Wanita Kesayangan CEO Season 2

Wanita Kesayangan CEO Season 2
Bab 8: Ungkapan perasaan


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


"Tidak sayang, tidak seperti itu. Mommy Bela sangat menyayangi Tata," ucap Daisy sedih mendengar semua ungkapan perasaan Tata.


Tanpa mereka sadari gadis kecil ini menyimpan semua kesedihan sendiri, kasih sayang orang tua yang selalu di rindukan. Sungguh gadis kecil yang malang. Bahkan Daddy nya saja di beritahu sudah meninggal.


"Hiks... hiks... hiks... aunty bohong... kalau sayang mommy akan bersama Tata tidak mementingkan kerjaan. Tata ingin seperti teman-teman mommy mereka tiap pagi mengantar ke sekolah. Dan Tata tidak pernah seperti itu," ucap nya iri melihat kasih sayang teman-teman nya yang diberikan mommy mereka.


Yanto dan Yudha tak tau harus berbicara apa. Semua yang di katakan Tata menyayat hati mereka, sedih mendengar ungkapan perasaan yang di rasakan selama ini. Mereka mengira Tata baik-baik saja, ternyata salah. Gadis kecil itu pura-pura terlihat baik.


Kini Yanto sadar yang di katakan Daddy Gilbert pada Bela semua benar untuk kebahagiaan Tata gadis kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.


"Kau paham sekarang Yanto?" tatap Gilbert tajam pada pria yang menunjukkan penyesalan sudah tidak mau mengerti perkataan nya selama ini.


"Cucu grandpa jangan nangis lagi ya. Nanti cantik nya jadi hilang kalau nangis terus," sambung nya beralih pada Tata menghibur nya.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Di tempat lain, Bela sibuk dengan kerjaan. Semenjak mengetahui kehamilan nya tak ada waktu istirahat apalagi bersenang-senang. Semua waktu di gunakan untuk bekerja. Di tanggal merah ia tetap bekerja dari rumah.


Waktu nya untuk Tata sangat sedikit bahkan bisa di kata tidak ada. Ia hanya akan menemui putri kecil nya itu saat tidur pulang kerja nya


"Ada apa Galih? apa ada masalah?" tanya Bela melihat wajah tegang Galih masuk ke ruangan nya.


"Nona, kita harus segera ke Negara A perusahaan mengalami masalah besar," lapor Galih takut, kecerobohan nya lupa memberitahu semua dari awal hingga sekarang semakin besar.


"Bagaimana bisa? apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bela mencoba tidak marah menahan berusaha bersikap tenang.


"Maafkan saya Nona, semua kesalahan saya tidak memberitahu Nona sebelumnya," takut nya tunduk siap menerima amukan amarah Nona nya.


"Dasar bodoh! cepat siapkan jet kita berangkat sekarang. Panggil Jeje, cepat," perintah Bela marah kerjaan Galih menambah kerjaan nya saja.


"Siap Nona," dengan perasaan takut Galih cepat keluar.

__ADS_1


Bela memijit kepala yang mendadak terasa pusing, baru saja memutuskan untuk sedikit menghabiskan waktu bersama Tata semua langsung berantakan.


Yanto menghubungi nya memberitahu kesedihan Tata yang di pendam. Bela mendengar itu sakit, ia bisa merasakan yang di rasakan Tata. Hidup nya dulu seperti itu, tapi lebih memprihatinkan tidak ada keluarga, tidak ada kehangatan sekarang ini. Ia benar-benar sendiri seorang diri dalam hidup.


"Maafkan Mommy sayang. Tidak seharusnya kau mengalami semua ini. Mommy janji setelah kerjaan Mommy selesai, waktu Mommy untuk mu. Kita akan menghabiskan waktu berdua saja," janji Bela dalam hati tidak mau yang dirasakan nya dulu juga di rasakan Tata.


^^^Kak Yanβ€πŸ’Œ^^^


...Kak, aku akan melakukan perjalanan bisnis dua hari. Titip Tata jaga dia, katakan padanya aku akan kembali dan menghabiskan banyak waktu bersama nya setelah pulang. Aku sayang Tata, katakan padanya....


Setelah mengirim pesan pada Yanto tanpa memberitahu Negara yang akan di pergi, ia mematikan daya ponsel.


1 jam kemudian...


Bela duduk anteng di dalam jet pribadi sambil mendengar semua cerita dari asisten nya mengenai masalah perusahaan bisa dalam masalah besar.


Galih menceritakan semua dengan jelas. Gugup, tentu saat ini keringat bercucuran di wajah sadar kesalahan yang di perbuat.


"Kali ini saya maafkan kesalahan mu ini, tapi tidak kedepannya. Karena kecerobohan mu saya harus meninggalkan Tata yang membutuhkan saya saat ini," tegas Bela sedih harus menunggu dua hari untuk menghibur sang putri, padahal sekarang yang di butuhkan.


"Itu harus. Jika tidak? kepala mu akan berpindah ke kaki dan begitu sebaliknya," ancam Bela menakutkan dengan wajah serem.


Glek!


"Tidak Nona saya janji," yakin nya tidak bisa membayangkan seperti apa jika ancaman Bela benar di lakukan.


...----------------...


Di Negara A.


Gadis kecil berusia 9 tahun tumbuh cantik, ceria dan pemberani.


Dia adalah Nara. Gadis kecil itu kini berada di bangku SD kelas IV.


Sampai detik ini ia masih memanggil Bela dengan panggilan Mommy. Bela tak tega menolak dan Daddy pun tak masalah.

__ADS_1


"Aku merindukan Mommy, sudah enam tahun tidak ada kabar Mommy," sedih Nara merindukan Bela


"Nara," panggil Nila dari luar mengetuk pintu.


"Masuk Aunty, Nara tidak kunci," sahut nya dari dalam dengan suara sedikit tinggi.


Cekrek.


"Apa yang kau lakukan di sini sayang? bersiap lah kita akan menjemput Daddy mu di bandara. Apa kau tidak merindukan Daddy mu" tanya Nila menatap Nara yang cepat menggeleng kepala.


"No Aunty. Mana ada Nara tidak merindukan Daddy, tiap hari Nara merindukan Daddy. Satu bulan terasa enam tahun," jawab Nara dan wajahnya berubah sedih mengingat Bela.


"Sudah bersiap lah. Jangan sedih, Mommy Bela akan datang nanti. Tidak mungkin melupakan gadis kecil secantik mu," hibur nya tau apa yang di pikir kan Nara.


"Nara bukan anak kecil Aunty! Nara sudah besar," protes Nara tidak terima di kata gadis kecil.


"Ya, ya, ya. Terserah kau saja, dimata Aunty kau masih gadis kecil," seru nya, lalu pergi meninggalkan kamar Nara, jika tidak diakhiri sekarang akan panjang nanti.


"Aunty!" teriak Nara tidak terima.


Nila mendengar suara kesal Nara dari dalam kamar tersenyum, setidaknya gadis itu tidak lagi sedih memikirkan Bela. Entah ia sendiri tidak tau kenapa Bela tak sekali memberi kabar selama enam tahun.


"Al, kau sudah siap?" tanya Nila tiba di kamar melihat sang suami sudah rapi siap pergi menjemput Nick.


"Hmm, bagaimana kau sudah menemui Nara?" Alex berjalan mendekati sang istri dan mencium kening nya.


"Sudah. Tapi saat aku menemui nya dia membicarakan Bela. Aku jadi sedih melihat nya seperti ini. Cobalah tanya pada kakak mu Al, aku yakin Kak Johan mengetahui sesuatu," yakin Nila sikap tenang tanpa khawatir Johan menggerakkannya mencurigai.


"Aku sudah pernah melakukan itu, sebelum kau memintanya," kata Alex.


"Lalu apa yang Kak Johan katakan?" serius Nila tidak sabar menatap lekat Alex.


"Bela sudah bahagia dengan keluarga kecil nya. Setelah balik dari sini dia menikah dan tak lama pernikahannya itu mereka di karunia anak perempuan. Jadi berhentilah mengharapkan Bela kembali. Biarkan dia hidup bahagia," terang Alex tidak ingin istri dan ponakannya terlalu berharap pada Bela yang sudah memiliki keluarga kecil sendiri.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2