Wanita

Wanita
Episode 2: Celotehan Sefti (2)


__ADS_3

Malam ini, langit Jakarta tak berbintang. Ya, sama seperti malam biasanya. Dua tahun yang lalu aku biasa menghabiskan malam nongkrong bersama teman-teman.


Tapi, sejak menyadari bahwa apa yang dikatakan Bunda adalah kebenaran. Aku mencoba mengubah pola pergaulan. Perlahan menyeleksi teman yang kuanggap pantas untuk menjadi sahabat. Ketimbang,teman yang hanya tahu bersenang-senang semata.


Dinginnya malam ini, tak mampu mengusik aku, Bunda dan Kak Sabrina yang sedang sibuk membersihkan kamar lama tante Disa.


Setelah membersihkan sarang laba-laba di langit-langit kamar, jendela juga dinding, kami pun memindahkan lemari kecil yang tadinya ada di samping jendela, ke gudang di paviliun belakang. Bunda bilang, harus memberi ruangan yang cukup besar agar kamar ini bisa dipakai sebagai kamar bayi, nantinya.


Akhirnya, setelah enam atau tujuh tahun, setelah kelahiran Seri, rumah kami akan kedatangan bayi lagi. Semoga tanteku melahirkan dengan selamat.


"Coba kamu kaitkan yang di ujung sana, aku pegangin dulu yang ini! Jangan ditarik, nanti rendanya lepas," perintah Kak Sabrina menunjuk kain tirai jendela yang sedang kupegang.


"Udah nih! Begini?"


"Udah lurus nggak sih?"


"Kayaknya udah deh." Aku menanggapi pertanyaan Kak Sabrina.


"Oke." Dia mengangguk sembari menunjukkan jari berbentuk huruf O dengan tiga jari berhimpitan. Cincin berinisial S melingkar manis di jari tengahnya.


Setelah mengganti tirai cokelat, menjadi biru muda dengan pola bunga cantik, aku dan Kak Sabrina segera berbaring di ranjang yang sebelumnya sepreinya telah kami ganti.


Hoah, kami sangat kelelahan. Bunda menyuruh ini dan itu, tak pernah lelah dia memerintah ke sana dan ke situ. Bunda memang yang terbaik bila menyangkut hal memerintah.


Setelah ditinggal oleh Tante Disa, usai menikah ia dan kembali ke Kalimantan. Kamar ini berubah layaknya gudang.


***


Bunda sedang duduk di lantai depan lemari panjang, mengeluarkan isi pakaian yang tidak perlu dan meletakkannya ke dalam beberapa box plastik berwarna hitam. Sesekali melayani ocehan Seri dari luar kamar.


"Anak tante Disa kembar?"


"Belum tahu!" Bunda masih menanggapi Seri, aku dan kak Sabrina telungkup bersama di ranjang berseprei putih bersih. Warna kesukaan Tante Disa.


"Kok Bunda nggak tahu?" Seri menggoyangkan tubuhnya di atas mainan kuda-kudaan berwarna pink. Mainan bekas masa kecilku yang masih bagus.


"Belum di-USG."


"USG itu apa, Kak?" tanya Seri tiba-tiba. Dia menatapku sembari memonyongkon bibir. Poni panjangnya bergerak karena embusan napasnya sendiri.


"Makanya sekolah tuh yang benar! USG aja nggak tahu!" Aku menjawab dan bangun dari ranjang, berjalan menghampiri cermin yang menempel di lemari.

__ADS_1


"Apa?" tanya Seri memancingku. Ah, anak ini menyebalkan sekali.


"Iya, USG itu apa?" timpal Kak Sabrina ikut-ikutan.


"Hmmm, Ultra ... ultraaa?" Aku terhenti sesaat.


"Ultraman Suka Gajah!" teriak Seri sambil berlaru meninggalkan kami. Dia meninggalkan kuda-kudaannya di depan pintu begitu saja. Kulihat Bunda dan Kak Sabrina sedang menahan tawa. Aku pun ikut tertawa.


Selesai.


Setelah mendekor ulang kamar ini, aku segera mandi dan pergi ke kamar Kak Sabrina untuk belajar mengaji.


***


Pagi bahkan belum datang, langit masih biru tua kelabu. Juga agak berawan tipis. Bulan di langit barat tampak bulat penuh, seolah menyambut sosok yang sangat kurindukan itu.


"Seri, kamu harus jagain Ayah, ya!" perintah Bunda memasuki mobil. "Titip Seri ya, Sab?" lanjut Bunda kepada Kak Sabrina.


"Tenang, Bu." Kak Sabrina melambai. Aku membuka kaca jendela lebar-lebar menjulurkan lidah ke arah Seri. Tapi, Kak Sabrina segera menutup mata Seri, sepertinya ia menghalangiku membuat Seri menangis. Aku hanya bisa tertawa melihatnya.


***


Matahari akhirnya menyapa, tak begitu hangat karena agak sedikit mendung. Jam di ponselku menunjukkan pukul enam pagi lewat tiga belas menit. Setelah tiba di bandara, rupanya Tante Disa dan Om Reski sudah menunggu di depan, dengan beberapa koper dan tas.


"Maaf ya, Kak. Aku lama nggak pulang, aku masih harus jagain Maya juga di sana," terangnya menatap Bunda penuh kehangatan.


"Iya." Bunda mengangguk sembari tersenyum.


Dia kini benar-benar berubah. Terakhir kali, saat menikah, ia masih tampil dengan sanggul saat akad nikah dan memakai dress putih seksi. Tapi, Tante Disa di hadapanku kini sepenuhnya berbeda. Ia menjadi sosok yang religius, dengan jilbab panjang seperut dan gamis polos berwarna cokelat gelap, entah bagaimana ceritanya ini bisa terjadi? Aku sangat penasaran.


"Ya udah, masuk mobil ya. Nanti macet loh!" sela Om Reski menggandeng Tante Disa.


"Ciyyyee so sweet!" godaku.


"Iya, dong, udah biasa gini kok. Udah nikah setahun lebih, ya nggak?" jawab Om Reski mencium kening Tante Disa.


"Minggir! Kamu bau aah!" dorong Tante Disa sembari memasang wajah kecut..


"Hahaha bau!" Aku menertawai Om Reski.


"Namanya juga lagi ngidam, Res. Tahan ya!" Bunda tersenyum sembari menggandengku masuk ke mobil. Kini, Om Reski yang menyetir mobil.

__ADS_1


Selama di perjalanan menuju rumah, Tante Disa dan Om Reski menanyakan kabar semua orang yang dikenalnya. Bahkan Mbak Suci, asisten rumah tangga Tante Disa yang kini tinggal di rumahku pun tak luput dari pertanyaan Tante Dis. Sepertinya, bukan hanya aku, Bunda maupun Kak Sabrina yang merindukan Tnate Dis. Tapi, dia juga merindukan kami.


***


Sekejap berkendara kemudian.


Kami tiba di depan rumah, Om Reski membantu Tante Disa keluar dari mobil. Bunda tersenyum melihat pasangan suami istri yang masih mesra ini, padahal sudah menikah setahun lebih.


Aku menengok ke arah pintu rumah. Sepi, tak ada orang. Jam di ponsel menunjukkan pukul sembilan lebih delapan belas menit. Aku bergegas menuju kursi depan mobil dan membunyikan klakson beberapa kali.


"Sefti! Jangan iih!" Bunda menegurku.


"Iya, maaf!" Aku keluar dari mobil dan melihat Kak Sabrina sudah membukakan pintu untuk kami. "Nah, kan. Kak Sabrina itu udah yang paling peka lah di rumah ini!" Aku berlari menuju Kak Sabrina dan menggandeng tangannya.


"Assalamualaikum, Kak!" panggil Kak Sabrina melepaskan tanganku dan berjalan menuju Tante Disa.


"Waalaikumsalam. Ya Allah, lama sekali kita nggak ketemu ya!" Tante Disa berhambur memeluk Kak Sabrina.


"Iya, lama sekali. Gimana kabarnya, Kak? Kelewat nyaman di Kalimantan sampai lupa untuk pulang ke sini nih."


"Aah kamu. Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana? Betah tinggal di sini?"


"Betah banget."


"Ibu kamu apa kabarnya?"


"Alhamdulillah, Ibuku sehat selalu. Berkat doa Bu Fira dan Kak Disa." Kak Sabrina melingkarkan tangannya di pinggang tanteku.


"Syukurlah."


"Ya udah yah, Nona-nona, kita masuk ke dalam. Jangan ngobrol depan pintu dong." Om Reski menyela dengan beberapa tas di tangannya.


"Sefti! Bantuin Om Reski gih!" perintah Bunda.


"Iya, aku bantuin. Tenang aja kok."


Senang rasanya melihat rumah ini menjadi lebih ramai. Tapi, sepertinya aku akan punya masalah lain. Aku kelas dua belas, yang artinya harus belajar untuk persiapan ujian nasional.


Bagaimana bisa aku belajar di situasi dan kondisi yang terlalu membahagiakan seperti ini? Ah, bodo amat. Ujian masih jauh. Nikmati saja hari-hari bersama orang yang dicintai. Karena waktu adalah lebih sistem yang paling berharga untuk saat ini selain uang, tentunya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2