
Waktu telah menunjukkan pukul 04-37 pm, Disa sedang berbincang-bincang dengan Aris dan Ariana. Lucu, sekian tahun ketiganya tak pernah duduk menghadap satu sama lain.
Namun, demi Maya. Ketiganya mengenyampingkan ego dan menahan segala dendam. Utamanya Disa, si wanita penggerutu.
Mereka membahas tentang masa depan Maya nantinya. Tampak serius, hingga melewatkan waktu.
“Oh ya, Ris?” panggil Disa menatapnya bingung
“Apa?”
“Kamu dari tadi salat Dzuhur?" Aris mengangguk. Disa tertawa. Ini lucu, tampaknya dengan Maya yang sakit sudah cukup mengubah pria tidak tahu diri ini. "Kok, belum beranjak dari sini sih! Kamu nggak salat Ashar? Udah lewat tuh,” lanjut Disa mengingatkan.
“Oh, iya! Aku lupa! Aduh!” ucapnya bergegas ke arah luar ruangan.
“Aris mau ke mana?” tanya Ariana yang baru saja kembali dari toilet.
“Mau ke mushollah, kayaknya!” jawab Disa menoleh ke luar ruangan.
“Beneran mau Ashar di masjid?” Maya kaget.
"Mau Maghrib-an, dia," canda Disa. Aris kembali ke ruangan buru-buru mencari kopiah-nya.
“Udah telat, Ris. Salat di ruangan ini aja!” perintah istrinya menyiapkan sajadah.
“Ya udah, aku wudhu dulu ya!” Aris kembali beregegas.
“Kita keluar yuk!” pinta Maya tiba-tiba.
“Siapa? Kamu?” tanya Ariana. Maya mengangguk. "Gila," serunya memiringkan bibir bagian atas.
“Nggak boleh!” Disa menekankan.
“Nggak mau! Please, aku bosan nih! Ya? Ya?” pinta Maya meyakinkan.
“Kayaknya kamu tuh udah nggak perlu dioperasi lagi deh! Makin hari, makin nyebelin tahu, nggak?" Disa kesal.
"Baru beberapa hari di sini, jangan sok. Aku udah penuh tekanan karena harus ngurus empat anak," ungkap Ariana mendekati ranjang Maya, dengan nada berbisik.
"Empat anak?" Disa dan Maya mengernyit.
"Kamu, dua anakku dan Aris." Maya dan Disa menahan tawa sembari melirik Aris yang tengah berwudhu.
"Bawa dia keluar yuuk," kata Disa melipat bibirnya ke dalam.
Keduanya pun mencoba mengangkat tubuh ringan sang ibu Guru ini dari ranjangnya, untuk didudukkan di kursi Roda. Maya bertubuh kurus, berat badannya saat ditimbang hanya 38kg, dengan tinggi 160cm. Rahangnya tampak tak sehat.
“Eh, mau dibawa ke mana?” sela Aris yang baru saja selesai berwudhu.
“Keluar …,” jawab Disa sambil mendorong kursi rodanya.
“Bentar aja kok! Kasihan, dia bosan," lanjut Ariana yang mengekor.
“Eh, kalian berdua nggak salat?” tanya Aris.
“Suamiku, tadi malam kan aku datang bulan! Masa bisa lupa! Kapan-kapan deh,” jawab Ariana.
“Kamu, Disa?”
“Jangan kepo deh!” ketus Ariana.
“Sama!” teriak Disa dari depan ruangan, menyatakan bahwa dirinya juga sedang datang bulan sama seperti Ariana.
“Sssstt …,” tegur salah seorang perawat yang kebetulan lewat.
__ADS_1
“Maaf, suster!” ucap Disa tersenyum lebar. Malu.
***
"Kita di sini aja ya." Mereka berhenti di halaman rumah sakit. Ada sebuah taman kecil yang banyak bunganya.
Disa dan Ariana duduk di kursi taman, sementara Maya begitu menikmati memandangi langit mendung sore itu.
Saat sedang duduk-duduk, mengingat masa muda. Mereka kedatangan lelaki tinggi berbadan tegap. Rambut rapih dengan wangi pria yang kuat.
Kevin yang tersenyum datang membawa tas penuh berisi makanan.
“Apa kabar, Dis? Terakhir kita bertemu waktu pernikahannya Maya kan! Iya 'kan, May!” sapa Kevin penuh kepercayaan diri.
“Alhamdulillah, kabarku baik!”
“Oh ya, maaf ya hampir seminggu nggak nengokin kamu!” Kevin meletakkan tas bawaanya di paha Maya.
“Nggak apa-apa kok,” ucap Maya tersenyum.
“Oh ya, Dis?” Kevin terhenti sejenak, lalu tersenyum misterius.
“Kenapa?”
“Salam dari Reski,” lanjutnya.
“Iya, besok aku bakal ke restoran kok!” jawab Disa singkat.
“Oh ya, aku pengin ngomong sama kalian semua. Bisa nggak nanti malam kalian semua berkumpul di sini!” pinta Maya.
“Nanti malam, aku nggak bisa deh," tolak Disa.
“Kenapa?” tanya Ariana.
“Oh, gitu ... ya udah kalau begitu besok aja gimana?” tawar Maya.
“Tapi?” potong Kevin.
“Apa?” tanya Ariana.
“Maaf aku merusak pembicaraan ini. Soal biaya rumah sakit gimana? Kata kamu 'kan selama ini uang yang dipakai buat beli obat dan operasi itu 'kan uang kumpulan kita semua, iya kan?” tanya Kevin pada Disa.
“Udahlah jangan bahas itu! Comel!” tegas Disa membawa Maya. “Kita balik ke kamar aja yuk!” bisik Disa pada Maya
“Kamu sih!” tegur Ariana.
“Kenapa? Why? What's wrong?” tanya Kevin dengan tampang innocent-nya.
***
Kevin memutuskan untuk mengantar Disa pulang. Saat tiba di rumah sang kakak, Sefti melihat bibinya datang dengan seorang laki-laki dan lekas memberitahukannya kepada Fira sang ibu.
“Mau mampir?” tanya Disa.
“Nggak usah, deh. Aku pergi ya!” jawab Kevin bergegas hendak memasuki mobil berwarna hitam.
“Kevin?” teriak seseorang.
“Ya?” Kevin terhenti.
“Masuk dulu, makan malam sama kita!” pinta Fira mendatangi mereka.
“Iya, Kak!” Jawab Kevin menatap Disa. Tiba-tiba deringan ponsel menahan kaki Disa untuk beranjak masuk.
__ADS_1
“Kalian masuk dulu! Aku angkat telepon," pinta Disa pada kakaknya dan Kevin.
“Ayo, Kevin!” ajak Fira. Kevin mengiyakan.
Ternyata wakil kepala sekolah tempatnya mengajar di Kalimantan yang menelepon dan memberitahukan kepada Disa tentang salah seorang Murid di kelasnya yang mengalami kecelakaan, juga untuk menanyakan kapan dia bisa kembali ke sekolah, serta menanyakan tentang bagaimana keadaan Maya?
Disa kebingungan setelah menerima telepon itu. Baru tiga hari rasanya, tapi dia selalu kepikiran murid-murid.
***
Disa bengong, sendok di hadapannya tak disentuh. Kevin menyenggol.
"Kamu kenapa?" bisiknya. Disa sadar lalu menggeleng pelan.
"Tante, kok kemarin ingkar janji sih!" Sefti mengomel.
"Hah? Siapa yang janji sama kamu?"
"Aku kan minta oleh-oleh!"
"Beneran mau minta botol infuse dan perawat ganteng?" Disa tertawa.
"Kamu lihat tas tante kamu, deh. She gave you beautiful gift!" Kevin mengomentari percakapan Disa dan Sefti.
"Beneran?" Mata Sefti berbinar. Dia beranjak ke ruang tamu, tempat Disa meninggalkan tas kulit berwarna cokelat muda.
"Tapi, itu bukan dari Kalimantan. Tante mampir di minimarket dulu buat beli itu. Lain kali ya hadiahnya ...."
"Siap!!!" Sefti sibuk mengubek-ubek tas. Seri bergabung dan ikut mengacak tas Disa.
***
Dua minggu sudah, Disa meninggalkan Kalimantan.
Hari ini, Disa telah menandatangani aplikasi pembedahan yang akan dilakukan Maya pada lusa besok.
“Kevin, kali ini kita yang tanggung jawab ya!” Disa meminta.
“Iya, kasihan Si Double A dan Reski, kemarin mereka yang ngurusin!” ucapnya tertawa.
“Nggak lucu!” ketus Disa.
“Oh ya, Dis?” panggil Kevin lagi. Kevin akhir-akhir ini suka sekali memanggil Disa.
“Apa?” jawabnya disela perbincangannya serius dengan salah satu perawat yang ada di situ. "Bentar ya," bisiknya pada Kevin. Kevin pun mundur. Memperhatikan Disa, yang entah mengapa tampak berkilau di matanya.
Disa menghampiri Kevin setelah obrolan bersama perawat.
"Mau ngomong apa?"
"Kamu belum ketemu Reski?"
"Belum. Beberapa hari lalu sih, aku ke restoran. Tapi, Reskinya lagi nggak ada. Aku juga nggak enak buat teleponin dia."
“Aku ... aku tuh, kangen banget sama kamu,” ucap Kevin berbisik dan dengan cepat meninggalkan Disa yang tertegun mendengarnya.
Perawat yang ada di tempat itu, tak sengaja melihat sikap kekanak-kanak Kevin. Perawat hanya bisa bersemu merah karena menyaksikan reaksi Disa yang terlihat malu-malu. Bingung.
“Permisi,” ujar Disa meninggalkan meja informasi tempat para perawat berada.
Disa menahan tawa. Kevin kenapa? Entah apa yang merasuki bule emperan itu?
***
__ADS_1
Bersambung