Wanita

Wanita
Episode 23: Ini Hati


__ADS_3

Sabrina duduk merenung di depan ruang ICU. Ibunya berdiri di depan pintu. Gelisah, gusar dan bermandikan kekhawatiran.


Dokter menghampiri ibunya, Sabrina bangun dan mendekat. Adiknya menjalani tes lanjutan, sebelum ini Rahayu diperiksa darahnya dan kini melakukan tahapan fibroscan dan biopsi hati, untuk mengetahui tingkat kerusakan hati.


Gadis kecil itu sangat bersemangat untuk mengetahui sejauh mana Hepatitis telah melenyapkan keramahan hatinya? Sabrina pun ikut bersemangat. Tapi, hatinya takut, jika dokter berkata hal yang buruk tentang Rahayu.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan antibodi terhadap hepatitis C dan tes genetik virus dalam darahnya. Syukurlah, tidak ada komplikasi serius. Sisanya akan dijelaskan oleh dokter yang bertanggung jawab ya, Bu." Dokter itu menunjukkan jalan ke suatu tempat, ibunya Sabrina mengikuti. Sedangkan, Sabrina berjalan ke arah meja informasi.


Sabrina menemukan seseorang yang tak asing. Senyumnya mengembang, wanita berkemeja navy dengan celana tissue berwarna hitam matte, sibuk memutar balik ponsel, tampak ragu menghubungi seseorang.


"Telepon saja!" Sabrina menegur.


"Ya?" Wanita itu menoleh.


"Bu Disa, eh Kak Disa? Ngapain di sini?"


"Loh, kamu?" Disa berdiri, Sabrina pun bersikap sopan.


Keduanya berpelukan hangat, lama tidak bertemu. Saling bertegur sapa.


Sabrina menanyakan mengapa Disa bisa ada di sini.


"Aku bingung banget sama temenku yang sakit, dia insecure banget. Seolah penyakitnya udah diambang batas."


"Boleh aku ngomong sama teman Kak Disa?" tanya Sabrina. Disa pun menyetujui.


***


Sabrina dibawa ke ruang kelas 1, dipertemukan dengan perempuan berkepala perban. Matanya bengkak. Maya tiba-tiba menolak operasi lanjutannya, ia berkata lebih baik mati saja.


"Ini Sabrina, orang yang aku ceritain tempo hari." Disa menyilakan Sabrina masuk. Maya tersenyum getir.


***


Maya menuju ruangan operasi, ia memegang tangan Sabrina erat. Sabrina mengangguk dan membisikkan sesuatu. Maya tersenyum. Disa pun tampak lega.


Operasi Maya pun telah digelar dengan sukses, dokter-dokter bertangan dingin mampu menanganinya dengan baik. Namun,walau begitu kuasa Allah SWT-lah yang paling memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.


***


Hari itu Reski tidak terlihat sedang menunggu di depan ruang operasi, yang ada hanya A couples’s serta Disa dan Kevin.


Malam ini, Reski memutuskan untuk datang menemui Disa, untuk mengkonfirmasikan hubungan mereka. Sejujurnya ia ingin sekali bertemu dengan Disa, tapi dia berharap Disa yang datang mencarinya. Sebab Disa lah yang meninggalkannya, tetapi mungkin karena rasa cinta yang cukup kuat, ia meyakinkan dirinya agar menemui Disa. Karena sebuah rasa aneh yang tak terbendung lagi.


“Assalamualaikum!” ucapnya tepat di depan pintu kayu berwarna hitam, disertai ketukan-ketukan ringan.


Rumah yang tampak sepi itu tak menunjukkan tanda-tanda akan adanya kehidupan alias kosong.

__ADS_1


Seseorang yang melewati rumah kecil itu melihat Reski dan memberitahukan bahwa semenjak Disa kembali ke Jakarta, dia dan pengurus rumah tangganya telah pindah dari tempat ini.


“Dia pindah kemana ya, Pak?” tanya Reski pada pria itu.


“Saya dengar dari pembantunya sih, ke rumah kakaknya!” jawab pria itu.


“Ohh, makasih ya, Pak!”


“Iya, sama-sama!” jawab pria itu berlalu.


Disa benar-benar menjauhi aku. Tapi kenapa? Gumamnya dalam hati.


Reski pun lekas menuju ke rumah Fira untuk mencari Disa.


 


***


Ting nooonng! Ting noong!


Bunyi bel di rumah Fira saat Reski memencetnya.


“Assalamualaikum!”


Seorang remaja terdengar menjawab salam dekat pintu, sambil membukakan pintunya remaja itu berkata, “Bunda, Om Kevin datang nih!”


Dari depan pintu. Setelah mendengar ucapan Sefti, betapa terenyuhnya hati Reski. Dia pun hanya bisa tertegun tak bersuara.


“Memangnya tante kamu lagi keluar sama Om Kevin ya?” sidik Reski. "Keluar lagi?"


“Nggak kok! Tadi, mereka telepon katanya mau ambil barang tante Maya yang dibawa tante Dis dari Kalimantan. Memangnya Om Reski nggak tahu, kalau hari ini itu operasinya tante Maya?” ungkapnya.


“Astaga, Om, lupa!” jawabnya bingung.


“Kok nggak disuruh masuk sih!” perintah Fira menghampiri pintu. “Reski?” lanjut Fira heran.


“Iya, Kak Fira. Apa kabar?” sapa Reski dengan senyum berat.


“Ngapain kamu kesini? Hari ini kan operasinya Maya.”


“Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengan Disa, masalah restoran kok, Kak!”


“Mereka semuanya kan ada di rumah sakit! Kamu nggak ke sana?”


“Entar aku ke sana kok!”


“Ke mana aja kamu selama ini? Disa pulang dari Kalimantan kamu kok nggak ada?” tanya Fira.

__ADS_1


“It-i i-tu!” jawabnya terbata.


“Apa?”


“Saya dan Disa …,” ucapnya Terhenti.


“Duduk dulu yuk!” perintah Fira. “Sef, bikinin minum!” lanjutnya.


“Iya, Bun! Mau teh apa jamu, Om?” jawab Sefti berlalu ke dalam rumah.


Reski bertekad jujur atas keadaannya dan Disa. Setelah menceritakan semua permasalahannya dan keinginan Disa yang awalnya ingin menikah denganya hanya untuk menjauhi Aris pun cukup membuat Fira terkejut.


“Kamu tahu, dulu saat Disa putus dengan Aris? Apa kamu tahu siapa yang selalu bersamanya?” tanya Fira pada Reski.


“Iya! Setahu saya cuma saya dan Maya yang selalu menghibur dia.”


“Kamu salah, selama beberapa bulan sejak masalah itu, dia dekat dengan seseorang. Kamu mau tahu siapa dia?”


“Apa itu Kevin?” jawabnya disertai anggukan ringan dari Fira.


“Saya rasa, kalau saat itu Kevin tidak pindah ke Kanada. Mungkin sekarang bukan begini ceritanya!” ucapnya mencoba memberi pengertian pada Reski. Karena Reski terkesan tak menyukai kedatangan Kevin.


Saat tengah mengobrol, keduanya dikejutkan dengan bunyi klakson dari mobil Kevin. Terlihat tawa Disa yang tak biasa, terlukis indah di sela bibir.


Terkejut mendapati Reski, Disa hanya tersenyum seraya menyapa. Sedikit canggung, sesekali melirik Kevin.


“Hai, Res. Kok kamu baru datang sih?” tanya Kevin santai.


“Iya, restoran sibuk banget!” jawabnya menatap Kevin dan sejurus kemudian melemparkan tatapan kesal ke arah Disa.


“Padahal aku rencana bakalan datang ke restoran, kalau Maya udah sadar. Eh, tapi kamu malah datang duluan!” Disa berbasa-basi.


“Oh ya?”


“Iya.”


“Ya udah, aku masuk dulu ya! Kak?” ucap Disa menggandeng Fira yang tengah duduk manis di kursi meninggalkan kedua pria itu bersamaan.


“Dis," sela Reski. "Bisa minta waktunya, aku butuh penjelasan kamu?"


"Kita bicarakan semuanya setelah kondisi Maya lebih stabil. Kamu ngobrol dulu aja ama Kevin." Disa menghindarinya. Lagi.


Reski menggigiti bibirnya, Kevin menyentuh pundak Reski. Tersenyum ramah, tanpa tahu ada api cemburu yang sedang membakar hati Reski.


Jika Disa menghindar dan sengaja tak mau menemuinya. Bukankah sudah jelas alasannya? Kevin, orang yang dikatakan Fira sebagai penghibur Disa datang di saat Reski dan Disa sedang berada di zona nol.


Sebuah zona tanpa status, yang merisak badan dan merusak hati. Hati adalah tempat cinta berlabuh, bukan hanya tempat virus hepatitis meneror.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2