak Fira juga sering datang dan menginap di sini kok!” ucap Ariana tersenyum membalas.
“Kenapa kamu melakukan ini semua?” tanya Maya.
“Soal apa? Aku nggak tahu!” Jawab Disa tersenyum.
“Kamu nggak seharusnya ikut campur sampai sejauh ini!” lanjut Maya.
“May, ada seorang anak yang bilang sesuatu ke aku!”
“Intinya, lukamu adalah dukaku, itulah sahabat dan begitulah cinta!” ucap Disa puitis. Maya tertawa.
“Oh ya? Ngomong apaan sih. Terus anak-anak apa kabar?”
“Mereka baik-baik aja kok! Mereka kangen banget sama kamu!” jawab Disa menghibur.
“Oh ya? Yang benar nih?” jawabnya tak percaya.
“Iya, makanya cepat sembuh dong….”
"InsyaAllah!” jawab Maya dan Ariana Kompak yang disambut tawa ringan dari ketiganya. Pemandangan yang indah, seakan album lama telah dibuka kembali.
***
“Oh ya, Kevin masih di Jakarta loh, dia akan balik ke Kanada seminggu lagi! Iya 'kan Riana?” kata Maya sambil duduk di ranjangnya. Perban di kepalanya tampak bersih.
“Oh ya? Kayaknya aku harus ketemu dia dulu deh. Udah lama nggak ketemu, kangen!” hawab Disa tersenyum.
“Oh iya, dia akan ada project di Indonesia, katanya cuma akan menyelesaikan projectnya yang di Kanada dan dia bakal balik ke Indonesia lagi," ungkap Ariana.
Disa mendadak bersemangat. Penasaran sudah akan sosok Kevin. Mungkin hampir satu dekade tak bertemu?
***
Baru tinggal selama dua hari di Jakarta, Disa sudah merasa tidak tenang. Tiba-tiba dia mersakan rindu yang amat dalam terhadap anak didiknya yang nun jauh di sana.
__ADS_1
Bosan berada di rumah padahal jam baru menunjukkan pukul 07:45 pagi. Disa si pengangguran memutuskan lebih baik pergi ke rumah sakit dan menjaga sahabatnya. Daripada hanya di rumah mengobrol melepas rindu dengan pengurus rumah tangganya saja.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Disa mampir sebentar ke rumah kakaknya, Fira. Karena hari ini hari minggu dia bisa kangen-kangenan dengan kedua keponakannya.
“Tante Disa kemana aja sih?” tanya si keponakan terkecil.
“Seri sayang! Kangen ya … Sama tante?” ujar Disa memeluk serta memangku keponakannya itu.
“Iya,” Jawab anak kecil dengan pipi chubbynya.
“Aduh, kok kamu tambah berat gini sih?” candanya.
“Ciye, yang udah jadi guru SMP?” sela Sefti, kakak Seri dengan nada bercanda.
“Iya dong, tante Disa gitu loh! Oh ya, nanti kamu harus naik kelas ya! Awas aja kalau nggak naik kelas! Tante nggak bakal kasih hadian,” ucap Disa pada seri.
“Ok, Tante!” jawab Seri melepas pelukannya dan lekas berlari ke arah ayahnya yang datang didorong oleh Fira di kursi roda.
“Assalamualaikum, mas Rahmat!” Sapa Disa tersenyum.
“Waalaikumsalam, kapan kamu sampai?” tanya Rahmat dengan tenangnya.
“Dua hari yang lalu! Maaf, baru bisa mampir hari ini,” jawab Disa sembari menegur Sefti yang tengah membongkar tasnya,
“Sef!” tegur Fira dengan suara yang lumayan keras.
“Nggak apa-apa kok, Kak!” bela Disa tersenyum.
“Sefti, kamu pikir tante kamu ini habis liburan dari luar negeri gitu! Tante kamu ini kerja, bukan liburan, pakai nyari-nyari oleh-oleh segala!” tegur Fira lagi
“Oh ya … Nanti makan malam di sini ya?” pinta Rahmat pada adik iparnya itu.
“Iya, Mas. InsyaAllag. Kalau gitu aku pamit dulu!”
“Tante?”
“Kamu kenapa Sef? Kedip-kedip gitu matanya?” tanya Disa tertawa.
“Oleh-oleh?” pinta Sefti lagi. Kali ini ia merengek featuring Seri. Merdu sekali rengekan dua keponakannya ini.
“Iya, nanti malam tante bawakan hadiah untuk kalian.”
“Sumpah Tante? Apaan?” tanya Sefti penasaran.
“Botol infuse dan perawat ganteng!” ucapnya serius.
“Tante!” teriak anak SMA itu dengan wajah memerah. Seri tertawa, anak ini menganggap semua yang dikatakan Disa adalah lawakan.
“Aku pamit dulu ya mas Rahmat! Kak, Makasih! Dadah Seri,” pamitnya lagi.
“Mau dianterin?” Pinta Fira.
“Nggak, aku naik taksi aja!” jawabnya pergi.
Disa puas menengok rumah ini lagi. Sejurus kemudian senyumnya memudar. Teringat sosok yang bahkan mungkin belum tahu akan kedatangannya ini.
Glek!
Disa menelan segala kekalutan dan berharap saat bertemu sosok itu. Semuanya akan baik baik saja.
__ADS_1
***
Bersambung