Wanita

Wanita
Episode 7: Kebangetan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian dokter telah mengijinkan Rahmat pulang dan dia harus tetap melakukan perawatan jalan. Fira pun selalu menemani Rahmat dengan penuh kasih sayang, selain melakukan lakonnya sebagai seorang istri yang baik bagi suami, dirinya pun harus berperan sebagai Ibu dari anak-anaknya dan sebagai Kakak dari seorang adik.


***


Hari ini seorang wanita berhijab tengah berdandan di kamarnya, meskipun bukan dengan make-up tebal, dia tetap terlihat cantik dan menawan. Dengan mengenakan jilbab polos berwarna hitam, dipadankan dengan dress panjang berwarna putih gading dengan renda-renda berwarna coklat di tangan dress-nya. Membuat Fira benar-benar tampak cantik.


“Nggak perlu lama-lama dong make-up-nya, kita harus cepat turun!” perintah suaminya. Fira mengernyit. "Udah cantik itu!" lanjutnya tersenyum mengelilingi istrinya dengan senyuman.


“Bunda acaranya ginian dimulai jam berapa sih? Sefti tuh harus pergi ke rumah teman, Bun!” sela putri sulungnya sembari mengetuk pintu kamar dengan terburu-buru, namun tidak ada jawaban. “Bunda, kira-kira selesainya jam berapa?” lanjut putrinya dengan mengetuk lebih keras.


“Kamu ini nggak pengertian banget sih! Kita kan lagi buat doa selamatan atas pulangnya ayah kamu ke rumah, nggak bisa apa kamu diam sampai acaranya selesai!” jawab Fira bergegas membuka pintu kamar dengan nada sedikit emosi.


“Tapi, Bunda! Sefti udah janji kalau malam ini bakalan keluar sama mereka! Ya, janji harus ditepatin dong,” ungkapnya memaksa.


“Kamu ini keterlaluan banget sih!” abainya menarik kursi roda dan mendorong keluar kamar.


Acara pun dimulai dari ba’da maghrib dan dilanjutkan dengan sholat isya’ berjamaah di musholah rumah mereka hingga acara selesai pada pukul 10 malam. Putri sulung Fira terlihat gelisah dan sangat tidak keruan.


Ketika beberapa tamu yang ada sudah pergi meninggalkan rumah, putri sulungnya pun ikutan berpamitan kepada Fira dan lekas meninggalkan rumah dengan ekspressi wajah yang terlihat sangat senang. Seolah segala bebannya terangkat sudah, lepas dari belenggu religius yang membosankan baginya.


Syukuran kesembuhan Pak Rahmat, suami Fira berakhir dengan kekesalan kepada si sulung.


***


Pagi ini, seusai acara semalam, Fira memulai harinya kembali. Hari-hari yang sama seperti saat suaminya belum mengalami kecelakaan lalu lintas.


Tidak terasa, 3 bulan lagi akan tepat 16 bulan sang suami mengalami kecelakaan. Sebuah kecelakaan yang menghancurkan mobil putihnya dan membuatnya koma hampir selama 10 bulan.


Namun, harapan dan keinginannya ini lagi-lagi sedang dikacaukan oleh putrinya yang meminta untuk diantarkan lebih cepat ke sekolah. Bahkan tanpa sarapan terlebih dulu, dia beralasan takut terkena macet atau takut terlambat, yang membuat Fira lagi-lagi harus bersabar menghadapu Sefti.


Semenjak sang suami pulang ke rumah tidak sekalipun putri sulungnya ikut sarapan bersama di meja keluarga, ruangan ini sudah setahun tidak pernah dijamah oleh seluruh anggota keluarga yang lengkap.


Fira kecewa, dia ingin semuanya berkumpul meja makan untuk menghibur sang suami.


***


Sore itu, Fira menemukan sebuah kalung emas di kamar mandi, karena penasaran dia pun memungut lalu menyimpan di laci meja ruang tamu. Terpikir olehnya benda itu, entah kenapa ada di tempat ini. Yang jelas itu bukan miliknya.


Waktu makan malam tiba, seharian Fira sibuku mengurus suami dan si bungsu. Si putri sulung, Sefti, terlihat kurang sehat dan terkesan mengurung diri di kamar.


Mulai gelisah, Fira pun memutuskan untuk menengok ke dalam kamar.


“Kamu nggak apa-apa kan Sefti?” ucap Fira sambil menyingkap selimut berwarna hot pink yang menyelimuti tubuh kurus anaknya.

__ADS_1


“Nggak kok, Bun!”


"Terus kenapa nggak makan di bawah?"


"Nggak apa-apa!!!"


“Itu makanannya udah bunda taruh di meja belajarmu,” ucapnya sambil pergi meninggalkan anaknya dan kembali ke meja makan.


“Bagaimana Sefti, dia nggak lagi demam ‘kan?” tanya suaminya sedikit khawatir ketika sang istri kembali ke meja makan.


“Tenang aja, Yah ... kayaknya Sefti cuma pura-pura deh. Udah ... Ayah makan aja dulu.” Fira duduk dengan wajah cemberut.


“Bunda?”


“Hmmm?”


“Kok akhir-akhir ini Sefti berubah ya? Aku tuh seperti tidak mengenal Sefti lagi.”


“Namanya juga remaja!” jawab Fira menembahkan lauk kepiring suaminya.


“Apa karena pergaulannya di Sekolah ya? Aku kan tahunya Sefti itu masih kelas 3 smp, jadi rada bingung gitu sama pergaulannya di sma kini.”


“Pulangin aja Sefti ke sd, beres ‘kan,” ketus Fira menyeka mulut si putri bungsu.


“Kamu ini kenapa? Kok jawabnya begitu?”


"Lah kok, jadi Ayah yang salah?" tanyanya melihat si bungsu, si bungsu hanya tertawa ringan.


"Aku lagi nggak mood, Sefti mulai nyebelin banget. Disa tuh waktu remaja nggak susah diatur kayak dia."


“Yang sabar! Kita harus menjadi orang tua yang sabar dan tetap kuat untuk mendidik anak-anak kita,” ucapnya menenangkan.


“Insyaallah ya, ayah! Insyaallah,” ucap Fira dengan wajah setengah kalut.


“Bunda?” panggil Rahmat. “Bunda nggak sendirian kok, meskipun dengan keterbatasan saat ini, ayah tetap akan mencoba menjadi suami dan ayah yang baik bagi kamu dan anak-anak! Dalam keutuhan sebuah keluarga, komunikasi adalah yang terpenting,” terang suaminya tersenyum.


“Iya deh, terserah!” jawabnya acuh tak acuh.


“Kamu kok kebangetan? Kok ngomongnya begitu sih?” ketus suaminya.


“Maaf ayah! Bercanda kok!” ucap Fira tersenyum sembari menaik turunkan alis matanya. Dengan bibir bawah yang digigit dari dalam, pertanda menahan diri.


***

__ADS_1


Sikap sang putri sulung yang semakin menjadi-jadi memang membuat Fira menjadi dongkol dan harus ekstra sabar dalam menghadapi remaja yang satu ini, salah-salah bukannya menjadi patuh bisa-bisa dia justru tambah membangkang. Beruntung sang suami tercinta terus-menerus memberi asupan semangat dan mendukung dalam setiap keputusan yang dipilih Fira.


Pernah sekali, Sefti pulang telat dan tidak pamitan saat menginap di rumah temannya. Kemarin juga ia kedapatan membongkar lemari Fira. Entah apa yang dicarinya?


“Kamu ini kenapa sih? Bunda heran sama kamu?” ungkap Fira saat melihat anaknya tampak ketus saat menonton TV sambil membaca majalah.


“Memangnya kalau aku bilang, kenapa? Bunda tahu gitu?” ucapnya pelan sembari menggoyang-goyangkan kakinya.


“Sefti!” teriaknya.


“Apaan sih?”


“Kamu ini ya.”


“Kalung aku hilang! Udah? Puas?” teriaknya sambil menatap tajam Fira yang duduk di sampingnya dan tadinya sedang asik membuka internet di Smartphone.


“Hey! Hey hey!!! Lihat Bunda!" Amarah mulai membuncah, Sefti membanting majalahnya seolah enggan mendengar suara sang Bunda. "Sejak kapan bunda jadi teman kamu, hah? Kurang ajar kamu ya!” tegur Fira.


"Aku--"


"Jangan jadi anak durhaka kamu ya! Bunda gak suka kamu kayak ginu! Kalau kamu mencari apa, cari sesuatu. Bilang yang benar! Bukannya diam-diam ngeselin gitu!" pungkasnya.


“Kalung …,” ucap Sefti dengan suara volume satu. Ya, dia tahu bahwa takkan bisa menang melawan bunda.


“Apa? Kalung?”


“Iya!”


“Oooh, kalung ya?” tanya Fira sambil berdiri menuju ke suatu tempat dan membuka sebuah laci di ruang tamu.


“Iya!” jawab Sefti tersenyum ragu, sambil memperhatikan sang ibu yang pergi ke arah lain, meninggalkannya sesaat di ruang keluarga.


“Jadi itu yang bikin kamu bete akhir-akhir ini? Gak jelas banget,” ujarnya dengan suara yang cukup keras dari ruangan yang berbeda.


“Emangnya kelihatan ya?” ucapnya perlahan.


“Ini!” singkat Fira sembari mengulurkan tangan yang menggenggam sebuah kalung.


“Bunda nemu di mana?”


“Kamar mandi.”


“Terima kasih ya bunda ...,” ucapnya berlari ke arah kamar.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2