Wanita

Wanita
Episode 10: Pemilihan


__ADS_3

Sabrina pun segera menceritakan semuanya kepada sang ibu. Sabrina juga langsung menyilakan orang itu untuk pergi ke kamar mandi. Kamar mandi yang terlihat kumuh, namun dengan air yang cukup.


Ibunya memasang tampang khawatir. Entah apa yang ada di pikirannya. Sabrina yang melihat itu, lekas memuaskan rasa ingin tahunya.


"Kenapa, Bu?"


“Gini loh. Selama ini, kamu kan yang sering membayar air ini untuk ibu, bukan ibu yang bayar. Jadi, bukannya ibu tuh nggak mau atau bersedia kamu menolong orang lain. Hanya saja, ibu cuma tidak mau kalau nantinya kamu yang akan mendapat kesusahan, kalau kekurangan," bisik ibunya panjang kali lebar, seakan tak rela jika kerja keras putrinya digunakan oleh orang lain.


“Nggak apa-apa, Bu. Ikhlasin saja. Toh itu kan cuma air doang, lagian bapak itu bawa sabun mandi sendiri kok,” jawabnya santai terkesan bercanda.


“Tapi?”


“Ibu, kan kita harus berbagi dengan orang yang sedang kesusahan dan anggap saja itu bagian dari sedekah, ibu sendiri kan yang ajarin Sab seperti itu! Masa iya lupa sih?” ungkapnya meyakinkan sang ibu, mendengar permintaan sang anak, ibunya hanya bisa mengiyakan.


Selesai mandi orang tadi memberikan sesuatu kepada Sabrina. Ketika melihat map hijau itu Sabrina mengingat sesuatu, sesuatu yang mungkin penting baginya, sesuatu yang berharga.


“Loh bukannya ini map berkas punya saya? Ini map yang berisi karangan novel buatan saya kan, Pak?” tanyanya bingung.


“Iya."


"Bapak ini siapa ya? Kok bisa--"


"Sebenarnya saya ini adalah salah satu pegawai di perusahaan penerbit tempat kamu melamar itu!” ungkap orang itu sambil mengambil sebuah jas berwarna abu-abu.


“Loh terus kenapa map saya, bisa berada sama bapak ya?” lanjutnya heran bercampur rasa curiga. Sosok di hadapannya ini tak tampak seperti penjahat, lalu bagaimana bisa dirinya memiliki map Sabrina? Hatinya berkecamuk sesaat. Lagipula itu hanya map berisi naskah novel, tak bisa jadi umpan untuk sebuah kejahatan.


Pria tua di hadapannya pun hanya tersenyum. Dibukanya sebuah percakapan ringan tentang pekerjaan dan sebagainya. Hingga akhirnya ia menceritakan tentang map hijau, yang membuat dirinya harus berakhir di tempat Sabrina.


Sabrina pun diajak menjelajahi setiap memori dalam ceritanya.


***


Langkahnya bergegas, seolah dikejar musuh, tak ingin dirinya terlambat menemui perempuan yang terkenal suka mengomel dan tukang merajuk.


“Bu Fira, semua yang mengikuti kompetisi ada seratus lebih, Bu. Para juri masih kebingungan untuk menentukan pemenang, karena belum diberi template penilaian. Lalu bagaimana?” ungkap pria paruh baya yang tampak rapih dengan setelan jas berwarna biru tua.


“Karena suami saya masih sakit, jadi saya yang akan mengurus semuanya juga melakukan penentuan pemenang. Tapi, kita akan melakukan tanpa template penjurian. Kita pakai cara saya saja dan pak Agus harus bantuin saya ya,” ucap wanita berhijab yang terlihat sederhana itu sambil memegangi pulpen.

__ADS_1


“Iya! Tapi, Bu, para peserta sudah bersusah payah untuk mengirimkan karya dan mengikuti peraturan yang berlaku. Bagaimana bisa kita menilai tanpa poin utama persyaratan. Terlebih lagi, saya ini kan bukan asisten, Ibu Fira! Saya kan asiste—”


"Ssst!" Belum selesai orang itu berucap, wanita berhijab langsung berdiri dan berkata, “Pak saya mohon, saya tuh nggak mengerti soal yang beginian! Makanya terserah bapak saja."


“Tapi, Bu ....”


“Pokoknya saya cuma mau tahu beresnya aja ya!”


“Iya, Bu!” jawabnya terpaksa.


“Saya mau kamu pilih kan 3 orang penulis sesuai dengan prosedurnya saja, oke!"


"Prosedur?"


"Kan bisa pakai template penjurian terakhir. Pakai itu saja."


“Baiklah, kalau begitu ... saya mengerti dan akan saya coba!” Orang itu pun menuruti kemauan Fira.


“Setelah itu baru saya yang akan mereview dan menentukan juaranya, diantara mereka bertiga,” ungkapnya tersenyum.


***


Sebulan kemudian, Pak Agus harus memutuskan siapa 3 terbaik dalam kompetisi penulis muda berbakat. Bahkan dia harus sering-sering lembur bersama tim kerjanya untuk membaca naskah novel para penulis muda dan memutuskan siapa 3 terbaik.


Bukan hanya sebatas membaca sinopsis, si Bos baru meminta untuk membaca halaman per halaman karena tidak ingin kecolongan seperti event-event sebelumnya.


Namun sayangnya, dia dan tim justru mendapatkan 5 nama yang dirasa punya kualitas terbaik dalam tulisannya.


“Kok lima sih, saya bilang ‘kan tiga aja! Saya mintanya tiga, ketentuannya juga tiga.” Wanita berhijab itu tampak kesal sambil sesekali menatap seorang pria di kursi roda.


“Maaf, Bu, terus saya harus bagaimana nih? Semuanya bagus-bagus kok!” tanya pak Agus.


“Ooh, jadi kalau bapak lihat cewek cantik banyak di jalanan, mau bapak bawa pulang semuanya. Gitu?” ucap Fira kesal.


“Iya, nggak lah, Bu ... Mana mungkin saya begitu! Maksud saya 'kan bukan begitu, Bu. Waduh," jawabnya membela diri.


“Masa iya pemenangnya harus lima sih? Di aplikasi lombanya, kan 3 pemenang. Yah harus kayak gitu dong. Bagaimana sih? Ngomongin soal template penjurian kemarin, eh hari ini malah gak konsisten,” bawel wanita itu.

__ADS_1


“Kan ibu bisa bantu mereview semuanya!”


“Kamu buta ya? Nggak liat suami saya masih sakit, saya juga punya anak-anak yang harus saya urusin!” ucapnya kesal.


“Saya kan nggak bilang harus pak Rahmat yang ngerjain juga."


“Issh … Kamu kok nyolot ya? Saya ini istrinya bos kamu dan selama ini saya yang menggantikan pekerjaan suami saya. Kamu harus hati-hati dalam bersikap maupun berucap, kalau nggak? Saya pe-cat kamu!” ucap wanita itu berapi-api, mirip seseorang yang sering mengeluarkan kata memecat.


“Kalian berdua bisa berhenti nggak!” pinta suaminya yang sudah sakit kepala, bonus sakit perut mendengar perdebatan di hadapannya.


“Maaf, Pak!"


“Bunda?” panggil suaminya menenangkan.


“Maaf, Pak Rahmat!” lanjutnya ringan.


“Begini saja, dari kelima nama itu bunda pilih dua nama. Nah ... sisanya biar pak Agus yang saja yang mengurus dan memutuskan,” ucap pria berkursi roda sambil memegangi tangan sang istri.


“Terus sisanya mau diapakan, Pak?" tanya asisten itu penasaran.


“Ya udah ... Terserah pak Agus saja deh! Mau dimenangkan dengan embel-embel naskah favorite juga nggak apa-apa," jawab Fira meletakkan buku yang dipegangnya dan mendorong pelan kursi roda pria itu ke arah kamar.


“Tapi, Pak?” selanya tak rela bosnya pergi tanpa penjelasan yang pasti.


“Apalagi?” tanya wanita itu.


“Jadi, saya nih yang menentukan juara ketiganya, Bu. Begitu?”


“Iya, kan istri saya sudah setuju tadi,” jawab suami wanita tersebut.


“Yaudah, Bu, Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Nanti saya yang akan mengurus semuanya!" ucapnya tenang. “Maaf sudah mengganggu istirahatnya ya, Pak. Nanti akan saya kabarin lagi perkembangannya," lanjutnya berdiri dari sofa dan hendak pergi.


“Iya!” Fira yang menjawab penuh ketegasan dan terkesan jutek.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2