Wanita

Wanita
Episode 6: Ariana World Marriage (1)


__ADS_3

Suami yang pernah menghilang. Lalu, pertemuan dengan sahabat lama. Seorang sahabat yang berharga dan hidup yang diputar oleh waktu, menjadikanku orang yang lebih mencoba untuk bersyukur lagi.


Keegoisan yang pernah tumbuh, biarlah menjadi masa lalu yang harus dijadikan pelajaran.


Aku adalah Ariana. Ibu dari tiga orang anak. Tinggal di Jepang selama lebih dari delapan tahun. Mempunyai suami yang awalnya sangat menyebalkan, tapi pada akhirnya suamiku berubah menjadi sosok yang mencintaku sepenuh hati.


Semua berkat jagoan kecilku.


Arya.


Disa, sahabatku lah yang memberikan nama itu untuk lelaki kecil pengobat rumah tanggaku yang sempat sakit kronis.


Aku ingat bagaimana bisa berakhir dalam rumah tangga sehangat ini. Semua berkat Disa. Aku menyakitinya, dia pun begitu. Kami berdua saling menyakiti, lalu saling menyembuhkan satu sama lain.


Ironis. Tapi, begitulah faktanya.


***


Setelah melahirkan anak pertama, kami tinggal di Jepang.


Tiga tahun lalu, tiba-tiba saja menjadi awal permasalahan rumah tanggaku. Hari itu, Aris terus meminta untuk kembali ke Indonesia. Entah apa alasannya? Aku terus bertanya, tapi Aris enggan memberikan jawaban.


Rumah tangga kami pun perlahan semakin hambar. Memang hambar pada awalnya, tapi ini terasa seperti kertas kusut yang walau disetrika tetap akan ada saja guratan penuh siksaan.


Aku menahan diri, berharap kertas itu tak benar-benar kusut. Kabar gembira pun hadir. Aku diberi kesempatan untuk hamil setelah melahirkan anak kedua empat tahun lalu. Aris, marah. Dia memakiku saat tahu akan ada keluarga baru di rumah tangga kami. Aku terluka, tapi bisa apa?


Sejak mengandung Shania, hingga Tania. Aris selalu bersikap bahwa dirinya bukan Ayah dari anak-anakku. Seolah, aku ini Ibu tunggal. Kami tinggal bersama selama hampir 12 tahun. Selama itu pula aku bisa melihat betapa Aris begitu membenciku.


Tapi, kenapa? Aku tak tahu.


Semakin hari, dia semakin giat meminta untuk pulang ke Indonesia. Aku semakin curiga. Apa dia punya selingkuhan di sana? Ataukah Aris memang sudah tak sanggup hidup bersamaku di sini?


"Gugurkan saja!" perintahnya sore itu. Langit sore yang cerah perlahan mendung di mataku. Aku menahan tangis di sampingnya. Usia kandunganku saat itu, bahkan belum menginjak sebulan.


Setiap hari dia selalu mengucapkan kata itu.


"Siapa yang suruh hamil? Gugurkan saja!"


"Kamu mau menahanku dengan kehamilan lagi? Gugurkan saja!""


"Apa tidak capek tiap hari berantem? Kubilang gugurkan saja."


Ya, itulah kalimat yang tiap hari melilit rahimku. Hingga janin yang sedikit lebih besar dari kacang mete itu, akhirnya lenyap dari muka bumi.


Aku terlalu tertekan untuk menghadapi semua ini. Aris bahkan lebih menggila dibandingkan saat aku mengandung anak pertama.


Ya, Shania adalah anak hasil kesalahanku. Anak hasil dari perbuatanku dari mengkhianati sahabat sendiri. Tapi, Shania tak berdosa. Perbuatanku lah yang penuh dosa.


Aris tidak benar-benar mencintaiku. Dia menikah dan bertanggung jawab hanya karena aku hamil darah dagingnya dan Ayahku meminta Aris bertanggung jawab karena dia juga adalah sahabatku.


***


Aris tampak lega saat tahu aku keguguran, seolah-olah kandungan ini adalah kuman yang harus diberantas.


Aris duduk di teras bersama Tania, putri kami yang berusia empat tahun. Ya, dibandingkan


Shania yang berusia 11 tahun, Aris lebih dekat dengan Tania. Dia bahkan pernah berkata bahwa tak menginginkan Shania dan bila bercerai dia hanya akan mengambil Tania.


Aku tahu, Aris sama tertekannya denganku karena pernikahan ini. Tapi, terkadang lelaki berbadan kekar itu seperti kran air yang lepas kontrol. Ucapannya begitu menyakitkan. Sebagai istri, aku hanya bisa memahami dan memafkannya.


Setelah aku keguguran, Aris pergi ke Indonesia untuk beberapa minggu. Dia kembali dalam diam. Setiap malam, aku hanya bisa memperhatikan kehadirannya yang terasa semakin jauh.


Kehidupan ranjang kami pun mengeri seperti musima kemarau. Dia hanya datang meminta sentuhanku dalam keadaan mabuk. Aku seperti samsak baginya. Ingin rasanya kumenyerah saja.


Beberapa bulan kemudian, aku kembali hamil. Perang dingin pun terus berlanjut. Saat itu lah aku menyadari sesuatu.


Lemari di kamar kerja Aris lupa dikuncinya, pasport dan kopernya sudah tak ada. Aku melihat sebuah koran yang dibawanya dari Indonesia beberapa bulan lalu.


*Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebutkan setidaknya ada lima perusahaan tekstil yang terpaksa menutup usahanya karena produk kain impor yang membanjiri Indonesia.

__ADS_1


Beberapa perusahaan tekstil terkemuka pun terkena dampak, PT. Safira yang dikepalai Disa Setiawan dikabarkan akan menjadi salah satu dari perusahaan yang akan diakuisisi oleh PT. Lembaga Cahya milik Anwar Susanto. Setelah sebelumnya PT. Safira kalah dalam Bursa Saham. Apakah Disa Setiawan sang pengusaha muda akan menyerahkan PT. Safira pada PT. Lembaga Cahya*?


Aku kaget, usai membaca potongan berita dalam rubrik bisnis itu. Ya, itu Disa Setiawan. Kini aku tahu dengan jelas apa yang menjadi alasan Aris berubah seliar anj*ng kampung.


***


Aris pergi meninggalkan Jepang, setiap hari aku menghubunginya. Tapi, tak ada jawaban. Aris seolah menghilang dari bumi, entah sengaja menghilangkan jejak agar tak bisa ditemukan. Aku khawatir, aku kesal, aku pun marah. Aku sudah gila.


Kuputuskan menunggu.


Namun, Aris tak kunjung pulang. Dua bulan sudah aku seperti janda. Lebih baik aku mejanda saja, tapi aku sedang hamil sekarang. Dilema yang bahkan tak berkelas.


***


Aku pun pergi mencari Aris ke Indonesia. Aku yakin dia pasti ke sana. Kubawa Tania dan kutitipkan Shania pada adik ayahku karena Shania harus sekolah.


Setibanya di Indonesia, aku bahkan tak tahu harus memulai dari mana! Aku dan Tania tinggal di rumah peristirahatan kami di Indonesia dan ya Aris tak ada di sini.


Aku harus menemui Disa dan memastikan Disa tak kan masuk ke dalam kehidupan kami lagi.


***


Aku menyewa detektif swasta untuk mencari berita Disa. Ya, infonya Disa sudah bangkrut. Lebih tepatnya di PHK dari posisi petinggi di perusahaannya.


Aku bahagia saat itu, sekaligus takut jika Aris akan datang menghampiri Disa, lalu merayu Disa untuk kembali.


Perempuan mana pun akan menggenggam tangan orang yang peduli padanya saat dirinya terpuruk.


Dengan mobil sewaan. Aku mengikuti alamat yang diberikan detektif swasta. Mengawasi rumah itu selama beberapa hari. Rumah sederhana yang mengingatkanku akan masa lalu Disa. Dia tak berubah. Orang miskin, tetaplah miskin.


***


Dari kejauhan, Disa nampak gelisah dia terus menatap jalanan. Sedari tadi mengikuti Disa dari restoran, ke bank lalu ke kafe membuatku yakin bahwa anak ini sedang stres.


Aku mencoba memanggilnya lembut dan terkesan takut. Aku khawatir dia akan memaki.


“Disa? Disa Setiawan!” Disa terhenti sejenak lalu mengabaikan suaraku. Apa mungkin karena aku memanggilnya dari dalam mobil? Sehingga dia tak acuh. “Kamu Disa kan?” tanyaku sedikit berteriak dari dalam mobil mewah berwarna hitam.


“Kamu nggak ingat aku ya?” tanyaku sok akrab.


“Kamu siapa?” Disa memperhatikanku dari atas sampai bawah. Lalu, menatap mata ini. Sepertinya dia tidak ingat. Atau pura-pura?


“Ternyata kamu tuh masih sama seperti dulu ya, gak banyak berubah. Kira-kira sudah 10 tahun yang lalu kita nggak ketemu?" tanyaku mengingat.


“Maaf, saya nggak kenal tuh!” jawab Disa sambil berjalan meninggalkanku. Aku pun lekas masuk kembali ke dalam mobil dan mencoba mengejar Disa dengan mobil.


“Disa?” panggilku lagi.


“Ya?”


“Naik deh! Entar aku anterin kamu pulang!” pintaku sambil membuka kaca jendela, mendengar itu Disa terhenti, berbalik dan menatapku lagi. Sepertinya dia sedang coba mengingat siapa aku.


Tanpa banyak kata, aku segera membukakan pintu mobil untuk Disa. Disa tampak ragu, tapi aku terus menatapnya dengan keyakinan penuh.


“Kamu mau nyulik saya ya?”


“Nggak lah, mana mungkin ada penculik secantik aku,” jawabku tersenyum, mencoba mencairkan suasana. Setelah itu kami terdiam beberapa menit dalam keheningan karena tak direspons oleh Disa. “Anak kamu gimana kabarnya?” tanyaku mencoba untuk membuka pembicaraan, keheningan ini harus dipecahkan.


“Anak apaan? Nikah aja belum!” jawab Disa sambil mengingat-ngingat.


“Kirain udah nikah. Oh ya, aku tuh baru balik dari Jepang!”


“Terus?”


“Aku dengar kamu sudah jadi pengusaha sukses!”


“Itu cerita lama!”


“Maksud kamu?”

__ADS_1


“Udah aah ... nyetir aja yang benar!” seru Disa seolah menghindariku.


“Jadi kamu beneran belum nikah ya …? Kenapa nggak nikah?”


Aku penasaran dan sedikit terkejut saat mengetahui Disa masih hidup melajang. Apalagi yang dia cari?


“Bukan urusan kamu." Suara Disa terdengar tegas. Seolah-olah melarangku untuk bertanya lebih.


Batinku berkecamuk. Apa aku tanyakan saja tentang Aris? Apa dia tidak akan marah? Aku pun melihat Disa dalam dia dan penuh keraguan. Kuabaikan sejenak dan hanya bisa melanjutkan perjalanan.


“Belok kiri atau kanan?” ucapku saat tiba di perempatan jalan.


“Kanan,” jawabnya ringan.


“Disa?” panggilku.


“Ya?"


“Itu--”


“Mau apa kamu ke Indonesia? Suntik botox-nya sukses ya?” tanya Disa tiba-tiba.


“Siapa? Aku? Kamu udah ingat ya?” Aku sedikit lega karena Disa sepertinya berhasil mengingatku.


“Hmm.”


“Syukurlah,” ucapku hanya bisa tersenyum.


“Kenapa?” tanya Disa.


Deg.


Aku tertegun, mendadak kebingungan mencari kata yang pas untuk memulai semuanya.


“Oooh ... itu loh, aku mau cari Aris. Sudah hampir 3 bulan dia balik ke Indonesia, tapi dia belum hubungin aku!” ujarku satu napas.


“Terus? Hubungannya sama aku?” imbuh Disa terdengar tidak peduli.


“Kamu kan mantannya dia, seenggaknya kamu tahu dong tentang keberadaannya?” jawabku nekad.


“Bukannya aku udah bilang, aku nggak akan pernah mau lihat wajah kalian lagi!”


“Terakhir dia bilang, dia bakal cari kamu dan mau minta maaf!” kataku berbohong. Mungkin sedikit kebohongan bisa memancing Disa bicara.


“Terus?” Disa terdengar angkuh, membuatku geram. Aku hanya bisa terdiam, sambil fokus menyetir. “Aku ingatkan sekali lagi, aku bukan pusat informasi di tempat umum yang bisa kamu gunakan buat menanyakan hal-hal seperti itu. Jadi, stop dan turunin aku di sini!” lanjut Disa terkesan kurang ajar.


Aku benar-benar kaget. Disa masih sama gilanya.


“Kamu ini kenapa sih?” tanyaku dipenuhi kekesalan, lantas menghentikan mobil.


“Kamu yang kenapa? Kok cari suaminya sama mantan pacarnya sih? Aneh, you're so funny, you know!”


“Seharusnya kamu lupakan kejadian yang dulu. Kalau kamu masih dendam sama aku, aku benar-benar minta maaf!” pintaku mencoba realistis dengan menurunkan ego penuh penyesalan.


“Udahlah, aku nggak punya urusan lagi sama kamu!”


“Please, tolong aku! Tolong aku, Dis,” ucapku menghentikan Disa yang sedang membuka pintu mobil.


“Tolong apa?” teriaknya.


“Kalau Aris datang ke kamu, bilang ke dia untuk pulang ke Jepang!”


Ya, akhirnya aku berkata seperti ini. Di mana itu harga diri? Dengan suara yang berat, aku menahan air mata.


“Kenapa aku harus tolong kamu?” keluh Disa.


“Karena aku—”


“Memangnya kamu siapa?” lanjut Disa bahkan tanpa melirikku.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2