
Setibanya di sebuah kantor, Sabrina segera mengeluarkan sebuah map berwarna hijau dan mendaftarkannya di bagian penerimaan penulis baru.
Hampir saja sang petugas tak mau menerima map hijau yang diberikannya, karena batas waktu penerimaan hanya sampai pukul 14:00 siang. Namun, dengan gigih dan pantang menyerah, Sabrina terus mendesak petugas, hingga map hijau nan imut itu bisa diterima oleh petugas.
Di seberang kantor resepsionis, tepatnya masih di dalam lobi yang sama. Seorang pria berkursi roda keluar dari sebuah ruangan didorong oleh seorang wanita berhijab. Orang-orang yang berada di sekitarnya silih berganti menyelamati pasangan itu.
“Selamat ya Ibu Fira, operasi Bapak Rahmat sukses." Sabrina mencuri dengan dari ujaran beberapa orang, melihatnya Sabrina hanya tersenyum dan melangkah pergi dari gedung kantor dengan harapan cita-citanya dapat terwujud.
***
Setiba di kos-kosan, Sab biasa dia disapa mengambil sesuatu dari dalam lemari. Sebuah celengan keramik berbentuk gentong terdengar berat,
“Ya Allah, semoga isinya sudah cukup! Hamba perlu uang,” harapnya sambil memukul celengannya dengan palu.
***
Pagi ini Sabrina tampak begitu terburu-buru, dengan mengenakan T-shirt tangan panjang berwarna ungu tua dan celana jeans yang longgar serta hijab express berwarna hitam. Dia pergi menaiki angkot yang sesak dengan hati yang galau.
“Maaf pendaftaran sudah ditutup sebulan yang lalu,” ucap seorang petugas di bagian informasi, mencoba mengabaikannya.
“Pak, saya bukan mau daftar. Saya itu mau mengecek nama pemenang penulis baru di perusahaan ini, kira-kira dua bulan yang lalu saya sudah daftar pak!” ungkapnya sedikit tersengal, sebab kelelahan karena angkot yang berhenti jauh dari kantor, mengharuskannya berjalan kaki sambil berlari kecil.
“Oooh, sebentar ya!”
“Iya pak, saya dengar pemenangnya juga udah keluar seminggu yang lalu!” lanjutnya terengah.
“Maaf namanya siapa, Dek?”
“Sabrina, Pak!”
"Cuma Sabrina?"
"Sabrina Irawan."
“Oh. Maaf nih, tidak ada pemenang dengan nama Sabrina, Dek. Coba lain waktu lagi ya, dek!”
“Oh iya, Pak. Terima kasih banyak,” jawabnya ringan disertai tarikan napas panjang. Kecewa, tentu saja. Tapi, Sabrina hanya sedang mencoba untuk tenang.
__ADS_1
***
Angin berembus lembut, wanginya mengingatkan akan aroma ibu yang mendadak dirindukan hati kecil. Jari jemarinya mendadak terhenti, lalu bibir merona itu tersenyum simpul.
Sabrina tengah memainkan laptop di sebuah tempat yang sejuk di sudut kampus. Tepatnya berada di bawah pohon beringin yang rindang dan nyaman. Jari yang lincah itu menari-nari di atas keyboard menyaingi kecepatan gugurnya dedaunan yang mulai mengering.
Sekilas, tempat ini seperti tempat di drama Korea. Ditemani dengan es teh manis kesukaan, serta angin sepoi-sepoi yang sangat nikmat, semakin membuatnya begitu menikmati kebesaran Allah dengan perasaan yang sangat damai.
“Sab, gimana? Keterima nggak?” tanya seorang teman begitu antusias dan memecah kedamaian yang diciptakan Sabrina sedari tadi.
“Apaan sih berisik banget!” ucapnya sambil melanjutkan pekerjaan.
“Itu, kontes penulis muda?” lanjut salah seorang dari 4 temannya.
Dia pun hanya menggeleng dan menatap teman-temannya dengan wajah datar kemudian tersenyum, teman-temannya hanya bisa menghibur. Karena sikapnya yang selalu seperti itu, teman-temannya sudah menduga pasti dia gagal.
“Sabar ya Sab, masih ada lain waktu kok! Aku yakin kamu pasti bisa,” kata salah satu temannya.
“Iya aku tahu, itu pasti belum rezeki aku aja kok. Makasih ya semuanya! Aku nggak apa-apa kok,” jawabnya dengan wajah yang tenang.
“Heran deh Sab, bisa-bisanya segitu tenangnya setalah gagal?” sela seorang teman memukul halus pundaknya.
“Fix, otaknya error nih! Yang sabar ya?” ujar gadis lainnya tertawa dan membuat Sabrina tersenyum menahan tawa.
“Iya, kalau ada masalah ngomong aja ke kita, oke!” ungkap teman-temannya.
"Iya, rempong banget sih kalian."
***
Beberapa hari kemudian Sabrina memilih meninggalkan kota dengan cuti kuliah dan pergi ke kampung halamannya, meninggalkan kota Jakarta yang penuh sesak dan penuh dengan keramaian yang memenatkan pikiran dan jiwa.
Dia pergi untuk memberikan uang yang telah terkumpul kepada sang ibunda tercinta, anak kedua dari 3 bersaudara ini tengah mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan sang adik yang mengidap penyakit kelainan hati. Bukan hanya itu, Sabrina mendadak rindu pada sosok lembut itu.
Mahasiswa kesastraan yang hidup dari beasiswa ini, selalu mengirimkan uang setiap bulan kepada ibunya, uang yang dikumpulkan dengan menjual imajinasi dan uang sewa dari teman- teman yang meminta bantuan mengerjakan tugas kampus. Sedangkan Kakak lelakinya sudah hampir dua tahun dipenjara atas tuduhan perampokan. Tak bernasib baik, memang.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Sab memutuskan untuk menggantikan Ibu berjualan keripik pisang dan berkeliling di kompleks desa menjajakan jualannya. Dia meminta Ibu untuk beristirahat saja di rumah dan menjaga adik yang tengah sakit. Setidaknya, ini bisa meringankan beban sang Ibu.
Sepulang dari berjualan, Sabrina bertemu seorang pria tua. Usianya sekitar 50 tahunan, dia tengah duduk berteduh di pinggir jalan. Tepat di bawah pohon yang sejuk dan berangin halus, orang itu tampak membawa sebuah tas.
Sabrina, adalah karakter yang serba ingin tahu. Ia pun mencoba menyapanya.
“Assalamualaikum, Pak?”
“Waalaikumsalam?” jawab orang itu menengok ke arah Sabrina.
“Lagi ngapain? Kok bapak ada di situ sih?” tanyanya sambil membantu orang itu berdiri.
“Lagi nunggu masjid buka, Dek, saya mau numpang mandi di kamar mandi masjid!” jawab orang itu malu-malu.
“Loh memangnya kamar mandi di rumah bapak kenapa?”
“Ooh, ii-i-itu, di rumah saya nggak ada kamar mandi. Ada juga, cuma kamar mandi umum di tetangga gitu. Tapi, itu juga banyak banget yang ngantri!”
“Oooh ... Ya udah, kalau mau? Bapak bisa numpang mandi di rumah saya saja! Gimana? Kalau nunggu waktu Dzuhur masih lama, biasanya pagar masjid di sini, dibuka 20 menit sebelum waktu adzan,” tawarnya.
“Yang benar nih, Dek?”
“Iya! Ayo ikut saya!” seru Sabrina sambil membantu orang itu berjalan.
“Benar nih nggak apa apa?" tanya orang itu tidak percaya.
“Iya, Pak! Rumah saya dekat situ kok,” ucapnya tersenyum meyakinkan. Mahasiswa berkulit kuning langsat itu hanya tersenyum dan tanpa ragu mengajak orang itu ke rumahnya.
“Assalamualaikum!" ucap mereka berdua ketika tiba di teras rumah yang masih beralaskan tanah.
“Waalaikumsalam, gimana Sab jualannya?” jawab ibunya sambil berlari keluar.
“Alhamdulillah, Bu, jualannya habis!” jawab Sabrina menaruh nampan yang dibawanya ke sebuah meja di depan rumah dan memberikan uang hasil penjualan kepada ibunya.
“Loh orang ini siapa, Sab? Ada apa ya? Ada yang bisa dibantu?” tanya ibunya heran.
***
__ADS_1
Bersambung