Wanita

Wanita
Episode 18: Aku Minta Maaf


__ADS_3

Belasan tahun lalu.


Hari Ini merupakan hari pendaftaran siswa baru di salah satu SMP negeri. Disa, seorang anak pendiam yang sangat suka menonton film, mendaftar di sebuah sekolah pilihan, akibat salah seorang guru SD-nya yang terus memerjuangkan agar anak beralis tipis itu mendapatkan beasiswa miskin dan beasiswa berprestasi.


Akhirnya dirinya mampu menikmati indahnya bangku sekolah elit.


Momen inilah yang mempertemukan Disa dengan kedua sahabatnya Maya dan Reski. Ketiganya selalu menjadi rekan sekelas hingga kelas 2 SMP, sampai pada akhirnya di kelas 3, Reski pindah sekolah karena alasan yang tak diketahui dan mengharuskan bocah tinggi itu harus berpisah dengan para sahabat.


Setahu Disa, Maya sangat menyukai Reski. Maya selalu memupuk cinta monyet itu di pot pink, memberinya pupuk perhatian khas cinta pertana.


Tetapi, Reski hanya menganggap Maya sebagai sahabat dan malah ia sering meminta bagaimana pendapat Maya maupun Disa, tentang seorang adik kelas yang cantik namun tidak seterkenal yang lain. Namun, sama seperti Maya, Reski pun menjadi gayung tak bersambut atas adik kelasnya itu.


***


“Kamu tahu nggak, semalam aku tuh lihat film kartun sama papaku dan film-nya bagus banget!” cerita Maya kecil dengan semangatnya.


“Yaah … Semalam di tempatku mati lampu!” gerutu Disa. “Oh ya, tentang apa sih filmnya! Beli di mana dvd-nya?” lanjut Disa penasaran.


“Ah paling juga soal cinta monyet!” jawab Reski mengolok.


“Kamu tuh yang monyet!” sela Maya kesal dan disambut tawa kecil keduanya.


“Ssstt!!!” tegur guru pengawas, sembari menunjuk tulisan di dinding ruang perpustakaan.


Dilarang Berisik! Tenang.


“Reski?” bisik Disa.


“Apaan?” jawab Reski berbisik juga.


“Kelas tiga nanti kamu beneran mau pindah gak?” lanjut Disa.


“Iya …."


“Ooooh,” jawab Disa mengangguk. “Pss … Psst! Jadi!” ucapnya pada Maya.


“Oooh!” jawab Maya singkat sambil membuat bibirnya berbentuk huruf O.


***


Sepulang Sekolah, ketiganya selalu berpisah di depan Gerbang sekolah. Reski yang menumpang pada teman laki-lakinya, Maya yang dijemput dengan motor bebek sang ayah dan Disa yang harus berjalan kaki sepanjang beberapa ratus meter ke tempat angkot ngetem.


Saat SMP, mereka jarang bermain bersama sepulang sekolah.


***


Karena memang sudah menjadi sebuah takdir yang digariskan, saat memasuki SMA ketiganya ternyata dipertemukan kembali. Selain itu, mereka bertemu teman baru. Ariana, Aris dan Kevin yang kemudian membentuk geng BFF saat kelas dua SMA dan tetap menjadi sahabat sampai di saat mereka kuliah.


***

__ADS_1


“Kamu ingat kan semuanya? Yang ini juga,” ucap Ariana memperlihatkan foto-foto masa SMA dan Kuliah mereka kepada Maya.


“Iya … Kamu Dis? Ingat?” tanya Maya menatap Disa yang sedari tadi duduk di pojokan.


“Iya, masih ingat kok!” jawab Disa menghampirinya di ranjang sembari tersenyum kaku.


“Aku ingat waktu kita ketemu di kelas, kamu itu sombong banget Riana!” ujar Maya dan membuat Ariana tersenyum.


“Maaf ya ... Tapi kan habis tuh kalian berdua yang jadi teman baik aku!” Ariana menggoda.


“Dis?” Panggil Maya.


“Ya ...?”


“Kamu Berubah ….”


“Oh ya?” Disa mendadak kikuk.


“Iya!”


“Berubah? Hahaha. Berubah apanya?” Tanya Disa terdengar malu.


“Kamu jadi pendiam lagi! Sama waktu kita pertama ketemu pas SMP dulu!” lanjut Maya mengingat.


“Oh ya? Enggak kok! Perasaan kamu aja." Disa mengelak.


“Riana?” panggil Maya kembali yang disambut senyuman Ariana. “Boleh pinjam tangan kamu nggak?” lanjut Maya meminta.


Dengan tangan kanan yang terinfus Maya mengambil tangan kiri Disa dan mempersatukan kedua tangan sahabatnya.


“Sebelum aku meninggal, aku ingin kalian berdua mengakhiri peretengkaran kalian selama 10 tahun ini!”


“Kamu ngomong apaan sih?” ucap keduanya kompak.


“Kevin belum datang juga dari Kanada?” lanjut Maya tersenyum mengalihkan ucapan karena kaget melihat reaksi Disa dan Ariana.


Disa dan Ariana hanya bisa saling bertatapan dengan perasaan yang tak keruan, keduanya juga terdiam dan ketika melihatnya membuat Maya ingin terus tersenyum.


“Aku keluar ya,” pamit Ariana meninggalkan album fotonya di pangkuan Maya yang tengah duduk bersandar.


Setelah Ariana pergi. Keheningan menyerang perlahan, jangan sampai beku, Disa memulai percakapan.


“Oh ya, kamu kerja apa? Terakhir kan kita ketemu pas kamu nikah, dan kamu kan mengajar di SMP kita yang dulu. Iya, kan?” tanya Disa basa-basi.


“Iya, aku masih ngajar kok!”


“Ooh ...!”


“Kalau bukan karena aku pingsan di sekolah kemarin-kemarin, aku nggak bakalan dibawa ke sini. Aku tuh nggak suka di sini!" jawab Maya menatap jendela.

__ADS_1


“Yang sabar! Siapa juga sih yang suka rumah sakit?"


“InsyaAllah!” Maya mengehela napas.


“Oh ya, masih mengajar di sekolah kita yang dulu?”


“Nggak! Aku pindah ke salah satu daerah di Kalimantan, setelah suamiku meninggal!”


“Kenapa kamu nggak pernah cerita sih?”


“Aku kehilangan nomor kontak kamu saat suamiku meninggal, jadi--”


“Jadi, kenapa kamu bisa mengajar di Kalimantan?” sela Disa mengalihkan pembicaraan yang terkesan membiru saat membahas orang meninggal.


“Ada banyak anak potensial yang ada di sana, aku hanya ingin mengembangkan potensi mereka. Saat gagal masuk Harvard, hidupku benar-benar berantakan. Ditambah papaku yang meninggal, aku harus tinggal dengan kakak laki-laki yang sangat menyebalkan dan membuatku lari dari rumah sampai akhirnya aku ketemu Mas Amar dan dia pun kuliahin aku,” cerita Maya.


“May?” Panggil Disa prihatin.


“Dia yang menjaga aku selama hampir 7 tahun, anakku yang nggak pernah lahir karena harus keguguran di tahun ketiga setelah kami menikah. Membuatku memutuskan untuk mengajar kembali, biar aku bisa selalu dekat dengan anak-anak lagi."


“Tapi, mas Amar nggak setuju. Karena kalau saat dia pulang kerja, aku nggak ada di rumah. Karena sekolah yang jauh dari rumah kami, aku sering nginap di sekolah ... Dia suka takut kalau aku kenapa-napa!”


“May!” panggil Disa mencoba menghentikan cerita Maya yang membiru.


“Hah?” tanya Maya menatap Disa dengan mata berlinang.


“Maafkan aku! Di saat-saat seperti itu aku justru nggak ada di samping kamu! Aku malah sibuk dengan duniaku sendiri setelah kita lulus SMA. Aku benar-benar minta maaf! Maafin aku, May!” ungkap Disa memeluk Maya tak tertahan. Hatinya terasa nyeri.


“Mana mungkin aku membebani kamu, sedangkan beban hidup kamu sudah sangat berat!” ucap Maya menenangkan tangisan Disa.


Di balik pintu ruangan, ternyata ada Ariana yang tengah menahan tangis hingga matanya memerah, tak kuasa menahan tangis Ariana pun langsung masuk ke dalam dan memeluk kedua sahabatnya itu.


“Aku yang harusnya minta maaf, aku lebih mementingkan Ego aku dibandingkan persahabatan kita. Aku benar-benar menyesal sudah menghindari kalian dengan pergi ke Jepang setahun setelah menikah dengan Aris! Bahkan aku nggak ada niatan untuk cari kamu, May." Ariana menangis tersedu-sedu,


“Ngapain kamu pake nangis?” sinis Disa.


“Kamu masih marah?” tanya Ariana terhenti.


“Bukan gitu!”


“Aku minta maaf! Maaf …,” sesal Ariana.


“Kalian berdua ya. Aku udah dengar semuanya dari Reski. Jadi, jangan kayak gini dong,” tegur Maya sedikit sesak.


"Maaf." Kata itu masih neluncur dari mulut Ariana.


“Minta maaf aja berantem, lucu,” lanjut Maya sambil merangkul keduanya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2