Wanita

Wanita
Episode 17: Apa Kabar? (2)


__ADS_3

"Disa?” panggil Aris dengan tatapan aneh. Matanya seolah berbicara. Tataplah aku, ini aku ....


“Apaan sih!” tepis Disa dan berjalan menjauhinya.


“Gue dengar perusahaan loe bangkrut ya?” teriak Aris, sambil tersenyum simpul.


“Iya, kenapa?” Disa pun memaksakan diri melayani pernyataan sampah itu. Reski menahan lengannya.


“Ikut aku ke Jepang yuk? Aku bakalan ceraikan Riana!”


“Diam!” bentak Disa.


“Dis! Maafin aku! Selama ini aku tuh nggak bahagia!” Aris meminta.


“Bagaimana mungkin kamu tuh nggak bahagia? Kamu punya udah Riana dan anak-anak!” Disa mengingatkan.


“Mau elu apa sih? Hah?” Reski akhirnya beraksi, tak tahan dengan ocehan teman lama. Ia pun memegangi kerah jaket berwarna cokelat muda yang dikenakan Aris.


“Gue mau ngomong sama Disa, please kasih gue waktu!” Aris memohon padanya.


“Lepasin Res!” pinta Disa, Reski tak mau melepaskan genggamannya, “Nggak ada lagi yang perlu kita omongin, semuanya udah berakhir!” Disa melepaskan tangan Reski dari leher Aris.


“Tapi, Dis?”


“Ariana lagi hamil! Jangan bikin dia stres! Dan jangan pernah ganggu aku lagi!” ucapnya, menahan diri.


Disa mengajak Reski pulang dan perkataan itu tampak membuat Aris terkejut, karena sejatinya dia tidak tahu istrinya tengah hamil. Aris hanya lelaki dewasa yang bersikap dan bertingkah seperti bocah.


***


Disa tampak tertekan, dengan wajah sedih dia berjalan sedikit sempoyongan didampingi Reski yang coba menahannya kalau-kalau dia jatuh.


“Kenapa? Kenapa mereka berantem harus bawa-bawa aku?” Disa hampir menangis.


“Dis?” panggil Reski menenangkan.


“Kenapa? Kenapa Res?” Tangis penuh sesak pun pecah.


“Berdiri! Kamu nggak boleh kayak gini!” perintahnya sambil menarik tangan Disa agar berdiri dari posisi jongkoknya. “Kita ada di depan rumah kamu loh! Berdiri!” lanjut Reski.


“Res? Dulu Aris mutusin aku karena Riana hamil, sekarang aku yang mencoba untuk menyatukan mereka, juga karena Riana hamil. Salahku apa?” ungkapnya menangis.


“Kamu jangan nangis dong!” Reski menenangkan.


“Aris!” panggil Disa. “Aku benci kamu.”


“Jangan kayak gini dong, kamu lukain hati aku kalau kayak gini. Kamu nggak pantas menangis gara-gara dia, apalagi ini cuma masalah sepele Dis!”


“Reski? Bagaimana kalau....”


“Kalau apa?”


“Kamu nikah ama aku aja, ya?”


“Apa?” Reski terkejut.


“Biar Aris nantinya nggak gangguin aku, biar dia bisa balikan sama Ariana lagi. Please!” Disa memohon.


“Apa?” tanya Reski terkejut, sebab wanita yang dicintainya, kini tiba-tiba mengucapkan hal yang seperti itu.


“Bu Disa?” sang pembantu rumah tangga mengagetkan keduanya.


“Ah, maaf Res… Maaf!” Disa menyeka air matanya dan berlari kecil menghampiri pembantu rumah tangganya, dengan tangisan yang diredam dan mata yang terlihat gugup sambil menatap malu pada Reski.

__ADS_1


***


Hari ini adalah hari yang indah, tapi saat mendengar hal seperti ini siapa yang tak terkejut. Hari ini Reski dan Maya resmi berpacaran, kesalahan Disa malan itu membuat Reski menyatakan cintanya.


Setelah semua persahabatan itu telah berpisah selama bertahun-tahun, Karina rekan sekampus Reski dan Disa datang menemui keduanya di Restoran.


“Siapa?” tanya keduanya kompak.


“Maya. Dia sakit parah dan sekarang di rumah sakit, dia minta aku untuk cari semua temannya yang ada di foto ini. Dia cari kalian,” ungkap Karina lemah menunjukkan foto.


“Foto ini juga ada di Maya?” tanya Disa menatap foto itu.


Mendapatkan kabar buruk itu. Keduanya lekas meninggalkan restoran dan pergi menemui sahabatnya tersebut. Pohon-pohon dan rumah tampak berjejer dari balik jendela mobil. Disa kacau, ingatannya pun melayang.


***


“Pas lulus nanti kamu mau kuliah di jurusan apa Dis?” tanya anak perempuan berbaju kuning yang lagi asik ngotak-ngatik komputer.


“Aku mau ngambil Jurusan management!” jawab Disa Remaja.


“Ciye-ciye, sama Aris dong?” goda temannya membuat wajah apem Disa bersemu merah.


“Jadi dari kita berenam, kalian berempat bakalan kuliah di tempat yang sama.”


“Iya, tapi aku sebal sama Riana masa dia milih ambil jurusan Kedokteran sih! Kan Nggak Asik!” seloroh Disa.


“Maklum lah, dari kita berenam yang paling berduit kan dia doang, jadi dia tuh dibebaskan untuk milih jurusan apapun kesukaan dia.”


“Iya sih, eh ngomong-ngomong dari tadi lagi ngapain sih!” tanya Disa menyidik kesibukan temannya di depan komputer.


“Lagi nyari data tentang kampus!” jawabnya santai.


“Kamu jadi kuliah di Harvard? Nggak semudah itu bisa diterima di sana." Disa menengok apa yang tengah dilihat temannya itu.


“Kalau saja aku sekaya Ariana dan sepintar kamu, mending aku ke Harvard!” Disa tersenyum.


“Sabar! Kalau kamu sukses, nantinya jangan lupain aku ya!” candanya.


“Tenang aja, May! Kalau nanti aku jadi pengusaha sukses, aku nggak bakalan lupa sama kamu kok! Aku janji!” rangkul Disa pada teman yang selalu suka menguncir rambutnya itu.


“Gombal! Ada Aris tuh!” tunjuk Maya ke arah pintu.


“Apaan Sih! Itu kan Reski! Res masuk!” Disa berjinjit melihat ke arah jendela yang letaknya lumayan cuckup tinggi.


“Pada ngapain sih berduaan di lab?” tanya Reski muda dengan santainya.


“Lagi kangen-kangenan, bentar lagi kan akan ada yang ke luar negeri!” jawab Disa.


“Ciye-ciye pacaran ye …? Ciiyee!” goda Reski tertawa.


“Apaan Sih! Iiih …!” Maya tertawa.


***


Setibanya di rumah sakit. Disa dan Reski dikejutkan dengan pasangan suami istri dan seorang anak perempuan cantik yang sedang menunggu di depan sebuah ruangan yang dingin. Tatapan ke empat sahabat lama ini, terpaku, bergeming menandakan ada guratan duka di antara mereka yang coba dan harus ditutupi.


“Apa kabar?” ucap salah seorang di antara mereka.


“Iya ... Apa kabar!” Jawab Reski singkat. Disa terdiam menatap pintu ruangan kelas tiga itu dan lekas masuk ke dalam menghiraukan apa yang sedang terjadi.


Mendapati Maya yang terbaring lemah membuat Disa yakin ada sesuatu yang buruk benar-benar sedang menimpa sahabatnya itu.


“Disa? Itu kamu ya?” tanya wanita bersuara lemah. Disa menahan diri, meletakkan tangan kiri ke mulutnya. Mencoba membungkam rasa sedih dan prihatin melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


“Maya?” Disa memegang tangan Maya.


“Iya, Dis!” jawabnya terbaring lemah,


“Kamu sakit apa?” tanya Disa dengan mata berkaca.


“Nggak kok, ini cuma lagi nggak enak badan aja!” Maya terbatuk dan membuat Disa lekas mencoba membuat dia duduk di ranjang.


“Oh ya Selamat ya! Aku dengar kamu mau nikah sama Reski?” ucap Maya mengenggam tangan Disa.


“Iya ... Makasih, baru rencana aja kok,” jawab Disa menahan tangis.


“Kamu kenapa?”


“Nggak! Nggak apa-apa, aku keluar bentar ya …,” jawab Disa seakan ragu melepaskan genggaman dingin tangan Maya.


“Dis!” Panggil Maya menghentikan langkahnya,


“Hmm?” jawab Disa tertahan.


“Jangan nangis di luar seperti Ariana ya…,” pintanya dengan senyuman.


“Iya!” Disa lekas berlalu dengan setitik air mata di ujung mata kirinya.


Saat keluar Disa mendapati ketiga sahabatnya tengah berbincang dengan dokter yang akan segera masuk memeriksa Maya.


“Iya dokter, terima kasih!” ucap Aris sembari merangkul Ariana yang tengah menangis.


“Disa!” panggil Reski memecah sepinya kepala Disa.


“Apa kata dokter?” Disa mendekati mereka seakan tegar.


“Maya--”


“Ini Kanker stadium dua!” ucap Aris tegas dan disambut pelukan Ariana yang sedang menangis, anak yang bersama mereka pun ikut menangis karena melihat orang dewasa yang tengah menangis di sekelilingnya.


“Kanker?” tanya Disa menahan tangan kanannya di dinding, kepalanya mendadak pusing dan napas pun berat.


“Iya, kanker otak stadium dua!" jawab Reski.


“Suaminya?” tanya Disa dengan mata berlinang.


“Sudah meninggal tiga tahun lalu!” Reski menyentuh pundaknya.


“Apa? Kok aku nggak tahu kalau suaminya sudah meninggal?” Disa menatap sang calon suami.


“Aku juga baru tahu tadi, pas aku nanya ke Maya,” jawab Aris merunduk.


“Anak?” tanya Disa Lagi.


“Dia nggak punya anak!” jawab Ariana menangis parah.


“Harus ada yang di dalam buat jagain Maya!” pinta Aris.


“Aku nggak mungkin, sayang. Aku nggak bisa biarin Tania di rumah sakit!” jawab Ariana terlihat tak tega.


“Biar aku aja! Kamu kan lagi hamil, jangan lama-lama di rumah sakit!” Disa masuk ke dalam ruangan meninggalkan mereka yang terlihat sedih.


Kamar rumah sakit ini mendadak seperti dipenuhi bawang merah, Disa hanya bisa melihat sahabatnya dengan tatapan sedih bercampur rindu karena sudah hampir lebih dari 7 tahun tidak pernah bertemu.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2