
Vol.2
***
Aku bisa merasakan bagaimana perasaan tante Disa, dirinya yang sempat menyerah pada hidup membuatku ingin mengikuti dan menjadikannya sebagai panutan.
Tante Disa kini tinggal di Kalimantan, tak banyak kabar yang bisa didengar. Sudah setahun lebih tante Disa dan suaminya pindah ke Kalimantan. Hampir dua tahun, kurasa atau lebih. Entahlah.
Kini, aku pun telah duduk di bangku kelas 12 SMA. Masa-masa yang suram memang. Tapi, aku bahagia dan menikmatinya. Aku tidak lagi nakal dan berteman dengan mereka yang sempat menjerumuskanku dalam pergaulan yang salah. Aku bahkan berpura-pura tak mengenal mereka, saat naik ke kelas 11 SMA.
***
Beberapa tahun lalu, Ayahku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya harus duduk di kursi roda. Beberapa bulan kemudian tante Disa jatuh bangkrut, kami pun dirundung kekalutan karena tanteku tak ada kabarnya.
Setelah berhasil menemukan tante Disa, bunda membawanya tinggal bersama kami sampai hari pernikahannya tiba. Tak berapa lama kemudian, tante Disa pergi ke Kalimantan. Untuk pertama kalinya, aku bertemu tante Maya. Seorang perempuan lemah yang membuatku takut kehilangan orang tua.
Yatim piatu, juga janda tanpa anak. Merantau ke Kalimantan demi sesuap nasi. Itulah cerita yang kudengar dari bunda tentang tante Maya. Saat dia memberikan wejangan tentang betapa berharganya orang tua kepadaku, aku menjadi lebih paham akan arti kebersamaan. Sesalku pun semakin menjadi-jadi, karena sempat menjadi anak yang nakal.
Ayah dan bunda, maafkan aku. Pintaku tiap kali teringat kelakuan buruk itu.
***
Sejak kemunculan tante Maya, bunda sering pulang pergi rumah sakit untuk menjaganya. Kasihan sekali bunda, saat ayah sakit dia juga menjaga ayah sendirian. Kini dia juga harus menjaga sahabat dari adiknya sendiri. Aku pun terkadang ikut menginap di rumah sakit, sembari menunggu kabar, kapan tante Disa akan pulang ke Jakarta?
Aku kasihan melihat tante Maya, dia orang yang sangat hangat. Suatu hari dia bahkan pernah mengajariku cara melipat jilbab segi empat agar tampak bagus di kepala.
"Kamu seharusnya lipat bagian halus di luar, biar kelihatan licin gitu. Bagian kerudung yang berbulu tidak akan kelihatan," ujarnya lemah di pembaringan.
"Siap, Tante!" Aku mengikuti instruksinya. Berdiri di samping ranjang memperlihatkan gaya kerudung yang kugunakan.
Itu terjadi setelah operasi pertama. Beberapa hari setelah dia sadar dari koma. Kanker otak stadium dua yang menyerang, membuat tubuh itu semakin kecil. Operasinya sukses, karena akar dari tumor belum menjalar ke bagian vital. Aku bersyukur saat mendengar ucapan Tante Riana.
Sayang, saat itu Tante Disa memilih tidak pulang ke Jakarta. Aku bahkan tidak tahu alasannya apa. Jika aku jadi tante Maya, aku pasti akan sangat kecewa.
Belakangan, aku teringat hari di saat tante Disa pulang, dia tampak lesu. Seolah ingin tetap berada di samping tante Maya, dengan penuh penyesalan. Selama berada di rumah kami, dia terus saja menangis. Bunda pun sampai kebingungan menanggapi tante Dis.
__ADS_1
Dilupakannya Lm Reski, sang calon suami. Sejujurnya, aku lebih suka Om Kevin bersama tante Dis. Tapi, mau bagaimana lagi? Om Reski cukup keren untuk diterima oleh Tante Dis.
Tapi, bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah Tante Disa memilih menjadi guru dan itu sangat membuatku terkejut. Dia sangat jauh dari kesan formal seorang guru. Seingatku, perempuan hedon itu dulu bahkan sering menghamburkan uang dengan sia-sia. Pekerjaan sebagai guru bukanlah pekerjaan yang mudah menurutku. Bagaimana kalau tante Dis, berakhir dengan murid sepertiku? Oh, tidak.
Meskipun pada akhirnya, kini aku bisa membanggakan profesi tanteku sebagai guru, seorang pendidik anak bangsa.
***
Saat operasi kedua. Tante Disa ada di sini. Hari itu tante tidur di rumah, setelah beberapa malam menginap di rumah sakit.
Dia juga sempat curhat padaku, mengenai hubungannya dengan om Reski dan masalah temannya. Tapi, aku terlalu malas menanggapi. Aku hanya ingin tante Dis, terus bersama kami di rumah. Jika perlu tak usah menikah saja dulu.
***
Setelah hari-hari berat itu. Kini keluarga kami pun bisa bernapas lega.
Hari ini aku diajak untuk pergi ke sebuah sekolah SMP. Lima bulan yang lalu, Kak Sabrina dan aku menjadi semakin dekat karena dia berhasil menjual 650 eksampler buku. Dia bukan hanya diundang ke rumah oleh bunda dan ayah. Dia sudah tinggal bersama kami sebelumnya, aku pun mendapatkan pengganti tante Disa.
Bunda adalah kakak kandung dari tante Disa, panutanku. Keduanya adalah inspirasiku. Ingin rasanya menjadi sosok kuat seperti bunda dan menjadi sosok yang pantang menyerah seperti tante Disa.
***
Kulihat para orang tua murid yang diundang pihak sekolah sudah berkerumun memasuki pintu. Kak Sab, biasa aku memanggilnya. Tengah berdiri di atas podium kecil.
Dia tampak luwes, bercanda dengan murid dan para orang tua murid.
Satu jam berlalu. Aku meninggalkan aula dan duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon mahoni. Aku pun dihampiri kak Sabrina yang sudah selesai bekerja.
"Ada kabar dari Kak Disa?" tanya kak Sabrina memberiku sebotol minuman bersoda.
"Belum ada, ini udah tiga bulan kayaknya."
"Kasihan ibu kamu loh, belum dihubungin kak Disa. Takutnya kak Disa udah melahirkan di sana."
__ADS_1
"Bunda," selaku mendengar panggilannya terhdapa bunda.
"Iya, Bunda."
"Loh?"
"Yah." Kami berdua tertawa renyah.
"Gimana-gimana?"
"Biarin aja, aku yakin dia pasti nelpon kita kok. Ada tante Maya juga kan di sana." Aku tersenyum.
"Ya udah, kita pulang yuk," ajak kak Sabrina. Dia menggandengku sambil menatap penuh arti.
Aku ingat saat operasi kedua tante Maya sukses. Saat kami sekeluarga dan teman tante Maya berbahagia. Kak Sabrina menangis tersedu di depan ruangan ICU. Itu hari yang berat baginya.
***
"Aku pulang," ujarku memasuki rumah.
"Assalamualaikum." Kak Sabrina mengekor di belakang sembari merapihkan sepatu dan memasukkannya ke lemari kecil dekat pintu masuk.
"Hey, ada kabar gembira nih!" Bunda berlari dari arah dapur. "Eh, waalaikumsalam," ucapnya tiba-tiba, mengendalikan wajah yang terlanjur sumringah. Aku mengambil tangan putihnya dan mendaratkan ciuman di sana. Kak Sabrina tampak antusias dengan kabar gembira yang akan kami dengar.
"Kabar apa, Bun?"
"Iya, Bu. Kabar apa?"
"Lusa, Disa akan pulang ke sini," ujarnya sembari menggoyangkan bahu. Hijab hitamnya sampai bergerak asal-asalan karena gerakan random yang bunda lakukan.
Aku dan kak Sabrina saling menatap, kita akhirnya bisa bertemu lagi dengan wanita yang menyebalkan itu.
"Wanita sepatu di tangan pulang nih," ujar kak Sabrina. Aku dan bunda tertawa mendengarnya.
Aku tidak sabar untuk bertemu dengan si Bumil. Berapa usia kandungannya kini, aku sangat penasaran?
__ADS_1
***
Bersambung