
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Calista dan Bela sudah rapi, mereka akan meninggalkan pulau hari ini.
Calista memutuskan untuk ikut Bela. Dia akan bekerja di rumah sakit rekomendasi teman nya yang ada di negara A.
"Kau yakin ingin bekerja di Negara A?" tanya Bela memastikan lagi.
"Ck, kenapa sekarang aku yang merasa kau tidak menyukai aku bekerja di sana?"
"Entahlah, mungkin karena kau sangat cerewet," jawab Bela santai.
"Cerewet begini juga teman mu, loh," senyum Calista menggoda Bela.
"Terpaksa."
"Hei, kau benar-benar jahat Bela," tidak terima Calista. Dia mengejar Bela yang pergi meninggalkan nya begitu saja.
"Bodoh!"
Kedua terus berdebat dan Bela meladeni dengan singkat.
Lima jam kemudian...
Mereka telah tiba di Negara A. Dan sekarang sedang berada di dalam mobil.
Calista tidak henti tertawa mengejek Bela. Semua bawahan tidak ada yang mengenal Bela, bahkan Bela di buat kesal, dia memaki kedua asisten bodoh nya itu tidak mempercayai nya, jika dia benar Bela.
"Stop menertawakan ku Lista, kau benar-benar sahabat gila, bahagia di atas penderitaan orang," ucap Bela kesal pada Calista yang sangat bahagia melihat nya seperti ini.
"Hahaha... bukan seperti itu Bela sayang. Aku hanya merasa lucu saja dengan bawahan mu ini," seru Calista di sela tawa kecilnya.
"Ck, lucu apanya? dan kalian berdua hari ini dan satu minggu kedepan lembur sampai malam sebagai hukuman nya," Bela beralih menatap kedua orang di kursi depan.
"Tapi Nyo-"
"Kenapa? masih kurang? apa perlu satu bulan?" ancam Bela.
"Tidak Nyonya, satu minggu sudah cukup," ucap kedua serentak cepat.
"Hmmm, bagus. Bagaimana kerjaan?" tanya Bela.
"Aman Nyonya, Tuan besar mengurus dengan baik," jawab Galih.
__ADS_1
"Bagus, kita langsung ke mansion."
Setelah itu tak ada obrolan lagi, semua diam hingga tiba di tempat tujuan kediaman keluarga Allen.
Calista akan tinggal di bersama nya, Bela bukan menganggap Lista sahabat, tapi juga keluarga.
"Kalian kembali ke kantor urus semua kerjaan," usir Bela, langsung masuk.
"Bersabarlah, Bela memang seperti itu. Tapi dia orang nya baik kok," ucap Calista menyemangati mereka.
"Iya, Nyonya," sahut Galih mengerti.
"Panggil nama ku saja Calista atau Lista, jangan Nyonya. Aku bukan atasan kalian. Seperti nya usia kita juga tidak beda jauh," seru Calista merasa aneh dengan panggilan asisten bela.
"Tap-"
"Tidak ada tapi-tapian. Aku pergi, kalian cepat lah kembali ke kantor atau Nyonya Bela mengamuk," ucap Calista cepat memotong perkataan mereka.
Calista keluar mengejar Bela yang sudah lebih dulu masuk. Namun langkah nya terhenti melihat Bela kembali di interogasi seperti kejadian di bandara.
"Kau siapa sebenarnya? jangan mengaku Bela, adik kami tidak memiliki wajah seperti ini, meski suara mu sama. Jadi cepat katakan di mana Bela?" tegas Yanto tidak percaya dengan perkataan Bela.
"Aku tidak membutuhkan kepercayaan kalian. Bagiku kepercayaan Daddy ku sudah lebih cukup," ucap Bela mulai kesal. Dia berbalik melihat Calista di belakang, memanggil minta mendekat.
"Kemari lah cepat."
"Siapa lagi dia? apa dia komplotan mu?" tuduh Yanto kembali beralih menatap Bela.
Bela tak mempedulikan perkataan Yanto, jika terus diladeni dia sendiri yang nanti akan pusing.
"Lis, jelaskan pada mereka, aku akan ke kamar Daddy," ucap Bela, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Hei, kau tidak boleh asal masuk, sa-"
"Kak, dia benaran Bela. Satu bulan yang lalu dia melakukan operasi muka dan saya yang mengoperasikan nya, jika tidak percaya silakan lihat ini," potong Calista cepat, mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkan pada Yanto.
Yanto menerima dan melihat identitas di kartu tersebut benar adanya, wanita di depan mereka ini adalah dokter kecantikan.
"Tapi bag-"
"Saya tau Kakak tidak akan percaya begitu saja, tapi saya punya bukti," Calista sekali lagi dengan cepat memotong perkataan Yanto
Calista mengeluarkan ponsel nya dan memberikan pada Yanto video yang sengaja di rekam saat operasi Bela. Dia yakin kedepannya akan sangat di butuhkan dan ternyata benar.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
"Daddy, Bela masuk," ucap Bela dari luar pintu setelah mengetuk.
Cekrek...
"Kau siapa?" kaget Gilbert melihat seorang wanita cantik masuk ke kamar nya. Sebelumnya dia mendengar suara Bela.
"Daddy, aku Bela putri mu. Bagaimana Daddy juga sama seperti mereka tidak mengenal ku?" kesal Bela cemberut.
"Kau Bela putri ku?" tanya Gilbert menatap lekat Bela.
"Tentu Daddy. Aku putri mu yang selalu kau tuntut untuk tampil sempurna, salah sedikit akan kau hukum dengan cambuk kesayangan mu itu," sindir Bela dan Gilbert mendengar itu sedih, langsung memeluk Bela.
"Maafkan Daddy," menyesal nya sedih.
"Sudahlah Dad. Lupakan semua, sekarang yang terpenting Daddy sudah percaya aku adalah Bela," ucap Bela balas memeluk Daddy nya.
"Kau putri terbaik Daddy."
"Dan Daddy, Daddy terbaik ku."
"Tentu. Sekarang katakan pada Daddy kemana saja kau selama ini? kau tau Daddy begitu khawatir memikirkan mu. Semua orang-orang sudah Daddy kerahkan tapi tidak menemukan jejak mu," tanya Gilbert melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bela yang berubah.
"Bisakah tidak perlu di jawab? aku malas mengingat masa lalu, aku harap Daddy mengerti. Dan untuk wajah baru ku. Aku sengaja merubahnya, karena aku tidak ingin melihat wajah itu lagi," jawab Bela. Gilbert dapat melihat di wajah Bela penuh kebencian saat mengatakan mengenai wajah.
"Daddy mengerti. Lalu bagaimana dengan Ta-"
"Sudah lah Dad. Ku mohon jangan mengatakan apapun mengenai mereka. Aku tidak peduli semua yang berkaitan dengan nya. Aku membenci wajah ku sendiri, bagaimana bisa aku melihat nya lagi? aku tidak mampu, aku takut menyakiti nya," ungkap Bela jujur.
Yanto dan Yudha yang ingin menyusul Bela, tanpa sengaja mendengar semua perkataan Bela.
Mereka sedih, tidak menyangka rasa benci Bela juga kena pada putri kandung nya sendiri yang memiliki wajah mirip Ara.
"Semua ini karena Nick, jika saja dia tidak hadir dalam hidup Bela, Bela akan baik-baik saja," marah Yanto.
"Sudah, semua telah terjadi. Sekarang yang perlu kita lakukan menjauhkan Bela dari mereka. Jangan sampai Bela nekat, kita bersyukur Bela hanya melukai wajah nya bukan bunuh diri seperti dulu," ucap Yudha mengingatkan Yanto.
"Kau benar," setuju Yanto dengan perkataan Yudha.
Kedua pun memutuskan untuk tidak menganggu Bela dan Daddy. Mereka kembali ke ruang keluarga.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Amber melihat kedua pria begitu cepat dari kamar Daddy tidak sampai 5 menit.
"Kita tidak jadi. Biarkan Bela mencurahkan semua pada Daddy. Sepertinya hanya Daddy yang Bela percaya. Kita sebagai Kakak tidak berguna," ucap Yanto mengingat pertama kali datang Bela hanya mencari Gilbert bukan mereka.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...