
Pindah
dihapus
pindah
dihapus
pindah
dihapus
***
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
__ADS_1
Pihak Anwar tidak akan menuntut, jika Disa mampu membayar kerugian atau berhenti dari jabatannya. Mendengar itu Disa semakin tertekan, akhirnya keputusan yang selama ini direncanakannya pun menjadi bulat.
***
“Maaf ya, Mbak, sekarang saya bisa ngatasin semuanya sendiri. Keperluan rumah dan dapur akan saya urus sendiri." Disa menghampiri Mbak PRT.
"Ya?" Perempuan itu mendadak kebingungan. Sepagi ini drama apalagi yang akan dilakukan Disa. Satu sisi dia kaget karena disa bicara sopan dan formal.
"Ini pesangon kamu!” Disa memberikan amplop putih di meja kaca depan kamar sang pengurus rumah tangganya.
“Tapi, Bu, entar saya kerja di mana?” ucapnya memelas menyandarkan sapu ke dinding.
“Terserah kamu!”
“Bu, saya ikut ibu aja ya! Saya kan tahu apa masalah ibu, setidaknya saya bisa bantu-bantu panasin makanan buat ibu, gitu!” ucapnya memohon.
“Nggak perlu! Saya nggak butuh kok.”
“Bu ….”
“Iya, Bu. Tapi, kan?”
“Tapi, apa? Kalau kamu ada di sini? Sama saja! Mendingan sekarang kamu cari pekerjaan di tempat lain."
“Bu, saya mohon!”
“Rumah ini bakalan disita bank, Mbak. Memangnya kamu mau ikut saya walaupun nantinya tinggal di rumah reot?”
“Iya, Bu, saya 'kan udah hampir lima tahun ikut ibu. Saya tahu, ibu itu orang yang seperti apa, ibu itu orang baik, penuh dengan semangat dan ….”
“Saya nggak bisa, Mbak!” sela Disa sedikit berteriak.
“Bu!”
“Saya bilang saya nggak bisa. Kenapa? Uangnya kurang? Nih!” ucapnya sembari mengeluarkan pecahan 50 ribu dari dompetnya.
“Bu, saya yakin apa yang sekarang tengah menimpa ibu itu adalah sebuah cobaan dari Allah dan insyaallah ibu bisa bangkit lagi. Ibu kan pernah menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa. Mungkin, ini sudah waktunya untuk kembali ke jalan Allah dan kali ini mungkin Allah ingin ibu lebih bersyukur dan mengingat-NYA lagi,” ungkap pengurus rumah tangganya meyakinkan penuh semangat.
__ADS_1
“Cobaan? Bersyukur? Bertakwa …,” ucapnya dengan nada merendah. “Sudah lama saya nggak mendengar kata-kata itu!” gumamnya terduduk di sebuah kursi.
“Ibu? Nggak apa-apa, Bu?”
“Yaudah, terserah kamu aja deh. Terserah!
“Yang benar, Bu? Terima kasih banyak, Bu!”
“Mungkin kamu bisa bantu-bantu pas kita pindahan! Mungkin …,” ucapnya bingung.
"Siap, Bu!"
"Tapi, gaji kamu turun!"
***
Beberapa hari berlalu, Sudah ada 12 angka di kalendernya yang dilingkari dengan spidol hijau, serta catatan-catatan kecil di bawah tanggalan yang memperkuat kegundahannya. Saat pihak bank datang nantinya, mungkin akan menjadi hal yang menyeramkan. Disa pun hanya tinggal menunggu waktu.
***
Di tempat yang berbeda, pada suatu tempat berdinding dan berlantai putih.
Sepasang kaki yang ditutupi balutan daster berwarna kekuningan tengah panik, terlihat gusar bertautan di depan pintu. Berulang kali wanita itu menatap tulisan di pintu kaca ‘Ruang Bedah’, berulang kali pula dia duduk dan berdiri hanya untuk menenangkan hati.
***
Beberapa jam berlalu.
"Selamat, Bu, operasinya sukses!” ucap Tim berseragam hijau. Wanita itu hanya bisa menghela napas dan menjabat tangan Dokter seraya tak henti-hentinya mengucap terima kasih.
Tak lama berselang sesosok pria didorong keluar dari ruangan, dalam keadaan terbaring di kasur beroda beserta dengan perangkat kesehatan yang menempel di sekitarnya. Berjalan mengikuti dari belakang, wanita itu begitu terharu dengan mata yang sedikit berair, ia mencoba menyeka mata dengan tangan putih dan tersenyum penuh haru.
***
Di dalam sebuah ruangan mewah berstandar VIP, seorang remaja yang duduk tepat di sebelahnya bertanya, “Bunda, apa ayah bakalan baik-baik saja, kan?” Mendengar pertanyaan itu, Wanita itu hanya bisa menangis kecil penuh haru. Anak yang lebih kecil memberi sapu tangan biru bergaris merah sambil menyeka air mata sang ibu.
“Bunda jangan nangis! Nanti Seri dan kak Sefti jadi sedih!” ucap si polos
__ADS_1