Wanita Kesayangan CEO Season 2

Wanita Kesayangan CEO Season 2
Bab 14: Rumah sakit


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Bela tiba di rumah sakit dan sekarang berada di ruangan dokter.


Dia menceritakan niat nya datang dan meminta pendapat dokter mana baiknya.


"Bagaimana Dok? Apa tidak masalah? saya sudah dua kali berhubungan jika mengonsumsi pil KB sekarang apa masih memungkinkan untuk hamil?" tanya Bela cemas, ekspresi dokter di depan nya idak membuatnya tenang.


"Dari cerita Nyonya tadi ada kemungkinan untuk hamil. Dan untuk mengonsumsi pil KB dari sekarang tidak menutup kemungkinan untuk tetap bisa hamil. KB tidak menjamin tidak akan hamil, jika suami rajin melakukan hubungan, Dan juga kalau Nyonya lupa minum pil KB itu sangat berbahaya," jelas Dokter bingung pada wanita di depan nya. Di luar sana banyak wanita ingin segera punya anak, tapi tidak dengan Bela.


"Maaf kalau lancang, apa sebelum nya Nyonya sudah punya anak?" tambah Dokter lagi.


"Iya, saya memiliki satu putri. Apa tidak ada solusi lain?" tanya Bela tidak putus asa mencari jalan keluar.


"Ada, tapi semua kembali pada hubungan sebelumnya. Jika proses hubungan Nyonya dan suami gagal berarti kedepannya Nyonya bisa mendapatkan hasil yang di inginkan," jelas dokter.


"Tidak masalah, saya yakin dua kali berhubungan tidak akan cepat proses," yakin Bela diam berpikir, "Meski sebelumnya sekali melakukan menghasilkan Tata," tambah nya lagi dalam batin.


"Baiklah Jika Nyonya yakin seperti itu. Mari ikut saya berbaring lah di sana. Saya akan menyiapkan suntik KB. Dan Nyonya bisa datang sebulan sekali untuk melakukan ini."


"Hmmm, terimakasih."


"Apa Nyonya orang sini?" tanya Dokter membawa perlengkapan nya untuk memulai.


"Tidak, saya dari Inggris," jawab Bela.


"Dari Inggris? lalu apa yang membuat Nyonya kemari? apa suami Nyonya asli sini?" basa-basi nya sengaja agar proses tidak terasa sakit untuk Bela jika terus di ajak bicara.


"Hmmm, tidak itu juga. Ada kerjaan di sini yang harus saya kerjakan."


"Kerja? apa Nyonya seorang pengusaha?" penasaran Dokter melihat penampilan Bela seperti bukan orang sembarang.


"Ya, apa ada masalah?" tanya balik Bela dapat melihat jelas ekspresi penasaran dokter di depan nya.


"Tidak," jawab nya cepat.

__ADS_1


"Selesai," lanjutnya lagi setelah penyuntikan cairan berhasil di lakukan.


"Sama sekali tidak terasa," kaget Bela mendengar kata selesai.


Sejak tadi ia menanggapi omongan Dokter, hingga tidak merasa sedang di suntik.


"Itu karena Nyonya terus berbicara jadi Yoda merasa apapun," senyum dokter wanita menunjukkan lesung pipi nya.


"Dokter sangat cantik dengan lesung pipi, tapi sayang Dokter licik," puji Bela baru mengetahui lesung pipi cantik pada dokter yang menanganinya.


"Terimakasih, Nyonya juga sangat cantik. Dan kata licik itu tidak benar, tepat nya taktik para Dokter agar pasien nya tidak merasa kesakitan, karena proses penyuntikan KB sedikit sakit," terang nya tidak merasa tersinggung malah tersenyum.


"Terserah Dokter saja. Apa sekarang masih ada tahap berikutnya?" tanya Bela tidak peduli, lebih memastikan proses nya sudah berakhir atau belum.


Dia harus segera pulang, tapi bukan ke apartemen tapi ke mansion. Ia ingin istirahat di sana sebelum ke apartemen bertemu Nick.


Perasaannya masih sakit mengingat perkataan Nick. Sungguh pria tak berhati. Ingin rasanya Bela memotong lidah nya biar tak berkata sembarangan menyakiti perasaan nya.


Memikirkan itu membuat nya sangat yakin untuk menyembunyikan identitas putri kecilnya itu meski nanti kedua nya akan bertemu cepat atau lambat.


"Tidak semua sudah selesai," jawab Dokter.


Di kantor, Nick di sibukkan dengan tumpukkan dokumen sesuai dugaan nya, jika pekerjaan sedang menanti kedatangan nya.


"Riska," panggil Nick pada sekretaris nya.


"Iya Pak," sahut Riska.


Sejak kedatangan Nick, ia berada di ruangan CEO membantu menyelesaikan kerjaan Nick.


Riska wanita cekatan, Nick menyukai cara kerja Riska tidak pernah mengecewakannya.


"Buatkan saya kopi, kepala saya sedikit pusing melihat banyak dokumen," pusing Nick memijit kepala nya.


"Baik Pak," ucap Riska, pergi meninggalkan ruangan.


Riska adalah wanita cantik sudah menikah dan memiliki dua anak, satu putra, satu putri. Dan Nick sudah menganggap Riska sebagai kakaknya sendiri, karena usia Riska sama dengan Yanto.

__ADS_1


Kehidupan Nick pahit manis semua di ketahui Riska dari kecil hingga besar, tidak ada yang tidak di ketahui Riska.


Di pantry selesai meracik kopi seperti biasa pas dengan selera Nick, ia kembali masuk ke ruangan memberikan pada Nick.


"Ini Pak," Riska meletakkan kopi di meja hati-hati.


"Terimakasih, oh iya saya ingin memberitahu mu sesuatu. Jika keluarga saya menghubungi mu bertanya apakah saya lembur dan tidur di kantor, kau iyakan saja jangan mengatakan tidak," ujar Nick serius baru mengingat jika 3 hari kedepan tidak tinggal di mansion, melainkan apartemen sang pujaan.


"Iya Pak."


Berbeda dengan Nick di kantor sibuk dengan kerjaan, Bela di mansion di landa kegelisahan hati, perkataan Nick terus berputar di otak nya tanpa henti.


Semua barang di kamar dihancurkan begitu saja oleh Bela, saking kesal dengan diri sendiri tidak bisa melupakan perkataan sialan itu.


"Aaaa! kenapa aku tidak bisa melupakan perkataan nya? ada apa dengan ku?" frustasi Bela marah.


Kamarnya bahkan sudah tidak pantas di sebut kamar lagi. Pecahan kaca dan barang-barang berserakan di lantai sudah seperti ruang penyimpanan sampah.


Satu jam marah-marah tak jelas, Bela pun tertidur tubuh dan tenaga terkuras dengan sesuatu yang tidak berguna, berakhir tertidur.


Dan di kantor dari banyak dokumen menggunung di atas meja baru seperempat terselesaikan oleh Nick.


Nick tidak sanggup melanjutkan lagi, ia sudah merindukan wanitanya. Memeluk dan berciuman pasti akan mengembalikan staminanya. Jika saja hubungan nya dan Bela resmi, akan ia bawa sama Bela ke kantor menemani nya, biar lebih semangat.


"Riska kembali lah. Besok baru di lanjutkan lagi," ujar Nick menghentikan Riska agar bisa segera pulang.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit ke ruangan merapikan meja saya terlebih dahulu," pamit Riska meninggalkan ruangan.


Sepeninggal Riska dari ruangan nya, Nick merapikan meja. Semua dokumen yang sudah di periksa dan belum di pisahkan agar tidak salah.


"Selesai, aku harus segera pulang. Dia pasti sudah menunggu ku," ucap Nick melihat jam di layar ponsel nya.


Tak lama kemudian, Nick tiba di depan pintu apartemen Bela, ia memencet bel berkali-kali, pintu tak juga di buka. Dia pun memutuskan untuk langsung masuk, menekan password yang di katakan tadi.


Mata Nick menyapu pada setiap sudut ruang tak melihat ada orang di sini, seperti nya Bela belum kembali sejak tadi.


"Kemana dia? sudah jam 6 kenapa belum juga kembali? apa masalah yang di urus belum selesai? sebaiknya aku hubungi Galih dan bertanya padanya saja," putus Nick menghubungi asisten setia Bela.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2