
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Hari berlalu begitu cepat, Bela berubah menjadi Ibu yang baik untuk Tata. Tata gadis kecil itu bahagia senyuman selalu mengukir di wajahnya.
Hari ini tepat jadwal keberangkatan kepindahan mereka ke negara A. Satu bulan mereka lalui penuh kebahagiaan, kedua keponakan Bela begitu senang, terutama Daren ia sangat mengidolakan Bela.
Bahkan bocah pria itu selama satu terakhir lebih dekat dengan Bela dari pada kedua orang tuanya, tentu hal itu membuat Tata cemburu tidak suka Bela di rebut orang lain, meski pun itu adik sepupunya.
"Hei, itu Mommy ku, kenapa kau terus menempel seperti itu? menjauh lah," usir Tata tidak suka Bela lebih dekat dengan Daren adik nakal menurut nya. Jika Edward ia tidak akan mempermasalahkan.
"Kenapa? Aunty tidak keberatan kenapa kakak keberatan?" tidak terima Daren masih ingin dekat dengan Bela.
"Dia Mommy ku, dan aku sangat keberatan," ucap Tata galak menatap permusuhan pada Daren.
"Sudah, jangan ribut kita pergi sekarang, kasihan sopir sudah tunggu," lerai Bela pusing putri nya dan keponakan nya tak pernah akur.
"Hmmm, ayo Mom," Tata menggandeng Bela, sama hal dengan Daren tidak mau kalah menggandeng tangan sebelah Bela.
Yanto dan Amber melihat putra mereka sangat suka berdekatan tidak ingin jauh dari Bela, tersenyum kecil.
"Lihat putra mu Yan, dia begitu menyukai Bela, kita sebagai orang tuanya di lupakan," ucap Amber terkekeh hampir tiap hari melihat percekcokan antara Daren dan Tata.
"Hmmm, semua itu karena Daren sangat mengidolakan Bela. Dia ingin seperti Bela saat besar nanti, seorang pengusaha sukses," seru Yanto memandang putra nya tak sekali ingin jauh dari Bela.
"Ya, Daddy nya yang juga seorang pengusaha sukses tidak membuat nya mengidolakan, tapi malah Aunty nya. Kau harus banyak belajar dari Bela. Dia wanita yang sangat pintar," ucap Amber mengakui dan pertama kali bertemu Bela ia sudah menganggumi sosok Bela yang tegas, cantik dan juga sukses di usia muda, karena kepintaran yang di miliki.
"Tidak masalah, asal yang di idolakan adalah adikku, aku tidak keberatan," senyum Yanto menggandeng tangan Amber menyusul yang lain sudah keluar mansion.
...----------------...
"Mom, kita akan tinggal di sini?" mata Tata masih menelusuri setiap sudut ruang.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di mansion Negara A, 5 menit yang lalu.
"Iya, bagaimana apa Tata suka?" tanya Bela memandang putri kecilnya masih sibuk dengan melihat-lihat kiri kanan penjuru mansion.
"Suka, tapi tidak sebesar mansion lama kita," jujur Tata setelah lama memperhatikan mansion baru tidak sebesar yang berada Inggris.
"Tata mau yang lebih dari ini?" tanya Bela serius pada putri kecilnya.
"Tidak, Tata suka di sini. Oh iya dimana kamar Tata Mom?"
"Di lantai dua, Mommy sudah memasang papan nama masing-masing di depan pintu kamar. Darren, Edward pergilah bersama Kak Tata lihat kamar kalian, katakan pada Aunty jika ada yang kurang nanti Aunty tambahkan lagi sesuai keinginan kalian," ucap Bela perhatian, tidak ingin ada kekurangan apapun untuk keluarga nya.
"Mommy terbaik deh, Tata naik lihat kamar dulu, ayo Edward kau ikut dengan ku," Tata menggandeng Edward ikut dengan nya tanpa mempedulikan Darren.
Daren melihat itu bodoh amat, kakak sepupunya itu selalu bersikap tidak peduli padanya, ia pun begitu. Tata sangat cerewet, telinga nya akan sakit jika berdekatan dengan Tata.
***
"Mau kemana Dek?" tanya Yanto melihat Bela buru-buru setelah menerima telpon.
Telpon tadi dari rumah sakit dokter. Bela sudah membuat jadwal beberapa hari yang lalu sebelum ke negara A untuk melakukan penyuntikan KB.
Dan sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kehamilan padanya, ia merasa lega semua yang di lakukan tidak sia-sia.
"Ya sudah hati-hati di jalan. Semoga masalah di kantor cepat selesai," doa Yanto tulus percaya begitu saja kebohongan Bela tanpa rasa curiga.
"Amin. Aku pergi sekarang," pamit Bela pergi meninggalkan mansion.
Kali ini Bela memutuskan untuk menyetir sendiri, dalam perjalanan ia fokus mengemudi dengan musik menemani nya. Beberapa menit kemudian setelah melewati jalan yang sedikit padat, ia tiba di parkiran rumah sakit dan segera masuk.
Tanpa menunggu antrian lagi, ia sudah melakukan janji, segera masuk ke ruang dokter.
"Selamat sore Nyonya, silakan duduk," sopan dokter lembut menyapa Bela yang baru masuk.
__ADS_1
"Terimakasih, kita langsung saja melakukan penyuntikan, saya tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Bela takut seseorang melihat keberadaan nya.
"Ya sudah tidak masalah, mari berbaring di sana," tunjuk Dokter pada brankar, segera bangun menyiapkan obat dan suntik.
"Hmmm," Bela menuruti dan berbaring.
Dokter berjalan mendekati Bela setelah semua yang di butuhkan telah siap.
"Saya akan melakukan sekarang," kata Dokter memberitahu Bela.
"Lakukan saja, tidak perlu mengajak saya bicara seperti sebelum nya. Saya ingin tau rasa sakit proses penyuntikan seperti apa," ucap Bela tidak ingin basa-basi hanya untuk membuat nya tidak merasa sakit.
Bagi nya sakit jarum suntik tidak seberapa dengan sakit yang di dapat kan dimasa lalu. Hidup nya dulu sangat mengenaskan, sekarang baru berubah menjadi menyenangkan. Sungguh indah bukan?
"Iya Nyonya, saya tidak akan melakukan lagi," janji Dokter dan benar melakukan. Ia sama sekali tidak mengajak Bela bicara, hingga Bela dapat merasa sakit sesaat, kemudian tidak merasa apapun lagi.
"Sudah?" tanya Bela menatap Dokter.
"Iya Nyonya, sudah selesai," jawab nya tersenyum.
"Hmmm, sakit nya tidak seberapa. Saya pikir sakit nya sampai harus teriak seperti orang gila, ternyata hanya rasa gigitan semut," ucap Bela.
Setelah dari rumah sakit Bela bergegas segera pulang, tapi sebelum itu ia akan ke restoran membeli makanan untuk keluarga nya.
Kedatangan nya ke Negara A, belum ia beritahu pada Nick. Ia sengaja melakukan itu untuk memberi kejutan.
Mereka sering bertukar kabar hanya lewat pesan, Bela tidak mengizinkan Nick menelpon nya karena itu akan menganggu.
Tiba di restoran Bela langsung masuk dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanan nya, ia duduk memainkan ponsel. Tanpa ia sadari sejak memasuki restoran tadi seseorang terus memperhatikan nya dengan tatapan tajam, kaget melihat keberadaan nya.
Bela masih asyik dengan ponsel, ia scroll melihat email masuk dari siapa saja tanpa membaca isi pesan dalamnya. Ia tidak berniat membaca semua lewat ponsel, ia lebih suka membaca email kerjaan lewat Ipad nya.
Dan tiba-tiba ponsel berdering saat ia masih menaik turun kan layar ponsel. Tertulis jelas nama penelepon di sebrang sana. Padahal Bela sudah pernah mengingatkan Nick untuk tidak menelpon, tapi kenapa sekarang malah menelpon.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...