
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Selama perjamuan makan siang, Bela tak sekali memandang Nick maupun kedua gadis kecil di samping nya.
Nick pun sama dengan Bela, tak peduli. Kedua seperti orang asing tidak saling mengenal.
"Bu Bela, saya turut sedih dengan musibah yang Ibu alami bulan kemarin," ucap Pak Dika.
"Iya Pak, terimakasih," sahut Bela.
"Sama-sama, wajah baru Bu Bela sekarang sangat cantik tidak bedanya dengan dulu," puji Pak Dika.
Bela mengepal kedua tangannya mendengar pujian itu, baginya bukan pujian tapi kata hinaan.
"Bisakah Pak Dika tidak membahas wajah lama saya? saya tidak menyukai itu. Bagi saya masa lalu, ya masa lalu tidak perlu di ingat," ucap bela penuh penekanan, terlihat di wajahnya begitu benci cerita masa lalu.
"Maaf saya tidak tau, saya tidak akan membahas itu lagi," sahut Pak Dika tak enak hati membuat rekan kerjanya tersinggung.
"Tidak apa-apa sekarang Pak Dika sudah tau, jadi tidak masalah."
"Iya. Bagaimana kabar anak Bu Bela?" tanya Pak Dika lagi, tanpa sadar pertanyaan nya membuat nya berada di ambang kematian nya sendiri.
Bela muak sejak tadi pria itu terus bertanya sudah seperti seorang wartawan. Rasanya dia ingin melempar ke planet mars biar tak bisa kembali.
"Sudah tiada," jawab Bela dan semua pandangan yang berada di meja makan tertuju pada Bela. Termaksud Nick dan kedua gadis kecil itu.
"Maaf, saya tidak tau Bu. Saya turut berduka," ucap Pak Dika lagi dan lagi merasa tak enak.
"Saya juga Bu turut berduka."
Masing-masing dari mereka yang berada di meja makan mengucap turut berdukacita. Bela hanya mengangguk kecil. Nick melihat semua begitu jelas tak menyangka Bela mengatai anaknya sudah meninggal, padahal kini anaknya berada di depan nya.
Nick tidak bisa berpikir apa yang ada di otak Bela saat ini, hingga mengatakan semua.
"Terimakasih, bisakah kita tidak lagi membahas masa lalu? saya sudah malas mengingat nya," ucap Bela tidak memperdulikan tatapan ketiga orang itu padanya.
"Mommy, Tata rindu. Tapi kenapa Mommy mengatai Tata sudah tiada?" batin Tata sedih. Semua obrolan mereka sejak tadi Tata berusaha mencerna, apalagi pria itu terus saja memanggil nama mommy nya Bela.
"Apa yang terjadi padamu Mom. Kita anak-anak mu, kenapa mengatai kita tidak tiada?" batin Nara sama hal dengan Tata sedih mendengar perkataan Bela.
Bahkan sejak tiba pandangan Bela tak sekali memandang mereka.
"Baiklah Bu, kita tidak akan membahas lagi. Mari kita mulai makan sekarang," ajak Pak Dika.
__ADS_1
"Hmmm," Bela berdeham.
Mereka makan sesekali berbicara, tapi kali ini topik nya bukan pada Bela, melainkan Nick.
"Pak Nick kapan undangan nya? sudah lama sendiri apa tidak bosan?" goda pria tersebut.
"Secepatnya Pak. Doakan saja," jawab Nick melirik Bela, namun orang yang di lirik bodoh amat tidak peduli.
"Wah, selamat Pak. Kita doakan segera naik pelaminan lagi," ucap salah satu pria ikut senang mendengar baik rekannya.
"Terimakasih," sahut Nick. Semua mengucap selamat dan memberi doa terbaik.
Bela sama sekali tak terganggu, dia tak peduli apapun dengan kehidupan Nick. Bela menikmati makan siang dengan damai, tatapan mereka tak sengaja bertemu, Bela memutuskan dengan santai tidak ada raut gugup melainkan kebencian.
Sikap Bela seperti sekarang entah kenapa membuat Nick sedih. Kedua benar-benar seperti orang asing.
"Uhukk... uhukk... " Tata batuk tersedak.
"Minum dulu, ayo," khawatir Nick cepat menyodorkan minum pada Tata.
"Terimakasih Dad," ucap Tata menerima.
Bela terus menyantap makanan, Nick tidak menyangka Bela sama sekali tak cemas pada Tata putri kandungnya sendiri.
"Maaf semua, saya harus segera pergi. Terimakasih Pak Dika atas undangan makan siang nya," ucap Bela.
"Iya tidak apa-apa Bu Bela. Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk makan siang bersama," sahut Pak Dika.
"Hmmm, saya permisi," pamit Bela melangkah pergi keluar dari ruangan.
Tata melihat itu, bangun mengejar Bela.
"Tata," panggil Nick, Tata terus berlari.
"Maaf, semua sepertinya saya juga harus pamit," ucap Nick.
"Iya Pak tidak apa-apa. Silakan," mengerti semua mempersilahkan Nick pergi.
Nick mengajak Nara keluar dari ruangan mengejar Tata.
"Mommy, ini Tata, kenapa Mommy mengatai Tata sudah tiada? Mommy tidak sayang lagi sama Tata? apa salah Tata?" tangis Tata menatap rindu Bela Ibu kandung nya.
Hati Bela sakit melihat putri nya menangis seperti ini. Tapi dia harus bisa, dia tidak boleh lemah.
"Galih, urus dia," ucap Bela tanpa memandang Tata.
__ADS_1
"Tapi Nyonya di-"
"Lakukan apa yang saya perintah kan, tidak perlu membantah," tegas Bela memotong perkataan Galih.
"Baik Nyonya," sahut Galih.
"Jeje, ayo," ajak Bela melepaskan genggaman tangan Tata erat padanya.
"Mommy! Tata rindu. Hiks... hiks... Mommy... " tangis Tata pecah tidak mau melepaskan Bela pergi.
"Jeje," panggil Bela melirik pada tangan nya. Jeje mengerti segera bertindak.
"Nona muda, lepaskan jangan seperti ini, Mommy Nona harus pergi sekarang," bujuk Jeje pada Tata agar segera melepaskan.
"Tidak Aunty. Tata tidak mau, Tata rindu Mommy, Apa Mommy tidak rindu Tata? apa salah Tata? Tata tidak jahat, Tata anak baik."
"Bukan sep-"
"Tata," panggil Nick. Perkataan Jeje langsung terhenti.
"Daddy, tanya pada Mommy kenapa mengatai Tata sudah tiada? Tata rindu Mommy, Tata sayang Mommy," aduh Tata menangis memohon Nick membantu nya.
Nick sedih melihat Tata seperti ini. Dia melihat Bela yang enggan sekali memandang mereka.
"Apa seperti ini sikap seorang Ibu pada putri nya sendiri? kau semakin hari berubah makin kejam, apa kau marah dengan perkataan ku saat itu, hingga anak-anak kena imbas? jangan egois Bela! sadar lah kelakuan mu sangat kekanakan. Aku yakin Ibu yang melahirkan mu kecewa melihat tingkah anaknya seperti ini," ucap Nick muak dengan sikap Bela sudah sangat keterlaluan.
"Jeje, Galih," panggil Bela dan kedua yang namanya di panggil mengerti segera bertindak.
"Nona muda tolong lepaskan, Mommy Nona harus segera pergi," ucap Galih.
Bela sama sekali tak merespon perkataan Nick. Dia enggan mengeluarkan sepatah kata berbicara dengan Nick.
"Tidak Aunty, Tata tidak mau. Mommy... " panggil Tata menolak melepaskan.
"Tata sayang sudah lepaskan. Biarkan Mommy pergi," bujuk Nick, sikap Bela sekarang membuat nya muak.
"No Daddy. Tata mau Mommy, Tata rindu Mommy, Tata sayang Mommy," tolak Tata.
"Huft... " Nick menghela nafas berat dan beralih menatap Bela yang sama sekali cuek tidak peduli.
"Kau lihat Tata sekarang Bela. Lakukan demi Tata. Jangan egois, dia putri mu juga. Kau mengandung nya 9 bulan, kau melahirkan nya bertarung nyawa, tapi sekarang kau bertingkah seperti ini seperti semua yang kau lakukan dulu tak ada arti. Kau sebenarnya manusia atau bukan? kenapa begitu buruk seperti ini."
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1