
Pagi bahkan belum datang, langit pun masih biru tua kelabu. Juga agak berawan tipis. Bulan di langit barat tampak bulat penuh, seolah menyambut sosok yang sangat dirindukan keluarga ini.
Aku rasa, aku juga cukup merindukannya.
Adzan subuh baru selesai berkumandang sekitar lima belas menit yang lalu. Bu Fira dan Sefti pun sudah bersiap menuju bandara, lepas selesai menunaikan ibadah sholat subuh.
Supir mereka bahkan belum datang bekerja. Bu Fira lah yang pada akhirnya memanaskan mobil. Sambil menunggui anak gadisnya selesai bersolek, Bu Fira juga sibuk mengingatkanku untuk tidak lupa memberi makan Seri.
"Seri, kamu harus jagain Ayah, ya!" perintah Bu Fira bergegas memasuki mobil. "Titip Seri ya, Sab?" lanjutnya padaku.
"Tenang, Bu," ujarku melambai pelan.
Sefti tiba-tiba saja membuka kaca jendela lebar-lebar, lalu menjulurkan lidahnya ke arah aku dan Seri. Tapi, aku segera menutup mata Seri dengan tangan kanan. Sepertinya ia ingin membuat Seri menangis. Sefti lantas hanya bisa tertawa melihat ke arah kami.
Dasar bocah! Batinku menggerutu.
***
Matahari akhirnya menyapa, tak begitu hangat karena di ujung selatan agak sedikit mendung. Jam di dinding rumah bercat krem ini menunjukkan pukul enam pagi lewat dua puluh menit.
Asisten rumah tangga pun sudah datang. Dia adalah Mbak Lastri, asisten yang sebelumnya bekerja di rumah Kak Disa. Dia ikut diboyong ke rumah ini bersamaku. Tidak, dia lebih dulu tinggal di sini saat Kak Disa memutuskan pergi untuk mengajar di Kalimantan.
Kami berdua sibuk membuatkan sarapan untuk ayah dan anak yang sedang bermain bersama.
Seri tampak tidak bosan membuat ayahnya tertawa. Dengan badan kecil Seri, orang-orang mungkin tidak akan percaya bahwa usianya sebentar lagi tepat 6 tahun.
Aku dan Mbak Lastri menyiapkan meja makan, meletakkan nasi goreng dan sisa sup ayam semalam yang dipanaskan kembali. Pak Rahmat tidak suka buang-buang makanan, berkali-kali dia mengingatkanku untuk memanaskan kembali makanan sisa semalam. Bu Fira juga seperti itu.
"Makan dulu ya, Seri." Aku mendekati Seri dan Pak Rahmat. "Ayah kamu juga mau sarapan nih!" lanjutku menarik bagian pegangan kursi roda.
"Ayo, Seri. Kak Sabrina sudah buatkan makanan."
"Iya, Ayah."
Mbak Lastri, aku, Pak Rahmat dan Seri pun makan bersama di meja ini. Tak ada batasan kasta di istana ini. Selama kau bernyawa, kau sama di temoat ini.
"Minggu depan jadi pulang ke kampung?" Pak Rahmat memulai pembicaraan.
"Iya, Pak!" jawabku mengunyah cepat.
"Sefti sama pacarnya gimana?" tanya Pak Rahmat, membuatku bingung harus jawab apa.
"Mereka jarang telepon kok. Semalam, Sefti sibuk cari bahan lawakan buat tantenya."
"Saya percaya kalau Rian itu anak baik. Bundanya Sefti saja yang terlalu protektif."
__ADS_1
"Iya, Pak. Tapi, ada baiknya juga emang menjaga anak gadis." Aku tertawa.
"Iya, sih. Apalagi zaman sekarang ya? Semua serba mengkhawatirkan. Oh ya, kamu wisudanya kapan?"
"Neng, Sabrina belum wisuda?" sela Mbak Lastri.
"Belum hehehe."
"Kapan wisudanya?" tanya Pak Rahmat.
"Insyaallah sidang skripsi dulu, Pak. Didoakan saja supaya secepatnya bisa wisuda."
"Semoga sukses ya!"
"Aamiin," ucap Mbak Lastri dan Seri serentak. Aku tertawa melihat mereka bertiga. Mbak Lastri sibuk membersihkan Seri yang duduk di sampingnya. Pak Rahmat duduk di ujung meja menunjuk minta diambil sambal bawang kemasan. Aku yang duduk di depan Seri hanya bisa menikmati masa-masa indah ini.
Seandainya, Rahayu masih hidup, apakah aku tetap berada di sini? Apakah ibu bisa merelakanku tinggal di rumah orang lain. Entahlah, masa kini harus kukerjakan dengan sepenuh hati. Agar tak ada hati yang kecewa.
***
Setelah sarapan, aku meminta Seri untuk mandi. Anak ini sangat penurut. Dia segera masuk ke kamarnya dan memintaku memilihkan baju. Katanya dia mau ketemu tante kesayangan.
Aku membantu memilihkan baju. Semua orang di rumah ini bersemangat untuk melihat Kak Disa. Karena ini pertama kalinya dia pulang setelah mengabarkan tengah hamil tiga bulanan.
Suara klakson dari depan rumah membuatku berlari keluar kamar. Seri sudah tertidur, karena kami menonton dvd kartun bersama.
Jam sudah menunujukkan pukul sembilan.
"Sefti! Jangan iih!" Suara Bu Fira terdengar kesal. Sepertinya, Sefti yang terus menbunyikan bel sedari tadi. Aku bersemangat.
Aku segera membukakan pintu untuk mereka. Senangnya aku saat melihat, perempuan berhijab berdiri di samping Bu Fira.
"Nah, kan. Kak Sabrina itu udah yang paling peka lah di rumah ini!" Sefti berlari menuju diriku dan menggandeng tangan ini.
"Assalamualaikum, Kak!" panggilku melepaskan tangan Sefti dan berjalan menuju Kak Disa.
"Waalaikumsalam. Ya Allah, lama sekali kita nggak ketemu ya!" Kak Disa berhambur memeluk diriku. Aku sangat merindukan, kakak angkatku ini. Rasanya aneh.
"Iya, lama sekali. Gimana kabarnya, Kak? Kelewat nyaman di Kalimantan sampai lupa untuk pulang ke sini nih."
"Aah kamu. Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana? Betah tinggal di sini?"
"Betah banget."
"Ibu kamu apa kabarnya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ibuku sehat selalu. Berkat doa Bu Fira dan Kak Disa." Aku mencoba melingkarkan tangan di pinggang Kak Disa lalu mengelus perutnya pelan.
"Syukurlah."
"Ya udah yah, Nona-nona, kita masuk ke dalam. Jangan ngobrol depan pintu dong." Pak Reski menyela dengan beberapa tas di tangannya. Dia tampak sibuk, dan mendalami peran sebagai suami yang baik.
"Sefti! Bantuin Om Reski gih!" perintah Bu Fira, pada Sefti yang kutinggalkan di teras. Aku lupa pada Sefti ternyata.
"Iya, aku bantuin. Tenang aja kok." Sefti berjalan menuju kami yang berkumpul di sekitar mobil.
"Kita ngobrol di dalam, yuuk," tambah Bu Fira, mengajak aku dan Kak Disa ke dalam rumah.
Biar Pak Reski dan Sefti saja yang sibuk sebagai kuli barang.
***
Kami duduk berkumpul di ruang keluarga. Bu Fira segera ke dapur membuatkan minuman. Tadi, aku dan Mbak Lastri juga sudah membuat semur jamur kesukaan Kak Disa.Aku dan Mbak Lastri menempel terus kepadanya. Mungkin dia akan segera marah-marah.
Namun, melihat penampilannya sekarangm Aku yakin, Kak Disa sudah belajar untuk mengendalikan diri.
Kak Disa kini tampak lebih anggun dengan hijab. Tampaknya dia menjadi sosok yang religius sekarang, dengan jilbab panjang seperut dan gamis polos berwarna cokelat gelap, tampak cantik dan cocok dengannya.
Terakhir bertemu dia bahkan masih memakai rok mini. Apa yang terjadi?
Apa kehamilannya membawa berkah?
"Kamu kok lihatinnya begitu banget sih?" tanya Kak Disa saat menyadari aku sedang mengaguminya.
"Warna jilbabnya aku suka," jawabku menyentuh ujung jilbab Kak Disa.
"Sama, aku juga suka!" seru Sefti turun dari lantai dua.
"Bu Maya, apa kabarnya?" Aku penasaran.
"Kondisinya semakin membaik, walaupun setelah melahirkan dia sempat drop. Tapi, semua kembali normal lagi. Ini foto anaknya," jawab Kak Disa sembari memperlihatkan foto bayi yang imut.
"Aku mau Kak Disa ceritakan semua yang terjadi di sana. Enam bulan nggak pulang kan?"
"Lebih tepatnya tujuh bulan!" jawabnya tertawa.
Aku merasa semuanya berjalan dengan baik. Seketika, aku merindukan ibu.
***
Bersambung
__ADS_1